LOGINSuara ombak menjadi alarm pertama yang membangunkan Aurora pagi itu.Bukan suara monitor pasien, bukan dering telepon dari ruang perawat, dan bukan pula suara langkah terburu-buru di koridor rumah sakit.Hanya deburan air laut yang datang berulang kali, menyentuh garis pantai lalu kembali menyeret pasir.Aurora membuka mata perlahan.Ia sempat lupa berada di mana sampai pandangannya menangkap jendela besar dengan pemandangan laut di balik tirai tipis. Perempuan itu tersenyum sendiri. Liburan yang mereka rencanakan akhirnya benar-benar terjadi, bahkan tanpa gangguan pekerjaan.Hampir.Karena ketika ia menoleh ke samping, tempat Leon seharusnya berada sudah kosong.Aurora langsung duduk.“Sayangku?”Tidak ada jawaban.Ia turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Di balkon, Leon sedang berdiri sambil membawa dua cangkir kopi. Begitu mendengar langkah kaki istrinya, laki-laki itu menoleh.“Kamu bangun.”Aurora menyandarkan tubuh di pintu balkon. “Aku kira kamu kabur.”Leon mengangkat sala
Ciuman Aurora memang sudah menjadi sesuatu yang sulit dilepaskan Leon.Namun setelah mereka resmi menjadi suami istri, Leon menyadari ada hal lain yang ternyata jauh lebih membuatnya kecanduan.Bukan sekadar wajah cantik Aurora.Bukan pula senyumnya yang selalu berhasil meruntuhkan ketegasan seorang dokter galak.Tubuh perempuan itu.Bukan dalam arti yang kasar, melainkan sebagai sesuatu yang begitu dekat, begitu akrab, dan kini sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan yang ingin Leon jaga.Pagi itu Aurora baru selesai mandi ketika keluar dari kamar dengan rambut masih sedikit basah. Ia mengenakan pakaian sederhana, lalu berjalan menuju meja makan tanpa menyadari bahwa sejak beberapa detik lalu Leon sudah memperhatikannya.“Kenapa lihat-lihat begitu?” tanya Aurora sambil menarik kursi.Leon masih diam.Aurora mengangkat alis. “Sayangku?”“Hmm.”“Jangan bilang kamu sedang memeriksa pasien.”Leon akhirnya tersenyum tipis. “Pasienku sedang sehat.”“Aku bukan pasienmu.”“Benar. Kamu istri
Cuti Leon akhirnya benar-benar dimulai.Tidak ada jas dokter, tidak ada stetoskop yang menggantung di leher, tidak ada suara langkah tergesa menuju ruang operasi, bahkan tidak ada wajah galak yang membuat para dokter muda otomatis merapikan posisi berdiri ketika berpapasan dengannya.Hari itu Leon hanya seorang suami yang sedang membawa koper.Aurora berdiri di depan pintu sambil memperhatikannya dengan senyum kecil. “Sayangku, kamu yakin kita nggak salah bawa koper? Kita cuma pergi beberapa hari.”Leon menatap dua koper di belakangnya, lalu menatap Aurora. “Aku dokter, bukan peramal. Aku nggak tahu apa yang nanti kamu butuhkan.”Aurora terkekeh. “Berarti salahku kalau ternyata setengah isi koper ini nggak terpakai?”“Bukan.”“Lalu?”“Berarti aku yang terlalu sayang sama istriku.”Senyum Aurora langsung berubah lembut.Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuat dadanya hangat.Selama berbulan-bulan mereka melewati terlalu banyak hal. Perpisahan selama tiga tahun, ancaman, konspiras
Pintu ruang keamanan tertutup setelah staf administrasi yang membantu Rowan diamankan. Leon berdiri bersama Dimas dan Irish, sementara Aurora menunggu beberapa langkah dari mereka."Jadi benar Rowan?" tanya Dimas.Pria itu mengangguk gugup. "Saya hanya mengikuti perintahnya. Dia meminta saya mengambil data dari ruang server dan menghapus beberapa rekaman.""Untuk apa?" tanya Leon."Dia ingin mencari cara supaya bukti sebelumnya hilang. Katanya masih ada rekaman yang bisa membuktikan keterlibatannya."Leon mengembuskan napas."Di mana Rowan sekarang?""Di apartemennya."Dimas langsung mengambil ponsel."Kita laporkan kepada pihak berwenang."Leon mengangguk. "Dan jangan ada yang menyentuh server sebelum tim pemeriksa datang."Tidak lama kemudian, penyelidikan dilakukan secara menyeluruh. Rekaman keamanan, akses sistem, percakapan Rowan dengan Aster, transaksi uang, serta kesaksian staf administrasi saling menguatkan.Aster akhirnya memberikan seluruh bukti yang selama ini disimpannya.
Alarm darurat mendadak berbunyi di lantai tiga.Suara itu berbeda dari panggilan biasa. Panjang, berulang, dan membuat beberapa perawat langsung berlari menuju ruang tindakan."Pasien kritis!""Tekanan turun!""Dokter dipanggil!"Leon yang baru keluar dari ruang pemeriksaan langsung berbalik."Ada apa?"Seorang perawat menghampirinya dengan napas memburu."Dok, pasien korban erupsi yang baru dipindahkan dari ICU tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran. Saturasinya turun drastis."Leon langsung bergerak."Dimas, ikut saya. Irish, panggil tim anestesi.""Siap."Aurora yang berada di meja perawat ikut berdiri."Leon!"Leon menoleh."Jangan ikut.""Aku bisa membantu.""Di ruang tindakan, iya. Tapi kondisi tubuhmu belum sepenuhnya pulih.""Aku sudah—""Ora."Satu panggilan itu cukup membuat Aurora terdiam.Nada Leon bukan sedang marah.Ia sedang takut."Aku tidak melarangmu karena menganggapmu tidak mampu. Aku hanya tidak mau kamu memaksakan diri."Aurora menggenggam ujung seragamnya."Bai
Bukti tidak pernah benar-benar diam.Ia hanya menunggu seseorang cukup teliti untuk menyatukan potongan-potongan yang sengaja dibuat berantakan.Di ruang rapat rumah sakit, beberapa berkas tersusun di atas meja. Leon duduk bersama Dimas, Irish, Florina, serta beberapa dokter senior yang ikut dalam pemeriksaan internal.Kali ini wajah Leon jauh lebih tenang.Tidak ada kemarahan.Tidak ada kepanikan.Justru ketenangan itu yang membuat Dimas yakin bahwa sahabatnya sudah menemukan sesuatu.Dimas meletakkan sebuah tablet di hadapan Leon."Ini rekaman akses sistem rumah sakit."Leon menatap layar."Jelaskan.""Catatan operasi yang dipermasalahkan memang berubah. Bukan pada saat operasi berlangsung, tetapi beberapa menit setelahnya."Irish menyandarkan tubuh ke kursi."Dan akun yang digunakan?"Dimas memperbesar layar."Akunnya milik dokter magang."Ruangan mendadak hening.Florina menatap Leon."Rowan?"Dimas mengangguk.Leon tidak langsung bicara. Ia hanya memperhatikan waktu akses yang te
“B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang ka
Aurora Lilian berdiri kaku di pintu masuk ballroom. Tangannya mencengkeram ujung kemejanya dengan gugup. Ia masih merasa tidak percaya dirinya benar-benar datang ke pesta ini.Apalagi… Ia datang bersama dokter Leon Rosmarin.Aurora melirik sekilas ke sampingnya.Leon berjalan dengan langkah tenang.
“Aurora Lilian! Bisa-bisanya kamu melakukan kesalahan seperti itu di ruang operasi!”Bentakan Leon Rosmarin terdengar, membuat Aurora mengerut ketakutan di depannya.Operasi sudah selesai sejam yang lalu, berakhir dengan sukses. Tapi, kini Aurora mendapat evaluasi akibat kesalahannya tadi. “Sudah
Aurora Lilian tidak pernah menyangka jika mantan pacarnya selama 3 tahun di universitas itu, kini menjadi kepala dokter bedah sekaligus atasannya di rumah sakit tempatnya bekerja.“Aku dengar, Dr. Leon Rosmarin dulu bekerja di cabang rumah sakit yang ada di luar negeri dan dia sangat terkenal di sa







