Compartir

Ingin Sendiri

last update Última actualización: 2026-01-05 22:27:16

Aku melangkah ngontai di lorong rumah sakit membawa serta hati yang hancur untuk kesekian kali. Entah kutukan apa yang menempel padaku hingga mengalami semua ini. Beberapa orang yang menatap dengan berbagai ekspresi, tak kuhiraukan sama sekali. Aku biarkan saja mereka dengan pemikiran masing-masing.

Langkah ini semakin berat seiring dada yang kian sesak. Bahkan untuk sekadar bernapas pun sulit rasanya. Dan ini semua hanya karena seorang Bas.

Kenapa kamu kembali di saat kondisinya sudah tak lagi sama, Bas? Kenapa kamu malah muncul dengan wanita lain yang sudah menjadi calon pendamping?

Aku ingat pernah berdoa pada Tuhan agar jangan dipertemukan dengan Bas saat pemuda itu sudah memiliki pasangan. Tapi, apa ini? Apa Tuhan menolak doa yang kupanjatkan? Apa salahku, Tuhan?

"Yun! Kamu mau ke mana?"

Langkahku terhenti seketika saat mendengar suara Pak Anwar dari belakang. Tak ingin dia tahu jika keadaanku sedang kacau, segera kaki ini meneruskan langkah tanpa menoleh ke belakang.

"Yun! Yuni
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Pekerjaan Baru

    "Ada kabar baik, Mbak! Bos di kantor lagi cari staf buat gantian posisiku. Dia maunya yang masih saudaraku, Mbak. Kamu saja yang gantikan, ya?"Berita yang dibawa oleh Risma malam tadi lewat panggilan, benar-benar menjadi angin segar. Setelah satu bulan lamanya aku tinggal di rumah Ibu dengan hanya berjualan daster secara online, akhirnya kini aku menemukan pekerjaan baru. Ya, meski belum melakukan interview, sih. Tapi, setidaknya aku harus optimis.Risma bilang, bosnya sangat baik meski jarang datang ke perusahaan tiap waktu. Kebetulan sekali jika begitu.Selama satu bulan ini aku sudah mencari kerja ke mana-mana, tapi tak ada perusahaan yang mau menerima. Aku sadar diri, mungkin karena pengalamanku dalam dunia kerja bisa dibilang kurang meski memiliki ijazah dengan IPK tinggi. Sebelum pergi ke kantor bekas Risma bekerja, aku lebih dulu mengantar Aiza ke sekolah. Cukup dengan berjalan kaki karena hanya berjarak setengah kilometer dari rumah. Beruntung jika pulang, Aiza ada teman.Wa

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Runyam

    Hari pertama kembali ke rumah Ibu sungguh berat untukku. Sejak aku datang hingga kini waktu sudah malam, Ibu selalu saja diam. Bahkan, saat aku membantu memasak di dapur, Ibu tak mengucapkan satu patah kata pun. Baru setelah selesai dan aku hidangkan makanan di meja, Ibu berkata, "Adekmu mau datang. Jangan dulu makan!"Dan ya, saat ini aku hanya bisa diam di dalam kamar bersama Aiza.Sungguh, aku tak ingin menyalahkan Ibu atas sikapnya yang demikian. Aku sadar, Ibu sudah banyak merasakan susahnya menjalani kehidupan. Di tengah kondisi ekonomi yang pas-pasan bahkan sering kurang, Ibu dan Bapak harus membesarkan empat orang anak dan menyekolahkan hingga ke perguruan tinggi. Sebab itulah Ibu selalu sinis padaku, karena langsung menikah dengan Mas Bagus setelah lulus."Mama ...."Panggilan Aiza membuyarkan lamunanku. Kutatap gadis kecil dengan rambut yang dikuncir dua ini. "Apa, Sayang?""Nenek nggak seru!" rajuknya. Bibir warna merah muda itu mengerucut hingga terlihat lucu di mataku. A

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Hanya Rindu

    Keputusanku sudah bulat. Tepat satu minggu setelah pertemuanku dan Bas di rumah sakit, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Ya, aku tahu di sana pasti akan mendapat banyak tekanan mental. Tapi, mau bagaimana? Aku tidak tahu harus pergi ke mana.Rasanya akan percuma jika masih tinggal di satu kota dengan Bas. Entah kapan, dalam waktu yang tak diduga, kami pasti kembali Tuhan pertemukan. Dan aku benar-benar tak ingin itu terjadi. Mulai sekarang hingga selamanya, aku berharap semoga tidak akan pernah lagi melihat Bas.Aku tahu, Bas juga berasal dari kota yang sama denganku. Namun, yang aku tahu dari ceritanya, keluarga dia sudah tak ada lagi di sana. Semua sudah pindah ke kota yang sama.Baiklah, semoga ini adalah keputusan terbaik untukku dan Aiza.Kutatap Aiza yang tengah melempar pandangan ke luar jendela. Sejak tadi dia tampak tak bersemangat. Bahkan, Aiza sempat menangis histeris saat Desi, Mas Bakri dan Devin mengantar kami ke terminal bis.Awalnya, Desi dan Mas Bakri su

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Ingin Sendiri

    Aku melangkah ngontai di lorong rumah sakit membawa serta hati yang hancur untuk kesekian kali. Entah kutukan apa yang menempel padaku hingga mengalami semua ini. Beberapa orang yang menatap dengan berbagai ekspresi, tak kuhiraukan sama sekali. Aku biarkan saja mereka dengan pemikiran masing-masing. Langkah ini semakin berat seiring dada yang kian sesak. Bahkan untuk sekadar bernapas pun sulit rasanya. Dan ini semua hanya karena seorang Bas.Kenapa kamu kembali di saat kondisinya sudah tak lagi sama, Bas? Kenapa kamu malah muncul dengan wanita lain yang sudah menjadi calon pendamping?Aku ingat pernah berdoa pada Tuhan agar jangan dipertemukan dengan Bas saat pemuda itu sudah memiliki pasangan. Tapi, apa ini? Apa Tuhan menolak doa yang kupanjatkan? Apa salahku, Tuhan?"Yun! Kamu mau ke mana?"Langkahku terhenti seketika saat mendengar suara Pak Anwar dari belakang. Tak ingin dia tahu jika keadaanku sedang kacau, segera kaki ini meneruskan langkah tanpa menoleh ke belakang."Yun! Yuni

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Bangunlah

    Malam yang terasa lebih panjang ini kuhabiskan di rumah sakit, menatap pada seorang laki-laki yang terbaring lemah di atas bangsal dengan kepala diperban. Sudah beberapa jam lamanya setelah berhasil melakukan operasi, tapi dia masih belum sadarkan diri. Padahal, aku benar-benar sudah menanti kedua mata itu kembali menatapku. "Kamu belum makan, kan? Makanlah!" Pak Anwar meletakkan sebuah kotak makanan di depanku. Entah dari mana dia mendapatkan itu."Saya nggak lapar, Pak." Jangankan ingin makan, minum air putih saja rasanya enggan karena pikiranku belum tenang."Tetap harus makan walau tidak lapar. Makanlah! Saya tidak mau Bas marah saat sadar karena lihat kamu sakit."Aku terhenyak. Kenapa Pak Anwar bisa bicara demikian? Apa Bas banyak menceritakan tentangku pada pria ini? Tapi, untuk apa?Pak Anwar tampak mengambil duduk pada sofa di sampingku. Tangannya dengan terampil membuka penutup kotak yang terletak di atas meja hingga aroma ayam bakar menguar pada indera penciuman. "Makanla

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Runtuh

    Duniaku kembali hancur saat menyaksikan seorang laki-laki bersimbah darah di atas aspal. Matanya tertutup rapat, denyut nadinya nyaris tak terasa.Baskara Jaya Putra. Entah apa yang terjadi padanya hingga bisa mengalami kecelakaan yang sangat parah. "Bertahan, Bas." Aku berbisik dengan suara lirih. Tanganku terus menggenggam tangan Bas yang tak sadarkan diri di atas brankar. Sekarang kami sedang berada di dalam ambulan.Aiza yang ikut bersamaku mendadak bisu saat melihat kondisi Bas dari dekat. Bibir bocah itu terkunci rapat. Beruntung dia mau duduk di pangkuan seorang perawat sembari ditenangkan.Kutatap wajah yang kini penuh dengan darah, berharap matanya terbuka walau sebentar saja. Aku hanya ingin berkata, aku ada di sini bersamanya.Tolong buka matamu, Bas ....Dadaku kian sesak mengingat saat terakhir dia berpamitan dengan hati yang hancur. Ya, aku tahu itu. Dan jika sekarang dia membuka mata, aku berjanji akan mengungkapkan semuanya. Aku tidak akan membiarkan Bas pergi dengan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status