เข้าสู่ระบบ"Terimakasih sudah hadir di kehidupanku, Nara. Sekarang aku akan meneruskan hidupku tanpa bayangan dirimu. Selamat tinggal, Nara," bisik Ethan pada dirinya saat sedang membakar semua tentang Nara. Ethan tidak mau menyimpan lagi tentang Nara karena tak ingin ada hati yang merasa diduakan nantinya di dalam hidupnya. Ethan mau dia seutuhnya untuk perempuan yang akan menemani hidupnya ke depan. "Gak ada kegiatan hari ini, Ma?" tanya Ethan ke Mamanya yang lagi duduk menyeduh teh. "Tadinya sih mau ada pergi senam, tapi gak jadi instrukturnya berhalangan hadir," jawab Mama. "Oh ya, Mama lagi pengen makan apa?" tanya Ethan. "Mama lagi pengen nimang cucu," jawaban Mama bikin Ethan yang lagi bikin kopi hampir saja tersiram air panas. "Asli bikin aku shock, Ma," ucap Ethan. "Jadi, kapan kamu mau melamar Rania?" tanya Mama. "Ma, pelan-pelan dong," ucap Ethan. "Menunggu apa lagi? Mama lihat kamu sudah bisa benar-benar move on dari Nara," jelas Mama. "Iya Ma, tapi Rania belum si
Gavin terlihat sekali tak ingin pisah dengan Ethan. Rania bisa merasakan anaknya semakin sayang dengan laki-laki yang menolongnya keluar dari masa-masa terburuk di hidupnya. Laki-laki asing yang memang hanya ingin menolong, hati yang begitu tulus. Sementara di sisi lain Ethan juga merasakan hal yang sama. Hatinya berat sekali melihat Gavin dan Rania akan terbang ke Semarang. Ada suara di hatinya yang berteriak meminta mereka untuk tetap tinggal. "Mamaku titip salam, senang bertemu denganmu katanya," ucap Ethan sebelum Rania masuk ke pintu keberangkatan. "Iya, salam juga dengan Mamamu ya," jawab Rania. "Semoga lain waktu ada waktu yang lebih panjang untuk kalian saling berkenalan ya," kata Ethan. "Iya, semoga. Aku masuk dulu ya," pamit Rania. "Iya, hati-hati ya," ucap Ethan. "Om Baik sampai ketemu lagi ya," kata Gavin sambil melambaikan tangannya masuk ke pintu keberangkatan. Rania dan Gavin menghilang dari pandangan Ethan, ia langsung ke parkiran untuk balik ke kantor
Rania membersihkan Gavin, mandi dan beres-beres sebelum tidur. Rania juga sudah bersiap tidur dengan piyamanya. Sebelum tidur pertanyaan Gavin bikin Rania merenung lama. "Bun, apa nanti kita bisa jalan-jalan lagi dengan Om baik?" tanya Gavin."Emangnya kenapa?" tanya Rania."Gavin senang, Om Baik boleh gak jadi keluarga kita Bun?" ucap Gavin bikin Rania bingung mau jawab apa."Emangnya menurut Gavin Om baik itu gemana orangnya?" tanya Rania ingin tahu apa yang dirasakan anaknya."Om baik itu seperti ayahnya Tino, Gavin pengen seperti Tino yang punya teman main Bun," ucap Gavin."Kan Gavin bisa main sama Bunda," jawab Rania."Gak seru Bun, kan laki-laki mainnya sama laki-laki dong Bun," jawab Gavin."Gitu ya, nanti kita tanyain ke Om baik ya," ucap Rania untuk mengalihkan pertanyaan itu."Oke deh Bun," jawab Gavin.Rania tak pernah cerita soal Dori yang masih hidup. Semua foto-foto masa kecil Gavin dan Dori juga tidak pernah Rania tunjukkan. Rania tidak siap untuk menceritakan luka it
Ethan tiba di hotel lebih dulu dari yang dijanjikannya ke Rania. Di meja resto Rania masih santai menikmati sarapan dengan Gavin. "Bun, itu Om baiknya," ucap Gavin menunjuk. "Oh ya," jawab Rania kaget. Ethan datang dengan senyum lebarnya. Ada sebuah paperbag yang dibawanya. "Ini buat Gavin," ucap Ethan. "Apa itu?" tanya Rania. "Gavin buka saja," kata Ethan. Rania membantu Gavin membuka hadiah yang dibawakan Ethan. Lalu Gavin tertawa riang sekali begitu melihat isinya sweater dino yang lucu. "Wuah, keren banget. Gavin mau pakai ini ya Bun," ucap Gavin. Ethan dengan sumringah membantu Gavin menggunakan sweater itu, ukurannya pas sekali di badan Gavin. "Kita mau ke mana Om?" tanya Gavin setelah mengenakan sweaternya. "Ada deh. Gavin selesaikan dulu makannya ya," ucap Ethan. "Siap Pak Bos," jawab Gavin ketawa. "Kamu gak perlu repot-repot," kata Rania. "Gak repot sama sekali, aku senang lihat Gavin senang," ucap Ethan. "Terimakasih ya," jawab Rania. Mereka
Rania dan Gavin tiba di hotel jam 19:25 Wib. Ethan mengantarkannya sampai depan kamar hotel, membantu Rania membawa barang-barangnya. "Kalau ada apa-apa kabari ya," ucap Ethan. "Iya, aman," jawab Rania. "Mau aku belikan makan malam dulu?" tanya Ethan. "Gak usah aman, nanti tinggal gofood saja," ucap Rania. "Beneran?" tanya Ethan meyakinkan. "Iya, aman. Kamu hati-hati pulangnya," kata Rania. "Iya, selamat istirahat ya," ucap Ethan meningglkan Rania. "Ethan," panggil Rania. "Iya?" jawab Ethan. "Terimakasih ya untuk hari ini," kata Rania. "Iya sama-sama." Ethan tersenyum. Gavin langsung terlelap sampai di kamar hotel. Lelah sekali seharian. Rania mengecup kening penguat hidupnya selama ini, menyelimutinya, lalu duduk di depan balcon hotel. Menyeduh secangkir kopi, rasanya malam ini matanya enggap terlelap. Tak ada rasa lelah, Rania hanya merasa bimbang dengan situasi yang ia jalani. "Halo, kamu jangan begadang ya," ucap Ethan di telepon. "Hmmm, gak kok," jaw
Rania berusaha tenang, menenangkan sesak yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Bukan belum move on dari luka, tapi ternyata melihat luka itu ada di depan matanya belum menjadi hal yang biasa baginya. Ethan selesai dari kamar mandi dengan Gavin. Ethan tahu laki-laki yang bersama perempuan hamil itu adalah Dori. Ethan duduk di depan Rania. Mengkondisikan Gavin lalu memegang jemari Rania yang terasa dingin."Minum dulu ya," ucap Ethan mengelus punggung Rania."Terimakasih ya," jawab Rania."Apa mau kita pulang saja?" tanya Ethan."Gak papa, aman. Kita selesaikan saja dulu makannya," ucap Rania."Baik, kasih tahu aku kalau kamu sudah gak bisa ya," kata Ethan."Iya," jawab Rania.Rania pelan-pelan melanjutkan makannya. Ethan meninggalkan meja makan sejenak dan pergi ke meja kasir untuk memesan dua gelas es krim. Tak lama es krimnya diantarkan ke meja mereka. "Ini Mas dua es krimnya," ucap pelayan resto."Wuah, Gavin mau ya om," teriak Gavin kesenangan."Satunya buat kamu, makan y
Hati ibu mana yang tidak hancur mendengarkan kabar luka dari anaknya. Ibu Rania yang datang menjemputnya, datang untuk membawanya pergi meninggalkan segala duka."Ikut Mama pulang, sudah cukup kamu berjuang," kata mamanya sebelum meminta Rania mengemas barang-barangnya."Mama selama ini diam bukan
Dori pulang dari kantor tanpa berbicara apa pun. Rania mengunci pintu dan mencabut kuncinya supaya Dori bisa membuka pintu sendiri tanpa membangunkannya. Dori memilih tidur di kamar sebelahnya. Sejak malam ini Dori dan Rania pisah kamar. Situasi ini berlangsung hampir satu bulan. Tanpa ada niat unt
Kalau kesusahan ekonomi masih bisa ditabahkan seorang istri, tidak dengan perselingkuhan. Perempuan mana yang tidak hancur mengetahui kenyataan dirinya diduakan. Mungkin ada istri yang masih memilih bertahan, tapi tidak semua istri kuat untuk memilih bertahan. Seperti gelas kaca yang sudah pecah te
Pagi ini Rania bangun lebih awal. Alarmnya berbunyi jam 4 pagi. Ada orderan untuk acara hajatan kue 200 kotak. Rania mengerjakannya sendiri. Pesanan sudah masuk 3 hari yang lalu. Rania sudah mengangsur membentuk kotaknya. Sebagian isi kuenya sudah dikerjakannya kemarin. Pagi ini tinggal menambah ku







