로그인Fajar membalas sentuhan tersebut dengan cara memeluk pinggang istrinya erat-erat menggunakan kedua tangannya, lalu ia mulai mencium area leher Nindy.
Tubuh Fajar pada awalnya memberikan respons yang sangat positif terhadap sentuhan langsung dari Nindy.
Alat vital Fajar bisa berdiri dan menegang saat kulit mereka berdua saling bergesekan di atas kasur, sehingga Nindy merasa sangat lega dan berharap mereka bisa menyelesaikan proses pembuahan secara normal malam ini.
Akan tetapi, kondisi ketegangan fisik pada tubuh suaminya tersebut ternyata hanya bertahan sangat sebentar.
Belum sempat Nindy menanggalkan pakaiannya lebih jauh, alat vital Fajar kembali melemah sepenuhnya secara tiba-tiba lalu kehilangan fungsinya. Fajar kehilangan ereksinya hanya dalam waktu kurang dari dua menit, meskipun Nindy sudah berusaha memberikan sentuhan fisik secara berkelanjutan pada dada suaminya.
Merasa sangat gagal secara medis, Fajar langsung menyingkirkan kedua tangan Nindy dari lehernya perlahan, lalu ia menggeser tubuh Nindy agar turun dari pangkuannya.
Fajar menutupi seluruh wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, lalu ia mulai menangis tersedu-sedu di hadapan istrinya.
Fajar meremas rambut bagian depannya dengan sangat kuat karena ia merasa sangat frustrasi dan tidak berguna sebagai seorang suami yang memiliki disfungsi ereksi.
"Maafin aku, Sayang! Alat vitalku benar-benar gagal berfungsi lagi malam ini!" tangis Fajar pecah seketika di dalam kamar yang sunyi itu.
Nindy terdiam kaku di tepi ranjang saat melihat suaminya menangis hebat akibat kondisi fisiknya yang tidak kunjung membaik sejak awal pernikahan mereka.
Fajar menurunkan tangannya dari wajahnya, lalu ia menggenggam kedua telapak tangan istrinya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata terus membasahi seluruh wajah Fajar saat pria itu menatap mata Nindy secara langsung dengan tatapan memohon.
"Aku rela kalau kamu mau ngelakuin prosedur inseminasi buatan di rumah sakit pakai benih pria lain, Sayang!" ucap Fajar dengan suara gemetar.
Nindy melebarkan kedua matanya karena ia sangat terkejut mendengar ucapan harfiah dan tawaran ekstrem dari suaminya barusan.
"Kamu ngomong apa sih, Mas?! Inseminasi pakai benih pria lain itu tindakan yang salah dan nggak masuk akal!" bantah Nindy dengan cepat.
"Aku udah buntu banget! Tubuhku terbukti cacat, dan aku nggak akan pernah bisa bikin kamu hamil secara alami dalam 40 hari ke depan!"
Fajar secara terang-terangan mengatakan bahwa ia rela membuang seluruh harga dirinya sebagai seorang laki-laki asalkan istrinya bisa hamil dari prosedur medis dan mereka tidak jadi bercerai. Ia menangis semakin keras karena ia sudah berada di titik sangat pasrah terhadap penyakitnya yang tidak bisa disembuhkan.
"Lakuin aja prosedur medis apa pun buat masukin benih ke rahimmu asalkan kamu bisa hamil, Nindy. Aku mohon banget, jangan ceraikan aku cuma karena tuntutan ibuku tadi!" Fajar memohon secara menyedihkan sambil mencium punggung tangan istrinya berkali-kali.
Melihat kondisi suaminya yang sangat putus asa itu, Nindy menarik napas perlahan lalu memeluk kepala Fajar dan menyandarkannya pada dadanya.
Nindy sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas permohonan aneh tersebut, karena pikirannya sedang sangat berkecamuk malam itu.
Nindy mengusap rambut suaminya secara perlahan dengan tangan kanannya, sementara isi kepalanya sibuk memikirkan seluruh beban masalah yang menimpanya hari ini secara bersamaan.
Nindy benar-benar dilanda kebingungan dan kepanikan secara mental.
Di satu sisi, ia menyadari secara logika bahwa batas waktu 40 hari dari mertuanya sangat mustahil dipenuhi oleh Fajar secara biologis.
Namun di sisi lain, sentuhan fisik yang terjadi pada siang hari tadi di kamar 304 kembali muncul secara otomatis di dalam ingatan Nindy.
Ingatan mengenai bagaimana jari-jari terampil milik Malik menyentuh area bawah perutnya dan memuaskan gairahnya dengan sangat mudah terus berputar jelas di kepalanya. Sentuhan tangan dokter pria itu terbukti mampu memberikan orgasme yang belum pernah bisa diberikan oleh Fajar selama mereka menikah bertahun-tahun.
Rasa bersalah, ketakutan akan perceraian, dan tingginya tuntutan medis tubuhnya kini bercampur aduk menjadi satu di dalam dada Nindy.
Penyakit kelainan gairahnya terus menuntut kepuasan fisik secara rutin setiap malam, sementara Fajar sama sekali tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar tersebut sekaligus gagal memberikan keturunan untuk keluarga besarnya.
Nindy menatap lurus ke arah pantulan dirinya dan Fajar di cermin lemari pakaian dengan pandangan mata yang kosong. Keraguan besar kini menguasai pikiran Nindy sepenuhnya mengenai masa depan pernikahan mereka, karena ia merasa bahwa rumah tangganya bersama Fajar benar-benar sudah berada di ambang kehancuran.
***
"Sayang, kita harus bahas kelanjutan masalah semalam, ya…"
Suara Fajar memecah keheningan yang menyelimuti ruang makan pada pagi hari itu, karena sejak tadi mereka berdua hanya duduk berhadapan di kursi masing-masing tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Wajah Fajar dan Nindy terlihat sangat lelah dengan kantung mata yang menghitam, akibat mereka berdua sama-sama kurang tidur setelah melewati malam yang penuh dengan pertengkaran dan keputusasaan.
Fajar menaruh cangkir kopinya perlahan di atas meja kaca tersebut, lalu ia menatap istrinya menggunakan pandangan mata yang sangat serius dan tajam.
"Aku udah mikirin jalan keluar buat tuntutan batas waktu empat puluh hari dari ibuku semalam, Sayang," ucap Fajar dengan nada suara pelan namun tegas.
Nindy mengangkat wajahnya dari piring sarapan yang belum ia sentuh sama sekali, sehingga pandangan matanya langsung bertemu dengan mata suaminya.
"Jalan keluar apa, Mas? Kamu sendiri sadar kalau kondisi fisikmu nggak memungkinkan buat bikin aku hamil dalam waktu secepat itu," balas Nindy secara realistis.
"Makanya, aku nyari solusi medis sejak semalam sampai Subuh tadi, dan aku berhasil nemuin satu dokter spesialis kandungan yang sangat tertutup tapi rekam medisnya sangat direkomendasikan."
Fajar mencondongkan tubuhnya ke depan meja makan agar ia bisa menjelaskan rencananya secara lebih rinci, karena ia benar-benar tidak ingin bercerai bulan depan akibat tuntutan ibunya.
"Aku mau kamu ikut program kehamilan khusus pakai bantuan medis secara langsung dari dokter itu, Sayang," usul Fajar tanpa basa-basi.
Mendengar rencana tersebut, Nindy melebarkan kedua matanya karena ia merasa sangat terkejut dan tidak percaya dengan jalan pikiran suaminya pagi ini.
"Kamu gila, Mas?! Itu sama aja kamu nyuruh aku hamil pakai prosedur dan benih dari pihak luar yang nggak kita kenal!" tolak Nindy dengan suara yang mulai meninggi.
Pukul sepuluh tepat, mereka tiba di kantor notaris Pak Wijaya.Hendra sudah menunggu di ruang rapat kecil, sebuah map cokelat tebal tergeletak rapi di depannya."Silakan duduk," ucap Pak Wijaya ramah, seorang pria tua berkacamata tebal yang duduk di ujung meja. Ia membuka map itu perlahan, menyusun lembaran dokumen dengan gerakan hati-hati."Kita mulai dengan pembacaan warisan almarhum Bapak Wisnu Prakoso," ucap Pak Wijaya, suaranya formal namun tenang. "Warisan yang beliau tinggalkan cukup sederhana. Sebuah rumah lama di kampung halaman, yang sudah lama tidak ditempati, dan satu kotak deposit di bank sesuai tanda terima yang Anda bawa."Nindy mendengarkan dengan saksama, tangannya menggenggam erat tangan Malik di bawah meja. Tidak ada kejutan besar dari poin itu, sesuai perkiraan mereka sejak awal.Pak Wijaya membalik lembar terakhir, matanya membaca sejenak sebelum akhirnya mendongak, ekspresinya berubah sedikit serius. "Ada satu klausul khusus yang perlu saya sampaikan soal kotak d
Beberapa saat kemudian, Malik bangkit, berjalan menuju meja makan untuk menyiapkan map berkas yang dibutuhkan besok pagi—kartu identitas, kartu keluarga, buku nikah, surat tulisan tangan Wisnu, dan tanda terima kotak deposit.Nindy berdiri di depan cermin kamar, mengenakan piyama tidurnya sambil memainkan dua liontin separuh hati yang tergantung di lehernya.Malik kembali masuk, memeluk Nindy dari belakang, dagunya bersandar di puncak kepala istrinya. "Aneh banget ya, hidup kamu berubah total dalam hitungan bulan.""Iya," gumam Nindy pelan, matanya menatap pantulan diri mereka berdua di cermin. "Dari yang tadinya sendirian ngadepin semuanya, sekarang punya kamu, punya keluarga besar, punya anak yang bakal lahir sebentar lagi."Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati kehangatan pelukan itu. Namun, pikiran Nindy kembali melayang ke percakapan dengan Rania tadi siang, ke amplop yang menunggu jawabannya besok pagi."Malik," panggil Nindy pelan, suaranya bergetar menahan sesuatu yang suda
"Kenapa harus nunggu sampai besok?" tanya Malik, sedikit tidak sabar."Karena kita nggak tahu berkas itu isinya apa," jawab Hendra tegas. "Bisa aja semua jawaban yang kalian cari udah ada di sana. Lebih baik satu pintu resmi dulu, daripada kalian ambil kesimpulan sendiri dari cerita orang yang belum jelas niatnya."Malik menghela napas, mengakui logika itu. "Bahar gimana? Masih ditahan?""Masih, dan bisa dimintai keterangan lewat jalur penyidik kalau memang perlu," jawab Hendra. "Tapi itu belakangan aja. Fokus kalian besok pagi ke notaris dulu."Setelah menutup telepon, Malik berdiri sejenak di balkon, menatap langit pagi yang mulai cerah. Ia kembali masuk, lalu dengan sengaja mematikan ponselnya tepat di depan Nindy."Hari ini nggak ada yang boleh keluar rumah," ucap Malik tegas, meletakkan ponsel yang sudah mati itu ke meja. "Dan nggak ada satu nama pun yang boleh disebut. Hari ini murni buat kita."Nindy menatap Malik lama, akhirnya mengangguk pelan, menghargai usaha suaminya untuk
Nindy menatap mata Rania lama, mencoba mencari kebohongan di sana, tapi yang ia temukan hanya raut ketulusan yang sulit dibantah. "Terus, hubungan Anda sama saya sebenarnya apa? Saya butuh jawaban jujur sekarang."Rania terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca. "Itu bukan jawaban yang bisa saya ucapin sendiri, Nindy.""Kenapa nggak bisa?" desak Nindy, suaranya mulai bergetar."Karena itu udah dititipin sama Bapak kamu, di satu tempat," jawab Rania pelan. "Dan saya udah nunggu dua puluh delapan tahun, supaya kamu sendiri yang buka jawabannya, bukan dari mulut saya."Kepala Nindy langsung terlempar ke ingatan soal tanda terima kotak deposit yang masih tersimpan rapi di laci Malik. Jantungnya berdebar kencang, mencoba menyambungkan semua kepingan yang mulai terasa saling berkaitan.Waktu terasa berjalan cepat, dan sebelum sepuluh menit itu benar-benar habis, Rania kembali membuka mulut, kali ini dengan suara yang jauh lebih pelan."Ada satu nama yang harus kamu tahu, Nindy," ucap Rania hati
"Nggak nyangka aja, secepat itu kamu move on dari Fajar," lanjut Yanti sambil menyeringai. "Apa kabar tuh mantan suami kamu? Denger-denger udah punya pacar baru juga, ya.""Fajar baik-baik aja, malah lebih bahagia sekarang," jawab Nindy tegas, tidak menunjukkan sedikit pun rasa terpancing. "Kalau nggak ada urusan lain, aku mau lanjutin aktivitasku."Yanti terlihat sedikit kecewa karena tidak berhasil memancing emosi Nindy seperti dulu. Malik yang berdiri di samping istrinya akhirnya angkat bicara, suaranya tenang namun tajam."Kalau ada waktu senggang buat ngomongin orang lain, mungkin lebih baik dipakai buat hal yang lebih berguna, Bu," ucap Malik sopan namun telak, membuat Yanti langsung terdiam tanpa bisa membalas.Yanti mendengus kesal, akhirnya membalikkan badan dan berjalan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Nindy menghela napas lega, merasakan kemenangan kecil yang terasa begitu besar setelah semua yang pernah ia alami."Kamu keren banget tadi," puji Malik sambil tertawa kecil b
"Ini enak banget, Malik. Makasih," ucap Nindy sambil tertawa kecil di tengah tangisnya, menyendok bubur itu lagi dengan lahap.Malik menyandarkan dagunya di telapak tangan, memperhatikan istrinya makan dengan puas. Setelah beberapa suap, ia menghela napas, mengingat topik yang masih menggantung sejak kemarin sore."Nindy, soal surat itu," ucap Malik pelan, membuat Nindy langsung menghentikan suapannya. "Aku minta kamu jangan telepon nomor itu dulu sebelum hari Senin."Nindy mengernyit. "Kenapa harus nunggu selama itu?""Hendra belum selesai verifikasi soal rekening R.S itu," jelas Malik serius. "Dan Dokter Ratna udah kasih rambu jelas soal stres. Aku nggak mau kamu ambil risiko sebelum semuanya jelas."Nindy menghela napas, mempertimbangkan permintaan itu. "Oke, aku setuju. Tapi dengan satu syarat.""Syarat apa?" tanya Malik penasaran."Hari ini kita keluar, dan nggak bahas apa pun soal masa lalu," jawab Nindy tegas. "Aku pengin hari yang tenang, Malik. Cuma kita berdua."Malik tersen







