LOGINPesan yang diterima dari sistem A-07 mengubah suasana ruang kerja Duke Aslan. Selama beberapa menit, Catherine terus memeriksa ulang data transmisi, memastikan bahwa pesan tersebut bukan hasil kesalahan pembacaan perangkat. Namun, hasilnya tetap sama. Sumber sinyal mengarah pada subjek Ashyel, meskipun sistem belum mampu menentukan koordinat keberadaannya. "Pesan ini memiliki pola enkripsi yang berbeda dari transmisi sebelumnya," ujar Catherine sambil mengamati layar. Jemarinya bergerak cepat di atas papan kendali, mencoba memisahkan gelombang sinyal yang tercampur dengan gangguan dimensi. "Aku berhasil menemukan beberapa kesamaan dengan data Krossvane-04, tetapi ada bagian yang sengaja disamarkan." Aslan berdiri di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Jangan mencoba membuka seluruh lapisan enkripsinya. Kita belum mengetahui apakah transmisi ini hanya berupa pesan atau bagian dari sistem yang lebih b
Pagi itu, lonceng istana berbunyi lebih awal dari biasanya. Seluruh anggota Dewan Kekaisaran dipanggil untuk menghadiri sidang darurat menyusul laporan mengenai pencurian data penelitian Krossvane. Ruang pertemuan utama yang sebelumnya digunakan untuk membahas pemulihan ibu kota kini kembali dipenuhi para bangsawan, pejabat militer, dan perwakilan keluarga berpengaruh. Ketegangan terasa jelas, terutama karena kejadian tersebut dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan kekaisaran.Duke Aslan tiba beberapa menit sebelum sidang dimulai. Ia mengenakan pakaian resmi berwarna gelap dengan lambang keluarganya terpasang di dada. Catherine tidak ikut memasuki ruang utama, melainkan menunggu di ruang pengawasan yang terhubung dengan pusat administrasi. Ia bertugas memantau perkembangan penyelidikan dan memastikan tidak ada dokumen yang kembali diakses tanpa izin.Di ujung meja panjang, Marquis Valerius telah duduk bersama Lord Sebastian Arvell, kepala komite darurat. Keduanya berbicara dengan
Sang Marquis mengeluarkan sebuah lembar dokumen dari laci meja. Kertas itu tampak lebih tua daripada salinan arsip yang sebelumnya diperlihatkan kepada Aslan. Pada bagian atasnya terdapat tulisan tangan yang berbeda dari laporan resmi. Valerius menyerahkannya tanpa banyak bicara.Aslan membaca isi dokumen tersebut dengan saksama. Catatan itu menjelaskan bahwa eksperimen pertama tidak hanya menghasilkan celah dimensi, tetapi juga mendeteksi keberadaan sebuah sinyal dari sisi lain. Sinyal tersebut muncul beberapa saat sebelum seluruh anggota tim dinyatakan menghilang.Di bagian bawah halaman, terdapat sebuah keterangan yang membuat Aslan berhenti membaca.THE SUBJECT MAY NOT BE THE FIRST TO CROSS.Aslan mengangkat pandangan. "Apa maksud kalimat ini?"Valerius menghela napas pendek. "Saya belum menemukan penjelasan lengkapnya. Namun, berdasarkan catatan yang tersisa, para peneliti percaya bahwa sesuatu telah berada di sisi lain sebelum mereka membuka gerbang."Ruangan terasa semakin suny
Malam telah menyelimuti ibu kota ketika Aslan kembali ke kediamannya. Pertemuan dengan Marquis Valerius masih meninggalkan banyak pertanyaan, terutama mengenai proyek Gatekeeper dan pesan misterius yang ditemukan di dalam kereta. Ia tidak menyukai kenyataan bahwa seseorang di luar lingkaran penyelidikannya mengetahui langkah mereka. Lebih buruk lagi, orang tersebut tampaknya memiliki akses terhadap sistem yang sama dengan Valerius.Di ruang kerja, Catherine berdiri di depan meja besar yang dipenuhi dokumen. Ia telah memindahkan seluruh salinan penelitian eksperimen pertama ke tempat penyimpanan terpisah. Beberapa perangkat komunikasi juga dinonaktifkan untuk mencegah kebocoran informasi. Ketika Aslan memasuki ruangan, Catherine segera mengangkat wajahnya."Pesan itu tidak mungkin dikirim oleh orang biasa," ujar Catherine sambil meletakkan kertas berisi simbol lingkaran di atas meja. "Seseorang mengetahui keberadaan Gatekeeper, bahkan mengetahui bahwa Valerius sedang mencoba mengaksesn
Pagi berikutnya, Aslan memerintahkan agar seluruh hasil penemuan dari ruang arsip dipindahkan ke ruang kerjanya. Ia tidak ingin dokumen mengenai eksperimen pertama tersimpan di tempat yang dapat diakses oleh petugas administrasi biasa. Sejak mengetahui adanya hubungan antara penelitian lama dan Krossvane, ia semakin yakin bahwa kehancuran ibu kota bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Ada rangkaian peristiwa yang telah disusun selama puluhan tahun, dan seseorang tampaknya masih berusaha menjaga rahasia tersebut.Catherine tiba membawa dua map tebal dan perangkat penyimpan data yang mereka temukan sehari sebelumnya. Wajahnya menunjukkan kurang tidur, tetapi sorot matanya tetap tajam. Sepanjang malam, ia telah membandingkan simbol pada dokumen lama dengan catatan teknis Krossvane. Hasilnya jauh lebih mengejutkan daripada perkiraannya. Hampir seluruh pola dasar sistem Krossvane memiliki kesamaan dengan rancangan eksperimen pertama, meskipun beberapa bagian telah di
Hujan turun sejak dini hari, membasahi jalanan ibu kota yang masih dipenuhi puing-puing bangunan. Di tengah kesibukan para prajurit dan pekerja yang berusaha memulihkan keadaan, Aslan justru menghabiskan waktunya di ruang arsip militer lama. Bangunan itu terletak di bagian timur istana, jauh dari pusat pemerintahan yang kini dijadikan tempat pertemuan Dewan Kekaisaran. Sebagian besar dokumennya telah dipindahkan, sementara sisanya dianggap tidak lagi memiliki nilai administratif.Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak membaca pesan anonim yang diterima Catherine. Carilah orang yang memerintahkan pembuatannya. Kalimat itu bukan sekadar petunjuk mengenai segel merah, melainkan kemungkinan adanya seseorang yang telah merancang seluruh sistem Krossvane jauh sebelum proyek tersebut diumumkan secara resmi."Anda yakin kita akan menemukan sesuatu di tempat seperti ini?" Catherine bertanya sambil memperhatikan deretan lemari besi yang dipenuhi debu.
Ashyel menendang pintu ruang kerja Duke dengan ujung sepatunya karena kedua tangannya sibuk memegang nampan besar. BRAKK! Aslan yang sedang fokus memetakan strategi militer di atas meja kayu besarnya tersentak. Pena bulunya mencoret kertas dokumen penting karena kaget. Ia mendongak, matanya ber
Ashyel sedang mencuci tangannya saat Aslan masuk ke ruangan medis. Wajah pria itu lebih kaku dari biasanya, seolah ada badai yang sedang tertahan di balik mata merahnya. "Kita tidak akan pergi," ucap Aslan tanpa basa-basi, meletakkan surat undangan itu di meja kayu yang penuh dengan botol obat.
Kegembiraan Ashyel luntur seketika saat kereta kuda mereka memasuki distrik bawah kota yang kumuh. Di sana, di sebuah gang yang berbau sampah dan air limbah, ia melihat pemandangan yang menghancurkan insting medisnya. Tiga orang preman jalanan bertubuh besar sedang menendang sekumpulan anak-anak.
Jakarta, 02:15 WIB. Dua puluh empat jam. Labella Anastasia Laksani baru saja menyelesaikan operasi maraton tanpa jeda. Sebagai ahli bedah toraks terbaik, ia adalah mesin di ruang operasi, tapi mesin pun punya batas. Langkahnya gontai saat keluar dari lobi rumah sakit. Pandangannya kabur, kepala







