LOGINMendengar itu, Malik berhenti di tengah kamar, kausnya masih di tangan."Aku tetep pegang aturan aku," lanjut Nindy. "Laci itu nunggu sampai giliran kamu kelar."Malik duduk di sebelah istrinya, lalu berkata pelan, "Nindy, aturan itu kamu yang bikin. Kamu juga yang boleh ngelepasnya. Kalau kamu mau ke rumah lama minggu ini, aku anterin. Aku nggak keberatan giliran aku kepotong sehari.""Kamu yang nawarin?" tanya Nindy, menoleh."Aku yang nawarin," jawab Malik.Nindy menutup botol losion dan menaruhnya di nakas, di samping tiga foto itu. "Giliran kamu baru jalan dua hari, Malik. Aku udah nunggu dua puluh delapan tahun. Nunggu dua minggu lagi nggak bakal bikin aku mati."Malik membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia menarik napas panjang lewat hidung dan mengangguk sekali.Anggukan itu dibalas Nindy dengan senyum, lalu dia berdiri dan mendorong bahu suaminya sampai punggung Malik rebah ke kasur. Malik tertawa kaget, dan tawanya berhenti waktu Nindy naik ke atas pangkuannya, kedua lutut
Malik mengambil alih dan mengulek dengan tenaga penuh, sampai ulekan itu bergeser setengah jengkal ke tepi meja setiap kali dia menekan."Pelan, Malik, cobeknya nggak salah apa-apa," tegur Nindy, menahan ujung cobek dengan dua tangan."Kata bukunya harus halus," jawab Malik, terus mengulek.Ayam dimasak lebih dulu dengan bumbu rujak, dan dapur mulai berbau asam manis. Nindy mengaduk wajan, menaburkan garam dari toples, mencicipi, lalu berbalik mengurus kentang yang harus digoreng untuk sambal goreng. Sepuluh menit kemudian dia kembali ke wajan ayam, mengaduknya lagi, dan menaburkan garam sekali lagi."Kamu tadi udah masukin garam," ucap Malik dari belakang, suaranya ragu.Sendok garam di tangan Nindy berhenti di udara. Isinya sudah setengah jatuh ke wajan."Kapan?" tanya Nindy."Sebelum kamu goreng kentang. Aku liat kok," jawab Malik.Nindy mencicipi kuah ayam itu, dan wajahnya berubah. Dia membuka buku resep di halaman kedua, menyusuri pinggir halaman dengan jari, lalu berhenti di sa
Menjelang jam delapan, isi kardus sepatu itu sudah kembali digelar di lantai ruang tengah, kali ini disusun ulang dari awal. Nindy duduk bersila di tengah karpet, mengelompokkan foto demi foto menurut tahun yang dia tebak dari tinggi badannya sendiri, dan kipas angin kecil di sudut ruangan berputar pelan ke kiri dan ke kanan.Tiap kali kepala kipas itu menghadap ke tengah, ujung foto yang paling ringan terangkat, sehingga Malik bertugas menahan barisan depan dengan kedua telapak tangan, dan sesekali dia terlambat sampai satu foto meluncur ke bawah sofa."Itu yang umur lima, cepet ambil sebelum ilang," ucap Nindy tanpa menoleh, masih menyusun barisan umur tiga.Malik merangkak ke bawah sofa, meraba-raba sebentar, lalu keluar lagi dengan foto itu di tangan dan sedikit debu di rambutnya. "Kipasnya matiin aja, ya?""Jangan, gerah," jawab Nindy.Mendengar jawaban itu, Malik menghela napas panjang dan bertanya lagi, "Terus aku jadi pemberat kertas sampai jam berapa?""Sampai selesai," jawab
Malik menarik kertas itu kembali, memutarnya ke segala arah, lalu membalas, "Kucing kamu kupingnya sepanjang badannya sendiri."Tawa Nindy pecah sampai dia harus bersandar ke kaki sofa. Air matanya ikut keluar, dan waktu dia menyeka pipinya, tawanya berubah jadi tangis tanpa jeda, lalu berubah lagi jadi tawa waktu Malik menempelkan gambar kucing ungu itu di dadanya sendiri seperti papan nama. Pipit di kursi tunggal sudah tidak berusaha menyeka matanya lagi, dan tisu yang Malik sodorkan dia terima sambil tertawa juga.Lembar demi lembar dibuka Nindy di atas karpet. Ada gambar ikan dengan sisik yang diwarnai satu-satu, gambar pohon mangga yang buahnya lebih besar dari batangnya, dan gambar perempuan berdaster yang memegang sendok besar, dengan tulisan IBU di bawahnya. Huruf U-nya terbalik. Tanggal di pojok gambar itu ditulis Suryani dengan tinta yang lebih tebal dari tanggal-tanggal lain, dan di sebelahnya Suryani menambahkan satu kata kecil, pertama."Gambar Ibu pertama kamu," ucap Mal
Tutup kardus dia angkat. Bau kertas lama dan kapur barus langsung naik dari dalamnya.Isinya foto-foto cetak studio yang ditumpuk rapi, ukurannya macam-macam, beberapa masih di dalam sampul plastik bening dari studionya. Foto paling atas memperlihatkan seorang anak perempuan berumur sekitar tiga tahun yang duduk di pangkuan Wisnu, sedangkan Suryani berdiri di belakang mereka dengan satu tangan di bahu suaminya. Latar belakangnya kain biru bergambar awan, dan anak perempuan itu menatap kamera sambil menggigit ujung jarinya sendiri.Nindy menutup mulutnya dengan punggung tangan.Malik turun dari sofa, duduk bersila di atas karpet di sebelah kaki istrinya, lalu mengambil foto kedua dari tumpukan tanpa izin. Pipit menaruh piring kuenya di meja dan ikut mencondongkan badan."Ini kamu?" tanya Malik, mengangkat foto itu ke dekat wajah Nindy. "Ponimu kok kayak dipotong pakai gergaji?"Tangan Nindy turun dari mulutnya, dan dia menepuk kepala Malik pakai foto yang lain. "Itu Ibu yang motong, pa
Malik mengisi kolom jam keluar di buku tamu dekat pintu, dan Nindy menunggu di sebelahnya sambil menyampirkan tas di bahu. Mereka sudah berbalik ke arah pintu ketika Pak Sardi berdeham."Dok, ada satu hal. Tadi saya bilang jarang ada yang nanya buku registrasi, terakhir mahasiswa skripsi. Itu yang dateng baik-baik. Sebenernya setahun lalu ada juga yang nanya, cuma saya nggak ngitung, soalnya nggak saya kasih."Malik berhenti dengan satu tangan di gagang pintu. Nindy menoleh."Siapa, Pak?" tanya Malik.Sambil membetulkan letak map merah di sudut mejanya, Pak Sardi menjawab, "Katanya dari kantor pengelola sebuah yayasan. Dia nanya buku registrasi bangsal tahun-tahun itu, persis tahun yang tadi Dokter buka. Saya tanya suratnya mana, dia bilang suratnya nyusul. Ya udah, saya bilang dateng lagi kalau suratnya udah ada."Mendengar itu, Nindy bertanya, "Terus dia dateng lagi, Pak?""Nggak pernah, Bu. Sampai hari ini," jawab Pak Sardi.Malik melepas gagang pintu. Dia mengeluarkan ponselnya la







