تسجيل الدخولPedang Penumpas Dewa sudah tak lagi berada di tangan Tirta.Kekuatan serangannya langsung berkurang drastis. Selain itu, esensi darah di seluruh tubuhnya juga hampir terkuras habis. Sosoknya menjadi terlihat sangat tua, bahkan tubuhnya tampak kurus.Hanya rambut dan alisnya yang masih berwarna hitam. Dia terlihat seperti seorang "orang tua muda" dan sudah tidak mampu lagi mempertahankan jurus dahsyat itu."Mereka masih hidup .... Nggak, aku harus terus lanjut. Aku harus bertahan."Tubuh Tirta terhuyung-huyung. Dengan gemetar, dia mengeluarkan sebatang tanaman spiritual berusia puluhan ribu tahun dari Cincin Penyimpanan. Dia tidak sempat memurnikannya dan langsung memasukkannya ke mulut untuk dikunyah.Energi spiritual yang bergelora menyebar dan langsung mengobati tubuh Tirta yang terluka. Namun, esensi darah yang telah Tirta habiskan sudah terlalu banyak. Sebatang tanaman spiritual berusia puluhan ribu tahun sama sekali tidak memberikan efek apa pun.Tidak ada pilihan lain. Dia hanya
Bum! Suara dahsyat itu seolah membuat seluruh dunia membisu. Yang terlihat dengan mata telanjang hanyalah sebilah energi pedang raksasa yang menyerupai pilar pemusnah dunia, membentang hingga ratusan ribu kilometer.Bagaikan bintang dari luar langit, suara itu membawa kekuatan dahsyat yang mampu menghancurkan langit dan bumi serta menyapu seluruh penjuru.Dalam sekejap, energi pedang itu turun di atas permukaan laut yang membentang luas sejauh mata memandang.Krek! Krek! Udara kosong yang tak berujung itu hancur berkeping-keping, rapuh seperti lapisan es tipis.Jika dilihat dari bawah, sosok Tirta pada saat ini bahkan tampak seperti titik hitam yang sangat kecil."Ini jurus pedang terkuat milik Bakrie .... Bocah itu ternyata telah mencuri ilmu jurus ini!" Hati Selvi terguncang hebat. Menghadapi serangan yang begitu dahsyat, bahkan dia pun merasa tak berdaya untuk melawan."Sial ... jurus pedang macam apa ini? Kekuatannya sudah sebanding dengan teknik terlarang dari era surgawi!"Sesaat
Dengan kata lain, saat ini tubuh Sodam sepenuhnya dikendalikan olehnya seorang diri, tanpa campur tangan apa pun."Persetan denganmu!" Kesadaran Tirta kembali jernih. Dia langsung berteriak keras.Dia tahu bahwa wanita itu sekali lagi telah menolongnya, tetapi dia tidak sempat berterima kasih. Bagaimanapun, dari 15 menit yang berharga itu hanya tersisa sekitar 8 menit.Waktu yang tersisa tidak banyak. Memanfaatkan saat Sodam sedang kesakitan, Tirta mengambil kembali jantungnya dan memasukkannya kembali ke rongga dadanya.Pada saat yang sama, Pedang Penumpas Dewa juga kembali ke tangannya. Dalam jarak sedekat itu, dia langsung mengayunkan Pedang Penumpas Dewa sekuat tenaga ke leher Sodam!Puff! Kepala Sodam menggelinding, tetapi tubuhnya tidak langsung mati. Kepala yang tergeletak di tanah mengeluarkan jeritan dengan ekspresi ketakutan, sementara tubuh tanpa kepala itu tampak kehilangan arah. Tangannya pun bergerak liar ke sana kemari."Nggak .... Kepalaku .... Nggak .... Kalian cepat m
Dug, dug, dug ....Sodam terus menyeringai. Menurut perkiraannya, pada saat jantung iblis itu memasuki tubuh Tirta, benda itu langsung berakar dan dengan sendirinya menyambungkan kembali seluruh meridian yang telah terputus.Seiring setiap denyutnya, darah di dalam tubuh Tirta disaring oleh jantung iblis itu sedikit demi sedikit, berubah dari merah segar menjadi merah kehitaman yang pekat.Permukaan tubuh Tirta juga tampak seolah dipenuhi ular-ular kecil berwarna hitam yang merayap di sekujur tubuhnya, membuat penampilannya terlihat sangat menyeramkan."Kesadaranku makin kabur .... Tubuhku terasa sangat berat .... Rasanya aku sudah kehilangan kendali atas tubuhku ...."Tubuh Tirta terhuyung. Dia merasakan seluruh tubuhnya sangat lemas, seolah dirinya tertindih di bawah gunung. Bahkan untuk menggerakkan satu jari pun dia tidak mampu.Pada saat yang sama, Tirta samar-samar mendengar dengungan yang seolah berasal dari suara iblis. Suara itu seakan hendak menghancurkan kehendaknya sepenuhn
Gelombang kejut dahsyat yang dihasilkan oleh benturan itu mengguncang segalanya. Bahkan para roh ganas dari era surgawi pun kesulitan menstabilkan tubuh mereka.Namun, cahaya dari kertas emas yang menyelimuti Selvi dan Priya yang sedang tak sadarkan diri tiba-tiba bergetar hebat, meniadakan seluruh kekuatan itu. Mereka berdua sama sekali tak terpengaruh."Hehehe .... Memang barang bagus ...."Para makhluk dari era surgawi yang mengelilingi Selvi dan Priya menunjukkan tatapan yang dipenuhi keserakahan luar biasa.Namun, tak lama kemudian mereka seolah teringat sesuatu. Tatapan serakah itu kembali ditekan. Mereka menoleh ke arah Sodam, masing-masing dengan seringai dingin di sudut bibir."Ugh! Gimana mungkin ...."Pada saat yang sama, Sodam mengeluarkan jeritan memilukan. Dia terkejut sekaligus murka saat mendapati telapak tangannya ternyata telah tertebas. Keempat jarinya terputus. Darah hitam menyembur dengan deras."Nggak ada yang mustahil. Hari ini, aku pasti akan membunuhmu!" Tirta
Krek! Sodam menggertakkan gigi. Amarahnya membubung tinggi. Seluruh tubuhnya sampai bergetar."Bocah, berani sekali kamu mempermainkanku! Kalau aku nggak bisa hidup, jangan harap kalian semua bisa keluar dari sini dalam keadaan selamat!"Duar! Energi iblis di sekujur tubuh Sodam bergolak hebat. Kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya bagaikan gunung berapi seluas ribuan kilometer yang terus memuntahkan asap hitam.Dari seluruh tubuhnya, kekuatan tingkat pencapaian agung tahap menengah yang meledak memiliki daya tekan yang tak tertandingi. Puncak utama Paviliun Ufuk langsung runtuh terkena dampaknya. Pemandangannya seperti sebuah bom nuklir baru saja meledak di tempat.Puff! Puff! Puff! Di bawah sana, sebagian tetua dan murid yang memiliki tingkat kultivasi rendah, terguncang oleh kekuatan dahsyat yang bergelora itu hingga tubuh mereka hancur seperti mengalami pelapukan."Aah ... tolong!""Ugh!""Aku nggak ingin mati ...."Para tetua dan murid itu mengeluarkan jeritan memilukan. Tubuh mer
Tirta tidak tahu Devika mencari Marila untuk menanyakan kejadian semalam. Kalaupun sekarang Tirta tahu, dia juga tidak bisa menghalangi Devika.Setelah Tirta menggendong Bella masuk ke vila, ada orang yang menyambutnya dan membawanya ke halaman belakang vila. Tirta melihat Saba dan Yahsva di gazebo.
Pedang Terbang memelesat ke arah anus anjing hitam. Jika sedikit melenceng, bokong anjing hitam akan ditebas Pedang Terbang yang tajam.Anjing hitam menggonggong. Bokongnya menegang saat merasakan hawa yang dingin. Dia menambah kecepatannya untuk menjauhi Pedang Terbang.Kemudian, anjing hitam menge
Kebetulan lampu hijau menyala, jadi mobil di belakang membunyikan klakson. Tirta juga tidak memikirkannya lagi. Dia menjalankan mobilnya.....Tirta tidak tahu mobil Mercedes-Benz yang berpapasan dengannya di jalur lain dikendarai oleh orang Negara Martim.Orang itu tiba-tiba berseru kepada wanita b
Nabila yang tertarik mengomentari dengan ekspresi tidak percaya, "Raja Anjing? Nama apa itu? Anjing itu berjalan sambil berdiri, makan bahan obat-obatan, dan bicara seperti manusia .... Bi Ayu, Kak Arum, apa kalian salah dengar?"Seketika Nabila lupa untuk menelepon Tirta. Arum menyahut dengan yakin







