เข้าสู่ระบบ"Engga harus gitu, Nindy Sayang. Kan ada banyak prosedur. Contohnya, bisa inseminasi buatan, bisa suntik sperma, dan sebagainya. Yang pasti, aku rela nerima anak dari prosedur medis itu dan menganggapnya sebagai anak kandungku sendiri!"
Fajar berbicara dengan sangat cepat dan menggebu-gebu, sehingga urat lehernya terlihat menonjol karena ia berusaha meyakinkan istrinya agar mau menerima usulan ekstrem tersebut.
"Asalkan kamu bisa hamil dan ibuku berhenti nuntut kita cerai, aku rela tutup mata sama semua proses medis yang bakal dokter itu lakuin ke tubuhmu!" tambah Fajar secara harfiah.
Nindy langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk menolak usulan tersebut secara mutlak, karena ia merasa sangat bersalah jika harus melakukan kebohongan sebesar itu di dalam rumah tangganya.
"Aku nggak mau, Mas! Prosedur kayak gitu cuma bakal ngerendahin harga dirimu sebagai laki-laki di dalam pernikahan kita," bantah Nindy sambil menahan emosinya.
"Harga diriku udah hancur total sejak aku tahu alat vitalku mati dan nggak berfungsi normal, Sayang, jadi tolong buang rasa bersalahmu itu dan lakuin aja demi pernikahan kita!"
Saat Nindy membuka mulutnya untuk memberikan bantahan lagi, ia tiba-tiba merasakan otot di bagian bawah perutnya berkedut dengan sangat kencang tanpa peringatan.
Rasa gatal dan nyeri yang familier itu kembali menyerang saraf panggul Nindy secara mendadak, menandakan bahwa penyakit kelainan gairahnya kembali kumat pada pagi hari ini.
Nindy langsung menutup mulutnya rapat-rapat lalu menahan napasnya di tenggorokan, kemudian ia mencengkeram ujung meja makan berbahan kayu di depannya dengan sangat kuat untuk menyalurkan rasa sakitnya.
Keringat dingin seketika merembes keluar dari pori-pori dahi dan leher Nindy, sehingga ia hanya bisa menundukkan kepala sambil menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk mencegah suara rintihannya keluar.
Di tengah situasi Nindy yang sedang berjuang menahan sakit fisik dan perdebatan mereka berdua yang sedang memanas, ponsel Fajar tiba-tiba berdering dengan suara yang sangat nyaring.
Ponsel berwarna hitam yang tergeletak di atas meja makan itu menampilkan nama ibu Fajar pada layar panggilannya.
Fajar segera mengambil ponsel tersebut dan menekan tombol hijau, lalu ia sengaja menyalakan fitur pengeras suara agar istrinya bisa ikut mendengar percakapan mereka pagi ini tanpa ada yang ditutupi.
"Ada apa, Bu? Fajar lagi sarapan sama Nindy sekarang," sapa Fajar sambil menatap wajah istrinya yang terlihat pucat.
"Ibu cuma mau ngingetin kamu sama wanita tidak berguna itu kalau satu hari sudah berlalu!" maki Ibu Fajar dengan suara melengking keras dari seberang telepon.
Suara ibunya terdengar sangat jelas memenuhi seluruh sudut ruang makan tersebut, sehingga Nindy yang sedang menahan sakit di perutnya langsung memejamkan mata rapat-rapat saat mendengar makian harfiah itu.
"Waktu istrimu sekarang cuma tersisa tiga puluh sembilan hari buat nunjukin hasil tes kehamilan positif ke hadapan Ibu, Fajar!" ancam wanita paruh baya itu dengan nada suara yang sangat mengintimidasi.
"Bu, tolong jangan nekan kami terus-terusan kayak gini, karena ini masih terlalu pagi buat ngebahas urusan anak!" balas Fajar sambil memijat pelipisnya karena ia merasa sangat pusing.
"Ibu tidak peduli kapan waktunya! Kalau dalam tiga puluh sembilan hari perut istrimu itu masih kosong, Ibu sendiri yang akan menyeret kalian berdua ke pengadilan agama untuk mengurus perceraian!"
Panggilan telepon itu langsung dimatikan secara sepihak oleh ibunya dari seberang sana, sehingga percakapan tersebut menyisakan suara putusan sambungan yang berbunyi tut-tut-tut dengan sangat nyaring.
Mendengar rentetan makian dan ancaman kasar tersebut secara langsung, pertahanan mental Nindy akhirnya runtuh sepenuhnya pagi itu.
Nindy melepaskan cengkeramannya dari ujung meja secara perlahan, lalu ia menutupi seluruh wajahnya menggunakan kedua telapak tangan dan mulai menangis tersedu-sedu.
Suara tangisan Nindy terdengar sangat menyayat hati karena dadanya terasa sangat sesak, akibat ia harus menahan tekanan psikologis yang luar biasa berat dari mertuanya dan menahan rasa sakit fisik dari penyakitnya secara bersamaan.
Melihat istrinya menangis hebat di kursi seberang meja, Fajar segera menaruh ponselnya kembali ke tempat semula lalu ia beranjak berdiri dari tempat duduknya dengan cepat.
Fajar berjalan memutar mendekati kursi istrinya, kemudian ia merengkuh tubuh Nindy dari arah samping dan memeluk punggung istrinya dengan sangat erat untuk memberikan perlindungan fisik.
"Tolong dengerin penjelasanku sekali lagi, Sayang," bisik Fajar tepat di sebelah telinga kanan istrinya.
Nindy menyandarkan kepalanya pada perut Fajar sambil terus menangis membasahi kemeja pria itu, karena ia benar-benar merasa tidak berdaya dan sangat takut menghadapi batas waktu yang sudah tidak bisa ditawar lagi.
Fajar mengusap punggung istrinya secara naik turun menggunakan tangan kanannya untuk menenangkan kepanikan Nindy, lalu ia kembali memohon agar istrinya mau mempertimbangkan rencana medisnya secara logis.
"Ibu nggak main-main sama ancamannya, sehingga kita berdua benar-benar harus ngelakuin prosedur medis itu secepatnya buat nyelamatin pernikahan kita," bujuk Fajar secara halus.
Nindy menggelengkan kepalanya di dalam dekapan suaminya, menolak menyerah pada prosedur manipulasi medis yang sangat bertentangan dengan hati nuraninya sebagai seorang istri.
"Tapi aku nggak mau hamil dari benih orang lain, Mas! Mertuamu pasti bakal makin benci dan marah besar kalau mereka sampai tahu kita bohongin mereka soal keturunan ini!" tolak Nindy dengan suara yang teredam oleh pakaian Fajar.
"Mereka nggak akan pernah tahu kebenarannya kalau kita berdua tutup mulut rapat-rapat, Sayang!" tegas Fajar.
Fajar menangkup kedua pipi Nindy menggunakan kedua telapak tangannya, lalu ia sedikit mengangkat wajah istrinya agar ia bisa menatap mata Nindy yang berurai air mata secara langsung.
"Dokter itu sangat tertutup dan profesional nanganin masalah privasi pasiennya, jadi rahasia medis kita pasti aman di tangannya dan keluarga besarku bakal ngira anak itu murni darah dagingku," jelas Fajar untuk menepis keraguan istrinya.
Nindy terdiam menatap wajah suaminya, tetapi air mata terus menetes dari pelupuk matanya karena ia masih merasa sangat ragu dan ketakutan mengambil keputusan ekstrem tersebut.
"Aku mohon banget sama kamu, Sayang. Tolong setuju buat nemuin dokter itu besok pagi sesuai jadwal praktik yang udah aku buat semalam," desak Fajar dengan tatapan mata yang sangat memelas dan putus asa.
Penyakit kelainan gairah di area panggul Nindy kembali berkedut tajam tepat setelah Fajar mengucapkan permohonan tersebut, sehingga rasa sakit fisik itu seolah mengingatkan Nindy pada kebutuhan mutlak tubuhnya sendiri.
Pikiran Nindy berkecamuk sangat hebat antara mempertahankan harga diri suaminya yang sudah hancur, ancaman perceraian paksa dari mertuanya, serta penyakit gairahnya yang terus menyiksa saraf tubuhnya setiap waktu jika tidak dipuaskan.
Ia menyadari secara harfiah bahwa suaminya benar-benar tidak bisa diandalkan untuk memuaskan hasrat fisiknya di atas ranjang, apalagi memberikan keturunan secara alami dalam sisa waktu tiga puluh sembilan hari ke depan.
Nindy menatap mata suaminya selama beberapa detik tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu ia menyeka air mata di kedua pipinya menggunakan punggung tangan kanannya secara perlahan.
Karena merasa sangat pasrah dan tidak memiliki pilihan lain yang lebih masuk akal untuk menyelamatkan rumah tangganya, Nindy akhirnya menganggukkan kepala satu kali sebagai tanda persetujuan mutlak.
Anggukan lemah tersebut secara langsung mengakhiri perdebatan panjang mereka pada pagi hari itu, karena Nindy setuju untuk mengikuti semua rencana suaminya menemui dokter Malik.
"Nindy, ini bukan soal siapa yang mutusin," bantah Malik, suaranya masih terjaga meski jelas menahan sesuatu yang besar di baliknya. "Ini soal keselamatan kamu sama anak kita.""Aku tahu, Malik. Tapi selama ini semua orang yang sayang sama aku selalu bilang begitu," balas Nindy, tidak menaikkan suaranya sedikit pun. "Bapak dulu, Suryani, sekarang kamu. Semuanya sayang, semuanya mutusin buat aku, dan aku selalu jadi orang terakhir yang tahu."Malik terdiam, rahangnya mengeras, tidak langsung membalas kalimat tersebut karena dia tahu betul di dalamnya ada kebenaran yang tidak bisa dia bantah begitu saja."Coba kamu pikirin dari sisi aku," ucap Malik akhirnya, suaranya lebih pelan. "Kalau ada apa-apa sama kamu pas ketemu Bahar, aku nggak akan bisa maafin diri aku sendiri.""Aku ngerti perasaan kamu," jawab Nindy, meraih tangan Malik di atas meja, menggenggamnya. "Tapi rasa takut kamu nggak boleh jadi alasan buat nahan aku terus, Malik. Aku juga takut, tapi aku lebih takut nggak pernah ta
Nindy berhenti sejenak, menahan tangan Om Har sebelum pensiunan itu sempat berjalan lebih jauh. "Makasih, Om. Beneran, kalau bukan karena Om cerita kemarin, kami mungkin nggak bakal sadar sama sekali."Om Har tersenyum lebar, menepuk punggung tangan Nindy pelan. "Sama-sama, Nak. Namanya juga tetangga, harus saling jaga."Mereka berdua melangkah keluar dari ruang pengelola menuju lorong belakang lobi, langkah Nindy masih agak berat, pikirannya masih dipenuhi bayangan buket bunga yang sudah berakhir di tempat sampah entah di mana.Ponsel Malik berbunyi tepat di depan pintu ruang pengelola, layarnya menampilkan nama Hendra, dan Malik langsung mengangkatnya, meletakkan telepon itu di telinga dengan gerakan cepat."Hendra, aku baru mau telepon kamu, maaf semalem—""Malik," potong Hendra, suaranya terdengar terburu, tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk Malik menyelesaikan kalimatnya. "Bahar ngajuin permohonan resmi lewat kuasa hukumnya, mau ketemu Nindy satu kali di rumah tahanan."Ma
Petugas menggeser kursor mundur, memutar ulang rekaman dengan kecepatan setengah normal, matanya sendiri menyipit memperhatikan setiap gerakan laki-laki tersebut.Di detik seratus delapan, tepat sebelum berbelok ke arah pintu samping keluar, laki-laki itu berhenti sejenak, mendongak ke atas, matanya tertuju pada papan nama gedung yang tergantung di dekat pintu masuk."Berenti di situ," ucap Malik cepat.Petugas menekan tombol jeda, gambar membeku di layar. Wajah itu akhirnya kelihatan, meski buram, pecah karena resolusi kamera yang seadanya, garis rahang tua dengan kerutan di sekitar mata, kulit yang sudah mengendur dimakan usia.Nindy mencondongkan badannya, mendekatkan wajah ke layar sampai jaraknya tinggal sejengkal, matanya menyapu setiap detail yang bisa dia tangkap dari gambar buram itu."Kamu kenal?" tanya Malik pelan, menatap punggung istrinya yang menegang.Nindy menggeleng, lama sekali, matanya belum juga berpaling dari layar. "Nggak, Malik. Aku nggak kenal sama sekali muka
Malik membiarkan lampu tidur menyala beberapa menit lebih lama, memperhatikan wajah istrinya yang tenang dalam tidur, sebelum akhirnya meraih ujung selimut, menariknya sampai ke bahu Nindy, lalu mematikan lampu tersebut dengan gerakan pelan agar tidak menimbulkan bunyi.Dia berbaring di sisi lain kasur, menatap langit-langit kamar yang gelap, pikirannya masih berputar, halaman yang hilang, nama yang tadi terucap di ruang tengah, laki-laki bertopi yang belum jelas wajahnya, semua berbaris rapi menunggu giliran untuk dipikirkan ulang.Jam di ponselnya menunjukkan lewat tengah malam, kemudian lewat jam satu, sementara Malik masih terjaga, matanya belum juga terpejam meski tubuhnya sudah lelah.Getaran pelan dari nakas membangunkannya dari lamunan itu, satu kali, kemudian disusul getaran kedua tidak lama sesudahnya.Malik meraih ponselnya, menggeser layar dengan mata yang masih setengah terpejam menahan kantuk yang akhirnya datang justru di saat yang salah. Notifikasi pertama muncul dari
"Nyaman banget, Malik," jawab Nindy, tersenyum, tangannya menarik kerah kaus suaminya pelan. "Berhenti nanya terus, aku bakal bilang kalau ada yang nggak enak."Malik tersenyum mendengar itu, melepas kausnya sendiri dengan satu gerakan, melemparkannya ke lantai tanpa banyak pikir, kemudian kembali menunduk, kali ini bibirnya bergerak turun ke leher Nindy, melewati kalung dua separuh hati yang tetap tergantung di sana, tidak dia lepas sama sekali, seolah benda itu memang sudah jadi bagian dari tubuh istrinya sendiri.Sentuhan itu bergerak lambat, telapak tangan Malik menyusuri sisi tubuh Nindy dari pinggang naik ke tulang rusuk, berhenti sejenak di sana sebelum bergerak lebih jauh, membuka kancing kaus tidur istrinya satu per satu dengan kesabaran yang tidak biasa, jauh berbeda dari gerakan tergesa yang dulu pernah mereka lakukan di masa-masa awal.Nindy melengkungkan punggungnya sedikit membantu kausnya terlepas, membiarkan udara kamar menyentuh kulitnya, mengeluarkan desahan pelan be
Nindy menekan tombol kirim, meletakkan ponselnya di atas paha, menunggu tanpa banyak berharap balasan itu akan datang secepat biasanya, mengingat jam sudah menunjukkan lewat sepuluh malam.Belum genap satu menit berlalu, layar ponsel itu menyala kembali, menampilkan notifikasi balasan yang membuat Nindy langsung duduk tegak di sofa, bahunya menegang seketika.Saya udah nunggu pertanyaan itu sejak malam kita ketemu di kantor notaris, Nindy.Suara pintu balkon terkunci menutup rangkaian gerakan yang sejak tadi diperhatikan Nindy dari ambang kamar, bersandar ke kusen pintu dengan kedua tangan menyilang di depan dada.Malik menaruh buku catatan itu ke sekat kotak kayu berukir di rak, menutup penutupnya rapat, lalu mematikan lampu ruang tengah tanpa diminta sama sekali. Gerakan itu berurutan, cepat, seolah sudah tersusun rapi di kepalanya sejak beberapa menit sebelumnya."Kamu ngunci semuanya kayak biasa aja hari ini," ucap Nindy, memperhatikan suaminya melangkah mendekat."Aku pengin male







