MasukPelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.
Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.
‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’
“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”
Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.
“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”
“Selamat, ya.”
Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.
“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.
“Kenapa apanya?”
“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”
“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”
Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dahinya mengernyit.
“Kamu pakai parfum?”
“Nggak.”
“Bohong. Wangi madu gini.” Silvi mendengus, tapi kakinya tidak mundur. Malah maju selangkah. “Dapet duit dari mana beli parfum? Ngutang lagi?”
‘Dulu dia ogah berdiri sedeket ini sama aku kalau ada orang.’
“Kalau udah kelar ngobrolnya, aku mau lanjut kerja, Sil.”
Pipi Silvi memerah, kesal karena kalah omong. HP dia keluarkan dari tas.
“Oke. Aku telepon Papa sekarang. Biar Papa yang ngusir kamu.”
“Nggak usah nelepon Papa.”
Suara itu datang dari arah pintu kaca teras.
Bu Hesti berdiri di sana. Rambutnya masih basah, kausnya putih longgar, celananya kain. Mukanya tenang, tapi matanya lurus ke Silvi.
“Mama yang nyuruh dia ke sini, Sil.”
“Ma! Mama tahu nggak dia itu siapa?”
“Tahu.” Bu Hesti melangkah turun ke teras. “Cowok yang kamu putusin di depan orang sepasar. Yang gelangnya kamu lempar ke got.”
Silvi melongo. “Kok Mama tahu?”
“Kamu sendiri yang cerita sambil cekikikan di meja makan.” Bu Hesti berhenti di sebelah monstera, tepat di samping Juki. “Mama dengerin. Tapi Mama nggak ikut ketawa.”
Juki menelan ludah. Menoleh ke perempuan di sebelahnya pun dia tidak berani.
‘Ibunya Silvi... malah belain aku?’
Tiiin!
Dari luar gerbang, mobil putih membunyikan klakson lagi. Rendi tetap tidak turun.
Silvi memandangi ibunya, lalu Juki, lalu ibunya lagi. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada yang keluar. Akhirnya dia balik badan dan masuk lewat pintu samping. Hak sepatunya berketuk keras di lantai marmer. Tak lama kemudian mobil putih itu pergi sendirian.
Bu Hesti menghela napas panjang. “Maaf ya, Juki. Anak saya memang begitu.”
“Nggak apa-apa, Bu.”
“Tadi kamu nggak marah sama dia.”
“Marahnya udah abis, Bu,” kata Juki jujur. “Kamis kemarin udah kepake semua.”
Bu Hesti menatapnya, lalu tersenyum tipis. Senyumnya sama dengan waktu dia bilang sabun colek tadi.
*****
Menjelang jam empat sore, Juki menyiram monstera itu untuk terakhir kali.
Hari itu sudah tiga kali dia memegangnya. Pagi, siang sehabis makan nasi bungkus dari Mbok Sum, lalu sore ini. Setiap kali, tangannya panas sampai siku dan kepalanya agak pening.
Daun-daun kuningnya sudah dia potong. Yang tersisa tinggal empat lembar hijau yang masih sehat, ditambah satu gulungan tunas baru di tengah yang tadi pagi belum ada.
Sekarang gulungan itu membuka pelan-pelan.
Juki berjongkok dengan napas tertahan.
Daun baru itu lebar, berlubang-lubang khas monstera. Separuhnya hijau tua. Separuh lagi putih bersih, dengan garis tegas di tengah.
“Bu,” panggilnya serak. “Bu Hesti. Sini, Bu.”
Bu Hesti keluar dari ruang tengah membawa secangkir teh. Begitu melihat daun itu, langkahnya terhenti.
Cangkirnya miring. Tehnya tumpah sedikit ke lantai teras.
“Ini... monstera ibu saya?” Bu Hesti berjongkok di sebelah Juki dan menyentuh bagian daun yang putih pakai ujung jari. “Kok jadi albo?”
“Saya juga nggak tahu, Bu. Saya cuma ngerawat.”
“Cuma ngerawat.” Bu Hesti menoleh ke Juki, lama. “Kamu ini sebenernya siapa, sih?”
Juki tidak punya jawaban. Wangi madu menguar lagi di antara mereka, lebih pekat dari tadi pagi.
Di lantai dua, gorden jendela kamar bergeser sedikit. Dari sudut matanya, Juki melihat Silvi berdiri di baliknya, memandangi teras.
Bu Hesti mengeluarkan HP dari saku celana dan memotret daun itu dari dekat. Jarinya mengetik sebentar.
“Saya kirim ke grup arisan,” katanya. “Biar temen-temen saya tahu monstera ibu saya hidup lagi.”
Belum ada semenit, HP itu berdering.
Bu Hesti melirik layarnya dan tertawa kecil. “Melinda. Udah saya duga.”
“Melinda siapa, Bu?” tanya Juki.
“Temen arisan saya. Umurnya empat puluh lima, hobinya ngoleksi tanaman.” Bu Hesti menggeser layar. “Kalau udah lihat tanaman bagus, dia bisa melek semalaman.”
Suara perempuan di seberang langsung terdengar sampai ke telinga Juki. Cepat dan menggebu.
“Hes! Albo segede gitu dapet dari mana? Jual ke aku. Sebut aja harganya!”
“Nggak dijual, Mel. Itu peninggalan almarhumah Ibu,” jawab Bu Hesti santai.
“Kalau gitu siapa yang ngerawat? Bagi nomornya dong!” desak Tante Melinda.
Bu Hesti melirik Juki sambil tersenyum tipis.
“Tukang taman saya,” jawabnya. “Masih muda. Orangnya lagi di sebelah saya.”
Seberang sana hening sebentar. Lalu suara Tante Melinda turun, pelan dan serius.
“Bawa dia ke rumahku besok, Hes. Aku pengin lihat semua yang dia punya.”
Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.
Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T
“Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K
Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu
Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s
Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah







