Share

Bab 4 Interupsi

Author: Qin Mecca
last update publish date: 2026-06-03 20:27:33

Pria itu berdiri di sana dengan wajah datar. Tatapannya perlahan menyapu orang-orang di depannya. Memberikan ketegangan kepada mereka sehingga tidak ada yang berani untuk bereaksi.

Viona yang tersadar duluan langsung tersenyum kaku.

“Dokter Leon,” sapanya cepat, diikuti beberapa orang lain yang ikut menegakkan diri dan berpose lebih sopan.

“Dokter juga datang ke acara ini?”

Leon tidak langsung menjawab. Tatapannya justru berhenti pada Aurora yang masih berdiri di antara mereka.

Aurora refleks menunduk. Jantungnya mendadak berdegup tidak nyaman.

Kenapa Leon ada di sini? Dan yang lebih penting… Sudah berapa lama pria itu berdiri di sana? Apa ia dengar semua percakapan mereka?

Leon menatap Viona dan teman-temannya datar. “Saya tadi mendengar kamu mengatakan sesuatu yang menarik. Penjilat, kamu bilang?”

Senyuman Viona sempat membeku sepersekian detik. Aurora bisa menangkap ketegangan di wajah seniornya itu, sebelum dia kembali menguasai dirinya.

“Oh, itu?” Ia tertawa kecil lalu tiba-tiba merangkul pundak Aurora erat sampai gadis itu sedikit tersentak. “Ah, ternyata Dokter dengar obrolan kita. Kami tadi cuma bercanda, kok. Iya kan, Aurora?”

Aurora meringis kecil. Remasan tangan Viona terasa sangat kuat di pundaknya. Seolah sedang memberi peringatan.

Aurora langsung mengangguk cepat ketika Leon menatapnya. “I-iya, Dokter.”

Tatapan Leon menyipit, tapi tak mengatakan apa-apa lagi. Aurora langsung menunduk lagi. Takut menghadap Dokter Leon, takut juga menghadap kepada Viona dan teman-temannya yang menekan.

“Kamu, ikut saya,” suara Leon menajam.

Aurora hanya diam sampai dia sadar bahwa ucapan Dokter Leon merujuk pada dirinya. “S-saya?”

“Apa saya harus mengatakan dua kali?” Dokter Leon menjawab singkat, dan segera berlalu lebih dulu.

Dengan kikuk, Aurora pun bisa melepaskan diri dari rangkulan Viona, sebab tentu saja tidak ada yang berani melawan titah dokter senior muda itu.

Aurora buru-buru mengikuti Leon, mengabaikan aura-aura tidak mengenakkan di belakangnya. Langkah pria itu panjang dan cepat. Aurora sampai harus sedikit berlari kecil agar tidak tertinggal.

Aurora tidak berani bertanya kemana Leon akan membawanya. Ia hanya mampu mengikuti dengan patuh sambil menundukkan kepala, karena lagi-lagi perhatian para tamu teralih pada mereka.

Untungnya, ketika mereka berhasil keluar dari ballroom, lorong hotel sudah mulai sepi. Aurora bisa bernapas lega sedikit karena tidak perlu lagi menjadi pusat perhatian.

Leon baru berhenti setelah sampai di mobilnya yang terparkir. Ia membuka pintu penumpang dan menoleh ke Aurora.

“Masuk,” titahnya singkat.

Aurora hampir saja secara spontan menolak. Tapi urung. Takut menambah amarah yang jelas di wajah pria itu.

Leon masuk di kursi pengemudi. Mobil mulai berjalan menjauh dari gedung tempat perayaan pesta itu.

Suasana begitu hening dan tidak nyaman di dalam kabin.

Situasi macam apa ini? Kenapa Aurora sekarang malah berada di dalam mobil mantannya?

Aurora melirik Leon yang tengah menyetir. Ia menelan ludah melihat ekspresi Leon bertambah menggelap dari sebelumnya. Gadis itu kembali menarik pandangannya ke depan.

“S-saya minta maaf,” kata Aurora cepat dan formal. “Saya membuat suasana jadi tidak nyaman. Dan saya juga tidak langsung menurut waktu Dokter menyuruh saya. Itu kelalaian sa…”

“Kamu memang suka diperlakukan seperti itu?” potong Leon tiba-tiba.

Aurora langsung terdiam. Leon menatap jalanan dengan tajam dan menekan, tapi Aurora merasa itu ditujukan padanya.

Aurora tidak berani menjawab. Leon terlihat jauh lebih menyeramkan saat marah dengan suara pelan seperti ini, bukan membentak dengan suara menggema di rumah sakit.

Ini membuat Aurora teringat pada masa lalu. Dari dulu, Leon akan menegurnya seperti ini setiap kali ia melakukan kesalahan, lalu Aurora akan otomatis meminta maaf. Misalnya, saat ia tidak sengaja menyapa Leon dengan akrab di kampus, padahal Leon sudah memperingatkan untuk menyembunyikan hubungan mereka.

Aurora diam dan menunduk. Reaksinya yang tidak segera menjawab itu membuat Leo bertambah masam. 

“Kenapa kamu diam saja waktu diperlakukan seperti tadi?” tekan Leon lagi, “Jawab, Aurora.”

Aurora menunduk. Ia takut-takut membuka mulutnya, “Kak Viona senior saya, Dok. Lagipula, seperti yang Dokter dengar sendiri tadi, dia cuma bercanda…”

“Bercanda?” ulang Leon datar, terlihat semakin tidak senang. “Dia jelas sedang menjatuhkanmu di depan orang lain. Dan kamu diam saja ketika sedang dipermalukan seperti itu. Seolah tidak ada pendirian.”

Aurora menggigit bibirnya semakin kuat. Ucapan Leon masih sama tajamnya seperti dulu.

“Dokter nggak perlu bicara seperti saya menyedihkan sekali…”

“Memang benar, kan?” tukas Leon tajam. “Jangan lembek. Kalau ditindas, jangan diterima saja. Kalau memang ada masalah, setidaknya belajar meminta bantuan.”

Ucapan itu mau tak mau membuat Aurora sedikit kesal. Apa Leon sekarang bersikap seolah memedulikannya?

Padahal, Aurora sudah berusaha menjaga batas profesional. Toh, mereka tidak ada hubungan apa-apa sekarang. Lagipula, setelah bertemu lagi sejak lama, Aurora hanya bisa merasakan sikap dingin pria itu.

Tanpa sadar, Aurora meremas kepalan tangannya.

“Ini masalah pribadi saya, Dokter nggak usah ikut campur.”

Setelah mengucapkannya, seketika mobil hening kembali. Sementara itu, wajah Leon di sampingnya mengeras.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ayruw
haah.. dia kena bully on... jadi jangan tambah beban Rora.. kasihan...
goodnovel comment avatar
BunNa
dokter Leon saat pacaran sm Aurora gk mau klo hubungan mereka diketahui orang lain. emang kenapa? .........
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter Galak Itu Milikku    bab 10 Viona Magnolia

    Koridor lantai tiga mendadak sunyi.Tatapan semua orang tertuju pada Viona.Sementara itu, wajah wanita tersebut perlahan memucat."Aneh sekali."Leon menyimpan ponselnya."Karena unggahan itu dibuat dari jaringan internal rumah sakit."Viona tertawa kecil. "Itu tidak membuktikan apa-apa, Dokter.""Tentu."Leon mengangguk. "Saya juga tidak mengatakan Anda pelakunya."Wajah Viona sedikit melunak. Namun hanya sesaat."Makanya saya sudah meminta tim IT melakukan penyelidikan lebih lanjut."Jantung Viona langsung berdegup."Dan sampai penyelidikan selesai, saya tidak ingin ada yang menyebarkan rumor lagi."Tatapan Leon menyapu seluruh koridor. "Termasuk kalian."Semua orang langsung menunduk.Tidak ada yang berani membantah.Leon lalu menoleh ke Aurora. "Ikut saya."Aurora yang masih memegang ponsel buru-buru mengangguk.Namun sebelum ia sempat melangkah, suara Viona terdengar."Dokter."Leon berhenti. "Ada masalah?"Viona menggigit bibir. "Lalu bagaimana dengan hubungan pribadi antara Do

  • Dokter Galak Itu Milikku    bab 9 Tegang

    "Kak Aurora!"Aurora menoleh.Perawat junior berlari menghampirinya sambil membawa ponsel. "Waduh, Kak... masalah besar.""Ada apa?""Coba lihat forum staf."Aurora langsung membuka aplikasi internal rumah sakit.Begitu melihat layar, wajahnya seketika memucat.Foto dirinya dan Leon saat masih kuliah terpampang jelas.Di bawahnya puluhan komentar terus bertambah."Jadi mereka memang pernah dekat?""Pantas saja Dokter Leon membelanya.""Aku sudah curiga dari awal.""Perawat baru bisa masuk tim operasi direktur? Sekarang masuk akal."Aurora menggenggam ponselnya erat. "Siapa yang unggah ini?""Tidak tahu. Akunnya anonim."Belum sempat Aurora berpikir lebih jauh, suara lain terdengar."Wah, ternyata benar."Aurora mengangkat kepala.Viona berjalan mendekat bersama dua perawat senior.Ekspresinya terlihat terkejut.Terlalu terkejut."Jadi kamu memang punya hubungan dengan Dokter Leon?""Kak Viona, saya—""Kok bisa disembunyikan selama ini?" potong Viona. "Kalau memang mantan pacar, kenapa

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 8 Lelah

    Aurora buru-buru mengaitkan kembali branya, tidak ingin membuat Leon semakin murka. Ia menghadap Leon dan mulai menaruh tangannya di karet celananya. Dengan ragu-ragu, ia mulai menurunkan celananya. Aurora merasa bersyukur karena masih memakai celana ketat pendek di balik celana seragamnya, jadi ia tidak perlu terlihat hanya memakai dalaman. Aurora segera menundukkan kepalanya ketika celananya sudah terbuka semua. Ia tidak berani mengintip Leon yang berlutut di depannya, kini sedang menekuri kakinya itu. “Bajingan itu tidak menyentuhmu sampai bawah kan tadi?”Aurora menggeleng cepat, “Saya lebih dulu menekan bel emergency.”“Bagus,” ucap Leon, “Berdiri sekarang.”Aurora mematuhi perintahnya. Tapi, baru ia sadar kalau posisi ini sangat memalukan karena Leon semakin leluasa melihat tubuh bawahnya yang tidak berbusana. Ia menundukkan kepalanya lagi dan meremas-remas tangannya gugup.“Balik badan,” suruh Leon lagi yang dipatuhi Aurora.Jantung Aurora berdebar tidak karuan. Ia berharap

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 7 Pasrah

    “B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang kalau kamu malu?” Wajah Aurora bertambah merah. Leon berhasil menebak pemikirannya dengan tepat. Ia menundukkan kepala, tidak berani bersitatap dengan Leon. Leon mendengus melihat reaksi Aurora. Tapi, ujung bibirnya terlihat tertarik sedikit seperti menahan senyum tipis. “Aurora, saya tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Tapi, kamu lupa kalau saya ini dokter? Badanmu tidak akan membuat saya bereaksi apa-apa,” ucap Leon yang menohok hati Aurora. “Saya sudah banyak melihat banyak badan pasien, pria maupun wanita. Jadi, hanya karena kamu adalah mantan kekasih saya, bukan berarti—” “Ba-baiklah! Saya mengerti!” potong Aurora malu. Tidak kuat mendengar ucapan Leon lebih lanjut. Padahal, ia

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 6 kamar 307

    Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.Leon menatap lamat sosok di depannya.Seragam perawat gadis itu terlihat kusut. Rambutnya berantakan. Ada bekas kemerahan samar di pergelangan tangannya, jelas habis dicengkeram paksa.Sorot mata pria itu seketika menggelap.“Aurora,” suara Leon merendah. “Siapa yang melakukan ini? Jawab saya dengan jujur!”Aurora menelan ludah melihat wajah mengeras Leo. Ia membuka mulutnya lagi, hendak menjawabnya. Tapi sebelum ia sempat bersuara, beberapa perawat terlihat berlari melewati lorong menuju kamar VIP setelah alarm emergency call barusan.Keduanya sontak menoleh pada kerumunan itu. Mendengar ucapan para perawat saat melewati mereka. “Cepat! Dari kamar 307!”“Pasiennya bikin masalah lagi!”“Pasien itu lagi?” salah satu dokter jaga terdengar mengumpat pelan.“Bukannya

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 5 Ketakutan

    Aurora menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil ruang ganti perawat.Wajahnya terlihat pucat. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya akibat kurang tidur.Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian tadi malam. Wajah Leon yang mengerikan terus memenuhi benaknya dan tidak bisa ia tepiskan.Ia benar-benar tidak bermaksud tidak sopan pada Leon. Bagaimanapun, meski mereka pernah berhubungan di masa lalu, Leon tetaplah atasan dan seniornya. Pria itu pasti marah besar sekarang.‘Dia pasti akan semakin membenciku,’ desah Aurora dalam hati. Ia menghela napas lagi lalu mengambil map laporan pasien dari dalam lokernya.Hari ini, ia harus menyerahkan laporan langsung ke ruangan Leon. Meski akan canggung bertemu Leon lagi, tapi ia akan menggunakan kesempatan ini untuk meminta maaf.Tak apa, Aurora sudah menerima fakta bahwa mereka akan sering bertemu sebagai rekan kerja di rumah sakit.Dengan gugup, Aurora keluar dari ruang ganti dan berjalan meny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status