LOGINUdara dingin Puncak malam itu terasa hangat oleh tawa riuh. Di halaman vila mewah milik Arga, lampu-lampu hias menggantung menerangi area memanggang. Bau harum daging panggang dan bumbu barbecue menyeruak membuat si kembar makin tak sabar. Kaisar dan Kayla berlarian di atas rumput hijau sambil tertawa lepas, melompat-lompat mengelilingi meja pembakaran. “Papa! Daging milik Kaisar jangan sampai gosong, ya!” seru Kaisar menunjuk daging potong di atas panggangan. “Milik Kayla juga, Papa! Kasih bumbu yang banyak supaya manis seperti Kayla!” timpal Kayla tak mau kalah sambil melempar senyum menggemaskan. Arga yang memegang penjepit daging hanya terkekeh pelan. Pria itu tampil santai dengan baju polos dan celana kasual, tapi aura dominan dan tampannya tetap memikat. “Tenang saja. Masakan Papa tidak pernah gagal.” Anna melangkah mendekat sambil membawa wadah berisi jagung bakar dan saus tambahan. Mengenakan sweter longgar. Lalu, berdiri di samping suaminya, menyapukan tisu halus ke dah
Di kediaman Atmaja. Hary dan Manda duduk di sofa melihat live pesta pernikahan Arga dan Anna. Acara megah itu sengaja ditayangkan secara eksklusif di salah satu kanal media sosial milik David. Manda menangis terisak, jemarinya meremas-remas ujung bajunya. “Lihat itu! Kamu puas sekarang? Ini semua gara-gara kamu yang terus keras kepala! Sampai kita tidak dapat undangan ke sana!” “Jangan menyalahkan aku! Arga yang anak durhaka! Dia yang memutus hubungan dan mempermalukan orang tuanya sendiri di depan publik! ”Hary langsung membentak, mukanya memerah menahan malu dan emosi. “Terus saja begitu! Salahkan orang lain terus!” potong Manda kesal, menyapu air matanya kasar. “Nanti kalau sudah tua, kita lihat siapa yang mau merawatmu! Kalau kamu terus membanggakan semua hartamu itu, jangan lupa simpan yang banyak dari sekarang untuk bayar panti jompo nanti! Aku sudah tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Aku mau pergi mendapatkan maaf dari Arga dan Anna!” “Jangan mimpi mereka akan p
Gelap! Ballroom itu mendadak gelap. Suara bisik-bisik panik dan seruan kaget bersahutan. Hanya dalam hitungan detik, lampu sorot utama kembali menyala terang benderang. Tepat di tengah-tengah karpet merah, berdiri sosok Regan dengan penampilan yang begitu sempurna dan menawan. Pria itu dibalut tuxedo berpotongan tegas, berdiri tegap memancarkan aura dingin, elegan, dan sangat dominan, hingga seketika menyedot seluruh perhatian di ruangan itu. Mata Anna membulat sempurna. “Regan?” bisiknya tak menyangka pria itu datang. Arga yang berdiri di sampingnya menyunggingkan senyum miring, lalu berbisik pelan tepat di dekat telinga Anna, “Aku sudah menyiapkan ambulans di luar kalau tiba-tiba pria itu pingsan.” Anna mendelik pelan lalu mencubit gemas pinggang suaminya, membuat Arga terkekeh tanpa suara. Regan melangkah maju, berdiri begitu tenang di bawah pendar lampu kristal. “Saat kamu mencintai seseorang, kamu dituntut untuk ikut merasakan apa yang dia rasakan. Saat wanita itu terlu
“Papa curang!” protes Kaisar mendongak, menatap Arga protes. “Kenapa cuma Mama yang dipeluk dan dikasih kata-kata manis? Kami kan juga mau!”Kayla ikut mengangguk cepat. “Iya! Kayla sama Kaisar kan ikut bantu Om David dan Tante Yuna pasang lampu. Kenapa Papa cuma bilang cinta sama Mama saja?”Anna tertawa kecil melihat tingkah kedua anak kembarnya, rasa haru di dadanya melebur menjadi kehangatan. Sementara Arga terkekeh pelan, menyunggingkan senyum khasnya lalu berlutut di hadapan Kaisar dan Kayla agar sejajar dengan tinggi mereka.Arga mengusap rambut Kaisar dengan jemari tegapnya. “Siapa bilang Papa cuma sayang Mama? Kamu itu jagoan Papa, Kaisar. Tugas kamu menjaga Mama dan Kayla kalau Papa lagi kerja.”Kaisar langsung tersenyum bangga, menepuk dadanya pelan. “Siap, Papa!”Kemudian Arga beralih menatap Kayla, mencubit lembut pipi putri kecilnya itu. “Dan untuk putri Papa yang paling cantik ini, kamu dan Mama adalah alasan Papa selalu mau cepat-cepat pulang ke rumah. Papa sayang kal
Mobil terus melaju menembus jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Setelah menyelesaikan urusan berat di rumah sakit jiwa, Arga sengaja tidak langsung membawa Anna pulang ke rumah. Pria itu memilih mengajak istrinya berkeliling ke beberapa tempat menyenangkan untuk menyegarkan pikiran mereka yang sempat tegang. Anna menopang dagu, memiringkan posisinya sambil menatap wajah Arga dari samping yang fokus menyetir. “Kamu nggak capek seharian menyetir sendiri?” tanya Anna heran. “Lagipula, memangnya ke mana David? Tumben dia nggak mendampingi kamu hari ini.” Arga menyunggingkan senyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. “Hari ini aku cuma mau berdua saja dengan kamu. Kehadiran David cuma bakal merusak pemandangan.” Anna mendengkus pelan, menahan senyum yang hampir terbit. “Sejak kapan kamu jadi pandai cari alasan begini?” “Sejak aku sadar kalau waktu berdua dengan istri cantikku ini terlalu berharga untuk dibagi dengan orang lain,” balas Arga manis, melir
Dia tidak langsung merespon raungan mereka. Matanya menajam. Rasa sakit saat dulu dijual atas nama pernikahan, direndahkan, diinjak-injak, dan ditendang keluar seperti sampah, membakar dadanya hingga sesak.“Dulu kalian tidak pernah menganggapku manusia. Kalian menjualku, membuangku dan memperlakukanku lebih rendah dari binatang. Dan sekarang, baru dikurung beberapa hari di sini, kalian menangis memohon ampun seolah paling terzalimi?” teriak Anna tajam, dan penuh penekanan.Cukup keras dan terdengar lewat celah ventilasi.Mendengar penolakan Anna, ketakutan ketiga orang itu makin menjadi-jadi. Mereka sadar akal sehat mereka benar-benar berada di ujung tanduk jika terus dibiarkan di tempat ini.“Anna, Papa mohon! Papa salah, Papa mengaku salah!” Bagas menggedor dengan kedua tangannya yang gemetar. “Papa janji akan menyerahkan seluruh sisa harta asal keluarkan Papa sekarang juga!”“Kami memohon, Anna! Tolong kasihanilah kami!” Dela menempelkan dahi dan dadanya ke pintu kayu tebal itu sa
“Arga, ayo kita urus perceraian.” Sontak mata Arga menegang dan pelan kepalanya terangkat, menatap manik mata Anna. “Cerai?” Dahi Arga berkerut dengan senyum miring tipis. Anna mengangguk lambat. “Ya, kita bercerai saja.” Wajahnya tampak begitu datar, tidak ada gurat kesedihan atau ragu. Arga
“Tiga ratus juta, kamu harus bercerai dan pergi dari hidup anakku.” Manda mendorong selembar cek di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya dengan senyum kecut.Mata Anna menatap angka di kertas itu. Di bawah meja, jemarinya menggenggam lembar sonogram makin erat. Ada denyut kehidupan kecil yang
“Dokter Arga, IGD sedang kekurangan dokter. Ada pasien banyak kecelakaan. Mohon Anda segera datang ke ruangan. Karena juga ada anak kecil yang terluka akibat terkena pecahan kaca cukup dalam.”Arga menutup panggilan, lalu menyambar masker medis dan memakainya sambil berjalan cepat keluar dari ruang
Elara Art Studio. Tempat ini dibangun Anna dari nol. Sebuah bisnis level menengah di bidang seni lukis yang merangkak dari bawah. Untuk mengenalkan karyanya, Anna masih sering mengikuti pameran bersama, menitipkan lukisan di galeri seni, hingga mengambil proyek mural dan wall printing. Bangunan du







