Mag-log inGimana sih bang Bima teh maunya apa sih? =_=
Sinta memandangi foto anak laki-laki berwajah rupawan namun memiliki sorot mata sendu itu dengan lekat. Ada getaran aneh di dalam dadanya—sebuah perasaan familiar yang sangat samar, seolah memanggil memori lamanya dari balik kabut masa lalu yang pekat. Jemarinya yang memegang pinggiran kertas perlahan membalik lembaran berikutnya. Mata Sinta membelalak saat membaca data pribadi di berkas medis lama dari sebuah rumah sakit luar negeri. Nama anak laki-laki itu tertulis jelas: Arjuna Pandawa, dengan catatan medis mengenai trauma fisik akibat kecelakaan lalu lintas belasan tahun lalu. Sinta membelalak sempurna saat melihat catatan kecelakaan itu menyebutkan nama sang ibu, Utari Saraswati. Trauma psikis? Arjuna mengalami trauma psikis karena kecelakaan yang dialami oleh ibunya? Apa maksud dari semua ini? Apa saat kejadian itu, Arjuna juga ada di tempat? Sinta kembali membuka halaman-halaman berikutnya dimana di sana terdapat rekam jejak Arjuna yang mencari tahu tentang Sint
Sinta tertegun mendengar pernyataan Abimanyu. Membongkar rahasia Arjuna? "Apa maksudmu, Mas? Kalau kedatanganmu hanya untuk merusak kebahagiaanku, sebaiknya kamu pergi." "Sinta, aku melakukan semua ini untuk kebaikanmu." "Untuk kebaikanku?" Sinta menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menekan amarahnya yang mulai bergejolak. "Mas, kamu bahkan tidak pernah memikirkan kebaikanku saat masih menjadi istrimu. Sekarang kamu tiba-tiba datang dan mengatakan hal aneh tentang calon suamiku, padahal aku akan menikah dengannya beberapa hari lagi." Abimanyu tampak menegang, rahangnya mengeras. Pria itu membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, namun pada akhirnya hanya menyodorkan sebuah map berwarna merah kepada Sinta. "Aku tahu kamu membenciku karena kematian anak kita, tapi—" "Tidak, Mas, kamu salah paham. Aku sudah berhenti mencintaimu jauh sebelum kecelakaan itu terjadi." Abimanyu terperangah. "Apa maksudmu?" "Kamu mungkin lupa, jadi aku akan mencoba mengingatkanmu. Kamu ingat
Setelah meninggalkan kantor polisi, Sinta tidak kembali ke kantornya. Karena pernikahannya dengan Arjuna hanya tinggal hitungan hari, Sinta melakukan tradisi keluarga, yaitu dipingit. Itu sebabnya selama beberapa hari ke depan sebelum hari akad tiba, Sinta akan tinggal di rumah neneknya.Mobil Arjuna sudah terparkir dengan rapi di halaman rumah Nenek Gayatri.Mulai besok, Sinta akan tinggal di sini, jadi Arjuna sudah tidak diperbolehkan untuk bertemu atau keluar bersama Sinta."Bagaimana kalau aku tinggal di rumah pamanmu?""Juna, hentikan..." Sinta terkekeh.Sudah dua hari Arjuna terus merengek gara-gara tidak boleh bertemu dengan Sinta selama seminggu ke depan sampai hari pernikahan."Bagaimana aku akan menjalani hari-hariku nanti?""Lebay. Kan kita bisa video call?"Arjuna tetap cemberut, wajahnya jadi sangat lucu kalau sudah begitu karena sangat berlawanan dengan tubuhnya yang tinggi besar."Kamu benar-benar mau menikah denganku tidak sih?""Mau, dong!""Kalau begitu, yang patuh,
Apa lagi yang direncanakan Mas Bima? batin Sinta gelisah. Arjuna yang menyadari perubahan ekspresi Sinta langsung mengusap lembut punggung tangan wanita itu. "Ada apa, Queen? Kamu lelah?" Sinta menggeleng pelan, menepis bayangan Abimanyu dari pikirannya. "Tidak apa-apa, Juna. Hanya merasa... semuanya berjalan begitu cepat." "Tenanglah, semuanya sudah berakhir untuk mereka," ucap Arjuna menenangkan, meski jauh di lubuk hatinya, Arjuna tahu bahwa ancaman sebenarnya justru belum dimulai. Sementara itu, di dalam mobil mewah yang melaju kencang membelah malam kota Jakarta, Abimanyu duduk di kursi belakang dengan tangan mengepal erat di atas lututnya. Ia baru saja menerima pesan masuk dari Detektif Arya Gunadi di ponselnya, lengkap dengan foto-foto lama Arjuna dan beberapa catatan yang menjadi fakta baru bagi Abimanyu. "Arjuna..." desis Abimanyu penuh dendam dengan mata menyala-nyala di balik temaram lampu jalanan. "Kau pikir kau bisa menyembunyikan kebenaran itu selamanya dari Sinta?
Melihat dokumen yang familiar di tangan Sinta, wajah Ruslan seketika menjadi pucat. Pupil matanya tampak bergetar saat memindai akta kepemilikan saham dan aset berwarna biru tua itu. "T-tidak mungkin... Bagaimana bisa dokumen itu ada padamu? Jelas-jelas aku..." Ruslan menelan ludahnya dengan susah payah. Sinta tahu betul bahwa pria itu tidak mungkin mengatakan bahwa dia telah mencuri dokumen itu dari kantor Saraswati Corp. "Jelas-jelas apa, Pak Ruslan? Kenapa Anda tidak melanjutkan ucapan Anda?" tanya Sinta sembari tersenyum. Di sampingnya, Lula melipat kedua tangannya di dada, tampak menikmati pertunjukan yang dimainkan oleh sahabatnya itu. Apalagi melihat wajah Ambar yang berubah hijau, Lula hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Gadis itu pun berbisik di telinga Sinta, "Luar biasa, Sin. Aku tidak menyangka kamu punya sisi yang kejam begini, tapi aku suka, hihi." "Karena mereka berani mengincar keluarga ibuku, terutama Nenek. Jadi, aku memutuskan unt
Melihat suasana yang mulai gaduh, pembawa acara itu pun menegur Krisna, Ambar, serta Ruslan. Ketiga orang itu pun kembali duduk. Pembawa acara kemudian mengumumkan nama-nama pelanggan prioritas yang berhasil mendapatkan slot pembelian set terbaru yang hanya diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas. Namun saat mendengar namanya tidak disebut, Ambar pun berdiri kembali dan langsung memprotes. "Tunggu! Kenapa namaku tidak masuk dalam daftar? Aku jelas-jelas sudah menghubungi pihak kalian dan mengatakan bahwa aku akan membelinya secara tunai!" Mendengar ucapan Ambar, suasana pun kembali gaduh karena para tamu saling berbisik, bahkan ada yang terang-terangan menyindir. "Nyonya Jayadi, maaf jika Anda tersinggung, tapi saya dengar kondisi keuangan keluarga Jayadi sedang buruk, jadi sebaiknya Anda..." "Diam! Apa hakmu untuk mengaturku?" bentak Ambar sambil menunjuk ke arah wanita itu. Kali ini Krisna pun ikut menimpali, "Ambar, beliau benar. Kondisi keuangan kita sedang tid







