로그인"Tutup mulutmu, Aruna! Berikan padaku!"
Keenan bangkit dengan cepat, mencoba meraih benda itu, namun Aruna lebih lincah. Ia mundur selangkah, menyembunyikan benda itu di balik punggungnya.
“Pak Keenan. Saya tidak percaya anda benar-benar membutuhkan ini..” Aluna tersenyum tipis.
Keenan menggeram, langkahnya maju hingga tubuh mereka kembali bersentuhan. Kali ini, ia tidak menggunakan kekuasaan kantornya, melainkan tekanan fisik yang intim. Ia mencengkram pinggang Aruna dengan satu tangan, menarik wanita itu hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Kamu pikir kamu menang?" bisik Keenan, matanya menggelap karena campuran rasa kesal dan gairah yang tertekan. "Kamu memegang rahasiaku, Aruna. Tapi apa kamu lupa, bahwa aku pernah—-”
Ujarnya terhenti.
“Kamu pikir kamu bisa menanganiku kalau aku benar-benar lepas kendali?"
Aruna hanya mendengus pelan sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu dengan bunyi klik yang tajam, meninggalkan Keenan sendirian di dalam ruangan yang sunyi, berurusan dengan ego yang hancur dan gairah yang tiba-tiba bangkit di saat yang paling tidak tepat.
**
Keesokan paginya, ruang rapat direksi lantai teratas terasa lebih dingin dari biasanya. Keenan sudah duduk di kursi kebesarannya, setelan jas navy yang ia pakai membuatnya semakin terlihat sempurna, seakan insiden saku robek kemarin hanyalah mimpi buruk.
Namun, hanya Aruna tahu kebenarannya. Saat ia masuk membawa tumpukan dokumen revisi, matanya sengaja menangkap pandangan Keenan. Pria itu segera membuang muka, memperbaiki letak dasinya yang sebenarnya sudah sangat rapi.
"Baik, kita mulai," suara Keenan terdengar kaku. "Fokus hari ini, strategi pemasaran yang menonjolkan ketahanan dan... Kekuatan performa. Silahkan Aruna."
Aruna berdiri untuk mempresentasikan datanya. Ia menyalakan proyektor, lalu menatap Keenan dengan senyum simpul yang membuat jantung pria itu berdegup tidak karuan.
"Terima kasih, Pak Keenan," ujar Aruna formal. "Berbicara soal 'ketahanan', riset saya menunjukkan bahwa konsumen pria saat ini lebih memilih produk yang menjamin keamanan tanpa rasa khawatir akan... Kegagalan teknis di tengah jalan."
Keenan berdehem keras.
Beberapa manajer lain justru tampak serius, mengangguk-angguk, tidak menyadari ada perang batin yang sedang terjadi.
"Lanjutkan, Aruna," perintah Keenan dengan nada memperingatkan.
Aruna berjalan pelan mendekati meja Keenan untuk membagikan pamflet. Saat ia meletakkan kertas di depan Keenan, jemarinya sengaja menyentuh punggung tangan pria itu selama satu detik lebih lama.
"Kami menemukan bahwa banyak produk pesaing yang goyah karena mereka tidak memiliki support system yang kuat. Seperti yang Pak Keenan tahu, tanpa alat bantu yang tepat, sehebat apapun tampilannya dari luar, bagian dalamnya bisa saja... Tidak berfungsi maksimal."
Wajah Keenan mulai memanas. Ia tahu Aruna sedang bermain-main dengan kata 'alat bantu'.
"Kita tidak sedang membahas peralatan medis, Aruna. Fokus pada produk kontrasepsinya," potong Keenan tajam.
"Tentu saja, Pak," jawab Aruna dengan nada polos yang dibuat-buat. "Maksud saya, stabilitas itu penting. Jangan sampai saat konsumen sudah 'siap', tiba-tiba terjadi kendala karena kurangnya sirkulasi…”
Salah satu manajer senior tertawa kecil. "Teknik penjelasan yang bagus, Aruna. Memang benar, performa adalah segalanya bagi pria."
Keenan mencengkeram pulpennya hingga kuku jarinya memutih. Di bawah meja rapat yang tertutup, kakinya tidak sengaja bersentuhan dengan kaki Aruna.
Bukannya menjauh, Aruna justru menekan ujung sepatu hak tingginya ke betis Keenan, memberikan tekanan sensual yang membuat napas Keenan tertahan.
"Jadi, Pak Keenan," Aruna mencondongkan tubuhnya ke arah meja, memperlihatkan sedikit lekuk lehernya yang jenjang, "Apakah strategi 'kekuatan internal' ini bisa Anda setujui? Atau Anda butuh saya untuk menjelaskan secara pribadi di ruangan Anda... Tentang cara kerja 'alat-alat' pendukung lainnya, Pak Keenan?"
Keenan menatap Aruna dengan tatapan yang bisa membakar siapapun. Gairah dan amarah berperang di matanya. Ia menyadari satu hal, Aruna tidak hanya memegang rahasianya, wanita itu sedang memegang kendali atas seluruh kewarasannya.
"Rapat selesai," kata Keenan tiba-tiba berdiri, membuat semua orang terkejut. "Aruna, ke ruangan saya sekarang. Kita perlu membahas 'detail teknis' yang kamu sebutkan tadi. Berdua!”
Aruna melipat tangannya di dada, matanya berkilat penuh kemenangan. "Dengan senang hati, Pak Keenan."
Semua orang dalam ruangan itu saling berpandangan setelah Keenan keluar dari ruangan, mereka bingung melihat CEOnya tiba-tiba tampak kesal dan marah.
“Ada apa dengan Pak Keenan?” Salah satu manajer mulai tampak berbisik.
“Mungkin Aruna buat Pak Keenan kesal lagi..” kata salah satunya.
“Semua karyawan tau, hubungan Pak Keenan dan Aruna gak baik..”
“Tapi presentasi Aruna pagi ini bagus kok..”
Aruna tersenyum dalam hati. ‘Keenan, aku mau lihat bagaimana kamu menyembunyikan sikap mesum dan playboy mu selama ini di depan mereka! Tapi sayangnya ‘kemampuanmu’ sebenarnya….
terbatas..’
Grand Ballroom Hotel RC bintang lima malam itu di desain sangat megah malam ini. Cahaya laser berwarna biru safir seakan membelah ruangan, memantul pada instalasi kristal yang menyerupai struktur atom Silk-Graphene. Ratusan investor kelas kakap dari berbagai penjuru dunia, pejabat pemerintahan, hingga kru media internasional memenuhi ruangan dengan setelan formal yang mewah. Di tengah kerumunan, Keenan Arkana berdiri tegak. Ia mengenakan tuksedo hitam custom-made yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Aura dominannya terasa begitu pekat, membuat siapa pun segan untuk mendekat. Namun, tatapan matanya yang tajam hanya tertuju pada satu titik, Aruna. Aruna tampak memukau dengan gaun bodycon berwarna perak metalik yang memeluk lekuk tubuhnya dengan anggun terlihat begitu elegan. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan leher jenjangnya yang kini dihiasi kalung berlian. Keenan melangkah mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Aruna dari belakang. Ia menarik
Suasana hangat di balkon Mansion Arkana seketika mendingin setelah mendengar kata-kata Nandi yang menggantung. Keenan berdiri tegak dengan kancing kemeja teratasnya yang terbuka memperlihatkan dada bidang yang masih naik-turun karena gairah yang terinterupsi. Ia menatap Nando dengan mata biru yang berkilat tajam, seolah siap menerkam siapa pun yang berani mengusik ketenangannya setelah seminggu penuh penderitaan di rumah sakit. "Katakan dengan jelas, Nando. Jangan membuang waktuku dengan wajah ragu seperti itu," geram Keenan. Suaranya rendah, bergetar oleh otoritas yang mutlak. Aruna, yang berdiri di sampingnya, masih sibuk mengancingkan kemeja casualnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia bisa merasakan aura dominan Keenan yang kembali memuncak. Keenan, tanpa memalingkan wajah dari Nando, meraih pinggang Aruna dan menariknya merapat ke sisi tubuhnya. Nando menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. "Ini tentang Tante Sofia, Keenan. Pak Alexander." Alexan
Satu minggu telah berlalu setelah ketegangan di rumah sakit saya itu, pagi ini matahari masuk kedalam kamar melalui cela gorden memberi kesan hangat didalam ruangan VIP rumah sakit yang penuh aroma antiseptik. Aruna berdiri di dekat jendela, melipat beberapa pakaian Stella ke dalam koper kecil. Rambutnya diikat asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya yang putih. Tanpa ia sadari, sepasang mata biru tajam sedang memperhatikannya dari balik pintu yang terbuka sedikit. Keenan melangkah masuk dengan suara sepatu langkah yang sedikit menggema dilantai. Ia tidak langsung menyapa. Pria itu berjalan mendekat, lalu dengan gerakan posesif yang menjadi ciri khasnya, ia melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Aruna dari belakang. "Sudah selesai berkemas, Sayang?" bisik Keenan tepat di telinga Aruna. Napas panasnya seketika membuat bulu halus Aruna meremang. Aruna sedikit tersentak, namun ia segera menyandarkan punggungnya pada dada bidang Keenan yang terbalut kemej
"Aku tidak peduli," gumam Keenan. Ia membungkam bibir Aruna dengan ciuman yang sangat kasar dan menuntut. Lidahnya masuk dengan paksa, menjelajahi rongga mulut Aruna seolah sedang mengklaim wilayah kekuasaannya.Tangannya merayap masuk ke balik kemeja Keenan, merasakan otot-otot dada suaminya yang mengeras. Sentuhan mereka semakin liar. Tangan Keenan mulai membuka kancing jas lab Aruna, lalu dengan lihai ia menyelinap ke dalam kemeja sutra Aruna, meremas squishy kenyal istrinya itu dengan gemas. Aruna menahan desahan di balik ciuman mereka, kepalanya mendongak saat Keenan mulai menciumi lehernya dengan rakus, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang baru."Sshhh... Keenan... Nanti ada yang lihat," rintih Aruna kecil."Nando tahu apa yang harus dia lakukan. Dia akan menjaga area di sini," bisik Keenan serak. Ia membenamkan wajahnya di antara belahan squishy Aruna, menghirup aroma parfum mawar dan gairah yang menguar dari tubuh istrinya.Di sisi lain ruangan, Nando memang tampak san
"Mama!" Aruna segera melepaskan diri dari dekapan Keenan dan berlari menghampiri Stella.Stella menolak bantuan perawat untuk tetap duduk. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba berdiri dari kursi roda, tangannya yang gemetar mencari pegangan. Keenan dengan sigap melompat maju, menyambar tubuh Mamanya sebelum wanita itu jatuh karena lemas."Mama, kenapa ke sini? Dokter bilang Mama harus istirahat!" tegur Keenan, suaranya keras namun penuh kekhawatiran."Aku tidak bisa diam saja di sana, Keenan," kata Stella dengan suara parau. Ia menatap Alexander yang terbaring lemah dengan berbagai selang di tubuhnya. "Aku harus melihatnya... Aku harus memastikan pria ini tidak pergi sebelum menebus semua air mataku."Perawat yang menemani Stella tampak serba salah. "Maaf Tuan Keenan, Nyonya Stella memaksa. Beliau bahkan mengancam akan mencabut infus kalau tidak dibawa ke sini."“Baiklah, tidak apa-apa, suster tinggal saja..” Keenan menghela napas, ia membantu Stella duduk di kursi samping ranjang
Keenan menatap Papanya dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada sisa amarah di sana, namun juga ada rasa ingin tahu yang sangat besar."Katakan padaku, Pa," suara Keenan terdengar rendah, bergetar karena emosi yang tertahan. "Apalagi yang ingin Papa siapkan? Setelah semua kebenaran ini, setelah racun itu hampir merenggut nyawa Papa... Apalagi yang Papa sembunyikan di balik punggungku dan Aruna?"Alexander menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar berat dan menyakitkan. Masker oksigennya berembun setiap kali ia mencoba bicara. "Banyak... Keenan. Selama ini... aku membangun Arkana bukan hanya dengan keringat, tapi juga... dengan duri di sekelilingku. Aku harus memastikan... Kalau duri itu tidak menusukmu... atau Aruna."Aruna merasakan remasan tangan Keenan di pinggangnya semakin mengencang. Ia mendongak, menatap profil samping wajah suaminya yang terlihat sangat maskulin dan penuh otoritas. Aruna memberanikan diri untuk bersuara, suaranya lembut namun memiliki ketegas







