Beranda / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 4 Fajar Sudah Gila!

Share

Bab 4 Fajar Sudah Gila!

Penulis: NFLusica
last update Tanggal publikasi: 2026-07-21 11:38:35

Fajar membalas sentuhan tersebut dengan cara memeluk pinggang istrinya erat-erat menggunakan kedua tangannya, lalu ia mulai mencium area leher Nindy.

Tubuh Fajar pada awalnya memberikan respons yang sangat positif terhadap sentuhan langsung dari Nindy.

Alat vital Fajar bisa berdiri dan menegang saat kulit mereka berdua saling bergesekan di atas kasur, sehingga Nindy merasa sangat lega dan berharap mereka bisa menyelesaikan proses pembuahan secara normal malam ini.

Akan tetapi, kondisi ketegangan fisik pada tubuh suaminya tersebut ternyata hanya bertahan sangat sebentar.

Belum sempat Nindy menanggalkan pakaiannya lebih jauh, alat vital Fajar kembali melemah sepenuhnya secara tiba-tiba lalu kehilangan fungsinya. Fajar kehilangan ereksinya hanya dalam waktu kurang dari dua menit, meskipun Nindy sudah berusaha memberikan sentuhan fisik secara berkelanjutan pada dada suaminya.

Merasa sangat gagal secara medis, Fajar langsung menyingkirkan kedua tangan Nindy dari lehernya perlahan, lalu ia menggeser tubuh Nindy agar turun dari pangkuannya.

Fajar menutupi seluruh wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, lalu ia mulai menangis tersedu-sedu di hadapan istrinya.

Fajar meremas rambut bagian depannya dengan sangat kuat karena ia merasa sangat frustrasi dan tidak berguna sebagai seorang suami yang memiliki disfungsi ereksi.

"Maafin aku, Sayang! Alat vitalku benar-benar gagal berfungsi lagi malam ini!" tangis Fajar pecah seketika di dalam kamar yang sunyi itu.

Nindy terdiam kaku di tepi ranjang saat melihat suaminya menangis hebat akibat kondisi fisiknya yang tidak kunjung membaik sejak awal pernikahan mereka.

Fajar menurunkan tangannya dari wajahnya, lalu ia menggenggam kedua telapak tangan istrinya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata terus membasahi seluruh wajah Fajar saat pria itu menatap mata Nindy secara langsung dengan tatapan memohon.

"Aku rela kalau kamu mau ngelakuin prosedur inseminasi buatan di rumah sakit pakai benih pria lain, Sayang!" ucap Fajar dengan suara gemetar.

Nindy melebarkan kedua matanya karena ia sangat terkejut mendengar ucapan harfiah dan tawaran ekstrem dari suaminya barusan.

"Kamu ngomong apa sih, Mas?! Inseminasi pakai benih pria lain itu tindakan yang salah dan nggak masuk akal!" bantah Nindy dengan cepat.

"Aku udah buntu banget! Tubuhku terbukti cacat, dan aku nggak akan pernah bisa bikin kamu hamil secara alami dalam 40 hari ke depan!"

Fajar secara terang-terangan mengatakan bahwa ia rela membuang seluruh harga dirinya sebagai seorang laki-laki asalkan istrinya bisa hamil dari prosedur medis dan mereka tidak jadi bercerai. Ia menangis semakin keras karena ia sudah berada di titik sangat pasrah terhadap penyakitnya yang tidak bisa disembuhkan.

"Lakuin aja prosedur medis apa pun buat masukin benih ke rahimmu asalkan kamu bisa hamil, Nindy. Aku mohon banget, jangan ceraikan aku cuma karena tuntutan ibuku tadi!" Fajar memohon secara menyedihkan sambil mencium punggung tangan istrinya berkali-kali.

Melihat kondisi suaminya yang sangat putus asa itu, Nindy menarik napas perlahan lalu memeluk kepala Fajar dan menyandarkannya pada dadanya.

Nindy sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas permohonan aneh tersebut, karena pikirannya sedang sangat berkecamuk malam itu.

Nindy mengusap rambut suaminya secara perlahan dengan tangan kanannya, sementara isi kepalanya sibuk memikirkan seluruh beban masalah yang menimpanya hari ini secara bersamaan.

Nindy benar-benar dilanda kebingungan dan kepanikan secara mental.

Di satu sisi, ia menyadari secara logika bahwa batas waktu 40 hari dari mertuanya sangat mustahil dipenuhi oleh Fajar secara biologis.

Namun di sisi lain, sentuhan fisik yang terjadi pada siang hari tadi di kamar 304 kembali muncul secara otomatis di dalam ingatan Nindy.

Ingatan mengenai bagaimana jari-jari terampil milik Malik menyentuh area bawah perutnya dan memuaskan gairahnya dengan sangat mudah terus berputar jelas di kepalanya. Sentuhan tangan dokter pria itu terbukti mampu memberikan orgasme yang belum pernah bisa diberikan oleh Fajar selama mereka menikah bertahun-tahun.

Rasa bersalah, ketakutan akan perceraian, dan tingginya tuntutan medis tubuhnya kini bercampur aduk menjadi satu di dalam dada Nindy.

Penyakit kelainan gairahnya terus menuntut kepuasan fisik secara rutin setiap malam, sementara Fajar sama sekali tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar tersebut sekaligus gagal memberikan keturunan untuk keluarga besarnya.

Nindy menatap lurus ke arah pantulan dirinya dan Fajar di cermin lemari pakaian dengan pandangan mata yang kosong. Keraguan besar kini menguasai pikiran Nindy sepenuhnya mengenai masa depan pernikahan mereka, karena ia merasa bahwa rumah tangganya bersama Fajar benar-benar sudah berada di ambang kehancuran.

***

"Sayang, kita harus bahas kelanjutan masalah semalam, ya…"

Suara Fajar memecah keheningan yang menyelimuti ruang makan pada pagi hari itu, karena sejak tadi mereka berdua hanya duduk berhadapan di kursi masing-masing tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Wajah Fajar dan Nindy terlihat sangat lelah dengan kantung mata yang menghitam, akibat mereka berdua sama-sama kurang tidur setelah melewati malam yang penuh dengan pertengkaran dan keputusasaan.

Fajar menaruh cangkir kopinya perlahan di atas meja kaca tersebut, lalu ia menatap istrinya menggunakan pandangan mata yang sangat serius dan tajam.

"Aku udah mikirin jalan keluar buat tuntutan batas waktu empat puluh hari dari ibuku semalam, Sayang," ucap Fajar dengan nada suara pelan namun tegas.

Nindy mengangkat wajahnya dari piring sarapan yang belum ia sentuh sama sekali, sehingga pandangan matanya langsung bertemu dengan mata suaminya.

"Jalan keluar apa, Mas? Kamu sendiri sadar kalau kondisi fisikmu nggak memungkinkan buat bikin aku hamil dalam waktu secepat itu," balas Nindy secara realistis.

"Makanya, aku nyari solusi medis sejak semalam sampai Subuh tadi, dan aku berhasil nemuin satu dokter spesialis kandungan yang sangat tertutup tapi rekam medisnya sangat direkomendasikan."

Fajar mencondongkan tubuhnya ke depan meja makan agar ia bisa menjelaskan rencananya secara lebih rinci, karena ia benar-benar tidak ingin bercerai bulan depan akibat tuntutan ibunya.

"Aku mau kamu ikut program kehamilan khusus pakai bantuan medis secara langsung dari dokter itu, Sayang," usul Fajar tanpa basa-basi.

Mendengar rencana tersebut, Nindy melebarkan kedua matanya karena ia merasa sangat terkejut dan tidak percaya dengan jalan pikiran suaminya pagi ini.

"Kamu gila, Mas?! Itu sama aja kamu nyuruh aku hamil pakai prosedur dan benih dari pihak luar yang nggak kita kenal!" tolak Nindy dengan suara yang mulai meninggi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dok, Please Cukup!   Bab 197 Batalin Semua

    Malik menatap pamannya. Sandal jepit hijau itu benar. Bi Inah memakainya setiap hari ke unit, dan meletakkannya di keset sebelah kiri pintu."Masih, Om," jawab Malik."Hebat. Orang setia itu jarang sekarang," ucap Om Bram, mengangguk puas.Om Bram melirik gelas kertas di sudut meja, bekas kopi pagi yang belum sempat dibuang, lalu menunjuknya dengan dagu."Masih kopi item nggak pake gula?" tanya Om Bram."Masih, Om," jawab Malik."Persis ayahmu. Dulu tiap pagi dia minum dua gelas, terus Ibu kamu ngomel soal lambungnya," ucap Om Bram, tertawa kecil. "Om sendiri udah berhenti. Dokter bilang jantung Om nggak kuat. Sekarang minumnya teh tawar, rasanya kayak air cucian."Malik tersenyum tipis tanpa menjawab. Pamannya tidak butuh jawaban untuk melanjutkan."Cucu Om yang paling kecil baru bisa jalan minggu lalu. Jatohnya ke depan terus, kayak kamu dulu," lanjut Om Bram, merogoh saku batiknya, mengeluarkan ponsel, dan memperlihatkan satu foto bayi berbaju kuning yang berdiri berpegangan pada k

  • Dok, Please Cukup!   Bab 196 Sepeda Pertama

    Nindy tidak bisa membantah, jadi dia ikut tertawa."Terus, modal awalnya berapa? Aku harus beliin apa aja? Kotak? Kompor tambahan? Wajan yang gede?" tanya Malik, suaranya sudah berubah jadi nada orang yang sedang mencatat."Malik, belum juga jadi," balas Nindy."Jumat itu dua hari lagi. Kamu mau masak buat berapa orang pakai satu wajan?" tanya Malik.Nindy membuka mulut untuk menjawab, tapi dari seberang telepon terdengar ketukan di pintu, disusul suara perempuan yang samar. Tawa Malik berhenti di tengah jalan."Tunggu sebentar," ucap Malik, dan suaranya berubah datar.Bunyi gesekan terdengar, seperti ponsel ditutup dengan telapak tangan. Nindy menunggu sambil memandangi kipas angin di sudut warung. Detik-detik lewat tanpa suara dari seberang, sampai akhirnya suara Malik kembali, lebih pelan dari sebelumnya."Nindy, ada tamu di depan ruang praktik aku. Nggak bikin janji, terus nolak disuruh bikin janji dulu. Perawat poliklinik barusan nyebut namanya.""Siapa?" tanya Nindy, menegakkan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 195 Terlalu Enak

    Nindy menaruh sendoknya di bangku. "Dari buku tulisan tangan ibu aku. Beliau udah nggak ada, tinggal bukunya."Ruangan itu diam sebentar, dan Nindy menunggu tatapan kasihan yang biasanya muncul sesudah kalimat semacam itu. Suara Mega dari dekat pintu datang lebih dulu."Kalau gitu kamu bisa bikinin buat aku? Aku bayar," ucap Mega."Aku juga," sambar Tiara, ponselnya sudah muncul lagi. "Suami aku barusan bales, katanya pesen dua.""Saya tiga, buat seminggu. Anak-anak saya di rumah juga pasti doyan," tambah Bu Laras, mengelap sudut bibirnya dengan tisu.Yuni mengangkat satu tangan dari sudut ruangan tanpa bicara.Nindy memandangi mereka satu per satu dengan mulut setengah terbuka. Dewi menepuk pahanya keras-keras.Lima belas menit kemudian, Nindy dan Dewi duduk berhadapan di warung kopi bawah ruko, di meja pojok dekat kipas angin. Dua gelas teh manis dingin berembun di depan mereka, dan Dewi sudah mengeluarkan pulpen dari tasnya lalu membalik struk belanja minimarket yang terselip di do

  • Dok, Please Cukup!   Bab 194 Resep Darimana?

    Kelas berjalan satu jam penuh.Pemanasan leher dan bahu, lalu latihan panggul di atas bola besar, lalu latihan napas panjang yang dihitung Mbak Vira dengan suara datar. Selama itu, mata Mbak Vira jatuh ke Nindy dua kali lebih sering dari ke peserta lain, dan setiap kali Nindy bangkit dari posisi duduk, perempuan itu sudah maju setengah langkah dengan tangan siap menahan. Betis Nindy pegal di menit keempat puluh, dan dia tetap menahan tangannya di atas lutut."Nindy, bahunya turunin. Napasnya ditarik ke perut, dari tadi bahu kamu yang naik," tegur Mbak Vira dari depan."Iya, Mbak," jawab Nindy, menurunkan bahunya.Dari barisan belakang, Dewi berbisik cukup keras sampai seisi ruangan dengar, "Baru balik udah kena tegur. Selamat, Nin, kamu resmi anak kelompok utama.""Dewi, napasnya juga pakai perut, jangan pakai mulut," balas Mbak Vira tanpa menoleh, dan dua peserta di barisan tengah tertawa sampai hitungan napas mereka berantakan.Jam dua lewat lima, Mbak Vira menutup kelas dengan tepu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 193 Kelompok Orang Normal

    Nindy tertawa, lalu duduk dan mengambil pisau kecil. Pisau kecil di tangan Nindy bergerak lebih lambat dari pisau Bi Inah. Mereka mengupas bawang dalam diam selama beberapa menit, kulit tipis berwarna ungu menumpuk di atas koran yang digelar Bi Inah di tengah meja."Bi, tadi subuh aku ngitung resep di buku Ibu," ucap Nindy, melirik buku bersampul cokelat di ujung meja dapur. "Ada empat puluh tiga."Bi Inah mengangkat alis tanpa berhenti mengupas. "Banyak juga, Bu. Mau dimasak semua?""Pengin," jawab Nindy, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, "satu-satu, sampai abis."Sambil melempar kulit bawang ke atas koran, Bi Inah menghitung dengan bibirnya sendiri. "Kalau seminggu dua resep, berarti setengah tahun lebih dikit. Pas dedeknya lahir, bukunya udah tamat."Nindy berhenti mengupas. Hitungan itu belum pernah terpikir olehnya, dan dia memandangi bawang di tangannya beberapa detik sebelum tersenyum."Bibi mau bantuin?" tanya Nindy."Saya bantu nyuci wajannya aja, Bu. Masaknya Ibu se

  • Dok, Please Cukup!   Bab 192 Memang Enak

    Untuk waktu yang lama, mereka berbaring dalam posisi yang sama. Malik akhirnya menarik selimut sampai ke bahu Nindy, lalu menyalakan lampu tidur lagi supaya istrinya bisa menemukan gelas air di nakas.Nindy minum setengah gelas, lalu berbaring menghadap suaminya. Tiga foto di depan lampu tidur memantulkan cahaya kuning ke langit-langit."Malik, aku kepikiran dari jam sembilan tadi. Aku pengin masak semua resep di buku Ibu, satu per satu, sampai abis."Malik membuka matanya yang sudah setengah terpejam. "Buat siapa?""Aku belum tahu," jawab Nindy pelan, memandangi foto poni miring di atas nakas. "Aku cuma udah lama banget nggak punya satu hal pun yang aku kerjain buat diri aku sendiri."***Alarm ponsel Malik berbunyi jam setengah tujuh, dan tangannya meraba sisi ranjang sebelah kiri yang ternyata sudah dingin. Dari arah dapur terdengar bunyi tutup kotak plastik ditekan sampai berbunyi klik, disusul bunyi sendok beradu dengan pinggir wajan.Malik keluar kamar masih dengan kaus tidur, r

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status