Share

Chapter 4

Author: Papa Buaya
last update publish date: 2026-02-09 07:32:24

“Nek, biar aku ke dapur dan memasak untuk Nenek,” ujar Jay, sopan.

Melati tersenyum. Di antara anak, menantu dan cucunya, Jay tetaplah yang terbaik. Selain tulus, lembut dan pengertian, Jay memang cucu menantu idaman.

“Duduk aja dulu, Jay. Temani Nenek ngobrol. Nenek kangen banget sama kamu dan Veel. Sejak Veel sakit, kamu jarang banget datang ke sini.”

Mereka berada di ruang tengah. Melati mengeluhkan sikap Jay yang sekarang jarang mengunjunginya. Meskipun memiliki kesibukan, usia senja seperti Melati memang kerap merasa kesepian.

“Astaga! Maaf, Nek. Aku nggak bermaksud buat Nenek kecewa. Tapiー”

Melati berseru memotong kalimat Jay, “Ah, Liora udah datang!”

Liora datang membawa nampan berisi dua mangkuk sup sarang burung walet. Dia meletakkan nampan di atas meja.

Liora membentuk gestur hormat.

“Tuan Jay, Nyonya Lisa, silakan dinikmati supnya mumpung masih hangat,” ujar Liora.

Liora Tan adalah salah satu orang kepercayaan Melati, selain Pandu Darma. Sebelumnya, Liora mendapatkan kabar dari anak buah yang mengawasi Lisa.

Anak buah melaporkan bahwa Lisa menggugat cerai suaminya. Bahkan, Lisa sudah mendaftarkan berkas perceraian di kantor pencatatan sipil Kota Blackridge.

Lalu, Liora memberitahu Melati. Tidak disangka, Melati bergerak cepat menggagalkan rencana Lisa.

Lisa bingung. “Nek, iniー”

Melati menepuk paha Lisa. “Sup sarang burung walet ini berkualitas terbaik untuk program hamil, organ reproduksi dan alat vital kamu, Lisa.”

Lalu, Melati beralih menatap Jay.

Melati berkata, “Sup ini juga sangat baik untuk meningkatkan kualitas sperma. Secara alami mengandung hormon testosteron yang mendukung produksi sperma dan meningkatkan libido.”

Jay masih bersikap tenang. Dia memang sudah lama tidak berhubungan intim dengan istrinya. Itu karena Jay tidak tega melihat Lisa pulang kerja dengan wajah lelah. Apalagi belakangan ini, Lisa menjalin hubungan dengan Regan Gray. Semua orang di keluarga kalangan atas membicarakan mereka.

Sementara Lisa menjadi malu. Sebentar lagi, dia akan bercerai dengan Jay. Jadi, dia tidak ingin memiliki anak lagi dengannya.

“Nenek, nggak perlu begini. Aku … harus ke kantor sekarang. Banyak kerjaan numpuk.”

Saat Lisa berdiri, Melati menarik tangannya.

Melati duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan. “Kantor masih tetap akan beroperasi tanpa kamu, Lisa. Cepat duduk dan habiskan sup ini atau Nenek akan sakit kepala karena cucu pembangkang kayak kamu!”

Lisa geram. Namun, dia tidak bisa apa-apa di hadapan Melati.

Akhirnya, Lisa duduk dan menghabiskan supnya. Begitu juga dengan Jay. Mereka tidak menyadari Melati diam-diam tersenyum.

Melati lega. Dia berkata pada Liora, “Liora, anterin mereka ke kamar sekarang. Biarin mereka istirahat dulu di sini.”

Lisa ingin membantah, tetapi dia merasa suhu tubuhnya mulai panas. Jadi dia hanya bisa menuruti keinginan neneknya.

Jay menjadi lebih sensitif. ‘Nenek kayaknya mencampuri sup sama obat perangsang. Kalo begini, aku ….’

Jay mendongakkan kepala, menatap Liora yang tersenyum ramah.

“Mari ikut saya ke atas, Tuan, Nyonya,” ajak Liora.

Di lantai dua.

Liora menutup pintu kamar rapat-rapat, meninggalkan Jay dan Lisa di dalam. Aroma terapi lavender yang menenangkan di lantai dua biasanya memberikan kedamaian. Namun bagi Jay dan Lisa, udara di sekitar mereka justru terasa mulai membara.

Efek dari sup sarang burung walet yang dicampur dengan ramuan rahasia Melati mulai bekerja dengan agresif.

Napas Jay sedikit berat. Ada denyut aneh yang mengalir di darahnya, panas, kuat, dan hidup. Sejak sup itu masuk ke tubuhnya, sensasinya tak sekadar fisik. Seperti ada sesuatu yang lama tertidur, kini terbangun perlahan.

Jay duduk di sofa samping ranjang. Dia bergumam, “Ehmm ….”

Lisa sudah duduk di pinggir ranjang. Jantungnya berdegup kencang. Bukan rasa takut, melainkan gejolak biologis yang menuntut pelampiasan. Wajahnya merona merah, dan keringat mulai membasahi pelipisnya.

“Jay, ini ….”

Jay menoleh.

Tatapan mereka saling bertemu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada aura dingin di mata Lisa. Yang ada hanya kebingungan dan sesuatu yang lebih bergejolak dari dalam tubuhnya.

“Lisa ….”

Suara Jay rendah dan tertahan. Dia mencoba menahan diri, dan mempertahankan logikanya di tengah gejolak hasrat. Namun darah naga di tubuhnya berdenyut, memberi kekuatan dan keteguhan yang bahkan dia sendiri kaget merasakannya.

Jay membuka pakaian.

Lisa menelan ludah saat melihat otot-otot dada Jay yang seksi. Bahu tegap, rahang tegas dan aura tenang Jay berhasil membuat dadanya berdebar tanpa izin. Dia baru menyadari suaminya ini ternyata lebih tampan daripada Regan.

“Aku mandi dulu. Kamu istirahat aja,” kata Jay.

Begitu Jay ingin beranjak ke kamar mandi, Lisa berlari ke pangkuannya. Kedua tangan Lisa langsung menyentuh wajah Jay dan tanpa ragu menciumi bibir suaminya.

Lisa mendesah, “Emm ….”

Jay menghentikannya sejenak. “Lisa, kamu….”

“Cuma sekali ini aja….”

Usai mengatakan itu, Lisa kembali sedikit membungkuk. Lalu, menempelkan bibirnya ke leher Jay.

Dengan dorongan darah naga di tubuhnya, Jay menjadi agresif. Dia menarik tubuh Lisa agar menempel padanya. Mereka mulai saling membalas ciuman.

5 menit berlalu.

Jay membawa Lisa ke ranjang. Lalu, membantunya melepaskan pakaian.

Pengaruh obat perangsang itu bekerja pelan namun pasti, meruntuhkan tembok yang selama ini mereka bangun. Jay masih berusaha lembut, masih seperti Jay yang Lisa kenal tulus dan pengertian. Namun kini ada ketegasan lain, kekuatan yang membuat setiap geraknya penuh keyakinan.

"Jay... ah….”

Lisa mulai mendesah ketika Jay menciumi kedua buah dadanya.

Lisa terengah, napasnya berantakan. Dia tidak lagi memikirkan Regan ataupun berkas perceraian.

Liora tidak benar-benar pergi. Usai mendengar desahan Lisa berulang kali, dia beranjak turun menemui Melati.

Di lantai bawah.

Melati menyesap teh rosella dengan senyum tipis yang puas. Keriput di sudut matanya tampak lebih dalam saat memejamkan mata sebentar. Liora sudah berdiri di sampingnya dengan wajah datar, tetapi penuh hormat.

“Lio, gimana? Berhasil nggak?”

"Ya, Nyonya Besar. Efeknya sudah bekerja maksimal sekarang," jawab Liora pelan.

Melati mengangguk. Dia tahu tentang pengkhianatan Lisa dengan Regan. Dia tahu betapa cucunya itu telah menginjak-nginjak harga diri Jay dengan berselingkuh dan mengajukan cerai secara diam-diam.

Sebagai kepala keluarga, Melati tidak akan membiarkan garis keturunan mereka hancur hanya karena kebodohan sesaat.

"Biarin saja," gumam Melati. "Ini cara terbaik untuk mengikat mereka. Lisa harus membayar dosanya pada Jay. Dia harus tau, pria terbaik di dunia ini ada di sampingnya, bukan si bajingan Regan.”

Bagi Melati, memaksa mereka berhubungan intim bukan sekadar tentang nafsu, melainkan tentang menciptakan ikatan pernikahan yang permanen.

Jika Lisa hamil, maka perceraian akan jauh lebih sulit dilakukan.

“Aku memang menjebak cucuku sendiri. Terus kenapa? Aku melakukan ini demi kebaikan rumah tangga mereka,” kata Melati kemudian.

Liora memuji Melati. “Nyonya Besar memang bijaksana. Bukan cuma itu, Anda melakukan ini sekaligus kasih hadiah Tuan Jay yang selama ini selalu bersabar menghadapi sikap dingin Nyonya Lisa.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 38

    Kali ini, reaksi Lisa bukan pura-pura. Itu adalah reaksi yang nyata.Lisa menoleh cepat ke arah Riani.“Apa aku pernah buat keputusan kayak gitu? Aku nggak merasa menghentikan dana pengobatan Veel. Aku sudah melakukannya sesuai permintaan Nenek.”Riani terlihat terkejut. Dia langsung membuka tablet di tangannya. Jari-jarinya bergerak cepat menelusuri data.“Saya… saya nggak menemukan perintah resmi dari Anda, Bu,” jawabnya gugup.Melati menyipitkan mata.“Jadi kamu nggak tau?” suaranya rendah, tapi mengandung tekanan.Lisa menggeleng cepat. Lalu melirik jam tangannya. “Ini udah waktunya rapat harian. Aku—”Melati geram. “Apa nyawa anakmu nggak lebih penting daripada rapat? Asal kamu tau, Lisa. Kantor akan terus beroperasi tanpa kamu.”Lisa menjadi serba salah. Dia memang akan bercerai dengan Jay. Tapi Veel?Lisa telah bersusah payah untuk mendapatkan pengakuan kakek dan neneknya. Sampai akhirnya, baru beberapa tahun ini dia mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari keluarga Cole.

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 37

    Gedung utama Grup Cole berdiri di pusat kota Blackridge, tinggi, modern, dan terlihat dingin.Fasadnya didominasi kaca gelap yang memantulkan langit seperti cermin, membuat gedung itu tampak tak tersentuh dan berjarak.Logo Cole Group terpampang besar di bagian atas dengan desain minimalis namun tegas, melambangkan kekuasaan dan kontrol.Mobil hitam sedan berhenti tanpa suara di pintu samping.Pandu Darma menoleh ke belakang. “Nyonya, kita sudah sampai.”Liora turun lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Melati.“Silakan, Nyonya.”Melati turun perlahan. Hari ini, dia tidak ingin disambut oleh siapapun di kantor. Dia ingin melihat… apa yang sebenarnya terjadi!Begitu memasuki lobi, suasana langsung terasa berbeda. Melati langsung masuk ke lift menuju lantai 17, di sanalah ruangannya berada. Di Lantai 17. Beberapa karyawan yang melihatnya tampak terkejut. Ada yang buru-buru menunduk. Ada juga yang saling bertukar pandang. Seolah… mereka menyembunyikan sesuatu.Begitu melewati ruangan

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 36

    Keesokan hari di Mega Kemuning. Liora datang ke kamar Melati. Wajahnya lesu dan tatapannya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia berdiri di depan Melati. “Nyonya Besar,” sapa Liora.“Gimana? Yang ku suruh cari info, udah dapat belum?”Liora mengangguk. “Ini data yang Anda minta.”Liora menyerahkan sebuah dokumen hitam berisi data-data yang diinginkan Melati.“Bagus,” kata Melati. Melati meminum teh dengan anggun. Setelah kejadian semalam di pesta ulang tahunnya, Melati meminta Liora untuk menyelidiki keluarga Domani dan keluarga Boni. Karena Melati merasa, kedua keluarga tersebut sangat dekat dengan Jay. Melati hanya ingin menyelamatkan pernikahan cucunya. Jay adalah pria pendiam dan setia. Jadi Melati sangat yakin, Jay tidak pandai menggoda wanita. Sambil menundukkan kepala, Liora mulai melaporkan pekerjaannya. “Saya udah suruh anak buah menyebar dan mencari Nona Veel ke seluruh penjuru Issac Hospital. Tapi, mereka nggak menemukannya. Saat bertanya ke bagian administrasi, me

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 35

    “Tapi, diantara empat keluarga itu…”Jay tetap berdiri di depan jendela. Cahaya kota memantul samar di matanya yang gelap. Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani menyela.Jay menggeleng tipis.“Yang lain… masuk akal. Keluarga Boni, Domani, Winata… mereka punya motif.”Dia berhenti sejenak.“Tapi keluarga Cole? Aku nggak yakin. Mereka nggak punya bisnis di kota Redlock. Nggak terlibat bisnis kotor.”Nada suaranya berubah. Lebih rendah dan lebih berat.Martinus sedikit mengangkat kepala. “Tuan Muda, semua bukti—”“Aku bilang, nggak mungkin.”Kali ini tegas. Tidak keras, tapi tidak bisa dibantah.Dokter Idris melirik Jay sekilas. Dia tahu… ini bukan sekadar analisis. Ini sesuatu yang lebih dalam.Jay berbalik dari jendela. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.“Keluarga Cole saat itu baru naik,” lanjutnya. “Mereka belum punya posisi untuk masuk ke lingkaran atas itu.”Martinus membuka salah satu berkas lagi, mencoba tetap objektif. “Justru karena itu, Tuan.

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 34

    Setelah menyelimuti Veel dan memastikannya tidur nyenyak, Jay masuk ke ruang kerja yang terletak di ujung koridor Utara villa. Di sana, Martinus sudah menunggunya. “Tuan Muda,” sapa Martinus. Jay datang bersama Dokter Idris. Sementara Della sudah pergi beristirahat di kamarnya yang terletak di sebelah kamar Veel. Jay duduk di meja kerja. “Kapan sampai?” tanya Jay. Dia membakar rokok. “Dua jam lalu,” jawab Martinus.Mata Jay fokus menatap sebuah kotak hitam di depannya. Martinus menyodorkan kotaknya. “Semua ini adalah bukti terakhir yang didapatkan mata-mata kita sebelum tewas.”Asap rokok mengepul pekat di udara. Jay tidak langsung menyentuh isi kotak itu. Tatapannya diam, seolah sudah menebak bahwa apa yang ada di dalamnya… bukan sesuatu yang sederhana.Jay menjepit rokok di sela-sela bibirnya. Akhirnya, dia membuka kotaknya perlahan.“Ehm?” Isinya bukan rekaman modern. Tidak ada CCTV ataupun file digital yang mencolok.Yang ada… justru hanyalah potongan masa lalu.Dahi Dokter

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 33

    “Dokter Hazel, makasih untuk bantuanmu malam ini.”Jay berkata dengan tulus. Dia berdiri di sisi mobil “Jangan sungkan begitu, Tuan Jay,” balas Hazel, ramah. “Udah larut. Ayo bawa Veel kembali ke rumah sakit.”Sesuai dengan rencana awal, Jay tidak membawa Veel kembali ke rumah sakit. Tetapi, membawanya pulang ke perumahan elite Bukit Rajawali Emas. Jay menggeleng. “Aku mau bawa Veel Pulang ke rumah kami.”Hazel sedikit bingung. Sebab menurut laporan dari asistennya, Jay dan Lisa sedang menghadapi perceraian. Apalagi, Jay sudah membawa Veel keluar dari rumah keluarga Cole. Jadi sebenarnya, ke mana Jay akan membawa anaknya pulang? Hazel tidak percaya. “Rumah? Maaf, kalo aku lancang. Tapi, bukannya selama ini kamu dan Veel tinggal di siniーdi rumah keluarga Cole? Dan, pengobatan Veelー”Jay tertawa pelan. “Aku punya rumah sederhana di tengah kota. Kalo nggak keberatan, nanti aku akan atur waktu untuk undang kamu datang makan bersama kami. Gimana?”“Mengenai pengobatan Veel, Dokter Idr

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 22

    Jay memeriksa nadi Veel. Dia mengeluarkan tenaga dalamnya lagi. Perlahan tapi pasti, Jay mengobati Veel dengan kemampuannya. Setelah satu jam, tenaganya terkuras habis. Dia meminum air putih hangat dan langsung tidur di sofa panjang. Pagi harinya. Dokter Idris sudah datang memeriksa Veel. Dia se

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 21

    Tidak ingin Jay salah paham, dan merasa direndahkan, Hazel langsung berkata, “Tuan, Jay. Dengan kemampuanmu, aku ingin mengundangmu secara pribadi ke acara lelang barang antik di salah satu konsorsium keluarga Domani.”Konsorsium properti milik keluarga Domani dikenal sebagai salah satu jaringan bi

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 20

    Issac Hospital.Lisa: Jay, di mana kamu?! Apa hakmu menghalangiku bertemu putriku sendiri?”Lisa: Kamu bener-bener brengsek!Jay sudah sampai di rumah sakit. Dia membaca chat dari istrinya tanpa niat untuk membalasnya. Dia mendengus dingin. Jay mengantongi ponselnya.“Setelah buang anakmu sendiri,

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 19

    Sebelum keluar, Boy masih sempat menatap dokter Ilham dan Rizka dengan kesal.“Bilang Nona kalian, lain kali belajar berterima kasih yang benar.”Clara menelan ludah. Dokter Ilham dan Rizka masih terdiam.Di Kota Blackridge, siapa yang tidak tahu pengaruh keluarga Winata? Banyak orang menyanjung d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status