تسجيل الدخول"Bocah keji, hatimu benar-benar terlalu kejam.""Kami semua sudah mengakui kesalahan kami, tapi kamu tetap nggak mau lepaskan kami.""Aku kutuk kamu akan mati mengenaskan.""Suatu hari nanti kamu pasti akan disambar petir sampai mati."Saat mendengar bagian awal dari perkataan Tirta, hampir empat puluhan kultivator tingkat penebas dewa yang masih hidup itu benar-benar merasa sangat bersyukur. Mereka bahkan ingin berlutut dan bersujud pada Tirta beberapa kali. Namun, setelah mendengar kalimat berikutnya, ekspresi mereka langsung dipenuhi amarah serta rasa malu dan mulai memaki."Huh. Kalau bukan karena kalian takut pada ketiga Orang Suci dari dunia awani, suamiku masih belum sadar, dan hanya ada kami yang wanita lemah di sini, apa kalian akan tetap diam menunggu di sini? Mungkin kalian sudah lama menyerang bersama-sama dan membunuh kami, lalu merebut lencana perunggu dan kabur dari tempat ini," kata Irena sambil tersenyum sinis."Kamu ...."Para kultivator itu langsung terdiam karena Ir
Namun, untuk menghadapi orang-orang ini, ketiga Orang Suci ini tetap bisa melakukannya dengan sangat mudah.Melihat situasi itu, para kultivator yang berkumpul di sekitar segera bersatu. Salah seorang dari mereka maju dan memarahi Tirta, "Bocah, kamu benar-benar kejam. Kami masuk ke reruntuhan ini dengan mempertaruhkan nyawa. Hanya dengan satu kalimat saja, kamu mau rampas hasil jerih payah yang kami dapat dengan susah payah. Bukannya itu sama saja kamu mau nyawa kami?""Kami lebih baik mati daripada serahkan bendanya. Benar. Kalau kamu mau kami serahkan barang yang kami dapat, itu juga bukannya nggak bisa. Tapi suruh dulu wanita baju putih itu buka reruntuhan ini dulu. Setelah kami kembali ke Kota Suci dunia awani, kami baru akan serahkan semuanya padamu."Terlihat jelas sekali. Meskipun Tirta sudah memberikan dua pilihan pada para kultivator itu, pilihan pertama jauh lebih murah hati dan menguntungkan dibanding pilihan kedua. Namun, mereka tidak ingin membayar harga sedikit pun. Mere
Karena tak terelakkan, pertarungan besar pun kembali dimulai. Namun kali ini, Tirta yang melancarkan serangan dengan penuh keganasan terlebih dulu. Sayangnya, kekurangannya adalah jiwa spiritual Selvi sudah tidak sanggup menahan padahal baru setengah hari berlalu. Keduanya pun keluar dari keadaan aneh itu dan kembali ke tubuh masing-masing."Huh, sungguh nyaman. Semua luka di tubuhku benar-benar sudah pulih," gumam Tirta yang merasa agak menyesal. Dia membuka kedua matanya, lalu bangkit dari tanah dan meregangkan tubuhnya hingga terdengar suara letupan beruntun dari dalam tubuhnya. Seolah-olah baru saja tidur nyenyak, tenaganya melimpah dan pikirannya segar sepenuhnya."Sayang, akhirnya kamu sadar juga. Sudah satu hari satu malam berlalu, tapi kamu sama sekali nggak bereaksi. Aku dan Yumika kira sudah terjadi sesuatu padamu," kata Irena dengan manja sambil cemberut dan kedua matanya memerah. Begitu Tirta sadar, dia langsung berlari maju dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Tirta."
Setelah mengetahui penyebabnya, wanita itu benar-benar menjelaskan kondisi Selvi saat ini pada Tirta. "Metode yang kamu tunjukkan memang benar, efek sampingnya juga nggak bisa dihindari. Sebenarnya, kamu sendiri juga kena efek sampingnya, yaitu jadi terlalu bersemangat. Tapi, setelah selama ini kamu makan daging naga, energi dan darahmu selalu sangat melimpah.""Jadi, kamu nggak terlalu merasa pengaruh dari efek samping itu, tapi itu bukan berarti nggak ada. Kalau gadis kecil ini mau sempurnakan teknik kultivasinya, dia harus satukan energinya dengan pria yang juga latih teknik kultivasi yang sama. Kondisinya baru bisa diatasi. Kalau nggak, siap-siap kehilangan seluruh kultivasinya dan nyawanya pun sulit diselamatkan.""Ternyata begitu," kata Tirta yang langsung memahami semuanya, lalu segera menjelaskan keadaan itu pada Selvi.Mendengar itu, Selvi langsung merasa sangat malu dan kesal. Dia langsung membuka kedua matanya yang dipenuhi kabut, lalu menatap Tirta dengan tatapan rumit seka
"Senior terlalu memujiku. Kalaupun berhasil, aku juga nggak berani sembarangan menyuruh-nyuruh Senior.""Aku hanya berharap, saat aku berada dalam bahaya, Senior bersedia membantuku. Itu sudah lebih dari cukup," ucap Tirta sambil tersenyum."Itu urusan sepele. Sudahlah, jangan banyak bicara. Ayo kita mulai." Setelah menenangkan pikirannya, Selvi kembali duduk bersila dan mulai menjalankan teknik kultivasinya.Untaian benang-benang emas dengan ketebalan yang berbeda-beda mengalir di permukaan tubuhnya. Ada yang bergerak cepat, ada pula yang lambat. Semuanya tampak begitu alami dan jauh lebih selaras.Hal seperti ini belum pernah diperlihatkan Selvi sebelumnya. Jelas, walaupun selama ini dia belum berhasil menyempurnakan teknik kultivasinya, pemahamannya terhadap Ilmu 18 Transformasi Jangkrik Emas telah menjadi jauh lebih dalam.Kepiawaiannya dalam menjalankan teknik itu jauh melampaui sebelumnya. Dia hanya tinggal selangkah lagi untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi."Senior, maaf ka
Meridiannya juga sama sekali tidak merasakan sakit. Bahkan ada perasaan seolah berhasil melangkah lebih jauh setelah mencapai puncak dan meminjam tenaga dari puncak gunung untuk melesat menuju langit.Insting Tirta mengatakan kepadanya, saat ini Ilmu 18 Transformasi Jangkrik Emas pasti sudah melampaui kekuatan aslinya.Jika dijalankan sepenuhnya, teknik ini setidaknya mampu melipatgandakan kekuatan tempur hingga 24 kali lipat atau lebih.Selain itu, teknik ini juga tidak perlu mengorbankan esensi darah seperti Teknik Rahasia Delapan Gerbang.Semua kultivator bisa mempelajarinya. Teknik ini pun hanya membawa manfaat tanpa efek buruk sedikit pun."Eh? Dalam waktu sesingkat ini, kamu benar-benar berhasil menyempurnakan teknik kultivasinya?" Menyadari perubahan itu, Selvi membuka kedua matanya. Wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya. Alisnya yang indah sedikit berkerut saat menatap Tirta."Kurasa aku cuma kebetulan berhasil. Tapi pemahamanku terhadap teknik ini masih jauh di bawah Senior. Ka
Satu jam kemudian, Tirta merasa sangat puas. Dia menjadikan Ayu sebagai alasan untuk mengancam Elisa memenuhi semua permintaannya.Begitu mendengar suara ketukan pintu, Tirta berbisik di telinga Elisa, "Bi Elisa, ada yang datang. Seharusnya kita dipanggil untuk makan. Aku pergi dulu. Nanti aku baru
"Pak Tirta, aku sudah sampaikan beritanya ke kantor kepolisian Provinsi Naru. Tapi, sepertinya pencarian baru bisa dilakukan besok. Soalnya sekarang sudah tengah malam.""Di daerah Provinsi Naru banyak pegunungan, jadi susah kalau harus cari orang malam-malam ...." Melihat Selina turun dari mobil t
"Hah? Tirta mau ke sini? Tapi tadi Ibu sudah telepon nenekmu. Katanya kita disuruh jalan sedikit lagi, nggak jauh dari sini ada sebuah kota kecil. Dari sana kita bisa langsung naik mobil ke Desa Benad," kata Yuli yang baru saja mengakhiri panggilan dan tampak sedikit terkejut."Tempat ini terpencil
Selina menambahkan, "Kamu juga nggak usah bertanggung jawab padaku. Aku anggap hal ini nggak pernah terjadi."Melihat Tirta salah paham padanya, Selina segera menjelaskan. Bahkan, dia tidak berani menatap Tirta saat bicara. Kalau dulu, Selina pasti tidak berani membayangkan dirinya akan mengajukan p







