로그인"Dari tetangga komplek. Kabar itu cepet banget nyebar," jawab Marni sambil tersenyum kecil. "Ibu awalnya nggak percaya. Tapi begitu Fajar konfirmasi langsung, Ibu jadi mikir panjang. Anak Ibu udah nggak bisa kasih cucu buat Ibu, tapi Ibu masih punya kesempatan jadi nenek lewat kamu."Malik akhirnya duduk juga, meski posisinya tetap dekat dengan Nindy, tangannya diam-diam menggenggam jemari wanita itu di bawah meja. "Maksud Ibu, mau tetap ikut campur dalam hidup Nindy meski dia udah bukan menantu Ibu lagi?"Marni menggeleng cepat, raut wajahnya berubah serius. "Bukan gitu, Dokter. Saya cuma... pengin ada di kehidupan cucu saya nanti. Bukan sebagai mertua Nindy, tapi sebagai nenek dari sisi Fajar. Saya tahu itu bukan darah daging Fajar secara biologis, tapi anak itu pernah tumbuh di rahim yang seharusnya jadi menantu saya."Ucapan itu membuat Nindy terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Ia teringat kata-kata Fajar di telepon tadi, hampir mirip persis dengan yang barusan diucapkan Marni."
"Aku nggak punya pilihan lain selain nerima, Nindy. Tapi bukan berarti aku nggak berharap kamu bahagia," jawab Fajar, suaranya terdengar tulus meski ada nada berat di sana. "Cuma satu yang mau aku titip. Jaga diri kamu baik-baik. Anak itu juga, meskipun bukan darah dagingku, tetep aja pernah numbuh di rahim yang sama kayak yang seharusnya jadi anakku."Nindy menutup mulutnya sejenak, menahan haru yang tiba-tiba menyerang dadanya. "Iya, Mas. Makasih."Sambungan telepon itu berakhir tanpa kata perpisahan yang panjang. Nindy meletakkan ponselnya kembali ke meja, lalu menghela napas dalam-dalam."Kamu nggak apa-apa?" tanya Malik sambil mengusap punggung Nindy."Nggak apa-apa, Malik. Cuma... lega aja akhirnya semuanya jelas," jawab Nindy sambil tersenyum tipis. "Fajar orang baik. Aku seneng dia bisa move on."Eleanor kembali dari dapur membawa dua cangkir teh jahe hangat, meletakkannya di atas meja kaca. "Siapa yang telepon tadi?""Fajar, Bu. Ngasih tahu soal surat cerai yang udah resmi,"
Mobil sedan itu akhirnya berhenti di basement apartemen. Nindy masih menyandarkan kepalanya ke bahu Eleanor, napasnya belum sepenuhnya teratur."Kamu bisa jalan sendiri, Nak, atau Ibu suruh satpam bawa kursi roda?" tanya Eleanor sambil mengusap punggung Nindy pelan."Bisa, Bu. Cuma agak pusing aja," jawab Nindy sambil mencoba duduk tegak.Sopir membukakan pintu, lalu Eleanor turun lebih dulu untuk membantu Nindy melangkah keluar dari mobil. Begitu kaki Nindy menapak lantai basement, Malik yang rupanya sudah menunggu di dekat lift langsung berjalan cepat menghampiri mereka."Kenapa nggak telepon aku dulu kalau Nindy mual separah ini?" tanya Malik dengan nada agak menegur, langsung merangkul pinggang Nindy dari samping."Ibu udah kasih minyak kayu putih, kok. Nindy cuma butuh udara segar aja," jawab Eleanor sambil menyerahkan tas belanja ke tangan sopir.Malik tidak membalas ucapan ibunya. Ia justru membungkuk sedikit, mengangkat tubuh Nindy ke dalam gendongannya tanpa bertanya lagi, la
Eleanor memutar tubuhnya, lalu menyunggingkan senyuman tipis sebagai bentuk kesopanan sosial biasa. "Selamat siang, Sarah. Kalian sedang mencari rancangan gaun pesta juga di sini?"Sarah melangkah mendekati Eleanor, lalu pandangan matanya beralih menatap Nindy dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di dada, kemudian menyunggingkan senyuman merendahkan yang sangat kentara. "Aku dengar kabar dari grup arisan kalau anakmu, Malik, baru saja mendapat skorsing dari rumah sakit gara-gara berhubungan sama mantan pasiennya."Nindy refleks menundukkan kepalanya dalam-dalam saat mendengar sindiran tajam tersebut. Jari-jari tangannya meremas ujung kain gaun yang ia kenakan akibat rasa malu yang seketika menghantam dadanya.Rekan sosialita Sarah di sebelahnya ikut menimpali dengan nada suara mencemooh. "Iya, Eleanor. Kenapa kamu membiarkan dokter sehebat Malik mengencani seorang janda yang baru saja bercerai? Keputusanmu itu bisa merusak reputasi keluarga Sast
Dua anggota buser langsung menyergap tubuh Bahar secara sigap tanpa memberikan ampun. Mereka memutar kedua lengan pria paruh baya itu ke belakang punggung, lalu memasangkan borgol besi secara kuat. Bahar sama sekali tidak memberikan perlawanan fisik akibat rasa kejut dan kepanikan yang melumpuhkan seluruh saraf motoriknya.Pengacara Hendra melangkah masuk ke dalam kamar hotel tersebut secara tenang setelah polisi mengamankan situasi ruangan. Pria itu berdiri tepat di depan Bahar, lalu menatap wajah mantan rekan seprofesinya itu dengan sorot mata penuh kekecewaan. "Kamu sudah melewati batas hukum terlalu jauh kali ini, Bahar."Bahar menundukkan kepalanya dalam-dalam seraya napasnya memburu cepat menahan rasa malu. Pria itu tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas pernyataan lisan dari Hendra.Inspektur Rudi berjalan mendekati tempat tidur, mengambil koper kulit milik Bahar, lalu memecahkan kode kuncinya secara paksa untuk melakukan penggeledahan barang bukti. Polisi it
Sementara itu, di sebuah rumah mewah di ibu kota, Marni masih menempelkan ponselnya yang sudah mati ke telinga kirinya. Tangan wanita paruh baya itu gemetar sangat hebat, lalu ia menjatuhkan ponsel tersebut secara perlahan ke atas lantai marmer.Suasana di dalam ruang tamu rumahnya terasa sangat sunyi, dingin, dan mematikan. Tidak ada suara televisi, perbincangan hangat keluarga, atau suara Nindy yang biasanya menyiapkan makan malam di dapur. Semua rutinitas yang dulu sering Marni caci maki kini menghilang tanpa sisa, meninggalkan ruang hampa yang menyiksa dadanya.Marni memutar kepalanya pelan, lalu menatap deretan anak tangga menuju lantai dua tempat kamar Fajar berada. Kamar utama itu kini kosong melompong, sama kosongnya dengan perasaan Marni malam ini.Marni menarik lututnya mendekati dada, lalu menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya yang keriput. Air mata penyesalan mengalir deras membasahi jari-jarinya.Wanita tua itu menangis histeris sendirian di dalam kehening







