تسجيل الدخول
"Dok, aku udah nggak tahan lagi! Cepat periksa bagian kewanitaanku, sekaraaangg!"
Nindy melangkah masuk ke kamar 304 dengan napas memburu, lalu ia langsung berbalik dan menekan tombol kunci pada gagang pintu. Ia sengaja mengunci ruangan tersebut karena sangat berharap dokter di dalam bisa segera menuntaskan rasa sakitnya tanpa hambatan dari luar.
Keringat mengalir deras membasahi dahi hingga lehernya akibat otot di perut bawahnya terus berkedut kuat, sehingga rasa gatal yang luar biasa itu sudah sangat menyiksa fisiknya sejak beberapa jam lalu.
"Tolong lakuin apa aja, Dok! Rasanya gatal dan sakit banget sampai aku susah buat berdiri tegak!"
Nindy menundukkan kepala sambil meremas ujung tas selempangnya dengan sangat kuat untuk menyalurkan rasa nyeri pada saraf tubuhnya.
Udara dari pendingin ruangan seketika mengenai permukaan kulitnya, berpadu dengan bau cairan antiseptik yang memenuhi udara.
Namun, ketika Nindy mengangkat wajahnya perlahan lalu menoleh ke arah meja kerja, langkah kakinya terhenti seketika. Tubuh Nindy mendadak kaku karena pria yang duduk di balik meja kayu tersebut jelas bukan dokter kandungan wanita yang ia tuju malam ini.
Seorang dokter pria berjas putih dengan tubuh tinggi tegap perlahan bangkit berdiri dari kursi kerjanya.
"Nindy?!" Pria itu menyebut nama Nindy dengan nada datar, tetapi ekspresi wajahnya menunjukkan rasa terkejut yang sangat jelas.
"Malik...?" balas Nindy dengan suara bergetar pelan.
Malik dan Nindy seketika saling menatap dalam diam selama beberapa saat di tengah ruangan poliklinik yang sunyi tersebut.
Mereka berdua sama-sama mengenali wajah satu sama lain secara jelas karena mereka adalah kisah lama di masa lalu.
Ingatan mereka berdua secara otomatis kembali pada memori nyata bahwa ternyata mereka adalah cinta pertama masing-masing sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah.
Menyadari kesalahan masuk ruangan ini, rasa canggung dan malu yang luar biasa langsung menguasai pikiran Nindy sepenuhnya.
Suhu tubuh Nindy naik dengan cepat hingga wajah dan lehernya memerah merah karena ia baru saja berteriak meminta bagian pribadinya diperiksa oleh mantan kekasihnya sendiri.
"Sori, Malik, aku salah masuk ruangan!" ucap Nindy cepat dengan nada panik.
Nindy yang ingin segera keluar dari kecanggungan itu langsung membalikkan badan, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk menarik gagang pintu sekuat tenaga.
Akan tetapi, tangannya bergetar sangat hebat karena menahan panik dan sakit secara bersamaan, sehingga keringat dingin yang merembes di telapak tangannya membuat pegangannya menjadi licin.
Suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dengan cepat dari arah belakang Nindy.
Sebelum Nindy berhasil memutar kunci pintu sepenuhnya, pergerakannya langsung ditahan oleh Malik yang melangkah maju memangkas jarak di antara mereka.
Malik memblokir jalan keluar Nindy dari belakang, lalu menempelkan telapak tangannya pada daun pintu tepat di atas kepala Nindy agar pintu itu tertahan sepenuhnya.
"Minggir, Malik! Aku mau keluar sekarang juga!" desis Nindy.
Nindy memukul pelan lengan Malik yang menghalangi pandangannya, tetapi pria itu sama sekali tidak memundurkan posisinya.
"Kamu yakin mau keluar? Dokter Sita masih ada pasien lain. Kondisimu butuh penanganan medis sekarang, dan kalau tidak ditangani, bisa makin parah," balas Malik dengan suara baritonnya yang berat.
"Aku bilang minggir! Aku mau cari ruang Dokter Sita, dan ini sama sekali bukan urusanmu!"
Nindy berusaha menepis lengan Malik dari pintu, namun tenaga pria itu jauh lebih besar sehingga Nindy gagal memindahkan posisinya meskipun sudah mengerahkan seluruh tenaganya.
"Ruangan Dokter Sita memang ada di ujung lorong, tapi percaya padaku, kondisiku ini terlalu parah!" tegas Malik.
Malik menolak keras membiarkan pasiennya pergi begitu saja karena hal itu bertentangan dengan kode etiknya sebagai seorang tenaga medis. "Aku dokter di rumah sakit ini, Nindy, jadi aku nggak akan ngebiarin kamu keluar dari ruangan ini sebelum rasa sakit di perutmu itu mereda."
"Tapi aku adalah pasien dokter Sita. Pliss, jangan seperti itu denganku, Malik!" mohon Nindy.
Nindy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat karena kelainan di perut bawahnya kembali berkedut kencang, membuat kedua kakinya sangat lemas hingga ia tidak sengaja menyandarkan punggungnya pada dada Malik.
Melihat wajah Nindy yang semakin pucat, Malik segera mengesampingkan rasa canggung di antara mereka dan mengambil alih situasi secara penuh.
Malik memegang kedua bahu Nindy secara tegas, lalu mengarahkan Nindy berjalan perlahan menuju ranjang pasien di sudut ruangan.
Nindy sempat menahan langkah kakinya untuk menolak, namun rasa sakit di tubuhnya membuat ia tidak punya pilihan lain selain menuruti arahan Malik.
"Duduk dan berbaring di atas ranjang itu sekarang," perintah Malik.
Nindy mendudukkan dirinya di tepi ranjang, kemudian membaringkan punggungnya di atas permukaan kasur bersuhu dingin. Tubuh Nindy bergetar terus-menerus karena ia harus menahan gejolak fisik yang menuntut pelepasan segera pada saraf di sekitar panggulnya.
Malik berjalan mendekati meja kecil di samping ranjang, lalu mengambil sepasang sarung tangan medis berbahan lateks berwarna putih.
Ia memakai sarung tangan itu secara perlahan, menciptakan bunyi gesekan karet yang terdengar sangat jelas hingga membuat jantung Nindy berdetak semakin cepat.
"Buka pakaian bawahmu, aku akan melakukan pemeriksaan fisik sekarang juga," ucap Malik dengan ekspresi wajah yang sangat fokus dan profesional.
Nindy terdiam kaku selama beberapa detik karena rasa malu kembali menyerangnya.
Tetapi, karena rasa gatal dan kedutan di area sensitifnya sudah mencapai batas maksimal yang bisa ia tahan, Nindy menurunkan pakaian bawahnya dengan gerakan tangan yang gemetar lalu menyisihkannya ke samping kasur.
"Tolong jangan lihat wajahku, Malik," ucap Nindy pelan.
Malik menarik kursi beroda lalu duduk tepat di ujung ranjang, kemudian mengamati area bawah perut Nindy dengan tatapan mata yang sangat teliti tanpa menunjukkan niat buruk apa pun.
"Otot saraf di area ini ngalamin ketegangan yang sangat tinggi, Nindy," jelas Malik setelah melakukan observasi visual.
"Terus aku harus gimana?!" tanya Nindy dengan napas yang memburu.
"Aku harus ngasih stimulasi manual pakai sentuhan jari buat ngeredain ketegangan sarafmu ini secara langsung."
"Lakuin aja cepat! Aku udah nggak tahan lagi!" balas Nindy.
Jari telunjuk dan jari tengah Malik yang terbalut sarung tangan lateks perlahan bergerak maju, lalu langsung menyentuh titik pusat keluhan di tubuh Nindy secara akurat.
Sentuhan fisik pertama itu membuat punggung Nindy sedikit melengkung ke atas secara otomatis.
Napas Nindy tertahan di tenggorokan saat merasakan suhu dingin dari sarung tangan lateks berpadu dengan suhu tubuhnya yang sedang sangat panas.
Malik menggerakkan jari-jarinya secara konstan tanpa memberikan jeda, lalu memberikan ritme sentuhan yang sangat teratur pada titik saraf Nindy yang paling tegang.
Sentuhan tersebut secara langsung memberikan kelegaan nyata pada saraf Nindy, sehingga rasa nyeri yang menyiksanya sejak tadi perlahan berkurang dan tergantikan oleh sensasi nyaman.
Ponsel Malik yang tergeletak di atas meja kaca tiba-tiba berdering sangat nyaring memecah keheningan ruangan. Malik meraih benda elektronik itu, melihat nomor tidak dikenal tertera di layar panggil, lalu menggeser tombol hijau ke atas.Malik menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo?"Suara berat seorang pria paruh baya terdengar tertawa pelan dari ujung telepon. "Selamat malam, Dokter Malik. Kamu sudah baca dokumen hadiah dari saya di meja kerjamu?"Malik berdiri kaku seraya mengepalkan jemarinya kuat-kuat pada ponsel. "Tuan Bahar. Bagaimana bisa dokumen pribadi keluargaku ada di tanganmu?!""Saya memegang seluruh salinan perjanjian asli dan surat kuasa lama dari almarhum Ayah Nindy yang belum pernah dicabut secara hukum," balas Bahar dengan nada suara mengancam yang sangat dingin."Dan kalau keluarga Sastrowardoyo tidak mau skandal pemalsuan perjanjian dan manipulasi medis ini saya bongkar ke media serta dewan etik dokter esok pagi, kamu harus menyiapkan ganti rugi rekening kantor say
Malik mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih di atas meja kayu.Selama tujuh tahun ini, ia meyakini bahwa kebangkrutan keluarga dan kepergiannya ke luar negeri murni sebuah kebetulan pahit, namun malam ini kebenaran di depan matanya membongkar seluruh manipulasi tersebut.Suara gesekan pintu kayu yang terbuka pelan membuyarkan fokus Malik. Nindy melangkah masuk ke dalam ruang kerja seraya mengucek matanya yang masih mengantuk, lalu berjalan mendekati meja tempat Malik duduk.Gaun rumahan longgar berwarna krem menutupi tubuh Nindy yang sedang mengandung dua bulan lebih. Wanita itu menghentikan langkah kakinya dua tindak di samping kursi Malik seraya memperhatikan raut wajah pria itu yang sangat pucat.Nindy memegang bahu tegap Malik secara lembut, lalu bertanya, "Malik... kamu belum tidur jam segini?"Malik refleks menutup tumpukan kertas itu menggunakan telapak tangan besarnya, kemudian menoleh menatap mata Nindy secara langsung. "Aku cuma lagi merapika
Nindy tersenyum tulus seraya menarik gaunnya kembali ke bawah. "Rasa kram panggulku juga udah hilang total sejak malam itu.""Itu bukti kalau aliran darah dan hormon reproduksimu udah pulih total," balas Malik seraya mengecup kening Nindy cukup lama. "Mulai hari ini, kamu nggak boleh ngerjain pekerjaan rumah yang berat-berat lagi."Pintu utama apartemen tiba-tiba terdengar diketuk dari luar secara berulang kali. Malik mengernyitkan keningnya heran, lalu berdiri dari tepi tempat tidur."Siapa yang datang siang-siang gini?" gumam Malik seraya berjalan keluar kamar menuju pintu depan.Malik memutar gagang pintu utama, lalu membelalakkan matanya saat melihat sosok wanita paruh baya berpenampilan anggun berdiri di depan ambang pintu. Wanita itu adalah Eleanor, ibu kandung Malik yang datang membawa tempat makanan hangat."Ibu?" sapa Malik heran seraya membuka pintu lebih lebar. "Ibu kok nggak telepon dulu sebelum ke sini?"Eleanor tersenyum manis seraya melangkah masuk ke dalam ruang tamu.
Nindy berdiri kaku di depan cermin wastafel, menatap pantulan wajahnya sendiri yang terlihat pucat. Tangan kanannya gemetar pelan saat mengusap permukaan perut bawahnya yang terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.Nindy menghitung tanggal di dalam kepalanya, lalu menyadari bahwa jadwal menstruasinya sudah terlambat hampir sepuluh hari sejak malam terapinya bersama Malik di apartemen.Nindy merogoh tas tangannya, menarik keluar sebuah kotak kecil berisi alat tes kehamilan mandiri yang sempat ia beli di apotek kemarin sore namun belum sempat ia gunakan.Dengan jemari yang gemetar hebat, Nindy membuka kemasan plastik tes medis tersebut di dalam kamar mandi yang sunyi.Lima menit berselang.Nindy menatap pendar piringan plastik putih di tangannya dengan mata yang membelalak lebar. Dua garis merah menyala muncul secara tegas dan jelas pada layar tes tersebut, menandakan hasil positif kehamilan secara mutlak.Nindy menutupi mulutnya sendiri menggunakan telapak tangan kanan seraya merosot
Nindy melangkah melewati Tika yang masih berdiri kaku di tengah ruang tamu, lalu masuk ke dalam kamar tidur untuk merapikan barang-barang pribadinya sendiri.Nindy memasukkan beberapa baju dan barang pentingnya ke dalam koper sedang di atas tempat tidur. Ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar nyaring. Nindy melihat layar ponselnya yang menayangkan nama Malik, kemudian menggeser tombol hijau ke atas."Halo, Malik..." sapa Nindy dengan suara lirih yang masih tersisa serak."Fajar baru aja pergi dari rumah sakit," ucap Malik dengan nada bariton yang sangat tenang dari ujung telepon. "Kamu baik-baik saja di rumah?"Nindy menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan dari mulut. "Mas Fajar udah pulang ke rumah tadi, Malik. Dia ngasih aku surat gugatan cerai yang udah dia tanda tangani."Suara di ujung telepon mendadak hening selama beberapa detik. "Fajar minta cerai?""Iya," jawab Nindy seraya mendudukkan badannya di tepi kasur. "Dia blak-blakan bilang nggak mau nahan aku
Nindy meremas amplop putih di tangannya hingga kertas tebal itu terlipat tidak beraturan. Air matanya mengalir makin deras membasahi pipinya yang pucat. Ia menahan napas seraya menggelengkan kepala secara berulang di depan suaminya."Nggak, Mas... aku nggak akan pernah mau tanda tangan kertas ini," ucap Nindy seraya membuang amplop tersebut ke atas meja kaca di belakangnya.Fajar tidak mengambil kembali amplop itu. Laki-laki itu melangkah melewati Nindy menuju kamar tidur utama, lalu membuka pintu lemari pakaian secara perlahan. Ia menarik sebuah tas jinjing besar dari rak atas, kemudian mulai memindahkan beberapa kemeja dan celana kain miliknya ke dalam tas.Nindy berlari kecil menyusul ke dalam kamar, lalu memegang lengan kemeja Fajar dari samping. "Mas Fajar, stop! Kamu mau ke mana?!""Aku mau pindah ke rumah ibuku dulu sementara waktu," jawab Fajar tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang melipat baju."Kita bisa bicarain ini baik-baik, Mas," bujuk Nindy seraya menarik tas







