LOGINNindy menundukkan pandangannya karena ia tidak berani membalas tatapan tajam dari ibu mertuanya tersebut.
Ayah Fajar berjalan melewati menantunya, lalu ia menaruh sebuah bingkisan makanan di atas meja ruang tamu dengan bantingan yang cukup keras.
"Pasti dia menangis karena dia baru sadar kalau dia itu cuma wanita mandul yang tidak berguna bagi keluarga kita!" tuduh Ibu Fajar secara langsung tanpa basa-basi.
Fajar melangkah maju untuk memblokir pandangan ibunya terhadap Nindy agar istrinya tidak merasa semakin tertekan. "Tolong jaga ucapan Ibu! Nindy itu istri sahku dan dia sedang sakit parah malam ini!"
Ibu Fajar melipat kedua tangannya di depan dada karena ia sama sekali tidak peduli dengan pembelaan anak laki-lakinya itu. "Sakit apa?! Dia itu cuma wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan buat penerus keluarga ini!"
"Cukup, Bu! Jangan bahas soal anak lagi malam ini!"
"Jadi buat apa kamu terus-terusan membela istri cacat yang tidak berguna seperti dia, Fajar?!" balas Ibu Fajar tanpa menurunkan nada suaranya sedikit pun.
Ayah Fajar ikut berdiri di samping istrinya lalu menunjuk wajah Nindy menggunakan jari telunjuk kanannya.
"Ibumu benar, Fajar! Sudah bertahun-tahun kalian menikah, tetapi istrimu ini tidak pernah bisa memberikan cucu untuk keluarga kita!" tambah Ayah Fajar secara kasar.
Air mata Nindy kembali menetes membasahi pipinya saat ia mendengar rentetan hinaan harfiah dari kedua mertuanya secara bertubi-tubi.
Nindy meremas ujung bajunya dengan sangat kuat karena ia tidak memiliki keberanian untuk membela diri di hadapan orang tua suaminya, sementara penyakit di perutnya membuat kondisinya semakin terlihat menyedihkan di mata keluarga Fajar.
Fajar merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil berdiri tepat di depan Nindy, sehingga ia menggunakan tubuhnya sendiri untuk memblokir pandangan ibunya dari sang istri.
"Nindy itu istri sahku, jadi Ibu sama sekali nggak berhak ngomong kasar dan nuduh dia sembarangan di rumah kami sendiri!" bela Fajar secara tegas.
Ibu Fajar sama sekali tidak memedulikan pembelaan anak laki-lakinya tersebut, lalu wanita paruh baya itu justru melangkah maju dengan urat leher yang terlihat menegang karena marah.
"Ibu cuma bicara fakta yang ada, Fajar! Istrimu ini memang terbukti mandul karena dia sama sekali tidak bisa ngasih keturunan buat keluarga kita!"
Ayah Fajar yang berdiri di samping istrinya ikut menganggukkan kepala menyetujui rentetan tuduhan tersebut secara langsung.
"Kalian sudah bertahun-tahun menikah, tapi perut istrimu itu tetap kosong dan kalian berdua tidak menghasilkan anak sama sekali," timpal Ayah Fajar.
Nindy hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas bagian belakang kemeja suaminya, karena ia tidak memiliki keberanian untuk menjawab hinaan dari mertuanya secara langsung. Air mata terus menetes membasahi pipi hingga celananya, membuat dadanya terasa sangat sesak karena ia harus menerima tekanan psikologis yang luar biasa berat.
"Ini bukan salah Nindy sepenuhnya, Pak, Bu! Kami masih rutin berobat ke dokter kandungan buat nyari solusi yang tepat," jelas Fajar sambil menahan nada suaranya agar tidak membentak lagi.
"Berobat apanya?! Kalian berdua cuma buang-buang waktu dan uang saja selama ini tanpa ada hasil yang nyata!" potong Ibu Fajar dengan cepat.
Ibu Fajar menunjuk ke arah Nindy menggunakan jari telunjuk kanannya, lalu ia memberikan sebuah ultimatum mutlak dengan nada suara yang sangat mengancam kepada anak laki-lakinya itu.
"Ibu dan Bapak cuma mau ngasih waktu maksimal 40 hari dari sekarang! Kalau dalam waktu 40 hari istrimu ini tidak juga hamil, kalian berdua harus segera mengurus surat cerai!" tegas Ibu Fajar tanpa basa-basi.
"Gimana bisa Ibu ngasih tuntutan paksa kayak gitu ke pernikahan kami?!" bantah Fajar seketika dengan wajah panik.
"Tentu saja Ibu bisa ikut campur! Keluarga kita butuh penerus darah daging secepatnya, bukan wanita penyakitan yang cuma bisa membebani hidupmu seperti dia!"
Setelah mengucapkan paksaan cerai tersebut, kedua orang tua Fajar membalikkan badan lalu berjalan keluar meninggalkan rumah itu secara bersamaan. Mereka membanting pintu utama dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman kayu yang mengagetkan seluruh tubuh Nindy.
Begitu mertuanya benar-benar pergi, Nindy merasa tidak kuat lagi menahan seluruh tekanan emosional dan rasa malunya malam ini.
Nindy langsung beranjak berdiri dari sofa ruang tamu, lalu ia berjalan setengah berlari menuju kamar tidur utama tanpa memedulikan keberadaan suaminya di sana.
Fajar berusaha mengejar Nindy dan memanggil nama istrinya berulang kali, tetapi Nindy sama sekali tidak mau berbicara kepadanya lalu ia masuk ke dalam kamar.
Nindy menekan tombol kunci pada gagang pintu dari arah dalam agar suaminya tidak bisa masuk. Ia mengabaikan seluruh ketukan tangan Fajar dari luar pintu kayu tersebut, karena ia memilih untuk menangis sendirian di atas kasur sembari memeluk bantal gulingnya sampai dirasa tenang.
Tak terasa, sudah hampir satu jam Nindy memangis. Ia akhirnya membuka kunci pintu dan melangkah keluar dari dalam kamar mandi.
Nindy sudah selesai membersihkan dirinya dengan air hangat, lalu ia sengaja berdandan mengenakan pakaian tidur berbahan tipis berwarna hitam. Pakaian tidur tersebut sangat pendek sehingga mengekspos sebagian besar kulit pundak dan pahanya secara langsung.
Nindy menyemprotkan parfum ke area lehernya karena ia ingin berusaha keras memancing gairah suaminya di atas ranjang agar tuntutan mertuanya bisa segera terpenuhi.
Fajar yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang langsung menatap istrinya dengan ekspresi wajah terkejut saat melihat pakaian Nindy.
Nindy berjalan perlahan mendekati Fajar, lalu ia langsung duduk di atas pangkuan suaminya secara hati-hati.
Nindy mengalungkan kedua tangannya di belakang leher Fajar, kemudian ia mulai memberikan sentuhan kulit secara langsung pada area dada dan leher Fajar untuk memancing respons fisik pria tersebut.
"Kita harus ngelakuinnya malam ini, Mas. Aku mau ngebuktiin kalau ucapan ibumu tadi salah besar," bisik Nindy tepat di depan wajah suaminya.
Malik akhirnya bicara lagi, untuk pertama kalinya sejak Bram mulai bicara. Pertanyaannya cuma satu."Amplop buat Bima tiap tahun itu, Om. Kenapa harus dikirim terus?" tanya Malik.Bram menatap keponakannya lama. Jari-jarinya meremas pinggir meja."Om takut. Kalau anak itu muncul, semua orang bakal tahu apa yang Om lakuin waktu Om umur dua puluh enam. Ibumu, kamu, Sekar, cucu-cucu Om," jawab Bram."Sekarang semua orang udah tahu, Om," ucap Malik.Bram mengangguk sekali. Dia mendorong kursinya ke belakang, lalu berdiri sambil berpegangan pada pinggir meja."Om ambil obat dulu. Dada Om dari tadi nggak enak," ucap Bram, berjalan pelan ke lemari kayu di belakang kursinya.Tangannya sudah memegang gagang pintu lemari ketika tubuhnya tiba-tiba kaku. Tangan kirinya mencengkeram dada di balik kemeja batik itu, wajahnya memucat dalam satu tarikan napas, dan dia jatuh ke lantai menyenggol meja rapat sampai cangkir kopinya terguling.Sekar menjerit memanggil ayahnya. Malik sudah melompat dari kur
Di ujung meja yang lain, seorang perempuan berumur tiga puluhan duduk dengan buku catatan terbuka dan pulpen di tangan. Rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya mirip Bram di bagian dagu."Ini Sekar, anak Om. Dia yang ngurus administrasi kantor sekarang. Biar dia yang nyatet, supaya semua tertulis," ucap Bram.Sekar mengangguk sopan ke arah Malik. Malik membalas anggukan itu, dan untuk sesaat dia sadar sepupunya sendiri adalah orang yang belum pernah dia ajak bicara lebih dari lima menit seumur hidupnya.Hendra duduk di sebelah Malik dan membuka mapnya tanpa terburu-buru. Dia mengeluarkan lembar pertama dan meletakkannya di tengah meja, menghadap Bram."Ini catatan akses sistem rekam medis rumah sakit, ditandatangani direkturnya sendiri. Akun staf bernama Yogi buka rekam pemeriksaan kandungan istri Dokter Malik, buka berkas dewan etiknya, dan buka riwayat perawatan Ibu Eleanor dua puluh tahun lalu," ucap Hendra.Bram memandangi kertas itu tanpa menyentuhnya. "Saya nggak kenal yang naman
Bu Ratmi kembali dari ruangan belakang membawa sebuah buku besar bersampul kain hijau yang sudah lusuh. Buku induk panti itu dia buka di atas meja, di halaman yang sudah ditandai dengan secarik kertas."Ini catatan Bima, Bu. Masuk umur sembilan belas hari, diantar mobil hitam, nggak ada surat apa-apa kecuali satu lembar dari rumah sakit," ucap Bu Ratmi, menunjuk satu baris dengan jarinya yang keriput.Dia membalik ke halaman berikutnya dan menunjuk catatan lain. Operasi jantung di umur tiga tahun, dibayar lunas oleh donatur yang menolak namanya ditulis, dan cuma meninggalkan inisial yang tintanya sudah luntur di kolom keterangan.Malik membaca inisial itu dua kali, lalu menoleh ke ibunya. Eleanor yang ikut membaca menggeleng pelan."Ibu kenal inisial ini?" tanya Malik."Hurufnya udah nggak kebaca, cuma tinggal satu huruf S di belakang. Nama keluarga ayahmu pakai S," jawab Eleanor, mengusap huruf-huruf itu dengan ujung jari."Uangnya dateng lewat wesel, Bu, dari kota sebelah. Tiap tahu
Eleanor memakai blus biru muda, warna yang sama dengan seprai kamar di lantai atas rumah besar. Mesin mobil sudah dimatikan sopirnya, tetapi Eleanor tetap duduk di kursi belakang dengan tas tangan di pangkuan."Ibu mau turun sekarang?" tanya Malik dari kursi depan."Sebentar. Ibu mau liat dulu dari sini," jawab Eleanor.Nindy duduk di sebelah mertuanya dan memegang tangan perempuan itu tanpa bicara. Dari balik kaca, mereka bisa melihat halaman panti yang tanahnya disapu bersih, ayunan besi yang catnya mengelupas, dan jemuran panjang berisi seragam sekolah anak-anak dalam berbagai ukuran.Sepuluh menit berlalu begitu. Seorang anak laki-laki kecil berlari melintasi halaman mengejar bola plastik, lalu berhenti dan memandangi mobil hitam itu dengan mulut terbuka."Bima dulu main di halaman itu juga, ya," ucap Eleanor, nyaris ke dirinya sendiri."Kata Bima di telepon semalem, dia yang paling sering jatuh dari ayunan itu," jawab Malik pelan.Eleanor membuka pintu mobil. Nindy dan Malik turu
"Saya nggak pernah berniat ngambil apa pun dari Dokter. Itu yang pertama mau saya bilang, dari dua belas tahun lalu," ucap Bima.Malik mengangguk pelan. Kedua tangannya masih di saku jas putih, dan Nindy melihat kain di saku itu bergerak karena jari-jari di dalamnya mengepal."Kamu tahu dari kapan, aku adikmu?" tanya Malik."Dari umur dua puluh dua. Saya masih jadi pengasuh anak-anak kecil di panti waktu itu. Ada bapak tua pakai jas dateng ke kantor panti, nanya nama saya, terus duduk di depan saya dua jam tanpa ngomong apa-apa," jawab Bima."Ayah," ucap Malik pelan."Abis dua jam, dia bilang dia ayah saya. Terus dia nangis. Saya nggak pernah liat orang tua nangis sampai bahunya naik turun kayak gitu," lanjut Bima.Nindy memandangi tangan Bima yang terlipat di dada. Jari-jarinya panjang, kukunya dipotong pendek dan rata, dan ruas jari tengahnya sedikit lebih besar dari ruas yang lain, sama persis dengan tangan Malik yang setiap malam menggenggam tangannya.Tanpa sadar, Bima menyentuh
Hendra mengangkat wajah dari buku catatannya. "Kamu tahu dia nambal pakai dana abadi dari mana?""Dari laporan tahunan yang dia kirim ke saya buat diperiksa, dulu, sebelum saya dipecat. Angkanya nggak cocok sejak tahun kedua," jawab Bahar.Malik memandangi laki-laki di depannya. Tiga pertanyaan dijawab tanpa satu pun kalimat yang diputar, dan dia tidak tahu apakah itu membuatnya lega atau malah lebih marah.Kipas angin di langit-langit berderit setiap kali putarannya sampai di titik yang sama. Di luar jendela berteralis, terdengar suara petugas memanggil nama-nama tahanan untuk apel siang, satu per satu.Hendra menutup bukunya dan meletakkan pulpen di atasnya. "Kerja sama kamu saya ajuin ke penyidik dengan satu syarat. Semua yang barusan kamu bilang dibikin tertulis, kamu tanda tangan, terus diserahkan ke Inspektur Rudi.""Kertasnya Bapak bawa?" tanya Bahar.Hendra mengeluarkan dua lembar kertas kosong dan satu pulpen dari mapnya, lalu menyodorkannya lewat petugas. Petugas itu memerik







