LOGINRuang rapat direksi sudah penuh. Para pemegang saham dan direktur divisi duduk dengan wajah tegang, menanti kedatangan Keenan untuk memutuskan kontrak besar dengan perusahaan Hans Weber. Begitu pintu terbuka, mereka serentak berdiri. Namun, keheningan itu pecah saat suara ocehan bayi terdengar. "Ba-ba! Gya-gya!" Aruna masuk sambil mendorong stroller Kenzo. Ia menempatkan stroller itu tepat di samping kursinya yang berada di sebelah kursi utama Keenan. Para direktur yang biasanya bermuka kaku kini tampak bingung, antara ingin tertawa atau takut pada tatapan tajam Keenan yang sudah memindai seluruh ruangan. "Kita mulai rapatnya," suara Keenan menggelegar, memutus semua keraguan. Rapat berlangsung dengan tensi tinggi. Hans mempresentasikan rencana ekspansi mereka di pasar Eropa menggunakan teknologi polimer milik Arkana. Aruna memberikan tanggapan yang sangat cerdas, membedah setiap celah hukum dan teknis
Keenan sudah menunggu Aruna di depan pintu utama mansion, ia sesekali Mr. Hans yang sedang mengobrol dengan Pak Alexander. Namun, fokus utamanya tetap menunggu Aruna yang tidak juga keluar."Kenapa lama sekali, sih?” gerutunya sambil melihat jam di pergelangan tangannya. “Aruna, kita sudah sangat terlambat," seru Keenan sedikit berteriak karena sudah tidak sabar. Tidak lama kemudian, Aruna muncul di ambang pintu. Namun, pemandangan itu membuat langkah Keenan terhenti. Aruna tidak datang sendirian. Ia menggendong Kenzo yang sedang menangis histeris, wajah bayi itu merah padam, dan tangan mungilnya mencengkeram erat kerah blazer putih Aruna."Oweeekk! Oweeekkk!" tangis Kenzo pecah, menggema di seluruh area teras mansion."Cup, cup, Sayang... Mommy hanya bergi bekerja seperti biasa, nanti Mommy bawakan mainan baru ya," bujuk Aruna dengan suara yang mulai serak. Ia menatap Keenan dengan wajah memelas. "Keenan, dia tidak mau lepas. Begitu aku taru
Keenan tidak tahan lagi. Di bawah meja yang tertutup taplak putih panjang, tangan Keenan merayap masuk ke celah paha Aruna. Ia meremas paha dalam istrinya dengan kuat, sebuah tindakan posesif yang tersembunyi. Aruna tersentak kecil, sendok di tangannya hampir jatuh. Ia menoleh pada Keenan dengan mata membelalak, namun suaminya itu justru sedang tersenyum ramah pada Hans sambil membicarakan fluktuasi saham. "Keenan..." bisik Aruna hampir tak terdengar, mencoba memberi kode agar suaminya berhenti. Bukannya berhenti, jari-jari Keenan justru bergerak semakin ke atas, mendekati area sensitif Aruna yang hanya terhalang oleh celana dalam tipis. Keenan menggerakkan jemarinya dengan ritme yang sangat lambat namun menuntut, seolah sedang menghukum Aruna karena telah membuat pria lain terpesona. "Aruna, kau baik-baik saja? Wajahmu sangat merah," tanya Hans dengan nada khawatir yang tulus, yang justru semakin menyulut api cemburu
Keenan dan Aruna akhirnya turun ke lantai bawah dengan penampilan yang jauh lebih rapi. Aruna mengenakan dress hamil formal berwarna navy yang dipadukan dengan blazer putih, memberikan kesan profesional sekaligus elegan yang memancarkan aura 'Ratu Arkana'. Di sampingnya, Keenan melangkah dengan jas hitam yang sangat pas di tubuh atletisnya, tangannya melingkar posesif di pinggang Aruna. Di ruang tengah, suasana tampak hangat. Pak Alexander sedang tertawa lebar bersama seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan rambut pirang keabuan. "Ah, itu mereka! Keenan, Aruna, kemarilah! Kalian lama sekali!" seru Pak Alex menyadari kehadiran putra dan menantunya. Pria Jerman itu, Mr. Hans Weber, bangkit dari duduknya. Senyumnya melebar saat melihat Keenan, namun matanya sempat tertahan sepersekian detik lebih lama saat memandang Aruna. "Mr. Keenan, akhirnya kamu keluar juga dari sarangmu," canda Hans dengan bahasa Inggris
Kepercayaan diri Keenan di depan Aruna ternyata tidak sebanding dengan kelincahan Kenzo pagi itu. Begitu Aruna menghilang di balik pintu, Kenzo mulai beraksi. Ia merangkak kencang di atas karpet, menghindari tangan Keenan yang mencoba menangkapnya. "Kenzo, kemari! Pakai popoknya dulu, Jagoan!" seru Keenan. Keenan berhasil menangkap Kenzo, namun karena ia sambil mencoba menjawab pesan singkat dari Nando di ponselnya, konsentrasinya terpecah. Ia memasangkan popok dengan terburu-buru, lalu membiarkan Kenzo bermain dengan tumpukan berkas dan bantal yang berserakan di lantai. Sepuluh menit kemudian, Aruna keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Rambutnya basah dan wajahnya segar. Namun, matanya seketika membelalak melihat keadaan kamar. Bantal-bantal kursi berserakan di lantai, beberapa dokumen penting dari tas kerja Keenan sudah lecek karena ditarik-tarik Kenzo, dan yang paling parah, Kenzo sedang duduk di tengah karpet sambil tertawa, mengenakan popok yang je
Tok... Tok... Tok... "Keenan? Aruna? Apa kalian di dalam?" Itu suara Pak Alexander. Suaranya terdengar cemas. Keenan dan Aruna tersentak bangun bersamaan. Aruna langsung terduduk dengan napas memburu, mengira ada ancaman lain yang datang kembali. "Ada apa Keenan?! Siapa lagi kali ini?!" tanya Aruna panik, matanya liar menatap sekeliling. Keenan melihat jam dinding di kamar. Matanya membelalak. Pukul 09.30 pagi. "Sial, kita bangun kesiangan," umpat Keenan rendah. Ia segera bangkit dan meraih jubah mandinya. "Keenan! Ini Papa," suara Pak Alex kembali terdengar dari balik pintu. "Kalian tidak apa-apa? Pintu tidak dikunci dari dalam tapi Papa tidak enak mau masuk. Tim keamanan bilang kamu belum keluar kamar sejak semalam. Sopir sudah menunggu di bawah sejak dua jam lalu. Tidak biasanya kamu terlambat untuk rapat penting perusahaan, Keenan." Keenan dan Aruna saling pandang. Wajah Aruna merona merah padam saat menyadari bahwa seluruh orang di mansion, termasuk mertuanya, m
Aruna melangkah menaiki tangga pesawat jet pribadi dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan terusan summer dress tipis berwarna putih yang kontras dengan jas formal yang masih melekat di tubuh Keenan. Keenan berjalan tepat di belakangnya, tangannya tak lepas dari pinggang Aruna,
Keenan menarik napas panjang, ia menatap Aruna dan merapikan helaian rambut wanita itu. "Ryan datang dikirim oleh Vania, wanita itu benar-benar tidak jera." Keenan menatap laci dashboard yang masih terbuka, lalu menatap Aruna yang masih berada di bawah kungkungannya. H
Tangan Aruna menarik sebuah kotak kecil transparan dan sebuah benda silinder berbahan silikon lembut dengan desain yang sangat ‘unik’. Matanya membulat sempurna saat membaca label di kemasannya. Ada sebuah alat penggetar kecil, dan sebuah snail cup dengan tekstur yang tampak sangat detail.
Keenan menatap mata Aruna dengan tatapan penuh hasrat yang tidak disembunyikan sama sekali, bahkan di depan Nando dan Zaskia, ia berbisik.. "Nanti sore, setelah matahari mulai turun... Aku ingin kamu berada di kolam renang pribadi di atas tebing itu," Keenan menjeda kalimatnya,







