LOGIN“Hayo… mikirin apa kamu?” Pertanyaan itu lantas langsung membuat Nabila tersipu malu. Wajahnya memerah menahan malu, bisa-bisanya ia terlena lupa mengendalikan ekspresinya.
‘Arrgghhh… malu banget!’ Seru Nabila dalam hatinya. Kedua tangannya spontan menutupi wajah. Gerakan ini justru membuatnya semakin terlihat jika sedang memikirkan hal yang mengarah ke… eh, bukan-bukan. Nabila menurunkan kedua tangannya yang menutupi wajah. Ia mencoba memandang sang suami yangDengan senyum hangat Nabila mengantarkan sang suami yang akan berangkat ke rumah sakit lain dari area parkir ini. Fahmi yang sedang kecintaan sekali dengan sang istri, rasanya tak mau jauh-jauh dari wanitanya itu. Kaca mobil telah ditutup, Fahmi menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit yang cukup besar itu. Dari kaca spion, mata Fahmi masih mendapati istrinya berdiri di tempat parkir, arah pandangannya juga tertuju pada mobilnya. Kini, roda mobil yang bergerak berputar itu telah membawa Fahmi keluar dari area rumah sakit. Sosok istrinya sudah tak tertangkap lagi dari kaca spion. Fahmi harus bersabar, sore nanti ia akan bertemu lagi dengan sang istri. Mobil Fahmi sudah tak ada lagi di area parkir, Nabila memutar balik tubuhnya, lalu berjalan masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit. Tingkah sang suami yang tak mau berpisah dengannya sungguh menggemaskan. Kalau, tidak menikah dengan atasannya itu, ia tak akan tahu sisi lain seorang dr. Fahmi Ibr
Mata Fahmi melirik sang istri yang terkejut dengan jawabannya. Ia tersenyum menggoda, jawaban itu memang benar adanya. Ia tidak keceplosan sama sekali. “Beneran, Mas?” Nabila berharap suaminya bercanda. Fahmi mengganti senyumnya menjadi hangat sembari menatap sang istri. “Maaf, ya, mau nyebut nama kamu langsung, rasanya lidah agak kaku,” jelasnya. “Iya, tapi…” Nabila menatap suaminya. “Kalo lagi kerja, kan nggak enak, nanti dikira nggak profesional,” lanjutnya. Fahmi paham, ia juga sudah tahu arah pembicaraan sang istri. Besok-besok saat sedang bekerja ia tidak akan memanggil istrinya dengan sebutan ‘sayang’ lagi. “Iya, Sayang…” ucapnya paham. Nabila tersenyum hangat, lalu Fahmi beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar dari balik meja mengulurkan tangan pada istrinya. Uluran tangan itu disambut, mereka berjalan keluar dari ruang poli menuju kantin rumah sakit. Sembari berjalan melewati koridor yang menghubungkan antara ru
“Sayang, HPHT Ibu Marisa tanggal berapa tadi?” suara Fahmi yang tenang dan santai terdengar menggema di telinga Nabila. Seolah mulutnya sudah terbiasa dengan panggilan tersebut. Begitu juga dengan pasien dan pendamping yang turut terkejut pada panggilan yang diucapkan dokter obgyn tersebut. Tanga Fahmi memegang doppler, ia sudah siap untuk melakukan pemeriksaan USG pada pasiennya. Ia duduk di hadapan layar dan mesin USG, serta di samping pasiennya yang sudah terbaring. Nabila belum menjawab, ia memeriksa dokumen berisi rekam medis pasien. “12 September, Dok,” jawabnya. Sebetulnya ia ingin tertawa saat sang suami keceplosan memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’, namun di satu sisi juga, ia merasa bahagia. “Nah iya tanggal itu, Dok,” timpal pasien dengan senyum nyengir masih terbawa kaget saat dokter yang hendak memeriksanya ini mengucap kata ‘sayang’. Pasien ini bingung panggilan itu ditujukan ke siapa, namun dijawab langsung oleh bidan asistennya.
Langkah kaki Nabila dan Fahmi sudah sampai di Instalasi Kebidanan dan Kandungan. Nabila segera mengisi daftar hadir di mesin pemindai jari. Kehadirannya di sini belum mencuri perhatian, di koridor mereka hanya berpapasan dan menyapa saja. “Udah absennya,” ucap Nabila saat selesai melakukan absen. Ia hendak berbalik badan mengajak suaminya kembali ke ruang poli. Niat hatinya mau masuk ke ruang jaga, namun rasanya maju mundur. “Nggak masuk dulu? Menyapa teman-teman,” ucap Fahmi menawarkan istrinya untuk menyapa rekan-rekan kerjanya. Nabila tersenyum kikuk. “Eh, iya ya, tapi…” Fahmi tersenyum, ia mengerti maksud istrinya. Wanitanya itu pasti merasa tidak enak hati. “Aku tunggu di sini aja,” ucapnya. Fahmi memberikan ruang untuk Nabila agar merasa lebih leluasa menyapa rekan-rekannya. Ia juga paham, kehadirannya di sini mungkin akan dianggap berlebihan. Nabila mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya, ia pun berjalan masuk ke dalam rua
Gedung rumah sakit yang berdiri gagah, halaman parkirnya yang luas, pohon-pohon rindang teduh tertanam di sekitarnya, taman yang terletak di samping kiri, dan hamparan rumput hijau lapangan sepak bola tepat di belakang. Pintu lobby yang terbuka tutup otomatis, pengunjung, karyawan, tenaga kesehatan, dan tenaga medis silih berganti keluar masuk. Suasana pagi ini cukup sibuk seperti biasanya dipenuhi oleh pasien rawat jalan, sedangkan di IGD nampak tenang. Aroma rumah sakit yang khas, suara derap langkah perawat dan dokter, roda brankar dan kursi roda yang berdecit melawan lantai keramik. Aroma dan suara-suara itulah yang ternyata membuat rindu. Langkah Fahmi dan Nabila sudah jauh meninggalkan mobilnya yang terparkir di area khusus dokter. Pintu lobby terbuka otomatis saat keduanya hendak masuk, senyum sapa ramah dari sekuriti menyambut kedatangan mereka. Dengan hal yang sama pula, Fahmi dan Nabila membalas. Banyak mata yang terpaku pada kedatan
Sarapan sederhana yang sehat itu sudah habis disantap oleh Fahmi dan Nabila. Kini, keduanya bersiap berangkat menuju tempat kerja, aroma-aroma rumah sakit sudah sampai di hidung mereka. Tak dapat dipungkiri, ada kerinduan pada gedung yang telah menyatu dengan jiwa mereka berdua. Gedung rumah sakit dan nyawanya yang mengisi hari-hari Fahmi dan Nabila. Rasanya sudah seperti mendarah-daging. Nabila membawakan snelli suaminya ke dalam mobil, jas putih itu habis dicuci di binatu beberapa hari yang lalu. Sebetulnya, Fahmi ingin membawa benda itu dengan tangannya sendiri, namun sang istri dengan halus dan tulus mau membawakannya. “Mas, aku juga mau melayani suami seperti ini, bukan hanya di ranjang,” ucap Nabila halus. Ia menatap lekat wajah tampan suaminya. Fahmi tersenyum tipis yang manis. Ia senang juga diperlakukan seperti ini. “Terima kasih, ya…” ucapnya lembut. Nabila mengerling manja, lalu ia berjalan menuju mobil yang sedang dipanas
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b







