MasukDengan perlahan, Nabila menikmati mie tektek miliknya, sang suami pun begitu. Fahmi berusaha menelan makanannya, meskipun di depannya ada dua orang yang sudah membuatnya sebal.
Pegawai warung tenda itu berjalan membawa pesanan Marsha, lalu menaruhnya di atas meja. Dengan senyum ramah, ia mempersilakan pembelinya untuk makan.“Makasih, ya, Mas…” ucap Marsha ramah.Si pegawai mengangguk, lalu berjalan kembali ke arah gerobak.Marsha memandangi mie tektekMenjalani hari-hari seperti biasanya, rumah sakit masih kedatangan mahasiswa kebidanan yang sedang PKL. Setelah kemarin Gladys sempat nekat mencoba menggoda Fahmi, mulai hari ini dilakukan rotasi antara Gladys dan Murni. Murni yang akan asistensi bersama Nabila dan Fahmi di poli. Gadis pendiam dan kaku itu telah datang lebih pagi, ia menunggu jadwal poli dimulai. Ia tersenyum sopan saat melihat Nabila dan Fahmi datang. “Selamat pagi, Dokter Fahmi dan Kak Nabila,” sapanya sopan walaupun masih terasa kaku. Fahmi membalas dengan senyum ramah. “Pagi, Murni…” balas Nabila ramah. Sebelum waktu praktik poli dimulai, Fahmi dibantu oleh Nabila dan Murni melakukan persiapan. Semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada acara yang mencoba mengusik ketentraman rumah tangga dokter obgyn dan bidan asistennya itu. Batang hidung Gladys jarang terlihat, baguslah memang itu yang diharapkan. Kalau sampai ia masih nekat mencoba mendekati Fahmi, a
Mendengar ucapan permohonan maaf dari Murni, sepertinya anak itu benar-benar tulus dan menyesali perbuatannya. Fahmi menerima maaf tersebut, namun jika terulang lagi, ia tak akan segan memberikan balasan. Fahmi dan Nabila melangkah pergi meninggalkan Murni yang masih berdiri di belakang mereka. Nabila menoleh ketika sudah beberapa langkah berjalan, ia melihat Murni yang memandangnya dengan tatapan merasa bersalah. “Kak, maafkan saya…” Murni menangkupkan kedua telapak tangannya di dada. Suara Murni memang tak terdengar, namun Nabila bisa membaca gerakan bibirnya. Nabila mengangguk, lalu kembali menatap ke arah depan. Fahmi mengajak Nabila kembali ke ruang poli, ia cukup lega telah menyampaikan langsung pada Murni soal keresahan yang dirasa. Setelah tiba di ruang poli, Fahmi mengajak istrinya duduk di kursi di depan meja kerja. Ia duduk memiringkan kursi menghadap sang istri. Helaan napas Fahmi terasa dan terlihat oleh Nabila. Pria itu
Sesuai dengan rencana, Fahmi akan menemui Murni terkait benda yang ada di dalam tas Nabila kemarin sore. Setelah makan siang dan salat zuhur, ia berjalan menuju instalasi kebidanan dan kandungan bersama sang istri. Tepat sekali, saat tiba di sana, sosok yang dicari sedang duduk bersama bidan dan perawat senior. Murni nampak menyimak yang sedang dijelaskan oleh salah seorang bidan, namun diskusi itu bukanlah terkait perkuliahan atau tugasnya di sini. Kehadiran Nabila dan Fahmi menghentikan diskusi mereka. Semuanya memberi salam ramah dan sopan pada Fahmi, begitu juga Nabila. Murni cukup terkesiap saat melihat Nabila datang, ditambah bersama suaminya. Murni teringat dengan kejadian kemarin, ia memang memaksa Nabila menerima benda pelindung pemberiannya. Ia memaksa memberikan itu bukan tanpa alasan. Ia pun merasa, kehadiran Fahmi di sini pasti akan mengeinterogasinya. “Murni, bisa bicara sebentar?” tanya Fahmi langsung tanpa basa basi lagi.
Cukup mengagetkan tiba-tiba Gladys, mahasiswa PKL ini duduk di hadapan Fahmi, terkesan kurang sopan. Apalagi ketika ia berbicara dengan lemah lembut mendayu, terdengar mencoba merebut perhatian. Fahmi bersikap datar menanggapi tingkah gadis tersebut. Saat masih lajang, ia cukup sering mendapati perlakuan serupa. “Terima kasih, tapi, maaf, saya mau makan sama istri saya,” tolak Fahmi dengan sopan, namun tajam. Gladys melongo mendengar jawaban Fahmi. Ia mengira dokter obgyn ini masih lajang, atau jikalau sudah menikah, tetap akan menerima tawarannya. Ternyata tak semudah itu, walaupun dari segi penampilan, Gladys cukup menarik. “Dokter sudah menikah, ya?” tanya Gladys tak percaya, berharap Fahmi bercanda. “Sudah,” jawab Fahmi singkat. “Yang bantuin kamu asistensi di sini itu istri saya,” lanjut Fahmi menerangkan. Gladys makin melongo tak percaya. “Bidan Nabila?” ia membeo. “Iya, betul. Satu rumah sakit ini, dia perempuan yang
Kemarin sudah berganti hari ini. Beberapa hal terjadi yang membuat kaget, sampai ketakutan. Sampai detik ini, di kepala Nabila masih terbayang, bagaimana benda itu bisa masuk ke dalam tasnya. Memikirkannya tentu saja membuat merinding. Fahmi dan Nabila sudah berangkat bekerja, mereka berangkat lebih pagi dari biasanya. Pagi ini, isi kepala Nabila sudah dipenuhi oleh bayang-bayang bagaimana nanti Gladys—mahasiswa PKL—yang akan bekerja dengannya dan Fahmi di poli. Nabila menghela napasnya, mencoba untuk berpikir positif. Ia khawatir sekali dengan janinnya yang akan ikut berpikir keras, karena selama hamil ini menjadi lebih sensitif. Mobil yang dikendarai oleh Fahmi, kini sudah tiba di area parkir rumah sakit. Sebelum turun, Nabila sempat memperhatikan pohon nangka yang tumbuh di dekat parkiran khusus mobil. Tak ada keanehan pada pohon tersebut, buahnya yang lebat justru memberikan kesan yang subur pada tumbuhan itu. “Nangkanya udah ada yang mata
“Aaarrrghhh…” Teriakan dari dalam kamar langsung membuat Fahmi spontan menaruh gelas yang sedang dipakainya minum air es. Ia berlari menuju kamar, teriakan sang istri begitu mengagetkannnya dan khawatir sesuatu yang membahayakan terjadi. Fahmi menemukan Nabila yang masih berbalut handuk sehabis mandi. Wajah cantiknya ketakutan, tubuhnya bergetar. Saat masuk ke kamar, ia memang tak menemukan kejanggalan, namun sang istri mengatakan ada suatu benda di dalam tasnya. Benda itu sudah berada di tangan Fahmi, dengan runut walaupun agak tersengal, Nabila menceritakan kejadian yang menimpa dirinya saat siang tadi. Entah apapun namanya, jimat atau mungkin media untuk mencelakai, benda ini harus dimusnahkan segera. Fahmi menghela napasnya dengan berat dan gusar. Ia geram sekali saat mendapati benda itu tiba-tiba di dalam tas istrinya. “Aku kaget banget, pas mau ambil HP, tahu-tahu udah ada aja barang itu,
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i
Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.
"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter







