FAZER LOGIN“Nek, biar aku ke dapur dan memasak untuk Nenek,” ujar Jay, sopan.
Melati tersenyum. Di antara anak, menantu dan cucunya, Jay tetaplah yang terbaik. Selain tulus, lembut dan pengertian, Jay memang cucu menantu idaman. “Duduk aja dulu, Jay. Temani Nenek ngobrol. Nenek kangen banget sama kamu dan Veel. Sejak Veel sakit, kamu jarang banget datang ke sini.” Mereka berada di ruang tengah. Melati mengeluhkan sikap Jay yang sekarang jarang mengunjunginya. Meskipun memiliki kesibukan, usia senja seperti Melati memang kerap merasa kesepian. “Astaga! Maaf, Nek. Aku nggak bermaksud buat Nenek kecewa. Tapiー” Melati berseru memotong kalimat Jay, “Ah, Liora udah datang!” Liora datang membawa nampan berisi dua mangkuk sup sarang burung walet. Dia meletakkan nampan di atas meja. Liora membentuk gestur hormat. “Tuan Jay, Nyonya Lisa, silakan dinikmati supnya mumpung masih hangat,” ujar Liora. Liora Tan adalah salah satu orang kepercayaan Melati, selain Pandu Darma. Sebelumnya, Liora mendapatkan kabar dari anak buah yang mengawasi Lisa. Anak buah melaporkan bahwa Lisa menggugat cerai suaminya. Bahkan, Lisa sudah mendaftarkan berkas perceraian di kantor pencatatan sipil Kota Blackridge. Lalu, Liora memberitahu Melati. Tidak disangka, Melati bergerak cepat menggagalkan rencana Lisa. Lisa bingung. “Nek, iniー” Melati menepuk paha Lisa. “Sup sarang burung walet ini berkualitas terbaik untuk program hamil, organ reproduksi dan alat vital kamu, Lisa.” Lalu, Melati beralih menatap Jay. Melati berkata, “Sup ini juga sangat baik untuk meningkatkan kualitas sperma. Secara alami mengandung hormon testosteron yang mendukung produksi sperma dan meningkatkan libido.” Jay masih bersikap tenang. Dia memang sudah lama tidak berhubungan intim dengan istrinya. Itu karena Jay tidak tega melihat Lisa pulang kerja dengan wajah lelah. Apalagi belakangan ini, Lisa menjalin hubungan dengan Regan Gray. Semua orang di keluarga kalangan atas membicarakan mereka. Sementara Lisa menjadi malu. Sebentar lagi, dia akan bercerai dengan Jay. Jadi, dia tidak ingin memiliki anak lagi dengannya. “Nenek, nggak perlu begini. Aku … harus ke kantor sekarang. Banyak kerjaan numpuk.” Saat Lisa berdiri, Melati menarik tangannya. Melati duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan. “Kantor masih tetap akan beroperasi tanpa kamu, Lisa. Cepat duduk dan habiskan sup ini atau Nenek akan sakit kepala karena cucu pembangkang kayak kamu!” Lisa geram. Namun, dia tidak bisa apa-apa di hadapan Melati. Akhirnya, Lisa duduk dan menghabiskan supnya. Begitu juga dengan Jay. Mereka tidak menyadari Melati diam-diam tersenyum. Melati lega. Dia berkata pada Liora, “Liora, anterin mereka ke kamar sekarang. Biarin mereka istirahat dulu di sini.” Lisa ingin membantah, tetapi dia merasa suhu tubuhnya mulai panas. Jadi dia hanya bisa menuruti keinginan neneknya. Jay menjadi lebih sensitif. ‘Nenek kayaknya mencampuri sup sama obat perangsang. Kalo begini, aku ….’ Jay mendongakkan kepala, menatap Liora yang tersenyum ramah. “Mari ikut saya ke atas, Tuan, Nyonya,” ajak Liora. Di lantai dua. Liora menutup pintu kamar tertutup rapat, meninggalkan Jay dan Lisa di dalam. Aroma terapi lavender yang menenangkan di lantai dua biasanya memberikan kedamaian. Namun bagi Jay dan Lisa, udara di sekitar mereka justru terasa mulai membara. Efek dari sup sarang burung walet yang dicampur dengan ramuan rahasia Melati mulai bekerja dengan agresif. Napas Jay sedikit berat. Ada denyut aneh yang mengalir di darahnya, panas, kuat, dan hidup. Sejak sup itu masuk ke tubuhnya, sensasinya tak sekadar fisik. Seperti ada sesuatu yang lama tertidur, kini terbangun perlahan. Jay duduk di sofa samping ranjang. Dia bergumam, “Ehmm ….” Lisa sudah duduk di pinggir ranjang. Jantungnya berdegup kencang. Bukan rasa takut, melainkan gejolak biologis yang menuntut pelampiasan. Wajahnya merona merah, dan keringat mulai membasahi pelipisnya. “Jay, ini ….” Jay menoleh. Tatapan mereka saling bertemu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada aura dingin di mata Lisa. Yang ada hanya kebingungan dan sesuatu yang lebih bergejolak dari dalam tubuhnya. “Lisa ….” Suara Jay rendah dan tertahan. Dia mencoba menahan diri, dan mempertahankan logikanya di tengah gejolak hasrat. Namun darah naga di tubuhnya berdenyut, memberi kekuatan dan keteguhan yang bahkan dia sendiri kaget merasakannya. Jay membuka pakaian. Lisa menelan ludah saat melihat otot-otot dada Jay yang seksi. Bahu tegap, rahang tegas dan aura tenang Jay berhasil membuat dadanya berdebar tanpa izin. Dia baru menyadari suaminya ini ternyata lebih tampan daripada Regan. “Aku mandi dulu. Kamu istirahat aja,” kata Jay. Begitu Jay ingin beranjak ke kamar mandi, Lisa berlari ke pangkuannya. Kedua tangan Lisa langsung menyentuh wajah Jay dan tanpa ragu menciumi bibir suaminya. Lisa mendesah, “Emm ….” Jay menghentikannya sejenak. “Lisa, kamu….” “Cuma kali ini aja….” Usai mengatakan itu, Lisa kembali sedikit membungkuk. Lalu, menempelkan bibirnya ke leher Jay. Dengan dorongan darah naga di tubuhnya, Jay menjadi agresif. Dia menarik tubuh Lisa agar menempel padanya. Mereka mulai saling membalas ciuman. 5 menit berlalu. Jay membawa Lisa ke ranjang. Lalu, membantunya melepaskan pakaian. Pengaruh obat perangsang itu bekerja pelan namun pasti, meruntuhkan tembok yang selama ini mereka bangun. Jay masih berusaha lembut, masih seperti Jay yang Lisa kenal tulus dan pengertian. Namun kini ada ketegasan lain, kekuatan yang membuat setiap geraknya penuh keyakinan. "Jay... ah….” Lisa mulai mendesah ketika Jay menciumi kedua buah dadanya. Lisa terengah, napasnya berantakan. Dia tidak lagi memikirkan Regan ataupun berkas perceraian. Liora tidak benar-benar pergi. Usai mendengar desahan Lisa berulang kali, dia beranjak turun menemui Melati. Di lantai bawah. Melati menyesap teh rosella dengan senyum tipis yang puas. Keriput di sudut matanya tampak lebih dalam saat memejamkan mata sebentar. Liora sudah berdiri di sampingnya dengan wajah datar, tetapi penuh hormat. “Lio, gimana? Berhasil nggak?” "Ya, Nyonya Besar. Efeknya sudah bekerja maksimal sekarang," jawab Liora pelan. Melati mengangguk. Dia tahu tentang pengkhianatan Lisa dengan Regan. Dia tahu betapa cucunya itu telah menginjak-nginjak harga diri Jay dengan berselingkuh dan mengajukan cerai secara diam-diam. Sebagai kepala keluarga, Melati tidak akan membiarkan garis keturunan mereka hancur hanya karena kebodohan sesaat. "Biarin saja," gumam Melati. "Ini cara terbaik untuk mengikat mereka. Lisa harus membayar dosanya pada Jay. Dia harus tau, pria terbaik di dunia ini ada di sampingnya, bukan si bajingan Regan.” Bagi Melati, memaksa mereka berhubungan intim bukan sekadar tentang nafsu, melainkan tentang menciptakan ikatan pernikahan yang permanen. Jika Lisa hamil, maka perceraian akan jauh lebih sulit dilakukan. “Aku memang menjebak cucuku sendiri. Terus kenapa? Aku melakukan ini demi kebaikan rumah tangga mereka,” kata Melati kemudian. Liora memuji Melati. “Nyonya Besar memang bijaksana. Bukan cuma itu, Anda melakukan ini sekaligus kasih hadiah Tuan Jay yang selama ini selalu bersabar menghadapi sikap dingin Nyonya Lisa.”Tiga jam berlalu.Jay duduk di tepi ranjang. Tangannya mengepal, lalu mengendur. “Kita … kita omongin ini nanti,” ujar Jay, pelan.Lisa terbaring. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil. Dia menatap langit-langit kamar, lalu perlahan menoleh ke arah Jay. Dia canggung, bingung dan merasa bersalah.Jay beranjak membersihkan diri. Ketika Jay sudah sampai di depan kamar mandi, Lisa duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.Lisa berucap, “Jangan pernah berpikir untuk melakukannya lagi. Ini adalah terakhir kalinya kita berhubungan intim.”“Oh ya, satu lagi. Setelah ulang tahun Nenek, aku akan daftarin berkas perceraian lagi.”Jay membalas, “Baru selesai bercinta, kamu udah ngomongin masalah perceraian. Segitu nggak sabaran, ya.”Dia langsung mendorong pintu kamar mandi dan masuk.Jay menyalakan shower. Dia berdiri di bawahnya. “Nggak kusangka, staminaku bener-bener kuat. Sampai sekarang, aku nggak ngerasain capek sama sekali. Ini pasti berkat darah naga.”Kalau bukan karena melihat L
“Nek, biar aku ke dapur dan memasak untuk Nenek,” ujar Jay, sopan.Melati tersenyum. Di antara anak, menantu dan cucunya, Jay tetaplah yang terbaik. Selain tulus, lembut dan pengertian, Jay memang cucu menantu idaman. “Duduk aja dulu, Jay. Temani Nenek ngobrol. Nenek kangen banget sama kamu dan Veel. Sejak Veel sakit, kamu jarang banget datang ke sini.”Mereka berada di ruang tengah. Melati mengeluhkan sikap Jay yang sekarang jarang mengunjunginya. Meskipun memiliki kesibukan, usia senja seperti Melati memang kerap merasa kesepian.“Astaga! Maaf, Nek. Aku nggak bermaksud buat Nenek kecewa. Tapiー”Melati berseru memotong kalimat Jay, “Ah, Liora udah datang!”Liora datang membawa nampan berisi dua mangkuk sup sarang burung walet. Dia meletakkan nampan di atas meja.Liora membentuk gestur hormat.“Tuan Jay, Nyonya Lisa, silakan dinikmati supnya mumpung masih hangat,” ujar Liora. Liora Tan adalah salah satu orang kepercayaan Melati, selain Pandu Darma. Sebelumnya, Liora mendapatkan kaba
Sekarang sudah pukul 08:55 pagi. Saat Jay tiba di kantor pencatatan sipil, dia melihat mobil Lisa sudah terparkir. Jarak antara rumah sakit dan kantor pencatatan sipil hanya butuh jalan kaki selama 10 menit saja. Pintu mobil terbuka. Lisa turun ditemani Riani. Sambil berjalan, Riani menatap Jay tajam. “Pak Jay, kamu nyaris terlambat. Kami pikir, kamu berubah pikiran.”Jay tidak menghiraukan perkataan Riani. Dia tahu, selama ini Riani lah yang mengenalkan Regan pada istrinya. Riani juga yang mendekatkan Lisa dan Regan. Bahkan, dia membujuk beberapa kata pada nenek Lisa untuk menerima Regan menjadi cucu menantu keluarga Cole. Jay membalas tatapan Riani. “Jangan-jangan, ide perceraian ini berasal dari kamu ya?”Riani tersenyum. Saat Jay ingin berkata lagi, Lisa berbicara.Lisa berkata, “Jay, kenapa kamu nolak uang kompensasi perceraian dariku? Apa jumlahnya kurang? Tinggal bertahun-tahun sama kamu, nggak kusangka … ternyata kamu matre juga.”Di dokumen perceraian semalam, terdapat d
“Astaga. Aku … nggak mau mati sekarang. Putriku masih membutuhkanku.”Mata Jay masih tertutup. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Ingatannya dipenuhi wajah putrinya.“Kalo aku harus mati … aku rela tukar hidupku demi kesembuhan Veel cantik.”Veel Issac, putri kecil Jay yang cantik dan pintar. Demi apapun, dia sangat menyayangi anak semata wayangnya. Nyawa Jay sudah di ujung tanduk. Bukannya memohon keselamatan untuk diri sendiri, Jay malah memikirkan dan memohon kehidupan untuk putrinya. Dia benar-benar ayah yang baik.Jay merasakan kepalanya berdengung. Darah terus mengalir dari mulut, hidung dan kepala. Dia tidak bisa mendengar apapun lagi. Mungkin inilah akhir hidupnya!“Veel, anak Ayah ….”Beberapa menit berlalu. Tanda-tanda keajaiban datang!Jay memakai kalung giok berukiran naga kecil yang sangat sederhana. Warnanya abu kehijauan. Itu adalah kalung peninggalan orang tuanya yang dia pakai sejak kecil. Giok yang terkena darah Jay bercahaya. Tali kalung yang terbuat dari benan
“Jay Issac, aku udah anterin Istri kamu pulang dengan selamat.”Dari dalam mobil sport hitam yang terparkir di depan villa besar, seorang pria gagah dan tampan menghembuskan asap rokok. Dia Regan Gray, Tuan Muda kedua keluarga Gray yang angkuh. Sosoknya menjulang bak serigala di puncak rantai makanan, menyeringai penuh kemenangan ke arah Jay. Hujan mengguyur Kota Blackridge seperti air mata langit yang berkabung. Langit malam ini kelam seperti takdir yang seakan mengepung Jay Issac dari segala arah. Lisa ColeーIstri Jay, duduk di kursi penumpang dengan keadaan setengah mabuk. Parasnya yang cantik sedikit memerah karena pengaruh alkohol. Regan menatap Jay yang berdiri di depan pintu utama. Lalu, membuang puntung rokok yang masih menyala.Regan tersenyum licik. “Jay, bisa nggak kamu bawa Lisa ke dalam rumah? Atau kamu mau aku aja yang bawa dia ke kamar kalian?”Jay segera melangkah cepat membawa payung, mendekati mobil Regan. Dia mengulurkan tangan, hendak membuka pintu mobil, namun t







