Beranda / Romansa / Dokter Galak Itu Milikku / Bab 3 Pusat Perhatian

Share

Bab 3 Pusat Perhatian

Penulis: Qin Mecca
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 20:25:44

Aurora Lilian berdiri kaku di pintu masuk ballroom. Tangannya mencengkeram ujung kemejanya dengan gugup. Ia masih merasa tidak percaya dirinya benar-benar datang ke pesta ini.

Apalagi… Ia datang bersama dokter Leon Rosmarin.

Aurora melirik sekilas ke sampingnya.

Leon berjalan dengan langkah tenang. Wajahnya tetap datar seperti biasa, tetapi aura dingin dan berwibawanya membuat orang-orang yang dilewati langsung memberi jalan.

Begitu mereka melangkah masuk. Beberapa kepala langsung menoleh. Percakapan perlahan berhenti.

Aurora langsung menyadari sesuatu yang membuat perutnya mual. Semua orang sedang melihat mereka!

“Eh… itu Dokter Leon, kan?”

“Anak direktur yang baru dipindahtugaskan ke rumah sakit pusat, kan?”

“Siapa itu yang di sebelahnya?”

Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah. Aurora merasa wajahnya mulai panas. Ia pun mulai memelankan langkah kakinya, berharap mereka terpisah oleh jarak itu, dan Aurora lepas dari bisik-bisik tak menyenangkan itu.

Beberapa dokter senior langsung mendekat ke arah Leon, menyapa dan menjabat tangannya. Bagaimanapun, Leon dengan statusnya sangat disegani orang-orang penting.

Sementara Leon sibuk menyalami mereka, Aurora mengambil kesempatan itu untuk menjauh segera!

Aurora menghela napas lega. Pria itu juga sepertinya tidak menyadari kalau Aurora sudah menjauh. Dengan riang, Aurora hendak berjalan menuju bar untuk minum-minum.

Tapi, tiba-tiba seseorang menyentuh lengannya.

“Aurora?”

Aurora menoleh. Jantungnya langsung berdegup tidak nyaman.

Viona Magnolia. Wanita itu berdiri di depannya dengan tampilan elegan. Penampilannya rapi dan cantik, meski hanya dengan jas kerja biasa. Sulit memercayai wanita ini baru saja keluar dari ruangan operasi yang sama mengenakan scrub perawat!

“Aku tidak menyangka kamu datang,” ujar Viona dengan senyum lebarnya. “Apalagi setelah dikasih tugas membuat laporan sepuluh salinan itu.”

Aurora merasakan hawa tidak enak, meski wanita itu tidak bertindak agresif seperti di rumah sakit.

“A-ah, Kak Viona, selamat malam. Senang bisa bertemu kakak di sini,” ucap Aurora sambil tersenyum kaku. “Saya permisi dulu–”

“Eh, buru-buru sekali. Kamu mau ke mana? Tuh, Dokter Leon sedang sibuk mengobrol sama dokter dan direktur medis,” sela Viona, menahan lengan Aurora, suaranya merendah dengan nada sinis.

Aurora hendak membantah kalau ia ingin berpesta sendiri, bukan bersama Leon. Tapi, Viona keburu menyelanya lagi.

“Kamu jangan besar kepala hanya karena Dokter Leon hari ini berbaik hati menemani kamu datang ke sini.”

Hati Aurora mencelos mendengarnya. Ia buru-buru menggeleng.

“Bukan begitu, Kak. Kebetulan saja tadi kita bisa bareng. Lagipula, kita semua diwajibkan dateng…”

“Viona, siapa ini?”

Suara teman-teman Viona yang mendekat membuat mereka menoleh. Senyum Viona berubah manis.

“Oh, kalian tidak kenal?” Ia meletakkan tangannya di bahu Aurora seolah mereka sangat akrab. “Ini Aurora. Perawat yang tadi siang dimarahi dokter Leon di ruang operasi.”

“Ah… yang ceroboh itu?”

“Yang salah kasih gunting jaringan?”

Aurora menunduk. Entah sejak kapan berita kesalahannya itu tersebar luas. Ia berharap lantai bisa menelan dirinya sekarang.

Viona tertawa kecil. “Iya, benar. Makanya, hebat, kan, Aurora ini? Bisa datang ke pesta ini bersama Dokter Leon. Padahal tadi habis dimarahi habis-habisan.”

Teman-teman Viona ikut kaget dan setengah takjub. “Dia datang sama Dokter Leon? Wah, kamu ngapain Dokter Leon sampai mau dateng bareng? Sama cewek lagi!”

“Dengar-dengar, dulunya kalian sekampus, kan?” imbuh Viona. “Kalau bukan karena dekat dengan senior, mana mungkin Aurora bisa datang ke pesta seperti ini bersama Dokter Leon.”

“Iya, Aurora, jujur saja. Kami tidak akan iri, kok, meski kamu berhasil menjilat Dokter Leon. Itu juga bentuk usaha. Benar, kan?” ucap seniornya yang lain. “Kami semua tahu bagaimana cara seseorang bisa naik di rumah sakit ini.”

Aurora tercekat, bibirnya terkatup rapat.

Hanya karena ia datang bersama Leon malam ini, mereka langsung mengarang cerita seperti itu?

Bagaimana reaksi mereka jika tahu kalau Aurora dan Leon bahkan pernah berhubungan di masa lalu? Pasti rumor buruk tentangnya akan langsung tersebar. Lalu, Dokter Leon semakin membencinya.

Tidak. Aurora tidak rela harga dirinya diinjak-injak.

“Bukan begitu,” tegas Aurora, meski gemetar di hadapan para senior ini. “Saya nggak menjilat, atau menggunakan koneksi dengan senior, seperti yang kalian pikir. Saya bekerja di sini murni sesuai dengan kemampuan saya.”

”Sudahlah,” decak Viona. “Penjilat senior seperti kamu memang selalu punya alasan.”

Beberapa orang kembali tertawa.

Diam-diam, Aurora mengepalkan kedua tangannya. Ia ingin sekali pergi dari sini. Tapi, ia tahu aksinya itu akan dianggap tidak sopan di tengah para senior yang hobi menindasnya ini. 

 “Penjilat?”

Sebuah suara tiba-tiba memecah suasana yang tadinya dipenuhi gelak tawa, menjadi hening. 

Semua orang langsung menoleh. Aurora juga menoleh. Jantungnya langsung berhenti sejenak.

Leon Rosmarin. Pria itulah yang menginterupsi mereka barusan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Marimar
mulutnya para senior kok jahat sih
goodnovel comment avatar
BunNa
jahat banget tuh para senior
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 73 Dokter Galak Itu Milikku

    Pesawat yang membawa Leon dan Aurora akhirnya mendarat setelah perjalanan bulan madu mereka selesai.Begitu keluar dari bandara, Aurora menarik napas panjang. Ada rasa berat meninggalkan tempat yang beberapa hari terakhir menjadi saksi kehidupan baru mereka, tetapi ada pula perasaan tenang karena mereka akan kembali ke rumah.Leon berjalan di sampingnya sambil membawa koper.“Kamu kenapa diam?” tanyanya.Aurora menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Berpikir apa?”“Bulan madu kita ternyata tidak berjalan sesuai rencana.”Leon mengangkat alis. “Kamu menyebut hampir ada anak tenggelam sebagai bagian dari bulan madu?”“Aku tidak bilang begitu.” Aurora tertawa kecil. “Maksudku, kita pergi untuk beristirahat, tapi malah tetap bekerja.”Leon mengambil tas dari tangan istrinya. “Aku sudah bilang, profesi kita tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan.”“Aku tahu.”“Dan kamu juga tidak bisa melihat orang membutuhkan pertolongan lalu pura-pura tidak tahu.”Aurora tersenyum. “Kamu juga begitu.”Leon

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 72 Jiwa Dokter dan Perawat

    Suara ombak menjadi alarm pertama yang membangunkan Aurora pagi itu.Bukan suara monitor pasien, bukan dering telepon dari ruang perawat, dan bukan pula suara langkah terburu-buru di koridor rumah sakit.Hanya deburan air laut yang datang berulang kali, menyentuh garis pantai lalu kembali menyeret pasir.Aurora membuka mata perlahan.Ia sempat lupa berada di mana sampai pandangannya menangkap jendela besar dengan pemandangan laut di balik tirai tipis. Perempuan itu tersenyum sendiri. Liburan yang mereka rencanakan akhirnya benar-benar terjadi, bahkan tanpa gangguan pekerjaan.Hampir.Karena ketika ia menoleh ke samping, tempat Leon seharusnya berada sudah kosong.Aurora langsung duduk.“Sayangku?”Tidak ada jawaban.Ia turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Di balkon, Leon sedang berdiri sambil membawa dua cangkir kopi. Begitu mendengar langkah kaki istrinya, laki-laki itu menoleh.“Kamu bangun.”Aurora menyandarkan tubuh di pintu balkon. “Aku kira kamu kabur.”Leon mengangkat sala

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 71 Tubuhnya Bikin Candu

    Ciuman Aurora memang sudah menjadi sesuatu yang sulit dilepaskan Leon.Namun setelah mereka resmi menjadi suami istri, Leon menyadari ada hal lain yang ternyata jauh lebih membuatnya kecanduan.Bukan sekadar wajah cantik Aurora.Bukan pula senyumnya yang selalu berhasil meruntuhkan ketegasan seorang dokter galak.Tubuh perempuan itu.Bukan dalam arti yang kasar, melainkan sebagai sesuatu yang begitu dekat, begitu akrab, dan kini sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan yang ingin Leon jaga.Pagi itu Aurora baru selesai mandi ketika keluar dari kamar dengan rambut masih sedikit basah. Ia mengenakan pakaian sederhana, lalu berjalan menuju meja makan tanpa menyadari bahwa sejak beberapa detik lalu Leon sudah memperhatikannya.“Kenapa lihat-lihat begitu?” tanya Aurora sambil menarik kursi.Leon masih diam.Aurora mengangkat alis. “Sayangku?”“Hmm.”“Jangan bilang kamu sedang memeriksa pasien.”Leon akhirnya tersenyum tipis. “Pasienku sedang sehat.”“Aku bukan pasienmu.”“Benar. Kamu istri

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 70 Bercinta

    Cuti Leon akhirnya benar-benar dimulai.Tidak ada jas dokter, tidak ada stetoskop yang menggantung di leher, tidak ada suara langkah tergesa menuju ruang operasi, bahkan tidak ada wajah galak yang membuat para dokter muda otomatis merapikan posisi berdiri ketika berpapasan dengannya.Hari itu Leon hanya seorang suami yang sedang membawa koper.Aurora berdiri di depan pintu sambil memperhatikannya dengan senyum kecil. “Sayangku, kamu yakin kita nggak salah bawa koper? Kita cuma pergi beberapa hari.”Leon menatap dua koper di belakangnya, lalu menatap Aurora. “Aku dokter, bukan peramal. Aku nggak tahu apa yang nanti kamu butuhkan.”Aurora terkekeh. “Berarti salahku kalau ternyata setengah isi koper ini nggak terpakai?”“Bukan.”“Lalu?”“Berarti aku yang terlalu sayang sama istriku.”Senyum Aurora langsung berubah lembut.Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuat dadanya hangat.Selama berbulan-bulan mereka melewati terlalu banyak hal. Perpisahan selama tiga tahun, ancaman, konspiras

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 69 Cuti untuk Cinta

    Pintu ruang keamanan tertutup setelah staf administrasi yang membantu Rowan diamankan. Leon berdiri bersama Dimas dan Irish, sementara Aurora menunggu beberapa langkah dari mereka."Jadi benar Rowan?" tanya Dimas.Pria itu mengangguk gugup. "Saya hanya mengikuti perintahnya. Dia meminta saya mengambil data dari ruang server dan menghapus beberapa rekaman.""Untuk apa?" tanya Leon."Dia ingin mencari cara supaya bukti sebelumnya hilang. Katanya masih ada rekaman yang bisa membuktikan keterlibatannya."Leon mengembuskan napas."Di mana Rowan sekarang?""Di apartemennya."Dimas langsung mengambil ponsel."Kita laporkan kepada pihak berwenang."Leon mengangguk. "Dan jangan ada yang menyentuh server sebelum tim pemeriksa datang."Tidak lama kemudian, penyelidikan dilakukan secara menyeluruh. Rekaman keamanan, akses sistem, percakapan Rowan dengan Aster, transaksi uang, serta kesaksian staf administrasi saling menguatkan.Aster akhirnya memberikan seluruh bukti yang selama ini disimpannya.

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 68 Di Balik Pintu Darurat

    Alarm darurat mendadak berbunyi di lantai tiga.Suara itu berbeda dari panggilan biasa. Panjang, berulang, dan membuat beberapa perawat langsung berlari menuju ruang tindakan."Pasien kritis!""Tekanan turun!""Dokter dipanggil!"Leon yang baru keluar dari ruang pemeriksaan langsung berbalik."Ada apa?"Seorang perawat menghampirinya dengan napas memburu."Dok, pasien korban erupsi yang baru dipindahkan dari ICU tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran. Saturasinya turun drastis."Leon langsung bergerak."Dimas, ikut saya. Irish, panggil tim anestesi.""Siap."Aurora yang berada di meja perawat ikut berdiri."Leon!"Leon menoleh."Jangan ikut.""Aku bisa membantu.""Di ruang tindakan, iya. Tapi kondisi tubuhmu belum sepenuhnya pulih.""Aku sudah—""Ora."Satu panggilan itu cukup membuat Aurora terdiam.Nada Leon bukan sedang marah.Ia sedang takut."Aku tidak melarangmu karena menganggapmu tidak mampu. Aku hanya tidak mau kamu memaksakan diri."Aurora menggenggam ujung seragamnya."Bai

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 7 Pasrah

    “B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang ka

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 6 kamar 307

    Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.Leon menatap lamat sosok di depannya.Seragam perawat gadis itu terlihat k

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 2 Ikut ke Pesta

    “Aurora Lilian! Bisa-bisanya kamu melakukan kesalahan seperti itu di ruang operasi!”Bentakan Leon Rosmarin terdengar, membuat Aurora mengerut ketakutan di depannya.Operasi sudah selesai sejam yang lalu, berakhir dengan sukses. Tapi, kini Aurora mendapat evaluasi akibat kesalahannya tadi. “Sudah

  • Dokter Galak Itu Milikku    bab 1 Tatapan

    Aurora Lilian tidak pernah menyangka jika mantan pacarnya selama 3 tahun di universitas itu, kini menjadi kepala dokter bedah sekaligus atasannya di rumah sakit tempatnya bekerja.“Aku dengar, Dr. Leon Rosmarin dulu bekerja di cabang rumah sakit yang ada di luar negeri dan dia sangat terkenal di sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status