Home / Romansa / Dirty Office / Bab 2 Alat bantu ‘berdiri’

Share

Bab 2 Alat bantu ‘berdiri’

Author: Cynta
last update Last Updated: 2026-01-09 10:02:34

​"Tutup mulutmu, Aruna! Berikan padaku!" 

Keenan bangkit dengan cepat, mencoba meraih benda itu, namun Aruna lebih lincah. Ia mundur selangkah, menyembunyikan benda itu di balik punggungnya.

“Pak Keenan. Saya tidak percaya anda benar-benar membutuhkan ini..” Aluna tersenyum tipis.

​Keenan menggeram, langkahnya maju hingga tubuh mereka kembali bersentuhan. Kali ini, ia tidak menggunakan kekuasaan kantornya, melainkan tekanan fisik yang intim. Ia mencengkram pinggang Aruna dengan satu tangan, menarik wanita itu hingga tidak ada jarak di antara mereka.

​"Kamu pikir kamu menang?" bisik Keenan, matanya menggelap karena campuran rasa kesal dan gairah yang tertekan. "Kamu memegang rahasiaku, Aruna. Tapi apa kamu lupa, bahwa aku pernah—-”

Ujarnya terhenti.

“Kamu pikir kamu bisa menanganiku kalau aku benar-benar lepas kendali?"

​Aruna hanya mendengus pelan sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu dengan bunyi klik yang tajam, meninggalkan Keenan sendirian di dalam ruangan yang sunyi, berurusan dengan ego yang hancur dan gairah yang tiba-tiba bangkit di saat yang paling tidak tepat.

**

​Keesokan paginya, ruang rapat direksi lantai teratas terasa lebih dingin dari biasanya. Keenan sudah duduk di kursi kebesarannya, setelan jas navy yang ia pakai membuatnya semakin terlihat sempurna, seakan insiden saku robek kemarin hanyalah mimpi buruk.

​Namun, hanya Aruna tahu kebenarannya. Saat ia masuk membawa tumpukan dokumen revisi, matanya sengaja menangkap pandangan Keenan. Pria itu segera membuang muka, memperbaiki letak dasinya yang sebenarnya sudah sangat rapi.

​"Baik, kita mulai," suara Keenan terdengar kaku. "Fokus hari ini, strategi pemasaran yang menonjolkan ketahanan dan... Kekuatan performa. Silahkan Aruna."

​Aruna berdiri untuk mempresentasikan datanya. Ia menyalakan proyektor, lalu menatap Keenan dengan senyum simpul yang membuat jantung pria itu berdegup tidak karuan.

​"Terima kasih, Pak Keenan," ujar Aruna formal. "Berbicara soal 'ketahanan', riset saya menunjukkan bahwa konsumen pria saat ini lebih memilih produk yang menjamin keamanan tanpa rasa khawatir akan... Kegagalan teknis di tengah jalan."

​Keenan berdehem keras. 

Beberapa manajer lain justru tampak serius, mengangguk-angguk, tidak menyadari ada perang batin yang sedang terjadi.

​"Lanjutkan, Aruna," perintah Keenan dengan nada memperingatkan.

​Aruna berjalan pelan mendekati meja Keenan untuk membagikan pamflet. Saat ia meletakkan kertas di depan Keenan, jemarinya sengaja menyentuh punggung tangan pria itu selama satu detik lebih lama.

"Kami menemukan bahwa banyak produk pesaing yang goyah karena mereka tidak memiliki support system yang kuat. Seperti yang Pak Keenan tahu, tanpa alat bantu yang tepat, sehebat apapun tampilannya dari luar, bagian dalamnya bisa saja... Tidak berfungsi maksimal."

​Wajah Keenan mulai memanas. Ia tahu Aruna sedang bermain-main dengan kata 'alat bantu'.

​"Kita tidak sedang membahas peralatan medis, Aruna. Fokus pada produk kontrasepsinya," potong Keenan tajam.

​"Tentu saja, Pak," jawab Aruna dengan nada polos yang dibuat-buat. "Maksud saya, stabilitas itu penting. Jangan sampai saat konsumen sudah 'siap', tiba-tiba terjadi kendala karena kurangnya sirkulasi…”

​Salah satu manajer senior tertawa kecil. "Teknik penjelasan yang bagus, Aruna. Memang benar, performa adalah segalanya bagi pria."

​Keenan mencengkeram pulpennya hingga kuku jarinya memutih. Di bawah meja rapat yang tertutup, kakinya tidak sengaja bersentuhan dengan kaki Aruna. 

Bukannya menjauh, Aruna justru menekan ujung sepatu hak tingginya ke betis Keenan, memberikan tekanan sensual yang membuat napas Keenan tertahan.

​"Jadi, Pak Keenan," Aruna mencondongkan tubuhnya ke arah meja, memperlihatkan sedikit lekuk lehernya yang jenjang, "Apakah strategi 'kekuatan internal' ini bisa Anda setujui? Atau Anda butuh saya untuk menjelaskan secara pribadi di ruangan Anda... Tentang cara kerja 'alat-alat' pendukung lainnya, Pak Keenan?"

​Keenan menatap Aruna dengan tatapan yang bisa membakar siapapun. Gairah dan amarah berperang di matanya. Ia menyadari satu hal, Aruna tidak hanya memegang rahasianya, wanita itu sedang memegang kendali atas seluruh kewarasannya.

​"Rapat selesai," kata Keenan tiba-tiba berdiri, membuat semua orang terkejut. "Aruna, ke ruangan saya sekarang. Kita perlu membahas 'detail teknis' yang kamu sebutkan tadi. Berdua!”

​Aruna melipat tangannya di dada, matanya berkilat penuh kemenangan. "Dengan senang hati, Pak Keenan."

Semua orang dalam ruangan itu saling berpandangan setelah Keenan keluar dari ruangan, mereka bingung melihat CEOnya tiba-tiba tampak kesal dan marah.

“Ada apa dengan Pak Keenan?” Salah satu manajer mulai tampak berbisik.

“Mungkin Aruna buat Pak Keenan kesal lagi..” kata salah satunya.

“Semua karyawan tau, hubungan Pak Keenan dan Aruna gak baik..”

“Tapi presentasi Aruna pagi ini bagus kok..”

Aruna tersenyum dalam hati. ‘Keenan, aku mau lihat bagaimana kamu menyembunyikan sikap mesum dan playboy mu selama ini di depan mereka! Tapi sayangnya ‘kemampuanmu’ sebenarnya….

terbatas..’ 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dirty Office   Bab 230 Antara Hidup dan Mati

    Keenan menggeleng lemah. Ia mengusap kasar wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih mendekap pinggang Aruna dengan posesif. "Aku tidak tahu pasti isinya, Sayang. Tapi sepertinya itu dokumen yang bisa menghancurkan jaringan bisnis gelap musuh papa kamu. Rizal tidak pernah bicara detail padaku di luar negeri, dia hanya bilang punya 'asuransi' untuk melindungimu kalau terjadi sesuatu padanya." ​Aruna menghela napas panjang. Ia merasa seolah seluruh energinya telah terkuras habis. "Aku ingin pulang, Keenan. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Terlalu banyak masalah yang kita lalui hari ini, aku lelah..." ​Keenan menatap Aruna dengan tatapan penuh permohonan. "Ayo kita pulang ke penthouse. Kita selesaikan ini bersama. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian dalam kondisi seperti ini." ​"Tidak," tolak Aruna tegas sambil melepaskan pelukan Keenan. "Aku butuh waktu sendiri. Aku tidak ingin melihatmu, tidak ingin melihat Tante Sofia, atau siapa pun. Aku hanya ingin pul

  • Dirty Office   Bab 229 Rekaman CCTV

    ​Tangan Aruna gemetar hebat saat merasakan dinginnya logam pistol dan tajamnya mata pisau yang diserahkan Keenan ke telapak tangannya. Ia menatap benda-benda mematikan itu, lalu beralih menatap mata Keenan yang merah dan basah. Di dalam ruangan itu, Aruna merasa oksigen di sekitarnya seolah menipis. ​"Bunuh aku, Aruna," bisik Keenan lagi, suaranya pecah. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa adil atas kepergian Rizal, lakukan. Aku tidak akan melawan. Aku sudah menyiapkan semuanya agar kamu tetap aman." ​Aruna menatapnya dengan pandangan hancur. "Kamu pikir dengan mati, semuanya selesai? Kamu pikir rasa sakitku akan hilang kalau kamu jadi mayat di depanku?" ​"Aku tidak punya cara lain untuk membuktikan kalau aku sangat mencintaimu!" Keenan berteriak frustrasi. Ia menarik tangan Aruna yang memegang pisau, menempelkan ujung tajamnya tepat di atas jantungnya sendiri. "Tekan, Aruna! Tekan sedikit saja, dan semua penderitaan ini berakhir!" ​"Keenan, hentikan!" Aruna menarik tangan

  • Dirty Office   Bab 228 Penjelasan yang Tak Terduga

    Gedung perusahaan itu tampak gelap, hanya lantai teratas yang lampunya menyala. Aruna masuk menggunakan kartu akses pemberian Keenan. Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, ia melihat Keenan sedang duduk di lantai, bersandar pada meja kerjanya. ​Ada beberapa botol alkohol di sampingnya. Kemeja putihnya sudah berantakan, kancing atasnya terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun tidak teratur. ​"Kamu datang..." suara Keenan terdengar serak, ia mendongak dengan mata merah. ​Aruna berdiri di ambang pintu, masih dengan gaun putih yang kotor dan basah. "Aku kesini tidak untuk memaafkan mu, Keenan. Aku ke sini untuk mendengar penjelasan apalagi yang akan kamu katakan atau mungkin kebohongan mu.." ​Keenan berdiri dengan susah payah. Ia melangkah mendekati Aruna, setiap langkahnya terasa berat. Saat jarak mereka hanya tinggal satu jengkal, Aruna bisa mencium aroma alkohol yang kuat bercampur dengan parfum maskulin yang selalu membuatnya kehilangan kendali. ​"Aku tidak

  • Dirty Office   Bab 227 Surat Apa Ini?!

    Tangan Aruna menggenggam kalung berlian pemberian Sofia begitu kuat hingga permata itu seolah menusuk telapak tangannya. ​Ia menatap kosong ke arah aspal jalanan, tempat mobil sport hitam Keenan baru saja melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan suara decitan ban yang menyayat hati. Kalimat terakhir Keenan terus terngiang di tengah suara petir yang menggelegar di sekitarnya. ​’Aku akan membayar nyawa kakakmu dengan nyawaku kalau itu bisa membuatmu memaafkan aku…’ ​"Brengsek kamu, Keenan..." bisik Aruna dengan suara serak. Air matanya mengalir, menyatu dengan air hujan yang membasahi di pipinya. "Kenapa kamu harus melakukan ini padaku, Keenan?" ​Dada Aruna terasa sesak. Kebenaran yang dilemparkan Felicia terasa seperti belati yang tidak hanya menusuk jantungnya, tapi juga mengoyak semua kenangan manis yang baru saja ia bangun dengan Keenan. Mandi bersama yang hangat di penthouse, sentuhan posesif Keenan di ruang ganti, hingga janji-janji manis tentang masa depan, semuanya kini te

  • Dirty Office   Bab 226 Kekacauan di Tengah Janji Nikah

    ​Keenan terdiam. Ia tidak menjawab. Sebaliknya, ia menarik Aruna masuk ke dalam mobil. "Kita harus ke pergi sekarang, Aruna.. Kita sudah ditunggu untuk gladi bersih untuk pernikahan. Kita akan bicara nanti, aku janji." ​Di dalam mobil, suasana terasa sangat dingin meski AC menyala rendah. Keenan mencoba meraih tangan Aruna, namun Aruna menariknya perlahan. Ia berpura-pura melihat keluar jendela, sementara di dalam tasnya, tangannya mencengkeram foto rumah sakit itu. ​Gladi bersih itu berlangsung dengan sangat khidmat, namun penuh dengan ketegangan yang tak terlihat. Alexander dan Sofia duduk di barisan depan, memperhatikan setiap langkah Keenan dan Aruna menuju altar. ​Saat mereka berdiri di depan altar dan diminta untuk saling berpegangan tangan dan mengucapkan sepintas janji sebagai latihan. ​Keenan menatap mata Aruna. "Aku, Keenan Ignazio Arkana, bersumpah untuk melindungimu, mencintaimu, dan memberikan segalanya untukmu... Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku sendiri

  • Dirty Office   Bab 225 Restu yang Tiba-tiba

    Keenan tiba-tiba merasa gelisah setelah membaca kertas yang diberikan papanya. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi Aruna. “Kenapa ponselnya mati?!” gamenya cemas. Keenan mencoba menelpon Nando dan Zaskia tapi tidak ada satupun jeng menjawab. “Sial! Kenapa ponsel mereka semua?! Tidak mungkin aku diam-diam pergi lagi ke penthouse, kan?!”gumamnya. Ia pun mengirim pesan pada Aruna. [Aruna : Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kenapa ponselnya mati?! Hubungi aku secepatnya kalau sudah baca pesan ku.] pesan itu terkirim tapi hanya centang satu. “Hhhh.. Ini benar-benar menyiksaku!” gerutu Keenan sambil mondar mandir di samping ranjangnya. Sementara itu, setelah Alexander meninggalkan kamar Keenan dengan ancaman, ia tidak langsung tidur. Ia menuju ruang kerja pribadinya, di mana Sofia, istrinya, sudah menunggu dengan wajah pucat dan mata sembab. ​”Pa, aku tidak tahan lagi," isak Sofia saat pintu tertutup. "Felicia terus menerorku. Dia meminta bagian saham lebih banyak, atau dia akan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status