Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 3 Harus Malam Ini

Share

Bab 3 Harus Malam Ini

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-07-21 11:36:17

Nindy menundukkan pandangannya karena ia tidak berani membalas tatapan tajam dari ibu mertuanya tersebut.

Ayah Fajar berjalan melewati menantunya, lalu ia menaruh sebuah bingkisan makanan di atas meja ruang tamu dengan bantingan yang cukup keras.

"Pasti dia menangis karena dia baru sadar kalau dia itu cuma wanita mandul yang tidak berguna bagi keluarga kita!" tuduh Ibu Fajar secara langsung tanpa basa-basi.

Fajar melangkah maju untuk memblokir pandangan ibunya terhadap Nindy agar istrinya tidak merasa semakin tertekan. "Tolong jaga ucapan Ibu! Nindy itu istri sahku dan dia sedang sakit parah malam ini!"

Ibu Fajar melipat kedua tangannya di depan dada karena ia sama sekali tidak peduli dengan pembelaan anak laki-lakinya itu. "Sakit apa?! Dia itu cuma wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan buat penerus keluarga ini!"

"Cukup, Bu! Jangan bahas soal anak lagi malam ini!"

"Jadi buat apa kamu terus-terusan membela istri cacat yang tidak berguna seperti dia, Fajar?!" balas Ibu Fajar tanpa menurunkan nada suaranya sedikit pun.

Ayah Fajar ikut berdiri di samping istrinya lalu menunjuk wajah Nindy menggunakan jari telunjuk kanannya.

"Ibumu benar, Fajar! Sudah bertahun-tahun kalian menikah, tetapi istrimu ini tidak pernah bisa memberikan cucu untuk keluarga kita!" tambah Ayah Fajar secara kasar.

Air mata Nindy kembali menetes membasahi pipinya saat ia mendengar rentetan hinaan harfiah dari kedua mertuanya secara bertubi-tubi.

Nindy meremas ujung bajunya dengan sangat kuat karena ia tidak memiliki keberanian untuk membela diri di hadapan orang tua suaminya, sementara penyakit di perutnya membuat kondisinya semakin terlihat menyedihkan di mata keluarga Fajar.

Fajar merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil berdiri tepat di depan Nindy, sehingga ia menggunakan tubuhnya sendiri untuk memblokir pandangan ibunya dari sang istri.

"Nindy itu istri sahku, jadi Ibu sama sekali nggak berhak ngomong kasar dan nuduh dia sembarangan di rumah kami sendiri!" bela Fajar secara tegas.

Ibu Fajar sama sekali tidak memedulikan pembelaan anak laki-lakinya tersebut, lalu wanita paruh baya itu justru melangkah maju dengan urat leher yang terlihat menegang karena marah.

"Ibu cuma bicara fakta yang ada, Fajar! Istrimu ini memang terbukti mandul karena dia sama sekali tidak bisa ngasih keturunan buat keluarga kita!"

Ayah Fajar yang berdiri di samping istrinya ikut menganggukkan kepala menyetujui rentetan tuduhan tersebut secara langsung.

"Kalian sudah bertahun-tahun menikah, tapi perut istrimu itu tetap kosong dan kalian berdua tidak menghasilkan anak sama sekali," timpal Ayah Fajar.

Nindy hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas bagian belakang kemeja suaminya, karena ia tidak memiliki keberanian untuk menjawab hinaan dari mertuanya secara langsung. Air mata terus menetes membasahi pipi hingga celananya, membuat dadanya terasa sangat sesak karena ia harus menerima tekanan psikologis yang luar biasa berat.

"Ini bukan salah Nindy sepenuhnya, Pak, Bu! Kami masih rutin berobat ke dokter kandungan buat nyari solusi yang tepat," jelas Fajar sambil menahan nada suaranya agar tidak membentak lagi.

"Berobat apanya?! Kalian berdua cuma buang-buang waktu dan uang saja selama ini tanpa ada hasil yang nyata!" potong Ibu Fajar dengan cepat.

Ibu Fajar menunjuk ke arah Nindy menggunakan jari telunjuk kanannya, lalu ia memberikan sebuah ultimatum mutlak dengan nada suara yang sangat mengancam kepada anak laki-lakinya itu.

"Ibu dan Bapak cuma mau ngasih waktu maksimal 40 hari dari sekarang! Kalau dalam waktu 40 hari istrimu ini tidak juga hamil, kalian berdua harus segera mengurus surat cerai!" tegas Ibu Fajar tanpa basa-basi.

"Gimana bisa Ibu ngasih tuntutan paksa kayak gitu ke pernikahan kami?!" bantah Fajar seketika dengan wajah panik.

"Tentu saja Ibu bisa ikut campur! Keluarga kita butuh penerus darah daging secepatnya, bukan wanita penyakitan yang cuma bisa membebani hidupmu seperti dia!"

Setelah mengucapkan paksaan cerai tersebut, kedua orang tua Fajar membalikkan badan lalu berjalan keluar meninggalkan rumah itu secara bersamaan. Mereka membanting pintu utama dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman kayu yang mengagetkan seluruh tubuh Nindy.

Begitu mertuanya benar-benar pergi, Nindy merasa tidak kuat lagi menahan seluruh tekanan emosional dan rasa malunya malam ini.

Nindy langsung beranjak berdiri dari sofa ruang tamu, lalu ia berjalan setengah berlari menuju kamar tidur utama tanpa memedulikan keberadaan suaminya di sana.

Fajar berusaha mengejar Nindy dan memanggil nama istrinya berulang kali, tetapi Nindy sama sekali tidak mau berbicara kepadanya lalu ia masuk ke dalam kamar.

Nindy menekan tombol kunci pada gagang pintu dari arah dalam agar suaminya tidak bisa masuk. Ia mengabaikan seluruh ketukan tangan Fajar dari luar pintu kayu tersebut, karena ia memilih untuk menangis sendirian di atas kasur sembari memeluk bantal gulingnya sampai dirasa tenang.

Tak terasa, sudah hampir satu jam Nindy memangis. Ia akhirnya membuka kunci pintu dan melangkah keluar dari dalam kamar mandi.

Nindy sudah selesai membersihkan dirinya dengan air hangat, lalu ia sengaja berdandan mengenakan pakaian tidur berbahan tipis berwarna hitam. Pakaian tidur tersebut sangat pendek sehingga mengekspos sebagian besar kulit pundak dan pahanya secara langsung.

Nindy menyemprotkan parfum ke area lehernya karena ia ingin berusaha keras memancing gairah suaminya di atas ranjang agar tuntutan mertuanya bisa segera terpenuhi.

Fajar yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang langsung menatap istrinya dengan ekspresi wajah terkejut saat melihat pakaian Nindy.

Nindy berjalan perlahan mendekati Fajar, lalu ia langsung duduk di atas pangkuan suaminya secara hati-hati.

Nindy mengalungkan kedua tangannya di belakang leher Fajar, kemudian ia mulai memberikan sentuhan kulit secara langsung pada area dada dan leher Fajar untuk memancing respons fisik pria tersebut.

"Kita harus ngelakuinnya malam ini, Mas. Aku mau ngebuktiin kalau ucapan ibumu tadi salah besar," bisik Nindy tepat di depan wajah suaminya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 127 Datang Lagi

    Lampu ruang tengah unit Ratih sengaja dikecilkan, hanya lampu meja di sudut ruangan yang menyala terang, supaya Kayla yang baru saja tertidur di kamar sebelah tidak terbangun lagi.Nindy duduk bersila di atas karpet, buku catatan Suryani sudah terbuka di pangkuannya, sementara matanya menunggu Ratih yang masih di dalam kamar menidurkan anaknya.Ratih keluar beberapa menit kemudian, membawa nampan plastik berisi dua gelas teh hangat, meletakkannya pelan di atas karpet agar tidak menimbulkan suara berisik."Kayla susah banget tidur malam ini," bisik Ratih, duduk di seberang Nindy, mengambil salah satu gelas teh untuk dirinya sendiri.Nindy mengangguk, tidak langsung membalas, karena perhatiannya sudah tersedot penuh ke halaman yang sedang dia baca, tulisan tangan Suryani yang kecil dan rapat sampai Nindy harus memiringkan buku itu ke arah lampu meja supaya bisa terbaca jelas."Hari ini laki-laki itu dateng lagi ke pagar. Ini yang ketiga kalinya. Topinya sama persis kayak dua kali sebelu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 126 Rekaman

    Andra tersenyum melihat antusiasme istrinya. "Kayaknya ini yang bikin dia langsung mau, dari tadi malah nggak nanya-nanya soal harga."Nindy berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan Pipit yang masih sibuk membuka satu per satu pintu kabinet kosong itu, dan sesuatu di dalam dadanya bergerak pelan tanpa dia minta. Dulu, di dapur yang sama, dia pernah berdiri persis di titik itu, menyentuh permukaan meja yang sama dengan semangat serupa, membayangkan masakan apa yang akan dia buat pertama kali sebagai istri baru."Kamu suka masak?" tanya Nindy, suaranya lebih pelan dari yang dia sadari sendiri."Suka banget," jawab Pipit cepat, menoleh dengan senyum lebar. "Ini rumah pertama kami yang beneran punya dapur segini."Malik yang berdiri di dekat pintu masuk melirik Nindy sekilas, menangkap sesuatu di raut wajah istrinya yang tidak dia tanyakan langsung saat itu.Mereka berkeliling sebentar lagi, memeriksa kamar tidur dan kamar mandi, sebelum akhirnya kembali ke ruang tamu untuk membahas u

  • Dok, Please Cukup!   Bab 125 Satu Jam Aja

    Kopi di cangkir Malik sudah dingin ketika laki-laki itu masih memegang gagangnya, tidak benar-benar meminumnya sejak tadi. Tas kerjanya tergeletak di sofa ruang tengah, belum tersentuh sejak subuh, padahal biasanya jam segini dia sudah setengah jalan menuju rumah sakit.Nindy menyendok bubur di mangkuknya pelan-pelan, memperhatikan suaminya dari seberang meja. Semalam Malik tidur nyaris tanpa suara, punggungnya membelakangi Nindy sepanjang malam, seolah kalimat yang dia ucapkan di meja makan tadi malam sudah menghabiskan seluruh tenaganya untuk bicara."Kamu jadi ke bagian arsip pagi ini?" tanya Nindy akhirnya, suaranya datar, tanpa nada menuduh sedikit pun."Jadi. Aku udah janjian sama kepala arsip jam sembilan," jawab Malik, menaruh cangkirnya perlahan.Nindy mengangguk, tidak langsung membantah seperti yang mungkin diduga Malik. Dia meletakkan sendoknya di pinggir mangkuk, menatap suaminya lurus-lurus."Temenin aku ke rumah lama dulu pagi ini," ucap Nindy. "Sebentar aja, sebelum ka

  • Dok, Please Cukup!   Bab 124 Arsip Rumah Sakit

    Menjelang subuh, ponsel Malik yang tergeletak di meja nakas bergetar nyaring, memecah keheningan kamar tersebut. Malik meraihnya cepat, matanya masih setengah terpejam menahan kantuk, dan begitu melihat nama yang tertera di layar tersebut, ia langsung terduduk tegak.Eleanor.Jam empat pagi.Sesuatu yang tidak pernah sekali pun terjadi selama Nindy tinggal di rumah tersebut.Malik bangkit dari ranjang, ponsel masih menyala terang di tangannya. Nindy ikut duduk, matanya yang tadi mengantuk kini terbuka penuh begitu melihat nama yang tertera di layar tersebut."Angkat, Malik," ucap Nindy pelan, ikut bangkit dari ranjang.Malik melangkah menuju balkon, Nindy mengikutinya dari belakang sambil menyelipkan selimut tipis ke bahunya sendiri. Begitu mereka berdua sampai di sana, Malik menekan tombol jawab, lalu menyalakan mode pengeras suara atas permintaan Nindy sebelum sempat mengangkatnya."Aturan kita berlaku dua arah, Malik," bisik Nindy, mengingatkan kesepakatan yang mereka buat sejak Se

  • Dok, Please Cukup!   Bab 123 Lingkaran Baru

    "Iya, Nindy. Kandungan saya sebelas minggu," jawab Nindy sambil tersenyum canggung."Wah, masih awal banget. Saya Mbak Vira," ucap instruktur tersebut ramah, kemudian langsung memisahkan Nindy dari kelompok utama, membawanya ke sudut ruangan yang lebih sepi. "Kamu ikut kelompok ini aja dulu, gerakannya lebih ringan, disesuaikan sama usia kandungan kamu."Nindy sedikit merasa diremehkan mendengar itu, dan begitu Mbak Vira berpindah ke kelompok lain, ia diam-diam mencoba mengikuti gerakan peregangan yang lebih berat dari kelompok utama di sebelahnya.Baru dua menit, betisnya langsung kram hebat, membuatnya meringis kesakitan sampai terdengar oleh seluruh ruangan."Nindy! Sini, sini!" seru Mbak Vira cepat, menghampirinya dengan raut wajah setengah cemas setengah geli. "Kenapa kamu malah ikutan gerakan kelompok sebelah? Udah dibilangin ikutin gerakan ringan dulu!""Maaf, Mbak Vira. Saya cuma pengin nyoba," jawab Nindy sambil meringis, memijat betisnya yang masih terasa kaku."Ini bukan lo

  • Dok, Please Cukup!   Bab 122 Bayang Masa Lalu

    Nindy duduk di kursi seberangnya, memperhatikan wajah Sari yang terlihat lelah namun tetap ramah. "Nggak apa-apa, Sari. Makasih udah mau ketemuan."Sari meraih sebuah bungkusan yang tergeletak di sampingnya, meletakkannya di atas meja dengan gerakan pelan. Nindy langsung mengenali bentuk bungkusan tersebut—album foto pernikahannya dengan Fajar, yang ia kirim lewat jasa kirim hari Kamis lalu."Ini... kenapa masih tersegel, Sari?" tanya Nindy, menatap bungkusan tersebut dengan bingung, karena segelnya sama sekali belum dibuka sejak ia mengirimkannya."Fajar pegang ini selama dua jam di ruang tamu, Nindy," jawab Sari pelan. "Dia nggak buka sama sekali. Terus dia minta saya kembaliin ke kamu, tanpa ngasih alasan apa-apa."Nindy menatap bungkusan tersebut lama, mencoba mencerna informasi itu. "Dia marah, Sari? Atau tersinggung karena aku kirim itu?""Bukan, Nindy. Saya yakin dia bukan nolak," jawab Sari cepat, menggeleng tegas. "Saya rasa dia belum sanggup. Saya ke sini bukan buat ngembali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status