LOGINAurora menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil ruang ganti perawat.
Wajahnya terlihat pucat. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya akibat kurang tidur. Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian tadi malam. Wajah Leon yang mengerikan terus memenuhi benaknya dan tidak bisa ia tepiskan. Ia benar-benar tidak bermaksud tidak sopan pada Leon. Bagaimanapun, meski mereka pernah berhubungan di masa lalu, Leon tetaplah atasan dan seniornya. Pria itu pasti marah besar sekarang. ‘Dia pasti akan semakin membenciku,’ desah Aurora dalam hati. Ia menghela napas lagi lalu mengambil map laporan pasien dari dalam lokernya. Hari ini, ia harus menyerahkan laporan langsung ke ruangan Leon. Meski akan canggung bertemu Leon lagi, tapi ia akan menggunakan kesempatan ini untuk meminta maaf. Tak apa, Aurora sudah menerima fakta bahwa mereka akan sering bertemu sebagai rekan kerja di rumah sakit. Dengan gugup, Aurora keluar dari ruang ganti dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sudah mulai ramai. Saat ia hampir sampai di belokan lorong menuju ruang dokter, ia terkejut melihat Viona Magnolia berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu tersenyum tipis. Aurora langsung menegang secara refleks, langsung teringat dengan kejadian semalam. “Ka-Kak Viona…” Viona berjalan mendekat pelan. Aurora menggenggam mapnya sedikit lebih erat. “Aku mau minta maaf soal kemarin.” Aurora berkedip bingung. “Hah?” Viona mengembuskan napas pelan lalu tersenyum canggung. “Aku kebawa suasana semalam. Harusnya aku nggak ngomong seperti itu di depan banyak orang.” Aurora langsung terdiam. Alisnya mengerut dalam. Apa kepala seniornya ini habis terbentur makanya tiba-tiba begini? Aurora mendadak teringat Leon. Apa mungkin Leon menegur Viona setelah kejadian itu? “Tidak apa-apa, kak,” jawab Aurora pelan. “Aku tidak marah soal semalam, kok.” “Syukurlah kalau kamu nggak marah.” Viona tersenyum lagi. Kali ini terlihat lebih santai. “Kalau begitu, aku bisa minta tolong sebentar?” Aurora ragu sejenak. “Tolong apa?” Viona mengangkat map di tangannya. “Aku harus ganti perban pasien VIP di kamar 307,” katanya. “Tapi aku juga mau sekalian ketemu Dokter Leon buat minta maaf langsung soal semalam.” “Jadi…” lanjut Viona sambil tersenyum tipis, “Bisa nggak kamu gantiin aku dulu cek pasien itu? Laporanmu biar aku yang antar ke Dokter Leon.” Aurora terdiam. Ia langsung gugup. “Tapi, kalau laporan saya malah kakak yang kasih…” “Nanti aku bilang kamu lagi bantu di ruang VIP,” potong Viona cepat. “Tenang aja.” Aurora menggigit bibir bawahnya pelan. Sebenarnya, permintaan Viona ini termasuk melanggar peraturan etis yang tak tertulis. Di rumah sakit ini, setiap pasien sudah memiliki perawat masing-masing yang bertanggung jawab menangani mereka. Tugas tidak boleh dilempar begitu saja. Apalagi pasien VIP. Namun dalam praktiknya, senior memang sering meminta junior menggantikan pekerjaan mereka sementara waktu. Dan sebagai perawat junior, Aurora sulit menolak. Selain karena tidak enakan, ia juga tidak ingin punya masalah lagi dengan Viona. Lagipula, ini juga bukan pertama kalinya Viona melimpahkan tugasnya pada Aurora. Meski baru kali ini, seniornya itu meminta Aurora untuk menggantikan tugasnya mengurus pasien. Aurora akhirnya mengangguk pelan. “Baik, kak.” Wajah Viona langsung terlihat lega. “Thanks, Aurora. Kamu baik banget. Nanti laporanmu aku kasih langsung ke Dokter Leon.” Aurora kembali mengangguk. --- Aurora berjalan menuju area VIP rumah sakit sambil membawa tablet data pasien. Lorong VIP jauh lebih sepi dibanding lantai biasa. Pencahayaannya hangat. Dindingnya bersih dengan dekorasi mewah khas rumah sakit elite. Aurora berhenti di depan kamar 307. Ia mengetuk pelan, dan masuk. Ia menoleh ke arah pasien di atas kasur itu dan tersenyum sopan. “Selamat pagi. Saya perawat yang mengganti perban Anda.” Pasien laki-laki. Usia dua puluh lima tahun. Rawat inap pasca operasi ringan. Sesuai dengan data pasien yang ia baca tadi. Tatapan pria itu menyapu Aurora dari atas sampai bawah. “Perawat baru?” “Iya, Pak.” Aurora segera fokus pada pekerjaannya mengganti perban di luka pasien itu. “Namamu siapa?” tanya pria itu tiba-tiba. “Aurora, Pak.” “Jangan panggil ‘Pak’. Sepertinya kita seumuran,” cetus pria itu. “Masih muda, cantik lagi. Kamu perawat tetapku mulai sekarang?” Aurora tersenyum kaku. “Bukan. Saya cuma menggantikan perawat yang biasanya,” jawabnya sambil segera merapikan alat-alat medis di meja kecil samping ranjang. Entah kenapa, perasaannya tidak enak sekarang. Ia merasa canggung dengan tatapan pasien itu yang seolah memerhatikan gerak-geriknya. Aurora mempercepat pergerakannya merapikan alat-alat medis. Setelah selesai, ia lalu berkata, “Kalau begitu, saya permisi.” Aurora berbalik cepat. Namun pasien itu menarik pergelangan tangannya, membuat pergerakan Aurora spontan terhenti. “Buru-buru sekali. Ayo ngobrol dulu, Aurora.” Aurora membeku. Jantungnya langsung berdegup keras. “Maaf, saya harus kembali bekerja. Tolong lepaskan, Pak,” ucapnya sambil berusaha menarik tangannya. Tapi, pria itu justru semakin mengeratkan genggamannya. Aurora bertambah panik, “Pak, ini tidak sopan!” “Sudah kubilang, kita seumuran, jangan kaku begitu,” kekeh pasien itu, dan terkejutnya Aurora begitu pasien itu menariknya ke kasur dengan kekuatan yang entah darimana, lalu menindihnya. Tubuh Aurora seolah membeku. Ia menatap jeri pria yang tengah menimpanya sekarang. Dengan luka seperti itu di kakinya, bagaimana ia bisa sekuat ini?! “Jangan sentuh saya! Lepaskan saya!” jerit Aurora panik. “Heh. Galak sekali. Aku suka perempuan galak.” Tangan pria itu sudah mulai menelisik ke dalam bajunya. Rasa jijik dan takut segera membanjiri otak Aurora. Ia melawan dan mendorong, tangannya dengan kalang kabut meraba bagian atas ranjang, dan langsung memencet tombol emergency call perawat. Bip! Suara alarm itu membuat pria itu terkejut. “Kamu—!” Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Aurora untuk mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga. Aurora berlari menuju pintu, langsung keluar tanpa menoleh lagi. Ia terus berlari menyusuri lorong VIP yang panjang. Bruk! Aurora menabrak seseorang. Tubuhnya hampir jatuh kalau saja seseorang itu tidak langsung menahan lengannya. Aroma familiar langsung memenuhi inderanya. “...Aurora?” Suara rendah itu membuat Aurora perlahan mengangkat kepala. Leon Rosmarin menatapnya tajam. Tatapan pria itu turun perlahan melihat kondisi Aurora yang berantakan, napas tidak beraturan, dan wajah penuh ketakutan. Ekspresi Leon langsung berubah dingin. “Apa yang terjadi?”Pesawat yang membawa Leon dan Aurora akhirnya mendarat setelah perjalanan bulan madu mereka selesai.Begitu keluar dari bandara, Aurora menarik napas panjang. Ada rasa berat meninggalkan tempat yang beberapa hari terakhir menjadi saksi kehidupan baru mereka, tetapi ada pula perasaan tenang karena mereka akan kembali ke rumah.Leon berjalan di sampingnya sambil membawa koper.“Kamu kenapa diam?” tanyanya.Aurora menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Berpikir apa?”“Bulan madu kita ternyata tidak berjalan sesuai rencana.”Leon mengangkat alis. “Kamu menyebut hampir ada anak tenggelam sebagai bagian dari bulan madu?”“Aku tidak bilang begitu.” Aurora tertawa kecil. “Maksudku, kita pergi untuk beristirahat, tapi malah tetap bekerja.”Leon mengambil tas dari tangan istrinya. “Aku sudah bilang, profesi kita tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan.”“Aku tahu.”“Dan kamu juga tidak bisa melihat orang membutuhkan pertolongan lalu pura-pura tidak tahu.”Aurora tersenyum. “Kamu juga begitu.”Leon
Suara ombak menjadi alarm pertama yang membangunkan Aurora pagi itu.Bukan suara monitor pasien, bukan dering telepon dari ruang perawat, dan bukan pula suara langkah terburu-buru di koridor rumah sakit.Hanya deburan air laut yang datang berulang kali, menyentuh garis pantai lalu kembali menyeret pasir.Aurora membuka mata perlahan.Ia sempat lupa berada di mana sampai pandangannya menangkap jendela besar dengan pemandangan laut di balik tirai tipis. Perempuan itu tersenyum sendiri. Liburan yang mereka rencanakan akhirnya benar-benar terjadi, bahkan tanpa gangguan pekerjaan.Hampir.Karena ketika ia menoleh ke samping, tempat Leon seharusnya berada sudah kosong.Aurora langsung duduk.“Sayangku?”Tidak ada jawaban.Ia turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Di balkon, Leon sedang berdiri sambil membawa dua cangkir kopi. Begitu mendengar langkah kaki istrinya, laki-laki itu menoleh.“Kamu bangun.”Aurora menyandarkan tubuh di pintu balkon. “Aku kira kamu kabur.”Leon mengangkat sala
Ciuman Aurora memang sudah menjadi sesuatu yang sulit dilepaskan Leon.Namun setelah mereka resmi menjadi suami istri, Leon menyadari ada hal lain yang ternyata jauh lebih membuatnya kecanduan.Bukan sekadar wajah cantik Aurora.Bukan pula senyumnya yang selalu berhasil meruntuhkan ketegasan seorang dokter galak.Tubuh perempuan itu.Bukan dalam arti yang kasar, melainkan sebagai sesuatu yang begitu dekat, begitu akrab, dan kini sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan yang ingin Leon jaga.Pagi itu Aurora baru selesai mandi ketika keluar dari kamar dengan rambut masih sedikit basah. Ia mengenakan pakaian sederhana, lalu berjalan menuju meja makan tanpa menyadari bahwa sejak beberapa detik lalu Leon sudah memperhatikannya.“Kenapa lihat-lihat begitu?” tanya Aurora sambil menarik kursi.Leon masih diam.Aurora mengangkat alis. “Sayangku?”“Hmm.”“Jangan bilang kamu sedang memeriksa pasien.”Leon akhirnya tersenyum tipis. “Pasienku sedang sehat.”“Aku bukan pasienmu.”“Benar. Kamu istri
Cuti Leon akhirnya benar-benar dimulai.Tidak ada jas dokter, tidak ada stetoskop yang menggantung di leher, tidak ada suara langkah tergesa menuju ruang operasi, bahkan tidak ada wajah galak yang membuat para dokter muda otomatis merapikan posisi berdiri ketika berpapasan dengannya.Hari itu Leon hanya seorang suami yang sedang membawa koper.Aurora berdiri di depan pintu sambil memperhatikannya dengan senyum kecil. “Sayangku, kamu yakin kita nggak salah bawa koper? Kita cuma pergi beberapa hari.”Leon menatap dua koper di belakangnya, lalu menatap Aurora. “Aku dokter, bukan peramal. Aku nggak tahu apa yang nanti kamu butuhkan.”Aurora terkekeh. “Berarti salahku kalau ternyata setengah isi koper ini nggak terpakai?”“Bukan.”“Lalu?”“Berarti aku yang terlalu sayang sama istriku.”Senyum Aurora langsung berubah lembut.Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuat dadanya hangat.Selama berbulan-bulan mereka melewati terlalu banyak hal. Perpisahan selama tiga tahun, ancaman, konspiras
Pintu ruang keamanan tertutup setelah staf administrasi yang membantu Rowan diamankan. Leon berdiri bersama Dimas dan Irish, sementara Aurora menunggu beberapa langkah dari mereka."Jadi benar Rowan?" tanya Dimas.Pria itu mengangguk gugup. "Saya hanya mengikuti perintahnya. Dia meminta saya mengambil data dari ruang server dan menghapus beberapa rekaman.""Untuk apa?" tanya Leon."Dia ingin mencari cara supaya bukti sebelumnya hilang. Katanya masih ada rekaman yang bisa membuktikan keterlibatannya."Leon mengembuskan napas."Di mana Rowan sekarang?""Di apartemennya."Dimas langsung mengambil ponsel."Kita laporkan kepada pihak berwenang."Leon mengangguk. "Dan jangan ada yang menyentuh server sebelum tim pemeriksa datang."Tidak lama kemudian, penyelidikan dilakukan secara menyeluruh. Rekaman keamanan, akses sistem, percakapan Rowan dengan Aster, transaksi uang, serta kesaksian staf administrasi saling menguatkan.Aster akhirnya memberikan seluruh bukti yang selama ini disimpannya.
Alarm darurat mendadak berbunyi di lantai tiga.Suara itu berbeda dari panggilan biasa. Panjang, berulang, dan membuat beberapa perawat langsung berlari menuju ruang tindakan."Pasien kritis!""Tekanan turun!""Dokter dipanggil!"Leon yang baru keluar dari ruang pemeriksaan langsung berbalik."Ada apa?"Seorang perawat menghampirinya dengan napas memburu."Dok, pasien korban erupsi yang baru dipindahkan dari ICU tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran. Saturasinya turun drastis."Leon langsung bergerak."Dimas, ikut saya. Irish, panggil tim anestesi.""Siap."Aurora yang berada di meja perawat ikut berdiri."Leon!"Leon menoleh."Jangan ikut.""Aku bisa membantu.""Di ruang tindakan, iya. Tapi kondisi tubuhmu belum sepenuhnya pulih.""Aku sudah—""Ora."Satu panggilan itu cukup membuat Aurora terdiam.Nada Leon bukan sedang marah.Ia sedang takut."Aku tidak melarangmu karena menganggapmu tidak mampu. Aku hanya tidak mau kamu memaksakan diri."Aurora menggenggam ujung seragamnya."Bai
“B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang ka
Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.Leon menatap lamat sosok di depannya.Seragam perawat gadis itu terlihat k
Pria itu berdiri di sana dengan wajah datar. Tatapannya perlahan menyapu orang-orang di depannya. Memberikan ketegangan kepada mereka sehingga tidak ada yang berani untuk bereaksi.Viona yang tersadar duluan langsung tersenyum kaku.“Dokter Leon,” sapanya cepat, diikuti beberapa orang lain yang iku
Aurora Lilian berdiri kaku di pintu masuk ballroom. Tangannya mencengkeram ujung kemejanya dengan gugup. Ia masih merasa tidak percaya dirinya benar-benar datang ke pesta ini.Apalagi… Ia datang bersama dokter Leon Rosmarin.Aurora melirik sekilas ke sampingnya.Leon berjalan dengan langkah tenang.







