LOGINSetelah malam ulang tahun Arjuna waktu itu, hari-hari Sinta berjalan dengan tenang. Ia disibukkan dengan pekerjaannya di butik bersama Lula, mempelajari banyak hal dari sahabatnya itu. Mulai dari cara melobi calon pelanggan, menyusun kontrak kerja sama dengan calon distributor, dan lain sebagainya. Dalam kurun waktu itu juga, ayahnya sama sekali tidak muncul dan membuat masalah dengannya. Sinta sangat mensyukurinya. Kebetulan hari itu, Sinta mendapat kabar bahwa bukunya yang berjudul Bunga yang Tumbuh di Atas Duri akan resmi diluncurkan dalam dua hari. Tentu saja Sinta merasa sangat antusias sekaligus gugup. Kali ini, Sinta ingin merayakan hari baik itu bersama dengan nenek beserta keluarga besar sang nenek. Ia pun berencana untuk pergi ke rumah neneknya setelah pulang dari butik. Sebelum pergi ke rumah neneknya, Sinta menyempatkan diri untuk membeli buah tangan, seperti buah-buahan dan kue kesukaan neneknya. Perjalanan menuju ke rumah neneknya dari lokasinya saat ini memakan wa
Jay tersenyum miring, sebuah seringai dingin yang jarang sekali diperlihatkannya pada orang lain. Sebelum ia sempat melontarkan jawaban untuk mempermalukan Jupiter, suara Sinta lebih dulu menginterupsi. "Memangnya kalau dia bukan pewaris Pandawa Group, apa urusannya dengan kalian?" Sinta menarik lengan panjang Arjuna dengan lembut ke belakang tubuhnya. Wanita itu menatap Arjuna sepersekian detik, dan hatinya seketika merasa kasihan saat melihat wajah Arjuna yang murung layaknya anak kucing yang tersesat. Sinta menatap Jupiter dengan tajam. "Jupiter, Orion, aku belum pernah melihat tuan muda keluarga kaya yang lebih tidak berguna daripada kalian." Mendengar perkataan Sinta yang begitu terang-terangan demi membela pemuda bernama Arjuna itu, tidak hanya Jupiter dan Orion yang tercengang, Abimanyu pun terlihat mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Sinta menarik napas sejenak, kemudian melanjutkan, "Kalau bukan karena harta orang tua, kalian juga bukan siapa-siapa. Apalagi aku dengar ka
Sinta mengalihkan pandangannya dengan gugup, menghindari tatapan mata Arjuna yang begitu intens. "Kalau begitu, ayo kita rayakan malam ini dengan meriah. Kebetulan hari ini Sinta kita juga baru saja mendapatkan sertifikat menjandanya," ucap Lula dengan menggebu-gebu. "Lula... tolong hentikan candaanmu itu," tegur Sinta dengan tatapan galak. Alih-alih takut, Lula malah tertawa kecil. "Kalau begitu, ayo kita pesan makanan yang banyak. Kita makan sampai kenyang. Karena ini adalah acaraku, jadi aku yang akan bayar," ucap Arjuna dengan wajah ceria. Lula menyambutnya dengan antusias, begitu juga dengan Jay. Sementara Sinta hanya tersenyum sambil sesekali beradu pandang dengan Arjuna. Malam itu, ruang privat berukuran sedang yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota dari ketinggian lantai rooftop itu berubah menjadi hangat. Meja bundar di hadapan mereka perlahan-lahan dipenuhi oleh berbagai macam hidangan lezat—mulai dari daging panggang dengan aroma rosemary yang menggu
"Benar! Jay yang memberitahuku barusan." Lula berbicara dengan sangat antusias. Sinta terkekeh geli. "Pokoknya kamu cepetan siap-siap, 15 menit lagi aku sampai." Tanpa memberi kesempatan Sinta untuk berbicara ataupun bertanya lebih lanjut, Lula sudah memutuskan sambungan teleponnya. Sinta tertegun memandangi ponselnya. Arjuna berulang tahun? Ia bahkan tidak tahu tanggal lahir Arjuna, sementara pemuda itu selalu tahu cara membuatnya merasa spesial. Perasaan bersalah langsung menyeruak di dadanya. Tanpa membuang waktu lagi, Sinta langsung berlari kecil menuju ke apartemennya. Begitu masuk ke kamarnya, ia membuka lemari pakaian, mencari setelan kasual namun tetap anggun yang pantas dikenakan untuk acara kejutan ulang tahun. Pilihan akhirnya jatuh pada sebuah dress midi berwarna navy berlengan panjang yang dipadukan dengan sepatu flat shoes berwarna senada. Ia menyapukan sedikit riasan natural di wajahnya dan membiarkan rambut panjangnya tergerai rapi. Tepat saat ia menyemprotk
Di dalam taksi, Sinta menarik napas panjang begitu mobil yang ditumpanginya membelah jalanan ibu kota yang basah terguyur hujan. Map putih berisi surat putusan cerai di dalam tasnya terasa begitu ringan, tetapi maknanya jauh lebih berat dari apa pun yang pernah ia pikul selama tiga tahun terakhir. Akhirnya ia benar-benar sendiri. Tidak lagi terikat dengan keluarga Djaja maupun keluarga Jayadi. Ia hanyalah Sinta. Sinta Saraswati yang terbebas dari segala bentuk kekangan. Sesampainya di butik, Lula langsung menyambutnya dengan pelukan hangat, seolah tahu persis apa yang baru saja dilewati sahabatnya itu. Tidak banyak kata yang terucap, tetapi pelukan erat Lula sudah lebih dari cukup untuk meredakan sisa-sisa kesedihan di hatinya. Hari itu dihabiskan Sinta dengan bekerja seperti biasa—menyelesaikan desain gaun pesanan klien, membalas surel dari editor Gramesia terkait revisi naskah web novelnya, dan menyibukkan diri agar pikirannya tidak kembali melayang pada sosok pria yang baru saj
"Penjualan perangkat lunak. Aku diminta ke luar negeri untuk bertemu langsung dengan distributor lokal di sana, sekalian mempelajari tren dan selera konsumen di sana." "Begitu ya..." Sinta berpikir bahwa jabatan Arjuna mungkin cukup penting, bukan sekadar staf penjualan biasa. Arjuna hanya mengiyakan seadanya. Sinta pun tidak bertanya lebih lanjut, khawatir Arjuna mungkin merasa tidak nyaman. Mereka pun menikmati makan siang hari itu dengan hangat dan menyenangkan. Beberapa hari setelahnya, Sinta sibuk bekerja seperti biasa sambil memeriksa surel dari editor Gramesia yang terkadang memintanya melakukan revisi di beberapa bagian. Sinta pun melakukannya dengan senang hati. Sampai satu surel dari pengacara Abimanyu membuatnya tertegun cukup lama. Surat putusannya sudah terbit. Sinta bisa mengambilnya di pengadilan besok. Akhirnya ia resmi bercerai. Meskipun ada kelegaan yang tak terkira di dalam hatinya, tetap saja Sinta merasa sedih karena rumah tangganya berakhir kandas sepert







