MasukJam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.
Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.
‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’
“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.
“Te-tetangga kos, Bu.”
“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”
“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”
“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”
Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.
Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.
“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku sampai manggil penilai, lho.” Dia menoleh ke dalam. “San! Sini!”
Dari balik rak anggrek, muncul perempuan yang membawa papan catatan. Blus putih longgar. Rambut digelung pakai pensil.
Juki membeku.
Sandra juga.
“Lho,” kata Sandra pelan. Matanya pindah dari Juki ke Bu Hesti, yang berdiri kelewat dekat di sebelah Juki. “Jadi ini toh alasannya WA-ku cuma diread.”
‘Mampus. Mampus dobel.’
“Kalian saling kenal?” tanya Tante Melinda.
“Saya yang pertama nemu dia, Tante.” Sandra tersenyum lebar, tapi matanya tidak ikut senyum. “Aglonema, anthurium, semuanya lewat toko saya.” Dia menoleh ke Bu Hesti. “Ibu ini siapanya Juki?”
Bu Hesti mundur setengah langkah. “Saya majikannya, Mbak.”
“Oh. Majikan.” Sandra manggut-manggut. “Sekarang majikan jemput tukang tamannya pakai sedan, ya.”
Tante Melinda tertawa senang, tidak sadar suasana greenhouse mendadak dingin. “Nah, pas! San, kamu yang nilai.”
Dia melangkah ke meja besi di pojok. Di atasnya ada pot keramik putih berisi philodendron berdaun panjang bergelombang. Daunnya cokelat, batangnya lembek, akarnya yang busuk menyembul dari lubang pot.
“Spiritus sancti. Delapan puluh juta, impor Brasil.” Tante Melinda menepuk meja. “Kalau kamu bisa hidupin ini, Juki, aku percaya sama albo-nya Hesti.”
“Tante, jangan,” potong Sandra. “Itu busuk akarnya parah. Saya aja angkat tangan. Kalau dia bongkar terus mati, Tante rugi delapan puluh juta.”
“Kalau mati, yang bawa dia yang ganti.” Tante Melinda melirik Bu Hesti. “Gitu kan, Hes?”
Bu Hesti diam sebentar. Lalu dia mengangguk. “Iya.”
Juki menelan ludah. Delapan puluh juta. Kalau gagal, Bu Hesti yang bayar, dan Sandra yang ketawa paling kencang.
‘Jangan diem, Juk. Tapi jangan sampai gagal juga.’
Tanaman itu dia keluarkan dari pot. Akar busuknya dia buang satu per satu, sampai tinggal tiga akar tipis yang masih putih. Setiap kali gunting Juki berbunyi, Tante Melinda meringis. Sandra melipat tangan, menunggu Juki salah langkah.
Juki menanamnya lagi di media baru, lalu menangkup batangnya pakai dua tangan.
Hangat itu datang, kali ini lebih berat. Jari-jarinya kesemutan. Keringat dingin menetes di pelipis. Bintik di lehernya berdenyut keras.
Wangi madu pelan-pelan memenuhi greenhouse.
Sandra mengangkat kepala. Hidungnya bergerak. Lalu dia melirik Bu Hesti, yang tanpa sadar sudah maju selangkah ke punggung Juki.
“Bu Hesti nyium juga, kan?” tanya Sandra manis. “Wanginya.”
“Saya cuma nyium bau tanah, Mbak,” jawab Bu Hesti tenang.
“Oh. Tanahnya wangi madu ya, Bu.”
Juki tidak berani menoleh. Dua perempuan di belakangnya sama-sama diam, tapi diamnya bikin tengkuk Juki dingin.
Lima menit, lalu dua puluh menit. Kaki Juki mulai gemetar, kepalanya berputar.
Sejam kemudian, Juki menarik tangannya dan hampir jatuh terduduk. Bu Hesti dan Sandra sama-sama refleks mengulurkan tangan. Tangan mereka bertemu di bahu Juki, lalu sama-sama ditarik lagi.
Philodendron itu sudah tegak. Dua daunnya terangkat. Di pangkal batang, satu tunas hijau menyembul.
Lama sekali Tante Melinda memegangi tunas itu. Lalu dia berjalan ke meja kerjanya dan mengeluarkan buku cek.
Sret.
“Tiga ratus juta,” katanya sambil menyodorkan selembar cek ke Juki. “Anggap uang muka. Semua tanaman dari tanganmu, aku yang lihat duluan. Cuma aku.”
“Tante,” suara Sandra meninggi. “Dia udah janji ke saya duluan.”
“Itu janji doang, San. Ini cek.”
Dua perempuan itu menatap Juki. Bu Hesti diam saja, tapi dia juga ikut menunggu.
‘Ambil, dan hidupmu berubah hari ini. Tapi Mbak Sandra yang pertama percaya waktu semua orang ngetawain kamu.’
“Saya nggak bisa janji ke satu orang aja, Tante,” kata Juki serak. “Tante boleh lihat duluan. Tapi lewat Mbak Sandra.”
Greenhouse itu hening.
Tante Melinda menatapnya lama, lalu tertawa keras. “Tukang taman berani nawar cek tiga ratus juta. Oke. Lewat Sandra.”
Cek itu pindah ke tangan Juki. Begitu Tante Melinda membalik badan, Sandra berbisik di dekat telinganya.
“Mukaku selamet gara-gara kamu,” bisik Sandra. “Tapi utangmu nambah, Juk.”
*****
Di mobil, lama Bu Hesti tidak bicara.
“Mbak Sandra itu,” katanya akhirnya, matanya ke jalan, “akrab banget ya sama kamu.”
Belum sempat Juki menjawab, HP Bu Hesti berdering. Di layarnya tertulis Mas Darma.
Bu Hesti mengangkatnya. Suara Pak Darma di seberang kencang sampai terdengar ke kursi Juki.
“Melinda barusan nelepon aku. Muji-muji tukang CV-ku. Katanya dia ngasih cek tiga ratus juta.”
Bu Hesti tidak menjawab. Rahangnya mengeras pelan-pelan.
“Itu duit CV, Hes,” lanjut Pak Darma. “Kata Darto, kamu sendiri yang bawa anak itu. Suruh dia ke kantor besok jam tujuh pagi. Kalau nggak dateng, kulaporin polisi. Nipu klien.”
Klik.
Muka Bu Hesti mendadak dingin.
Juki memandangi cek di tangannya. Kertas itu bergetar, karena tangannya sendiri yang gemetaran.
Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.
Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T
“Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K
Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu
Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s
Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah







