LOGINKemudian, sepuluh kultivator tingkat pembentukan dewa memelesat ke langit dan meninggalkan tempat ini. Mereka meninggalkan tetua tingkat pembentukan jiwa dan murid tingkat inti emas yang bertatapan.Setelah beberapa saat, sepuluh kultivator tingkat pembentukan dewa buru-buru kembali dan membawa orang yang mahir memperbaiki formasi.Hanya saja, Neiva yang memegang Busur Matahari. Dia mengerahkan kekuatan dahsyat saat menembak jalur. Jadi, jalur sudah rusak total.Kesulitan untuk memperbaiki jalur sama dengan membangun jalur baru. Biarpun sekarang ahli dalam perbaikan formasi sudah berkumpul, mereka tidak mampu memperbaiki jalur sampai selesai tanpa menghabiskan waktu panjang dan bahan-bahan berharga.Para tetua itu berkomentar lagi."Waktu wanita berpakaian merah itu pergi, jalurnya masih bisa digunakan. Tapi, jalurnya langsung rusak tak lama setelah dia keluar.""Sebenarnya siapa yang merusak jalur ini? Apa yang disembunyikannya?""Apa anggota sekte kita masih hidup?"Mereka semua kebi
Elisa menjelaskan, "Karena ada yang mengorek ingatan mereka. Tapi, Kak Genta sudah membantu kita mengobati mereka.""Ternyata begitu. Pantas saja ...," timpal Ayu. Perasaannya campur aduk dan sulit diungkapkan dengan kata-kata.Tirta menyarankan, "Bi Ayu, kami istirahat di vila dulu. Mereka pasti lelah setelah melakukan perjalanan selama dua hari. Mungkin ingatan Paman dan Bibi bisa pulih setelah istirahat sebentar."Kemudian, mereka berjalan ke vila.....Sementara itu, Humaira langsung kembali ke dunia awani dengan melewati jalur sesudah kabur. Dia muncul di daerah pegunungan yang luas, bahkan ujungnya tidak terlihat.Tempat ini berada di bagian timur dunia awani. Sekitar 2 ribu tahun yang lalu, pemurni energi dunia misterius membuka jalur dan sampai di tempat ini.Namun, pemurni energi dunia misterius terpuruk seiring berjalannya waktu. Jadi, orang-orang di dunia misterius tidak tahu jalur ini. Akhirnya, jalur ini malah dikuasai orang dari dunia awani.Kemunculan Humaira mengejutkan
Tirta diam-diam merencanakan, 'Setelah ingatan mereka pulih, aku akan mencari bahan-bahan berharga. Kemungkinan bisa membantu mereka memasuki tingkat pembentukan dewa yang sebenarnya.'Tirta baru paham. Dia juga terkejut.Kemudian, orang tua Elisa mengendalikan pedang untuk kembali. Mereka melaju bersama Tirta dan lainnya.Saat masuk ke Desa Persik, Elisa memperkenalkan kepada orang tuanya, "Ayah, Ibu, ini tempat tinggalku dan Tirta. Semua orang yang tinggal di sini itu keluarga kita. Kakakku juga di sini. Nanti aku bawa kalian temui dia."Orang tua Elisa mengamati sekeliling. Mereka yang bingung berkomentar."Um, pemandangan di sini benar-benar bagus. Udaranya juga segar. Banyak buah, sayur, dan bahan obat-obatan ditanam di luar. Orang-orang yang tinggal di sini bisa memenuhi kebutuhan sendiri.""Tapi, kenapa cuma wanita yang tinggal di sini? Kita nggak melihat pria. Bahkan yang membangun rumah juga wanita."Semua orang tahu jawaban untuk pertanyaan ini, kecuali Kamala. Bahkan anjing
Tirta berpikir sejenak. Akhirnya, dia membuat keputusan. Tirta menjawab, "Kita kembali ke dunia fana dulu."Althea dan lainnya menyahut seraya mengangguk, "Oke."Kamala bertanya, "Tirta, apa kamu nggak jadi pergi ke dunia awani?"Elisa dan lainnya terkejut. Sebelum mereka sempat menanyakan alasannya, Tirta menggeleng dan menjelaskan, "Nggak jadi. Sekarang kemampuanku terlalu lemah, aku juga nggak bisa melakukan apa pun kalau pergi ke sana. Selain itu, aku rasa kekuatan semua sekte di dunia awani nggak lemah."Tirta melanjutkan, "Takutnya mereka punya banyak kultivator di atas tingkat pembentukan dewa. Kalau mereka menyerbuku, aku juga celaka biarpun disokong tokoh hebat."Genta yang terhibur menceletuk, "Bagus. Untung kamu mempertimbangkannya dengan baik."Awalnya Genta memang ingin pergi ke dunia awani. Hal ini karena seingatnya dunia awani tidak besar dan kultivator hebat di sana tidak banyak.Namun, Genta baru sadar setelah membunuh para tetua sekte super besar. Semua yang diingatny
Humaira melihat kekuatan tembakan panah Tirta sangat lemah, jadi dia menyimpulkan orang yang menyerangnya secara diam-diam sebelumnya pasti bukan Tirta.Sekarang kemunculan Neiva membuktikan tebakan Humaira benar. Ekspresi Humaira menjadi serius.Tiba-tiba, Humaira tersadar. Dia bergumam, "Tapi, bukan bulu ini yang melukaiku tadi .... Gawat, takutnya pemuda ini masih punya penyokong lain. Hanya saja, orang itu belum muncul!"Humaira langsung terbang jauh tanpa ragu. Bahkan dia tidak bisa merasakan keberadaan orang itu. Pasti kemampuan orang itu jauh lebih kuat darinya.Sebelum pergi, Humaira tidak lupa mengambil dua artefak di gubuk jerami. Dia menegaskan, "Hei! Kalau kamu berani menculik dua tahanan penting Sekte Formasi Surgawi, kamu pasti akan menghadapi pembalasan dendam dari sekte kami!"Whoosh! Neiva sudah melepaskan tali Busur Matahari. Bulunya memang bukan barang biasa, bahkan lebih hebat dari artefak. Tentu saja kekuatan cahaya panah tidak bisa mengimbangi bulu itu.Tembakan i
Setelah itu, sebenarnya Humaira berniat mencari orang yang menembakkan panah. Dia baru menyadari semua orang sudah dibunuh sesudah mendarat. Humaira tidak peduli lagi, dia buru-buru kembali ke puncak gunung.Anjing hitam melihat orang yang menyerap kekuatan spiritualnya. Dia menghampiri Humaira, lalu berdiri dan marah-marah, "Beraninya kamu bilang kami pecundang! Dasar wanita jalang, kamu sombong sekali! Aku tunjukkan kehebatan kami! Tirta, maju!"Tirta yang kesal menegur, "Anjing sialan, minggir!"Kemudian, Tirta langsung mengeluarkan Busur Matahari. Dia memang tahu dirinya tidak mampu melawan Humaira, tetapi dia ingin berusaha. Selain itu, Tirta mengaktifkan gerbang ketiga dari Teknik Rahasia Delapan Gerbang untuk meningkatkan kemampuannya hingga tingkat pembentukan jiwa tahap kelima."Um?" gumam Humaira. Siapa sangka, dia langsung mengamuk begitu melihat Busur Matahari. Humaira menegaskan dengan alis berkerut, "Penjahat, ternyata kamu yang diam-diam menembakku! Kalau hari ini aku ng
Camila memang tidak salah lihat. Belasan orang ini adalah Yudha dan anggotanya yang datang dengan terburu-buru.Penjaga pintu kediaman Keluarga Arshad melihat mereka berniat jahat, jadi dia langsung menghentikan mereka, "Siapa kalian? Acara ulang tahun Tuan Mahib sudah dimulai. Sudah nggak sempat ka
Tirta menggenggam pisau buah berlumuran darah, lalu menoleh ke arah Elisa dan tersenyum."Sama-sama, yang penting kamu baik-baik saja." Melihat para pengawal Negara Yumai telah lumpuh akibat jarum peraknya, Elisa segera kembali ke sisi Ayu. Dia tak menunjukkan ekspresi terlalu peduli terhadap Tirta.
"Untung saja Pak Tirta lebih kuat. Kalau nggak, belum tentu siapa yang kalah hari ini," timpal orang lain.Semua orang yang berada di tempat merasa takut melihat situasi saat ini. Mereka takut disiksa Yudha. Untungnya, Tirta memberi mereka rasa aman yang cukup."Teknik Lima Hantu?" gumam Tirta. Dia
Susana tertawa licik, lalu berujar, "Kalian berdua memang pantas mati. Kalau bukan karena dulu kamu membawa anak sialan ini pergi, hari ini dia nggak akan menginjak serangga guna-gunaku."Tawa Susana sangat mengerikan. Dia sama sekali tidak menghindar. Tiba-tiba, stoples keramik menghantam kepala Su







