LOGINNindy mengambil bantal di sebelahnya, lalu meremas benda itu dengan sangat kuat menggunakan kedua tangannya untuk merespons rangsangan fisik dari Malik.
"Ritmenya terlalu cepat atau nggak?" tanya Malik sambil terus menatap titik keluhan tersebut.
"Jangan berhenti, Malik! Terusin aja pakai ritme itu!" jawab Nindy dengan suara serak.
Malik mempertahankan tekanan dan kecepatan jari-jarinya tanpa mengurangi ritmenya sedikit pun, membuat otot paha Nindy menegang kaku menerima sentuhan konstan tersebut.
Cairan pelumas alami mulai keluar dari area sensitif Nindy dalam jumlah yang cukup banyak, menandakan bahwa saraf tubuhnya memberikan respons penerimaan yang sangat positif terhadap stimulasi manual Malik.
"Napasmu sangat pendek, cobalah bernapas lebih panjang, Nindy," instruksi Malik.
"Aku nggak bisa fokus! Rasanya terlalu kuat!" keluh Nindy sambil menggelengkan kepalanya di atas kasur.
Keringat terus mengalir dari pelipis Nindy, membuktikan bahwa tubuh wanita itu sedang bekerja keras merespons setiap gesekan sarung tangan lateks yang diberikan Malik.
Buku-buku jari Nindy terlihat memutih akibat cengkeramannya yang terlalu keras pada kain bantal di pelukannya.
Momen ketika ketegangan otot Nindy menumpuk dan berpusat sepenuhnya di perut bawahnya, kedua kaki Nindy bergetar hebat saat sensasi kepuasan fisik itu bergerak naik secara pasti menuju satu titik saraf utama.
Mata Nindy terpejam sangat rapat sementara dadanya bergerak naik turun dengan sangat cepat, menandakan bahwa Nindy sebentar lagi akan mencapai puncak berkat penanganan fisik langsung dari Malik.
Melihat respons fisik pasiennya yang sudah mereda, Malik perlahan menarik kedua tangannya menjauh dari area sensitif Nindy.
"Maaf kalau tindakan medis tadi membuatmu merasa tidak nyaman." Malik tersenyum tipis sambil melepaskan sarung tangan lateksnya.
Malik membuang sarung tangan tersebut ke dalam tempat sampah medis di bawah meja, lalu ia mencuci tangannya di wastafel ruangan sebelum kembali menghadap Nindy.
"Tindakan tadi murni prosedur medis awal buat meredakan saraf perutmu yang menegang parah," jelas Malik dengan nada suara tenang.
Nindy sama sekali tidak merespons ucapan tersebut karena ia masih sibuk mengatur napasnya yang tidak beraturan akibat pelepasan fisik barusan.
Melihat pasiennya hanya terdiam kaku di atas brankar, Malik kembali melanjutkan penjelasannya mengenai situasi rumah sakit malam ini agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Malik bersandar pelan pada meja kerjanya. "Dokter Sita yang seharusnya menangani keluhanmu ternyata sedang membuka praktik darurat di ruang bedah sebelah karena jadwalnya sangat padat malam ini."
"Lalu kenapa beliau malah menyuruhmu diam di ruangan ini?"
"Dokter Sita menitipkan kamu ke aku karena dia punya urusan bedah mendesak yang belum selesai, sehingga dia memintaku untuk menangani rasa sakitmu secepatnya," jawab Malik secara langsung.
Nindy sama sekali tidak memedulikan seluruh ucapan dan penjelasan panjang dari mantan kekasihnya tersebut.
Rasa malu benar-benar menguasai pikiran Nindy, sehingga ia langsung beranjak turun dari ranjang pasien dan merapikan pakaian bawahnya menggunakan gerakan tangan yang sangat cepat.
Setelah memastikan pakaiannya tertutup rapi, Nindy mengambil tas selempangnya di atas meja medis. Ia langsung berjalan cepat keluar dari kamar 304 tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Malik.
***
Di kediaman Nindy dan suaminya yang bernama Fajar.
Nindy baru saja tiba di rumahnya pada pukul delapan malam, lalu ia langsung duduk menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
Fajar mematikan televisi di hadapannya karena ia melihat istrinya pulang dengan wajah pucat dan mata yang sedikit memerah akibat menahan tangis sepanjang perjalanan pulang.
"Kamu kenapa, Nindy? Apa kata dokter kandungan tadi?" tanya Fajar sambil memegang bahu istrinya perlahan.
Nindy menundukkan kepalanya dalam-dalam karena ia merasa sangat bersalah dan malu atas kejadian fisik yang baru saja ia alami di poliklinik rumah sakit.
Nindy mulai menangis tersedu-sedu hingga air matanya menetes membasahi celana bahan yang ia kenakan malam itu.
"Aku malu banget, Mas! Penyakit kelainan gairahku kumat parah waktu aku sampai di rumah sakit tadi!" jawab Nindy dengan suara bergetar.
Fajar menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat, lalu ia mengusap punggung Nindy secara teratur untuk menenangkan istrinya yang sedang dilanda kepanikan.
"Terus apa yang terjadi di sana sampai kamu nangis ketakutan kayak gini?"
Nindy menghapus air mata di pipinya menggunakan punggung tangan kanan sebelum ia mulai berbincang secara jujur kepada Fajar.
"Aku salah masuk ruangan karena panik nahan sakit, lalu aku malah ditangani sama dokter pria yang ternyata itu Malik, teman masa SMA-ku dulu," jelas Nindy secara terbuka.
Fajar terdiam mendengarkan penjelasan istrinya tanpa memotong ucapan Nindy sedikit pun.
Rasa sesak di dada Nindy semakin terasa menyiksa karena ia mengingat fakta fisik mengenai kondisi rumah tangganya bersama Fajar yang memiliki banyak kekurangan.
"Aku merasa sangat terpukul dan kotor, Mas!" Nindy memukul pelan bantal sofa di pangkuannya.
"Pelan-pelan, Nindy. Ceritakan semuanya padaku secara jelas."
"Aku malu karena aku dipuaskan oleh sentuhan jari dokter pria itu, sedangkan kamu sebagai suamiku sendiri tidak pernah bisa memuaskan hasrat fisikku setiap kita berhubungan badan!" tangis Nindy pecah seketika.
Fajar sama sekali tidak menunjukkan raut wajah marah atau tersinggung saat mendengar pengakuan jujur dari Nindy barusan.
Sebagai seorang suami, Fajar sangat menyadari kekurangan fisiknya dan ia juga memahami kondisi medis istrinya yang memiliki penyakit ketergantungan hasrat yang tinggi.
Fajar langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya, lalu ia memeluk tubuh Nindy erat-erat untuk memberikan rasa aman.
"Nggak apa-apa, Nindy. Aku sama sekali tidak marah karena aku tahu itu murni tindakan medis darurat buat meredakan rasa sakitmu," ucap Fajar dengan nada suara yang sangat pengertian.
Nindy membalas pelukan suaminya, lalu ia menyandarkan kepalanya pada dada Fajar sambil terus menangis tersedu-sedu meluapkan rasa bersalahnya.
"Tapi aku merasa jadi istri yang jahat karena aku sampai mencapai orgasme di depan laki-laki lain selain kamu, Mas!"
Fajar mengusap rambut Nindy dengan lembut menggunakan tangan kanannya, menunjukkan sikapnya sebagai pria penyabar.
"Itu bukan salahmu karena penyakitmu memang butuh penanganan fisik secepatnya agar sarafmu tidak rusak." Fajar menepuk pelan punggung istrinya.
"Kamu beneran nggak marah sama aku?"
"Aku justru bersyukur ada dokter medis yang bisa membantu meredakan rasa sakitmu saat kamu sedang sendirian di rumah sakit tadi," jelas Fajar secara rasional dan jujur.
Mendengar ucapan pengertian dari suaminya, tangisan Nindy perlahan mulai mereda karena ia merasa Fajar benar-benar menerima kondisi penyakitnya tanpa menghakimi sama sekali.
Suasana di ruang tamu tersebut mulai menjadi lebih tenang selama beberapa menit saat Fajar terus memeluk istrinya dengan sabar.
Namun, ketenangan mereka berdua tiba-tiba terhenti secara paksa oleh suara pintu utama rumah yang terbuka secara kasar dari arah depan. Ibu dan ayah Fajar melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam terlebih dahulu.
Melihat kedatangan mertuanya secara tiba-tiba, Nindy langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Fajar lalu ia buru-buru menghapus sisa air mata di wajahnya.
Fajar bangkit berdiri dari sofa ruang tamu untuk menyambut kedatangan kedua orang tuanya malam itu.
Ibu Fajar menatap Nindy dari atas sampai bawah dengan ekspresi wajah yang sangat sinis dan penuh rasa tidak suka.
"Untuk apa kamu menangis di pelukan anakku malam-malam begini?!" bentak Ibu Fajar dengan suara lantang.
Menjelang jam delapan, isi kardus sepatu itu sudah kembali digelar di lantai ruang tengah, kali ini disusun ulang dari awal. Nindy duduk bersila di tengah karpet, mengelompokkan foto demi foto menurut tahun yang dia tebak dari tinggi badannya sendiri, dan kipas angin kecil di sudut ruangan berputar pelan ke kiri dan ke kanan.Tiap kali kepala kipas itu menghadap ke tengah, ujung foto yang paling ringan terangkat, sehingga Malik bertugas menahan barisan depan dengan kedua telapak tangan, dan sesekali dia terlambat sampai satu foto meluncur ke bawah sofa."Itu yang umur lima, cepet ambil sebelum ilang," ucap Nindy tanpa menoleh, masih menyusun barisan umur tiga.Malik merangkak ke bawah sofa, meraba-raba sebentar, lalu keluar lagi dengan foto itu di tangan dan sedikit debu di rambutnya. "Kipasnya matiin aja, ya?""Jangan, gerah," jawab Nindy.Mendengar jawaban itu, Malik menghela napas panjang dan bertanya lagi, "Terus aku jadi pemberat kertas sampai jam berapa?""Sampai selesai," jawab
Malik menarik kertas itu kembali, memutarnya ke segala arah, lalu membalas, "Kucing kamu kupingnya sepanjang badannya sendiri."Tawa Nindy pecah sampai dia harus bersandar ke kaki sofa. Air matanya ikut keluar, dan waktu dia menyeka pipinya, tawanya berubah jadi tangis tanpa jeda, lalu berubah lagi jadi tawa waktu Malik menempelkan gambar kucing ungu itu di dadanya sendiri seperti papan nama. Pipit di kursi tunggal sudah tidak berusaha menyeka matanya lagi, dan tisu yang Malik sodorkan dia terima sambil tertawa juga.Lembar demi lembar dibuka Nindy di atas karpet. Ada gambar ikan dengan sisik yang diwarnai satu-satu, gambar pohon mangga yang buahnya lebih besar dari batangnya, dan gambar perempuan berdaster yang memegang sendok besar, dengan tulisan IBU di bawahnya. Huruf U-nya terbalik. Tanggal di pojok gambar itu ditulis Suryani dengan tinta yang lebih tebal dari tanggal-tanggal lain, dan di sebelahnya Suryani menambahkan satu kata kecil, pertama."Gambar Ibu pertama kamu," ucap Mal
Tutup kardus dia angkat. Bau kertas lama dan kapur barus langsung naik dari dalamnya.Isinya foto-foto cetak studio yang ditumpuk rapi, ukurannya macam-macam, beberapa masih di dalam sampul plastik bening dari studionya. Foto paling atas memperlihatkan seorang anak perempuan berumur sekitar tiga tahun yang duduk di pangkuan Wisnu, sedangkan Suryani berdiri di belakang mereka dengan satu tangan di bahu suaminya. Latar belakangnya kain biru bergambar awan, dan anak perempuan itu menatap kamera sambil menggigit ujung jarinya sendiri.Nindy menutup mulutnya dengan punggung tangan.Malik turun dari sofa, duduk bersila di atas karpet di sebelah kaki istrinya, lalu mengambil foto kedua dari tumpukan tanpa izin. Pipit menaruh piring kuenya di meja dan ikut mencondongkan badan."Ini kamu?" tanya Malik, mengangkat foto itu ke dekat wajah Nindy. "Ponimu kok kayak dipotong pakai gergaji?"Tangan Nindy turun dari mulutnya, dan dia menepuk kepala Malik pakai foto yang lain. "Itu Ibu yang motong, pa
Malik mengisi kolom jam keluar di buku tamu dekat pintu, dan Nindy menunggu di sebelahnya sambil menyampirkan tas di bahu. Mereka sudah berbalik ke arah pintu ketika Pak Sardi berdeham."Dok, ada satu hal. Tadi saya bilang jarang ada yang nanya buku registrasi, terakhir mahasiswa skripsi. Itu yang dateng baik-baik. Sebenernya setahun lalu ada juga yang nanya, cuma saya nggak ngitung, soalnya nggak saya kasih."Malik berhenti dengan satu tangan di gagang pintu. Nindy menoleh."Siapa, Pak?" tanya Malik.Sambil membetulkan letak map merah di sudut mejanya, Pak Sardi menjawab, "Katanya dari kantor pengelola sebuah yayasan. Dia nanya buku registrasi bangsal tahun-tahun itu, persis tahun yang tadi Dokter buka. Saya tanya suratnya mana, dia bilang suratnya nyusul. Ya udah, saya bilang dateng lagi kalau suratnya udah ada."Mendengar itu, Nindy bertanya, "Terus dia dateng lagi, Pak?""Nggak pernah, Bu. Sampai hari ini," jawab Pak Sardi.Malik melepas gagang pintu. Dia mengeluarkan ponselnya la
Setelah jeda sebentar, Pak Sardi menambahkan dengan suara lebih rendah, "Kalau map resmi, lain cerita. Map resmi itu yang biasanya disesuaikan, Dok, kalau ada permintaan dari keluarga."Nindy teringat dua lubang kecil di sudut kiri lembar tunggal tadi, serat kertas yang sobek kasar di sekelilingnya. Dia melirik Malik, dan dari cara rahang suaminya bergerak, dia tahu Malik sedang mengingat lubang yang sama.Pak Sardi menatap mereka berdua bergantian, lalu berbalik tanpa berkata apa-apa. Langkahnya menuju meja panjang dekat pintu, dan dari sana terdengar bunyi laci ditarik, disusul bunyi tutup termos yang diputar.Laki-laki itu kembali membawa termos biru bergambar bunga yang catnya sudah mengelupas di bagian pegangan, dan dua gelas kaca yang bentuknya tidak sama. Gelas pertama tinggi dan ramping, ada sisa stiker harga di dasarnya, sedangkan gelas kedua pendek dan tebal, bekas wadah selai yang labelnya sudah dikerok tapi masih meninggalkan bekas lem di satu sisi."Teh manis, Dok, Bu. Bi
Kedua telapak tangan Malik menahan halaman tujuh puluh dua supaya tetap rata di atas meja, sedangkan matanya kembali ke awal baris itu dan membacanya lagi dari kolom nama. Sampai di kata pindah, dia berhenti, menarik napas lewat hidung, lalu mengulang dari kolom pertama. Ketiga kalinya, bibirnya ikut bergerak tanpa suara.Di sebelahnya, Nindy memiringkan kepala ke kanan. Di sisi paling kanan halaman, melewati kolom ket., masih ada satu kolom lagi yang lebih sempit, garisnya ditarik dengan penggaris yang agak miring dan judulnya ditulis dengan huruf kecil sekali, tuj. Isinya cuma tiga huruf kapital yang dipisah titik, disusul dua huruf kecil di belakangnya."Malik, masih ada satu kolom lagi," ucap Nindy, menunjuk ujung baris itu dengan kuku telunjuknya tanpa menyentuh tinta.Malik menggeser kedua tangannya ke kanan, menunduk sampai wajahnya hampir menempel ke kertas, lalu mengeja tiga huruf itu satu per satu dengan suara pelan. Dia mengeja sekali lagi, kemudian menegakkan punggungnya.







