MasukPria itu berdiri di sana dengan wajah datar. Tatapannya perlahan menyapu orang-orang di depannya. Memberikan ketegangan kepada mereka sehingga tidak ada yang berani untuk bereaksi.
Viona yang tersadar duluan langsung tersenyum kaku. “Dokter Leon,” sapanya cepat, diikuti beberapa orang lain yang ikut menegakkan diri dan berpose lebih sopan. “Dokter juga datang ke acara ini?” Leon tidak langsung menjawab. Tatapannya justru berhenti pada Aurora yang masih berdiri di antara mereka. Aurora refleks menunduk. Jantungnya mendadak berdegup tidak nyaman. Kenapa Leon ada di sini? Dan yang lebih penting… Sudah berapa lama pria itu berdiri di sana? Apa ia dengar semua percakapan mereka? Leon menatap Viona dan teman-temannya datar. “Saya tadi mendengar kamu mengatakan sesuatu yang menarik. Penjilat, kamu bilang?” Senyuman Viona sempat membeku sepersekian detik. Aurora bisa menangkap ketegangan di wajah seniornya itu, sebelum dia kembali menguasai dirinya. “Oh, itu?” Ia tertawa kecil lalu tiba-tiba merangkul pundak Aurora erat sampai gadis itu sedikit tersentak. “Ah, ternyata Dokter dengar obrolan kita. Kami tadi cuma bercanda, kok. Iya kan, Aurora?” Aurora meringis kecil. Remasan tangan Viona terasa sangat kuat di pundaknya. Seolah sedang memberi peringatan. Aurora langsung mengangguk cepat ketika Leon menatapnya. “I-iya, Dokter.” Tatapan Leon menyipit, tapi tak mengatakan apa-apa lagi. Aurora langsung menunduk lagi. Takut menghadap Dokter Leon, takut juga menghadap kepada Viona dan teman-temannya yang menekan. “Kamu, ikut saya,” suara Leon menajam. Aurora hanya diam sampai dia sadar bahwa ucapan Dokter Leon merujuk pada dirinya. “S-saya?” “Apa saya harus mengatakan dua kali?” Dokter Leon menjawab singkat, dan segera berlalu lebih dulu. Dengan kikuk, Aurora pun bisa melepaskan diri dari rangkulan Viona, sebab tentu saja tidak ada yang berani melawan titah dokter senior muda itu. Aurora buru-buru mengikuti Leon, mengabaikan aura-aura tidak mengenakkan di belakangnya. Langkah pria itu panjang dan cepat. Aurora sampai harus sedikit berlari kecil agar tidak tertinggal. Aurora tidak berani bertanya kemana Leon akan membawanya. Ia hanya mampu mengikuti dengan patuh sambil menundukkan kepala, karena lagi-lagi perhatian para tamu teralih pada mereka. Untungnya, ketika mereka berhasil keluar dari ballroom, lorong hotel sudah mulai sepi. Aurora bisa bernapas lega sedikit karena tidak perlu lagi menjadi pusat perhatian. Leon baru berhenti setelah sampai di mobilnya yang terparkir. Ia membuka pintu penumpang dan menoleh ke Aurora. “Masuk,” titahnya singkat. Aurora hampir saja secara spontan menolak. Tapi urung. Takut menambah amarah yang jelas di wajah pria itu. Leon masuk di kursi pengemudi. Mobil mulai berjalan menjauh dari gedung tempat perayaan pesta itu. Suasana begitu hening dan tidak nyaman di dalam kabin. Situasi macam apa ini? Kenapa Aurora sekarang malah berada di dalam mobil mantannya? Aurora melirik Leon yang tengah menyetir. Ia menelan ludah melihat ekspresi Leon bertambah menggelap dari sebelumnya. Gadis itu kembali menarik pandangannya ke depan. “S-saya minta maaf,” kata Aurora cepat dan formal. “Saya membuat suasana jadi tidak nyaman. Dan saya juga tidak langsung menurut waktu Dokter menyuruh saya. Itu kelalaian sa…” “Kamu memang suka diperlakukan seperti itu?” potong Leon tiba-tiba. Aurora langsung terdiam. Leon menatap jalanan dengan tajam dan menekan, tapi Aurora merasa itu ditujukan padanya. Aurora tidak berani menjawab. Leon terlihat jauh lebih menyeramkan saat marah dengan suara pelan seperti ini, bukan membentak dengan suara menggema di rumah sakit. Ini membuat Aurora teringat pada masa lalu. Dari dulu, Leon akan menegurnya seperti ini setiap kali ia melakukan kesalahan, lalu Aurora akan otomatis meminta maaf. Misalnya, saat ia tidak sengaja menyapa Leon dengan akrab di kampus, padahal Leon sudah memperingatkan untuk menyembunyikan hubungan mereka. Aurora diam dan menunduk. Reaksinya yang tidak segera menjawab itu membuat Leo bertambah masam. “Kenapa kamu diam saja waktu diperlakukan seperti tadi?” tekan Leon lagi, “Jawab, Aurora.” Aurora menunduk. Ia takut-takut membuka mulutnya, “Kak Viona senior saya, Dok. Lagipula, seperti yang Dokter dengar sendiri tadi, dia cuma bercanda…” “Bercanda?” ulang Leon datar, terlihat semakin tidak senang. “Dia jelas sedang menjatuhkanmu di depan orang lain. Dan kamu diam saja ketika sedang dipermalukan seperti itu. Seolah tidak ada pendirian.” Aurora menggigit bibirnya semakin kuat. Ucapan Leon masih sama tajamnya seperti dulu. “Dokter nggak perlu bicara seperti saya menyedihkan sekali…” “Memang benar, kan?” tukas Leon tajam. “Jangan lembek. Kalau ditindas, jangan diterima saja. Kalau memang ada masalah, setidaknya belajar meminta bantuan.” Ucapan itu mau tak mau membuat Aurora sedikit kesal. Apa Leon sekarang bersikap seolah memedulikannya? Padahal, Aurora sudah berusaha menjaga batas profesional. Toh, mereka tidak ada hubungan apa-apa sekarang. Lagipula, setelah bertemu lagi sejak lama, Aurora hanya bisa merasakan sikap dingin pria itu. Tanpa sadar, Aurora meremas kepalan tangannya. “Ini masalah pribadi saya, Dokter nggak usah ikut campur.” Setelah mengucapkannya, seketika mobil hening kembali. Sementara itu, wajah Leon di sampingnya mengeras.Bunyi elektrokardiograf terdengar teratur dari ruang pemeriksaan khusus lantai enam. Di luar ruangan, rumah sakit tetap bergerak seperti biasa, tetapi di balik pintu dengan tanda akses terbatas, seorang perempuan yang wajahnya hampir setiap hari muncul di layar televisi sedang duduk dengan kedua tangan saling menggenggam. Namanya Keisya Arunika. Aktris sekaligus penyanyi yang sedang berada di puncak popularitas. Namun hari itu, tidak ada kamera, tidak ada manajer yang sibuk mengatur jadwal, dan tidak ada senyum yang biasa ia tunjukkan kepada penggemarnya. Hanya wajah pucat dan napas yang sesekali terdengar berat. Aurora memeriksa hasil pemeriksaan yang baru keluar, lalu menatap pasien di hadapannya. "Keluhan seperti ini sudah berapa lama?" Keisya melirik manajernya sebelum menjawab pelan. "Hampir enam bulan." "Sering pingsan?" "Kadang." "Jantung berdebar?" "Sering." "Sesak?" Keisya mengangguk. "Terutama setelah bekerja terlalu lama." Aurora mencatat beberapa hal. "Ken
Bunyi pintu ruang operasi terbuka setelah hampir tiga jam membuat beberapa perawat yang menunggu di luar langsung berdiri. Leon keluar lebih dulu, masih mengenakan pakaian operasi dengan masker yang sudah diturunkan ke leher. Wajahnya terlihat lelah, tetapi langkahnya tetap tenang.Aurora menyusul beberapa detik kemudian."Pasien stabil," ujar Leon kepada keluarga yang menunggu. "Untuk beberapa jam ke depan masih harus dipantau ketat, tetapi operasinya berjalan sesuai rencana."Ucapan itu langsung disambut tangis lega.Aurora berdiri sedikit di belakang Leon sambil memperhatikan bagaimana dokter yang terkenal galak itu berubah begitu berhadapan dengan keluarga pasien. Tegas, singkat, tetapi tidak pernah memberikan harapan palsu.Setelah keluarga pasien pergi, Aurora menyerahkan sebotol air mineral."Minum."Leon menerimanya."Kamu?""Aku sudah."Leon menatapnya curiga."Jangan bohong.""Aku benar-benar sudah.""Terakhir makan kapan?"Aurora terdiam.Leon langsung menghela napas."Kamu
Bunyi monitor jantung kembali menjadi suara yang paling akrab di telinga Leon. Setelah berminggu-minggu rumah sakit dipenuhi ancaman, penyelidikan, dan nama-nama yang membuat semua orang tidak tenang, pagi itu akhirnya terasa seperti hari kerja biasa. Pasien datang. Perawat berlari membawa berkas. Dokter residen sibuk mengejar jadwal operasi. Dan Leon Rosmarin kembali menjadi dokter galak yang membuat hampir seluruh staf berpikir dua kali sebelum datang terlambat ke ruangannya. Namun ada satu hal yang berbeda. Aurora kembali berada di dekatnya. Bukan sebagai seseorang yang harus ia lindungi dari kejauhan. Melainkan sebagai seseorang yang kini berani berdiri di sisinya. Leon baru keluar dari ruang operasi ketika Florina menghampirinya. "Dokter." Leon berhenti. "Apa?" "Jadwal operasi berikutnya dimajukan tiga puluh menit." Leon mengambil berkas yang diberikan Florina. "Kenapa baru bilang sekarang?" Florina menghela napas. "Karena Anda baru keluar dari ruang operasi." "
Suara langkah kaki menggema di dalam gudang tua itu. Aurora masih berdiri terpaku, menatap Sarah yang kini sama sekali tidak terlihat seperti sahabat yang selama ini ia kenal. Tidak ada senyum, tidak ada kekhawatiran, bahkan tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya.Leon langsung bergeser menutupi Aurora."Jelaskan."Sarah tertawa kecil."Masih saja seperti itu.""Selalu berdiri di depan Aurora.""Padahal tiga tahun lalu kamu juga melakukan hal yang sama."Leon menyipitkan mata."Aku tidak mengenalmu."Sarah menggeleng."Justru itu masalahnya."Aurora menatap Sarah dengan air mata yang terus mengalir."Kenapa kamu melakukan ini?"Sarah akhirnya memandang Aurora."Karena aku membencimu."Kalimat itu membuat Aurora terdiam."Bukan karena kamu melakukan sesuatu kepadaku.""Tapi karena orang yang paling kusayangi hancur setelah mengenal kalian."Raka langsung berteriak."Sarah, jangan lakukan ini!"Sarah menoleh kepadanya."Kamu diam.""Kamu sudah terlalu lama berusaha menghentikanku.
Suara roda brankar berdecit di lorong yang mulai lengang, tetapi perhatian Aurora justru tertuju pada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Kalimat yang tertulis di kartu hitam itu masih terbayang jelas.Orang yang paling dekat dengan kalian sudah lama berada di depan mata.Mobil Leon melaju meninggalkan area rumah sakit. Aurora duduk di sampingnya, sementara tangannya terus menggenggam ponsel."Kak.""Hm?""Menurutmu siapa orang itu?"Leon tetap fokus pada jalan."Aku belum tahu.""Kalau benar seseorang yang dekat dengan kita...""Jangan berpikir terlalu jauh."Aurora menoleh."Tapi tadi di rumah sakit..."Leon mengangguk."Aku tahu.""Orang itu sengaja memberi kita petunjuk.""Supaya kita saling mencurigai."Aurora terdiam.Leon kemudian mengulurkan tangannya sebentar dan menggenggam tangan Aurora."Jangan sampai mereka berhasil.""Aku percaya padamu."Kalimat sederhana itu membuat Aurora sedikit tenang.Namun beberapa kilometer dari sana, sebuah mobil hitam mengikuti mereka da
Bunyi detak monitor jantung terdengar teratur dari ruang ICU, tetapi pikiran Leon justru berlari jauh ke masa lalu. Nama Raka Pradipta terus berputar di kepalanya, terlebih setelah Armand menyebut bahwa adiknya kehilangan masa depan karena keputusan Leon.Aurora duduk di sampingnya dengan wajah penuh kecemasan."Kak Leon..."Leon tidak menjawab."Kamu percaya dengan perkataan Armand?"Leon akhirnya menoleh."Tidak semuanya.""Lalu kenapa wajahmu seperti itu?""Karena aku mengenal Raka."Aurora terdiam."Dia bukan orang jahat.""Aku tahu.""Dia bahkan pernah membantu kita."Leon mengusap wajahnya."Itu yang membuat semuanya tidak masuk akal."Aurora menatapnya lekat."Apa yang terjadi pada Raka sebenarnya?""Aku tidak tahu."Leon berdiri."Tapi sekarang aku akan mencari tahu."Aurora ikut bangkit."Aku ikut."Leon menggeleng."Ora.""Jangan larang aku.""Aku tidak mau kamu kembali terluka."Aurora mendekat."Kalau kita terus seperti ini, Armand akan selalu menemukan cara untuk memisahk
“B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang ka
Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.Leon menatap lamat sosok di depannya.Seragam perawat gadis itu terlihat k
“Aurora Lilian! Bisa-bisanya kamu melakukan kesalahan seperti itu di ruang operasi!”Bentakan Leon Rosmarin terdengar, membuat Aurora mengerut ketakutan di depannya.Operasi sudah selesai sejam yang lalu, berakhir dengan sukses. Tapi, kini Aurora mendapat evaluasi akibat kesalahannya tadi. “Sudah
Aurora Lilian tidak pernah menyangka jika mantan pacarnya selama 3 tahun di universitas itu, kini menjadi kepala dokter bedah sekaligus atasannya di rumah sakit tempatnya bekerja.“Aku dengar, Dr. Leon Rosmarin dulu bekerja di cabang rumah sakit yang ada di luar negeri dan dia sangat terkenal di sa







