로그인🫰🥰🥰🥰 Ayo Arga, hadapi Anna dengan senyuman. Jangan salah ngomong ya nanti. Senyum 🫰🫰 David kayaknya akan dapat bagian jadi pawangnya Yuna pas makan malam nanti.
“Apa pasien yang namanya Kayla sudah datang? Dia masih ke dokter Arga? Belum dialihkan ke dokter spesialis bedah anak?”Petugas pendaftaran melihat layar komputernya sejenak lalu mendongak. “Ada, Dok. Pasien atas nama Kayla sudah terdaftar dan masih dijadwalkan dengan Dokter Arga.”Nadia mendesis, wajahnya mengeras. “Pindahkan pasien itu ke dokter spesialis bedah anak. Sekarang.”Petugas administrasi itu tampak ragu, jemarinya tertahan di atas keyboard. “Maaf, Dokter Nadia. Kami tidak berani mengubah jadwalnya. Tadi pagi sekali, Pak David sudah berpesan khusus kalau semua pasien dokter Arga hari ini tidak boleh diotak-atik oleh siapa pun.”Nadia membuang nafasnya. Dia harus menahan emosinya agar citranya sebagai dokter yang lemah lembut dan baik itu tidak sirna.“Ya sudah, lakukan seperti yang Pak David katakan.” Lalu, dia pergi.‘Aku harus lakukan sesuatu agar Anna tidak lagi punya akses ketemu Arga,’ batinnya.Sambil berjalan cepat menyusuri koridor, Nadia menghubungi Manda. “Tante
“Kita selesaikan urusan kita malam ini!”“Banyak omong! Yakkk!”Arga melayangkan jotosan pada pipi Regan. BUGH! Pukulan itu mendarat cantik hingga kepala Regan tersentak ke samping.“Itu untuk kelancanganmu yang masih saja berani mencampuri urusan rumah tanggaku!” geram Arga dengan napas memburu.Regan memegang rahangnya yang berdenyut, lalu menyeringai beringas. Dia cepat membalas dengan hantaman keras di perut Arga. BUGH!“Dan ini untuk setiap air mata Anna yang tumpah karena kebodohanmu dulu, Brengsek!”“Uhukkk uhukkk!” Arga terbatuk, sambil melangkah mundur dan memegangi perutnya yang kaku. Lalu, Arga mengirimkan tendangan melingkar.DUK!“Kamu nggak tahu apa-apa soal kami!” bentak Arga.“Hish!” Regan mengaduh. Tapi dengan gesit Regan menerjang maju, menggunakan seluruh berat badannya untuk menabrak tubuh Arga. “Arggghh!”BRAKKK! Arga tersungkur ke atas kap mobil. “Aku tahu, dulu kamu membiarkannya menderita sendirian! Laki-laki macam apa kamu ini!” teriak Regan sambil mengh
Mendengar kata-kata kasar itu, rahang Regan mengeras seketika. Dia menatap ayahnya tanpa rasa takut. “Jaga ucapan Papa! Anna bukan wanita seperti itu, dan anak-anaknya bukan anak haram. Mereka punya nama, dan mereka tidak pernah meminta apa pun dari Papa.”“Cukup, Regan!” bentak ayahnya, memukul sandaran sofa terdekat. “Papa tidak mau tahu. Besok kamu harus makan siang dengan anak rekan bisnis Papa. Tanpa bantahan, tanpa alasan!”Regan mendengkus jengkel, memalingkan wajahnya karena terlanjur muak. “Perjodohan lagi? Sampai kapan Papa mau terus mengatur hidupku dengan cara kuno seperti ini? Aku tidak akan datang.”“Kamu harus datang! Papa tidak menerima penolakan dari anak pembangkang sepertimu!” Ayahnya tak mau tahu, matanya melotot tajam.Ponsel Regan berbunyi. Dia mengambil ponselnya, lalu membaca sebuah pesan masuk dari orang kepercayaannya.[Ada mobil yang terus terparkir di sekitar rumah Nona Anna sejak beberapa jam lalu, dan setelah dicek, itu adalah mobil milik Pak Arga.]Memb
“Mata Arga benar-benar buta sampai nggak bisa lihat betapa hancurnya kamu waktu itu. Manusia es. Sekarang tiba-tiba mau mencair. Basi banget!”Anna membisu. Kalimat Yuna barusan menghantam hatinya. Arga memang sepasif itu dulu. Namun, yang membuat Anna jauh lebih kesal pada dirinya sendiri saat ini adalah, kenyataan bahwa di dalam sudut hatinya yang terdalam, dia masih menyimpan rasa untuk pria otoriter yang telah menorehkan luka.“Kamu sudah bilang belum sama Arga kalau Nadia itu wanita licik yang hampir mencelakaimu dulu?” Yuna menatap Anna lekat-lekat.Anna membuang muka ke arah jendela. “Semoga dia paham.”Yuna seketika melotot, mencondongkan tubuhnya, gemas. “Kamu bilangnya pakai kode morse? Mana bisa pria nggak peka sepertinya paham kalau cuma dikasih kode begitu, Anna! Ya ampun, gemas sekali aku sama caramu menghadapi calon mantan suamimu itu.”Yuna terus mengomel tanpa henti, tangannya bergerak-gerak di depan meluapkan rasa jengkelnya. Sementara Anna memijit keningnya yang se
“Ehm … Tunda dulu soal perceraian.” Anna memalingkan wajah setelah bicara.Yuna tersentak kaget. Matanya melotot lebar. Dia menarik bahu Anna agar menatapnya.“APA? Kamu ngomong apa barusan? Apa yang Arga katakan padamu sampai kamu bisa bilang macam begini, ha?” Suaranya meninggi.Anna menggeleng lambat, enggan menceritakan detail ancaman. “Katakan pada Regan agar menunda mengurus perceraianku untuk sementara waktu.”Yuna mendesis kesal. Rahangnya mengeras karena langsung menduga kalau sahabatnya ini baru saja ditekan habis-habisan. “Dia mengancammu lagi, kan? Katakan padaku apa yang dia mau!” Dagunya naik.“Biarkan saja. Aku sangat paham siapa Arga. Kalau semakin aku lawan di saat dia sedang menggila seperti ini, aku takut dia akan nekat menyakiti orang-orang di sekitarku. Biarkan aku yang menghadapi ini, sampai aku bisa menuruti apa yang sebenarnya dia inginkan.”Yuna makin geregetan. Dia melihat Anna yang tadi tampak begitu sedih, tapi tiba-tiba sekarang malah mau menunda perceraia
Arga duduk santai di kursi belakang mobilnya yang sengaja dibuat gelap. Dia memangku sebuah laptop menyala menampilkan barisan kode enkripsi yang sedang berjalan.Di kursi sebelahnya, ada beberapa perangkat keras penguat sinyal dan alat pelacak.Arga tersenyum tipis melihat indikator di layarnya berubah hijau. “Kena kamu, Bocah. Aku akan memegangmu dan mengendalikanmu diam-diam.”Sejak awal Arga memang menebak kalau peretasan sistem rumah sakit kemarin ada kaitannya dengan Kaisar. Malam ini dia hanya perlu melakukan verifikasi ulang, dan dugaannya terbukti 100% akurat. Arga memperhatikan grafik algoritma pertahanan yang sempat dibangun anak itu di laptopnya. “Pintar. Seperti diriku,” gumamnya tanpa sadar.Sementara itu di dalam kamar. Kaisar mendadak kaku di depan mejanya. Jantungnya berdetak cepat hingga dadanya berdenyut gelisah. Napasnya memburu pendek. Dia takut. Dia takut setengah mati jika sampai ketahuan oleh mamanya kalau dia mengacaukan jadwal rumah sakit kemarin.Kaisar m
“Dokter Arga, IGD sedang kekurangan dokter. Ada pasien banyak kecelakaan. Mohon Anda segera datang ke ruangan. Karena juga ada anak kecil yang terluka akibat terkena pecahan kaca cukup dalam.”Arga menutup panggilan, lalu menyambar masker medis dan memakainya sambil berjalan cepat keluar dari ruang
Elara Art Studio. Tempat ini dibangun Anna dari nol. Sebuah bisnis level menengah di bidang seni lukis yang merangkak dari bawah. Untuk mengenalkan karyanya, Anna masih sering mengikuti pameran bersama, menitipkan lukisan di galeri seni, hingga mengambil proyek mural dan wall printing. Bangunan du
“Bu Anna, lain kali ajari anak Anda untuk bertindak benar. Jangan cari masalah. Anak saya jadi kena mental karena trofinya hancur. Selamat mencari sekolah baru.” Anna menatap tajam. “Mereka bukan anak haram. Dan merekalah pemenang yang sebenarnya. Hanya kalah dengan uang Anda! Lain kali, ajari ana
Pagi harinya, Arga baru kembali ke rumah dengan penampilan kusut, seperti tidak tidur semalaman. Dia melangkah cepat ke kamarnya, tapi saat memegang handle pintu, dia menahan sebentar. Saat ini dadanya sedang tak karuan dan banyak hal yang ingin dikatakan pada Anna. Masuk kamar, dan sangat yaki







