เข้าสู่ระบบNindy menganggukkan kepalanya dengan cepat. Wanita itu berjalan mendekati Fajar, lalu langsung memeluk tubuh suaminya itu dengan sangat erat."Maafin aku, Mas! Aku kira kamu beneran benci sama aku dan mau buang aku gitu aja," tangis Nindy pecah seketika di dada Fajar.Fajar membalas pelukan istrinya dengan tangan yang bergetar hebat. Ia mengusap punggung Nindy secara perlahan untuk menyalurkan rasa sayangnya yang utuh."Jadi kamu ngusir aku tadi murni biar ibumu nggak nyita rumah kita? Biar kamu tetap bisa bayar biaya terapiku, Mas?" tanya Nindy dengan suara tersendat-sendat di sela isak tangisnya."Iya, Sayang. Cuma itu satu-satunya cara biar kamu tetap bisa bertahan hidup sama aku. Aku nggak punya kemampuan fisik buat muasin kamu, jadi minimal aku harus punya uang buat ngerawat kamu," jawab Fajar dengan jujur dan terang-terangan.Mendengar pengakuan langsung tersebut, Nindy meremas kemeja Fajar dengan cengkeraman yang sangat kuat. Wanita itu menyadari betapa besar pengorbanan suamin
`"Dan tolong kasih Nindy keturunan yang selama ini nggak pernah bisa kukasih pakai tubuh cacatku ini, Dok. Aku cuma mau pernikahan kami selamat di mata ibuku," tutup Fajar dengan pengakuan kekalahan yang paling jujur dari seorang suami.Malik menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia menerima tanggung jawab besar tersebut secara langsung di hadapan Fajar, menghargai sisa harga diri laki-laki itu yang rela berkorban demi mempertahankan nama baik keluarganya."Aku pastikan Nindy bakal dapet perawatan fisik terbaik mulai malam ini, dan rahasia soal rekam medismu aman bersamaku," janji Malik secara lisan.Setelah memberikan kesepakatan final antar sesama pria tersebut, Malik langsung memutar tubuhnya. Pria itu membuka pintu mobil sedan hitamnya dan masuk ke dalam kursi kemudi tanpa mengucapkan basa-basi tambahan.Malik menyalakan mesin kendaraannya, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam.Mobil tersebut melaju kencang membelah kegelapan jalanan raya, bergerak dengan kecepatan tinggi untuk se
Malik mematikan sisa lampu dasbor mobilnya. Pria bertubuh tegap itu membuka pintu kendaraannya, lalu melangkah turun untuk berdiri saling berhadapan dengan Fajar di bawah bayang-bayang pohon mangga yang gelap.Fajar menyandarkan punggungnya pada tembok pagar beton. Laki-laki itu menundukkan kepalanya dalam-dalam menghadap ujung sepatunya sendiri, berusaha mengumpulkan sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur malam ini."Aku bener-bener minta maaf soal kelakuan ibuku yang kasar tadi, Dok," ucap Fajar membuka percakapan dengan nada penuh penyesalan.Malik melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap lurus ke arah wajah Fajar tanpa memberikan penghakiman apa pun."Dan makasih banyak karena Dokter udah mikirin celah hukum buat nyelamatin karirku, sekaligus ngelindungin posisi Nindy lewat surat perjanjian itu," tambah Fajar dengan tulus."Aku ngelakuin ini murni karena kewajibanku sebagai pihak medis yang tahu kondisi asli istrimu, Fajar," balas Malik dengan wibawa bicaranya yang
Suasana di teras rumah besar itu mendadak menegang.Ibu Fajar menatap dokter pria di hadapannya dengan mata melotot, napasnya memburu cepat menahan amarah yang meledak."Kamu bener-bener laki-laki sinting!" teriak ibu Fajar sambil menunjuk wajah Malik."Mana ada ceritanya orang bikin anak malam ini, terus besok paginya langsung ketahuan hamil?! Kamu pikir saya perempuan bodoh yang nggak ngerti medis? Mau kamu nidurin Nindy sampai pagi pun, hasil tes besok nggak bakal mungkin langsung garis dua!"Mendengar rentetan amarah itu, Malik sama sekali tidak gentar. Postur tubuhnya tetap tegak dan tenang."Ibu memang benar, pembuahan fisik nggak akan langsung nunjukin hasil dalam waktu satu malam," balas Malik dengan nada suara bariton yang stabil. Ia memindahkan tangan kanannya ke saku kemeja, lalu menarik selembar kertas putih yang sudah dilipat rapi.Malik membuka lipatan kertas itu perlahan dan menyodorkannya tepat ke hadapan wajah orang tua Fajar. "Dan justru karena fakta medis itu, saya
Nindy akhirnya menuruti instruksi Malik agar ia istirahat, karena seluruh ototnya sudah benar-benar kelelahan, lalu ia berbaring dan menarik selimut hingga sebatas leher.Setelah memastikan Nindy aman di atas kasur, Malik membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju meja kerja di sudut kamar.Malik mengambil selembar kertas HVS putih dan sebuah pulpen, lalu ia menyusun sebuah draf surat perjanjian hitam di atas putih secara resmi.Surat itu berisi kesepakatan medis dan perlindungan hukum mutlak agar tindakan persetubuhan yang akan mereka lakukan kelak tidak bisa dituntut sebagai perselingkuhan oleh pihak keluarga Fajar.Setelah selesai menulis dan memberikan tanda tangannya, Malik melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam saku kemeja.
Melihat tidak ada reaksi positif dari tubuh pasiennya, Malik akhirnya menarik tangannya mundur dan membiarkan Nindy mengatur napasnya terlebih dahulu.Laki-laki itu menatap wajah Nindy dengan raut yang sangat serius, lalu ia mulai menjelaskan fakta medis secara langsung mengenai penyebab kegagalan tersebut."Saraf di panggulmu udah ngebangun tingkat toleransi yang sangat tinggi terhadap sentuhan jari, Nindy," jelas Malik secara lugas.Nindy mengerutkan keningnya menahan kram otot sambil berusaha mencerna penjelasan klinis dari mulut dokter kandungan di hadapannya itu."Toleransi gimana maksudmu?! Kemarin siang aja jarimu bisa bikin penyakitku tuntas!" bantah Nindy secara langsung."Intensitas kumatmu itu terlalu sering akhir-







