Partager

Bab 38 Seperti Pacaran

Auteur: NFLusica
last update Date de publication: 2026-09-28 16:08:00

Javier mengunci pintu ruang 01 di belakangnya sebelum menjawab. "Boleh. Tapi jangan kaget kalau tiba-tiba ada yang liatin kita berdua jalan bareng."

Sedikit heran dengan peringatan itu, Andin bertanya balik. "Emangnya kenapa kalau ada yang liatin, Dok? Kita cuma makan bakmi, kan?"

"Nggak apa-apa. Cuma daerah sini banyak yang kenal saya sebagai dokter, bukan sebagai orang yang lagi kencan," terang Javier singkat, tidak menjelaskan lebih jauh dari itu.

Andin berhenti, baru sadar ini akan jadi per
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 40 Bisa Dipakai Kapanpun

    "Suster tau dari mana, soal Sabtu malam kemarin?""Rendi cerita ke saya doang, belum ke yang lain. Ibu cuma mau ingetin, bukan mau ikut campur urusan Dokter Javier," jelas Suster Marni, nadanya lebih ke perhatian daripada teguran.Andin mengangguk pelan, mencoba mencerna nasihat itu tanpa terlihat terlalu panik. "Makasih, Suster. Saya akan lebih hati-hati.""Bagus. Sekarang naik aja, Dokter udah nunggu di atas," ucap Suster Marni sambil kembali fokus ke berkas-berkasnya, seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.Andin naik ke lantai 2 dengan pikiran yang masih berkecamuk, teguran halus Suster Marni terasa seperti peringatan pertama dari dunia luar yang mulai mengintip ke dalam hubungan mereka."Kalau Suster Marni aja udah ngingetin, berarti Rendi udah cerita ke lebih dari satu orang. Ini baru awal, atau udah mulai nyebar ke mana-mana?"Begitu sampai di ruang 01, dia mendapati Javier sedang berdiri di depan meja kerjanya, ditemani seorang perempuan berpakaian formal yang tidak dia k

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 39 Kehidupan Normal

    Andin menyeruput es tehnya sambil memperhatikan sekeliling warung, mengamati wajah-wajah lelah para pekerja shift malam yang datang silih berganti. Suasananya jauh berbeda dari ruang praktik ber-AC yang selama ini jadi dunia mereka."Dok, boleh saya tanya sesuatu yang nggak ada hubungannya sama modul?" tanya Andin, sedikit ragu memulai topik baru."Boleh. Kita lagi makan, bukan lagi kerja," jawab Javier santai, mengaduk mangkuknya sendiri."Dokter suka nggak, sih, hidup kayak gini? Maksud saya, jauh dari klinik, dari pasien, dari semua urusan formal," tanya Andin, penasaran dengan sisi Javier yang jarang dia lihat.Javier terdiam sesaat sebelum menjawab, seperti belum pernah ditanya hal semacam itu sebelumnya. "Suka. Cuma jarang punya kesempatan buat ngerasain ini."Jawaban singkat itu membuat Andin merasa sedikit sedih memikirkan betapa sibuknya hidup Javier selama ini, sampai hal sesederhana makan bakmi di pinggir jalan terasa seperti kemewahan tersendiri baginya.Sebuah motor bebek

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 38 Seperti Pacaran

    Javier mengunci pintu ruang 01 di belakangnya sebelum menjawab. "Boleh. Tapi jangan kaget kalau tiba-tiba ada yang liatin kita berdua jalan bareng."Sedikit heran dengan peringatan itu, Andin bertanya balik. "Emangnya kenapa kalau ada yang liatin, Dok? Kita cuma makan bakmi, kan?""Nggak apa-apa. Cuma daerah sini banyak yang kenal saya sebagai dokter, bukan sebagai orang yang lagi kencan," terang Javier singkat, tidak menjelaskan lebih jauh dari itu.Andin berhenti, baru sadar ini akan jadi pertama kalinya mereka berjalan berdampingan di tempat umum, bukan lagi di dalam ruangan tertutup yang selama ini jadi dunia mereka berdua."Ini pertama kalinya kita jalan bareng di luar. Kenapa rasanya lebih deg-degan daripada waktu tadi di ruang 01?"Mereka keluar lewat pintu samping klinik yang biasa dipakai Andin naik ke lantai 2, lalu berbelok ke trotoar yang menghubungkan Jalan Senopati dengan gang kecil tempat warung bakmi itu berdiri. Udara malam terasa lebih dingin daripada biasanya, atau

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 37 Belajar Lebih Cepat

    Suara Javier sendiri sudah tidak sepenuhnya stabil waktu Andin berbisik menggoda. "Kenapa? Ini beneran susah buat Dokter?"Javier membuka matanya sedikit, menatap Andin dengan pandangan yang tidak pernah Andin lihat sebelumnya, campuran antara kagum dan pasrah yang aneh. "Susah. Kamu belajar terlalu cepat.""Dokter nyesel buat aturan yang sekarang, Dok?" goda Andin, sengaja memperlambat gerakannya sedikit untuk melihat reaksi itu."Belum tau. Tanya saya lagi lima menit dari sekarang," gumam Javier, suaranya sendiri sudah terdengar berbeda dari biasanya, lebih rendah dan lebih pendek-pendek.Kalimat itu keluar terputus-putus, jauh dari kalimat panjang dan tersusun rapi yang biasa dia pakai. Untuk laki-laki yang selalu punya jawaban siap untuk apa pun, ketidaksanggupannya menyusun kalimat malam ini terasa seperti kemenangan tersendiri bagi Andin.Menikmati kemenangan kecil itu, Andin bertanya lagi sambil sedikit memperlambat gerakannya. "Belajar dari siapa sih, Dok? Bukannya Dokter yang

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 36 Ja-jangan Buru-Buru

    Andin mengangkat kedua tangannya, meletakkannya pelan di dada Javier, merasakan detak jantung yang ternyata sudah tidak sepelan biasanya. Dia mendongak, sedikit terkejut mendapati Javier ternyata juga gugup malam ini."Jantung Dokter cepet banget. Kayaknya lebih cepet dari punya saya waktu Dokter periksa denyut saya dulu," ucap Andin, setengah tidak percaya dengan temuannya sendiri. "Apa Dokter juga segugup saya sekarang?""Kamu baru sadar saya juga manusia?" balas Javier, nada kering khasnya sedikit goyah di ujung kalimat."Bukan baru sadar, cuma baru berani ngomong langsung," balas Andin, sedikit menantang.Tawa kecil lolos dari Javier mendengar itu, singkat tapi jelas, membuat keberanian Andin perlahan tumbuh bersamaan dengan tawa itu. Jemarinya mulai membuka kancing kemeja Javier satu per satu, berhenti di kancing kelima sesuai batas yang tadi disebutkan, membiarkan sisa kemeja itu tetap menutupi bahu dan lengannya."Kulitnya beda banget sama pas dia yang megang aku. Kenapa aku ya

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 35 Sekarang... gantian

    "Dok, boleh saya nanya satu hal dulu sebelum Dokter pergi?" tanya Andin sambil menahan tangan Javier yang hendak bangkit dari ranjang."Boleh," jawab Javier, kembali duduk di tepi ranjang."Tadi Dokter bilang empat hari ini kerasa lama. Maksudnya lama gimana?" tanya Andin, suaranya masih lemas tapi penasarannya jelas terdengar.Javier terdiam sebentar, seperti menimbang kalimat yang tepat. "Maksudnya, saya kebiasaan denger suara kamu tiap hari, terus tiba-tiba nggak ada. Rasanya aneh, dan saya nggak suka rasa aneh itu."Jawaban itu membuat dada Andin hangat, jauh lebih hangat daripada selimut tipis yang membungkus tubuhnya. Dia tersenyum sendiri, terlalu lelah untuk membalas dengan kata-kata yang sepadan.Andin mengangguk lemah, membiarkan matanya terpejam sementara Javier bangkit menuju area pribadi di balik pintu tebal. Dalam kehangatan selimut dan kelelahan yang menyenangkan itu, dia mendengar ponselnya bergetar dari dalam tas, tapi tubuhnya terlalu lemas untuk bergerak memeriksany

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status