FAZER LOGINAurora Lilian berdiri kaku di pintu masuk ballroom. Tangannya mencengkeram ujung kemejanya dengan gugup. Ia masih merasa tidak percaya dirinya benar-benar datang ke pesta ini.
Apalagi… Ia datang bersama dokter Leon Rosmarin. Aurora melirik sekilas ke sampingnya. Leon berjalan dengan langkah tenang. Wajahnya tetap datar seperti biasa, tetapi aura dingin dan berwibawanya membuat orang-orang yang dilewati langsung memberi jalan. Begitu mereka melangkah masuk. Beberapa kepala langsung menoleh. Percakapan perlahan berhenti. Aurora langsung menyadari sesuatu yang membuat perutnya mual. Semua orang sedang melihat mereka! “Eh… itu Dokter Leon, kan?” “Anak direktur yang baru dipindahtugaskan ke rumah sakit pusat, kan?” “Siapa itu yang di sebelahnya?” Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah. Aurora merasa wajahnya mulai panas. Ia pun mulai memelankan langkah kakinya, berharap mereka terpisah oleh jarak itu, dan Aurora lepas dari bisik-bisik tak menyenangkan itu. Beberapa dokter senior langsung mendekat ke arah Leon, menyapa dan menjabat tangannya. Bagaimanapun, Leon dengan statusnya sangat disegani orang-orang penting. Sementara Leon sibuk menyalami mereka, Aurora mengambil kesempatan itu untuk menjauh segera! Aurora menghela napas lega. Pria itu juga sepertinya tidak menyadari kalau Aurora sudah menjauh. Dengan riang, Aurora hendak berjalan menuju bar untuk minum-minum. Tapi, tiba-tiba seseorang menyentuh lengannya. “Aurora?” Aurora menoleh. Jantungnya langsung berdegup tidak nyaman. Viona Magnolia. Wanita itu berdiri di depannya dengan tampilan elegan. Penampilannya rapi dan cantik, meski hanya dengan jas kerja biasa. Sulit memercayai wanita ini baru saja keluar dari ruangan operasi yang sama mengenakan scrub perawat! “Aku tidak menyangka kamu datang,” ujar Viona dengan senyum lebarnya. “Apalagi setelah dikasih tugas membuat laporan sepuluh salinan itu.” Aurora merasakan hawa tidak enak, meski wanita itu tidak bertindak agresif seperti di rumah sakit. “A-ah, Kak Viona, selamat malam. Senang bisa bertemu kakak di sini,” ucap Aurora sambil tersenyum kaku. “Saya permisi dulu–” “Eh, buru-buru sekali. Kamu mau ke mana? Tuh, Dokter Leon sedang sibuk mengobrol sama dokter dan direktur medis,” sela Viona, menahan lengan Aurora, suaranya merendah dengan nada sinis. Aurora hendak membantah kalau ia ingin berpesta sendiri, bukan bersama Leon. Tapi, Viona keburu menyelanya lagi. “Kamu jangan besar kepala hanya karena Dokter Leon hari ini berbaik hati menemani kamu datang ke sini.” Hati Aurora mencelos mendengarnya. Ia buru-buru menggeleng. “Bukan begitu, Kak. Kebetulan saja tadi kita bisa bareng. Lagipula, kita semua diwajibkan dateng…” “Viona, siapa ini?” Suara teman-teman Viona yang mendekat membuat mereka menoleh. Senyum Viona berubah manis. “Oh, kalian tidak kenal?” Ia meletakkan tangannya di bahu Aurora seolah mereka sangat akrab. “Ini Aurora. Perawat yang tadi siang dimarahi dokter Leon di ruang operasi.” “Ah… yang ceroboh itu?” “Yang salah kasih gunting jaringan?” Aurora menunduk. Entah sejak kapan berita kesalahannya itu tersebar luas. Ia berharap lantai bisa menelan dirinya sekarang. Viona tertawa kecil. “Iya, benar. Makanya, hebat, kan, Aurora ini? Bisa datang ke pesta ini bersama Dokter Leon. Padahal tadi habis dimarahi habis-habisan.” Teman-teman Viona ikut kaget dan setengah takjub. “Dia datang sama Dokter Leon? Wah, kamu ngapain Dokter Leon sampai mau dateng bareng? Sama cewek lagi!” “Dengar-dengar, dulunya kalian sekampus, kan?” imbuh Viona. “Kalau bukan karena dekat dengan senior, mana mungkin Aurora bisa datang ke pesta seperti ini bersama Dokter Leon.” “Iya, Aurora, jujur saja. Kami tidak akan iri, kok, meski kamu berhasil menjilat Dokter Leon. Itu juga bentuk usaha. Benar, kan?” ucap seniornya yang lain. “Kami semua tahu bagaimana cara seseorang bisa naik di rumah sakit ini.” Aurora tercekat, bibirnya terkatup rapat. Hanya karena ia datang bersama Leon malam ini, mereka langsung mengarang cerita seperti itu? Bagaimana reaksi mereka jika tahu kalau Aurora dan Leon bahkan pernah berhubungan di masa lalu? Pasti rumor buruk tentangnya akan langsung tersebar. Lalu, Dokter Leon semakin membencinya. Tidak. Aurora tidak rela harga dirinya diinjak-injak. “Bukan begitu,” tegas Aurora, meski gemetar di hadapan para senior ini. “Saya nggak menjilat, atau menggunakan koneksi dengan senior, seperti yang kalian pikir. Saya bekerja di sini murni sesuai dengan kemampuan saya.” ”Sudahlah,” decak Viona. “Penjilat senior seperti kamu memang selalu punya alasan.” Beberapa orang kembali tertawa. Diam-diam, Aurora mengepalkan kedua tangannya. Ia ingin sekali pergi dari sini. Tapi, ia tahu aksinya itu akan dianggap tidak sopan di tengah para senior yang hobi menindasnya ini. “Penjilat?” Sebuah suara tiba-tiba memecah suasana yang tadinya dipenuhi gelak tawa, menjadi hening. Semua orang langsung menoleh. Aurora juga menoleh. Jantungnya langsung berhenti sejenak. Leon Rosmarin. Pria itulah yang menginterupsi mereka barusan.Denyut nadi, tekanan darah, kadar hemoglobin, hingga tanda-tanda pemulihan menjadi hal yang setiap hari diperhatikan Leon. Di rumah sakit, ia dikenal sebagai dokter yang mampu membuat satu ruangan operasi diam hanya dengan satu tatapan, tetapi ketika berhadapan dengan Aurora, ketegasan itu berubah menjadi perhatian yang nyaris berlebihan.Sudah beberapa hari Aurora menjalani masa pemulihan di rumah. Tubuhnya perlahan kembali bertenaga setelah prosedur yang harus dijalaninya, tetapi Leon belum memberikan izin baginya untuk kembali melakukan aktivitas seperti biasa."Aku sudah merasa jauh lebih baik," ujar Aurora sambil menutup buku yang sejak tadi dibacanya. "Aku bahkan sudah tidak terlalu lelah seperti beberapa hari lalu, jadi mungkin besok aku bisa mulai membantu pekerjaan ringan di rumah sakit."Leon yang sedang memeriksa beberapa berkas langsung mengangkat wajah. "Tidak."Aurora menghela napas panjang. "Aku bahkan belum selesai menjelaskan.""Aku sudah tahu ujung pembicaraanmu.""K
Ruang sidang menjadi tempat terakhir bagi orang-orang yang selama ini bergerak di balik bayang-bayang. Berkas perkara yang menumpuk, rekaman percakapan, transaksi keuangan, laporan keamanan rumah sakit, hingga kesaksian para korban akhirnya menyatukan potongan-potongan yang selama berbulan-bulan membuat Leon dan Aurora hidup dalam ketakutan.Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.Viona duduk sebagai salah satu pihak yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia memang bukan dalang utama, tetapi keterlibatannya dalam menerima perintah, mengintimidasi Aurora, serta membantu membuka informasi pribadi rumah sakit tetap menjadi bagian dari perkara.Di sisi lain, orang yang menjadi penghubung utama jaringan tersebut akhirnya menghadapi dakwaan yang jauh lebih berat. Bukti menunjukkan bahwa ia ikut menjalankan rencana untuk mengganggu hubungan Leon dan Aurora, menguntit Aurora, memanipulasi informasi tiga tahun lalu, serta terlibat dalam upaya yang membahayakan keselamatan Aurora dan
Ijab kabul tidak membutuhkan gedung mewah untuk menjadi sah. Di sebuah ruangan sederhana di KUA, Leon dan Aurora duduk berdampingan di hadapan penghulu dengan keluarga serta beberapa kerabat dekat sebagai saksi. Tidak ada pesta besar, tidak ada sorotan kamera, hanya suasana khidmat yang membuat keduanya sadar bahwa setelah semua kekacauan yang mereka lewati, akhirnya hubungan itu memiliki ikatan yang sah. Aurora duduk tenang dengan wajah sedikit tegang. Di sampingnya, Leon terlihat jauh lebih serius daripada biasanya. Penghulu menyampaikan nasihat singkat sebelum wali hakim memulai akad. Leon menarik napas, kemudian menjawab ijab dengan suara mantap tanpa keraguan. "Qabiltu nikahaha wa tazwijaha..." Setelah saksi menyatakan sah, suasana langsung berubah hangat. Ibu Leon mengusap air mata, ayahnya tersenyum bangga, sementara Florina yang hadir sebagai salah satu kerabat dekat Aurora segera memeluknya. "Selamat, sekarang tidak ada lagi yang boleh menyebut kalian pasangan tanpa st
Di rumah sakit, satu kabar bisa berpindah lebih cepat daripada roda brankar menuju ruang operasi. Begitu seorang pasien dipanggil, beberapa detik kemudian namanya sudah terdengar di meja perawat; begitu seorang dokter keluar dari ruang tindakan, pertanyaan mengenai kondisinya segera menyebar dari satu ruangan ke ruangan lain. Karena itu, Leon selalu tahu bahwa rahasia sebesar apa pun pada akhirnya akan sulit disimpan, terlebih jika menyangkut dua orang yang hampir setiap hari terlihat bersama. Namun pagi itu, yang memenuhi pikiran Leon bukanlah pasien, bukan pula operasi yang sudah menunggunya. Melainkan Aurora. Perempuan yang kini membawa kehidupan kecil di dalam tubuhnya. Leon berdiri di depan jendela ruang dokter sambil menatap halaman rumah sakit. Tangannya masih menggenggam hasil pemeriksaan Aurora, sementara pikirannya berputar pada satu kenyataan yang baru benar-benar mereka sadari. Mereka akan memiliki seorang anak. Kabar itu seharusnya menjadi kebahagiaan. Tetapi di b
Bunyi monitor pemeriksaan terdengar teratur di ruangan kecil itu, berbanding terbalik dengan jantung Leon yang sejak beberapa menit lalu tidak mau mengikuti ritme yang sama. Dokter yang biasanya mampu berdiri tenang di tengah operasi paling rumit kini justru mondar-mandir di depan pintu, sesekali melihat jam, kemudian kembali menatap layar hasil pemeriksaan Aurora.Aurora memperhatikannya dari atas tempat tidur."Leon, duduklah.""Aku baik-baik saja.""Kamu sudah berjalan dari tadi."Leon berhenti."Karena hasilnya belum keluar."Aurora tersenyum tipis. "Kamu dokter, bukan orang yang bisa memaksa hasil pemeriksaan keluar lebih cepat.""Aku tahu.""Tapi?""Aku tetap tidak suka menunggu."Aurora tertawa kecil."Dokter galak ternyata gugup."Leon menatapnya."Aku gugup karena kamu."Jawaban itu membuat Aurora terdiam.Leon mendekat lalu berdiri di samping tempat tidurnya. Tangannya meraih jemari Aurora dan menggenggamnya erat."Seharusnya aku lebih memperhatikan keadaanmu.""Aku juga tid
Kesibukan rumah sakit tidak pernah mengenal kata berhenti. Roda brankar terus melintasi koridor, monitor jantung berbunyi dari balik pintu ruang perawatan, perawat bergantian menerima laporan pasien, sementara dokter berpindah dari ruang pemeriksaan menuju ruang operasi tanpa sempat memikirkan jam kerja yang sudah melewati batas. Di tengah rutinitas itu, kehidupan Leon dan Aurora justru berjalan dengan cara yang berbeda. Mereka masih tinggal di rumah singgah yang disediakan rumah sakit. Tempat itu seharusnya hanya menjadi perlindungan sementara sampai ancaman terhadap mereka selesai, tetapi hari demi hari berlalu dan keduanya mulai terbiasa menjalani kehidupan bersama. Pagi mereka dimulai dengan kesibukan masing-masing. Leon menyiapkan perlengkapan kerja, Aurora memeriksa jadwal dinas, kemudian mereka berangkat bersama menuju rumah sakit. Sore atau malam hari, mereka pulang bersama. Tidak ada lagi kecanggungan seperti beberapa minggu sebelumnya. Aurora bahkan sudah terbiasa me
Aurora menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil ruang ganti perawat.Wajahnya terlihat pucat. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya akibat kurang tidur.Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian tadi malam. Wajah Leon yang mengerikan terus memen
Pria itu berdiri di sana dengan wajah datar. Tatapannya perlahan menyapu orang-orang di depannya. Memberikan ketegangan kepada mereka sehingga tidak ada yang berani untuk bereaksi.Viona yang tersadar duluan langsung tersenyum kaku.“Dokter Leon,” sapanya cepat, diikuti beberapa orang lain yang iku
“B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang ka
Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.Leon menatap lamat sosok di depannya.Seragam perawat gadis itu terlihat k







