เข้าสู่ระบบBeberapa saat sebelumnya...Selesai dengan urusan kuliahnya yang menguras tenaga, Lenora bergegas menuju gedung Pengadilan Agama. Pesan singkat dari pengacara, memintanya datang.. Ia tidak menyangka prosesnya akan berjalan secepat ini, terutama setelah ia dengan tegas dan tanpa ragu menolak segala bentuk mediasi.‘Ternyata inilah rasanya menggunakan jasa pengacara profesional yang mahal,’ batin Lenora sambil tersenyum tipis.Ia terkekeh pelan dalam hati, merasa ironis. Tidak pernah sekalipun terbayang dalam hidupnya bahwa ia akan menginjakkan kaki di tempat menyeramkan seperti ini—mengurus perceraian dari pria yang dulu ia nikahi dengan sejuta luka.Memikirkan itu hormon kehamilannya melonjak membuat lidahnya begitu sensitif dan mood-nya berubah-ubah dalam hitungan detik. Tenggorokannya terasa kering dan ngidam makanan yang asam segar. Kebetulan, tepat di seberang gedung pengadilan, ada seorang pedagang buah gerobakan. Lenora memborong cukup banyak mangga muda itu, bukan hanya untuk
Dashel terengah di depan pintu ruangannya yang sedikit terbuka. Sudut bibirnya melengkung ke atas. Bahkan ia sempat menyugar rambutnya sedikit, tidak lain untuk merapikannya, berantakan akibat scrub operasi.Dashel mendorong pintu itu lebih lebar. Wanita berambut panjang duduk membelakanginya. Namun dari warna cokelat gelapnya yang sama persis seperti miliknya, membuat ia mendengkus dan mengepalkan tangan.“Mau apa kamu ke sini, Di?” tegur Dashel, suaranya terdengar jenuh.Wanita yang duduk membelakangi itu menoleh dengan senyum lebar. Diana—kembarannya.Dashel mendekat dan memukul lengan kembarannya pelan. “Kamu ini!”“Tentu jemput kamu, Dash. Sudah empat bulan ini kamu gak pulang ke rumah. Mama kangen sama kamu, pulang yuk,” bujuk Diana.Dashel menolak mentah-mentah. “Aku sibuk, jadwal operasi lagi padat-padatnya.”“Dash, kamu jangan begitu. Hidup bukan cuma tentang kerja. Kamu kurus banget, tahu gak?” Diana mulai menasihati panjang lebar, mengeluhkan kesehatan Dashel yang nampak sep
Empat bulan berlalu sejak malam penuh kebohongan yang menghancurkan hidup Gladys. Bahkan wanita itu mengundurkan diri dari rumah sakit, lantaran tak kuat menanggung cibiran dari seluruh staff di ruamh sakit.Di tempat lain, Lenora, sebagai mahasiswi baru yang usianya tidak lagi muda, harus berjuang ekstra keras beradaptasi. Terlebih, kehamilannya kini telah memasuki bulan-bulan krusial. Tiga janin tumbuh pesat di dalam rahimnya, membuat perutnya membuncit besar dan membuat gerakannya melambat. Napasnya sering kali tersendat, dan punggungnya terasa mau patah setiap kali ia harus duduk berjam-jam mendengarkan dosen.Lenora mengusap lembut perutnya yang buncit. Ia berbisik, "Sayang-sayang Ibu ... tolong, ya, kali ini jangan rewel. Bantu Ibu bertahan sebentar lagi, ya?" Selesai kelas, Lenora menjinjing tas laptop kesayangannya, alatnya untuk mencari uang. Jika ada waktu luang di sela-sela jadwal kuliah, ia selalu membuka laptopnya di perpustakaan untuk mengerjakan proyek freelance daring
Dashel mendengkus. Begitu mengenali wajah itu, darah Dashel jelas menjadi mendidih.Pria itu—Gio.Seseorang dari masa lalu Gladys yang wajahnya terukir jelas dalam ingatan Dashel. Pria yang dulu sering berkeliaran di dekat rumah lama mereka, berkedok sebagai "teman setia" yang selalu siap membantu Gladys di kala Dashel sibuk di rumah sakit.Gio sempat terperanjat melihat Dashel berdiri di hadapannya, bahkan berniat mengulurkan tangan untuk meraih lengan Dashel. Namun, karena jijik ia menepis kasar tangan itu."G-Gladys … di–dia apa benar dia keguguran?" tanya Gio terbata-bata, napasnya memburu cemas.Dashel menatap pria itu dari atas sampai bawah dengan senyum miring."Hm. Anak kalian sudah tiada," ujar Dashel, datar tanpa ekspresi.Tanpa mempedulikan wajah Gio yang langsung memucat, Dashel menoleh pada seorang perawat yang berjaga di meja informasi."Biarkan dia masuk!" perintah Dashelpada perawat itu.Mendengar izin dari wakil diretur, perawat mengangguk tegas.Sedangkan pria bernama
"Bohong! Itu manipulasi!" seru Gina, menunjuk layar telepon pintar dengan jari yang bergetar. "Dashel, kamu licik! Hanya karena perempuan murahan itu, kamu tega memfitnah anakku seperti ini!"Gina menjadi orang yang paling vokal meraung membela putrinya di tengah keheningan yang mencekam itu. Ia melirik sekilas pada Gladys, yang wajahnya kini jauh lebih pucat dari saat ia baru keluar dari ruang operasi tadi.Dashel tetap berdiri tegak, menatap Gina tanpa gentar sedetik pun. "Bukti ini nyata, Tante. Bukankah Tante sendiri tahu saya berada di dalam ruangan ini, menemani Gladys? Kapan dan bagaimana saya bisa memalsukannya?""B-Bisa saja kamu menyuruh asistenmu itu yang mengeditnya! Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, Dashel!"Gina terbata-bata, napasnya memburu tak beraturan."Begitu pun dengan Gladys," balas Dashel dingin, manik hazelnya menatap nyalang ke arah ranjang. "Tidak ada yang tidak mungkin dia melakukannya demi mencapai tujuannya, Tante."Suasana di ruangan itu makin meman
Malamnya di ruang rawat VIP tempat Gladys dirawat terasa pengap dan menyesakkan. Dashel berdiri di sudut, masih menggunakan pakaian kemarin.Rasa kemanusiaan dan nuraninya sebagai seorang dokter serta mantan suami tetap menuntutnya untuk bertenggang rasa atas kehilangan besar yang baru saja terjadi. Permintaan kedua orang tuanya—agar ia menunjukkan sedikit simpati demi meredam amarah keluarga Hartono, membuat Dashel memilih bertahan di sana malam itu.Gladys menangis sesenggukan dalam pelukan mamanya."Anakku ... bayi ku…," rintih Gladys pilu. "Kenapa takdir jahat banget sama aku, Ma? Pedih, sakit banget rasanya kehilangan anak sendiri di saat aku lagi sayang-sayangnya."Gina mengelus rambut putrinya dengan mata berlinang, lalu menatap Dashel tajam."Dashel! Kalau sampai ke depannya Gladys tidak bisa hamil lagi akibat kejadian ini, kamu harus bertanggung jawab penuh menemaninya seumur hidup! Tante nggak mau tahu!"Dewi yang berdiri di samping suaminya langsung maju, menepis tudingan







