Share

Bab 16 Insecure

Author: Nisa Hikaru
last update publish date: 2026-06-13 17:39:18

Malam ini, Nabila menjumpai Fahmi dengan mode lain. Berbeda sekali dengan saat sedang bekerja.

Tampilannya sederhana, kasual, tapi semakin menguatkan auranya.

Nabila yakin sekali, jika rekan-rekannya melihat Fahmi dalam penampilan seperti malam ini, mereka akan terkagum-kagum. Dirinya sendiri pun tadi sempat terpana.

Wangi aroma parfum Fahmi tentu juga menambah skor penampilannya.

Nabila terus berjalan mengikuti Fahmi, hingga lel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 166 Terima Kasih

    Mendengar ucapan permohonan maaf dari Murni, sepertinya anak itu benar-benar tulus dan menyesali perbuatannya. Fahmi menerima maaf tersebut, namun jika terulang lagi, ia tak akan segan memberikan balasan. Fahmi dan Nabila melangkah pergi meninggalkan Murni yang masih berdiri di belakang mereka. Nabila menoleh ketika sudah beberapa langkah berjalan, ia melihat Murni yang memandangnya dengan tatapan merasa bersalah. “Kak, maafkan saya…” Murni menangkupkan kedua telapak tangannya di dada. Suara Murni memang tak terdengar, namun Nabila bisa membaca gerakan bibirnya. Nabila mengangguk, lalu kembali menatap ke arah depan. Fahmi mengajak Nabila kembali ke ruang poli, ia cukup lega telah menyampaikan langsung pada Murni soal keresahan yang dirasa. Setelah tiba di ruang poli, Fahmi mengajak istrinya duduk di kursi di depan meja kerja. Ia duduk memiringkan kursi menghadap sang istri. Helaan napas Fahmi terasa dan terlihat oleh Nabila. Pria itu

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 165 Mohon Maaf

    Sesuai dengan rencana, Fahmi akan menemui Murni terkait benda yang ada di dalam tas Nabila kemarin sore. Setelah makan siang dan salat zuhur, ia berjalan menuju instalasi kebidanan dan kandungan bersama sang istri. Tepat sekali, saat tiba di sana, sosok yang dicari sedang duduk bersama bidan dan perawat senior. Murni nampak menyimak yang sedang dijelaskan oleh salah seorang bidan, namun diskusi itu bukanlah terkait perkuliahan atau tugasnya di sini. Kehadiran Nabila dan Fahmi menghentikan diskusi mereka. Semuanya memberi salam ramah dan sopan pada Fahmi, begitu juga Nabila. Murni cukup terkesiap saat melihat Nabila datang, ditambah bersama suaminya. Murni teringat dengan kejadian kemarin, ia memang memaksa Nabila menerima benda pelindung pemberiannya. Ia memaksa memberikan itu bukan tanpa alasan. Ia pun merasa, kehadiran Fahmi di sini pasti akan mengeinterogasinya. “Murni, bisa bicara sebentar?” tanya Fahmi langsung tanpa basa basi lagi.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 164 Jangan Ganggu

    Cukup mengagetkan tiba-tiba Gladys, mahasiswa PKL ini duduk di hadapan Fahmi, terkesan kurang sopan. Apalagi ketika ia berbicara dengan lemah lembut mendayu, terdengar mencoba merebut perhatian. Fahmi bersikap datar menanggapi tingkah gadis tersebut. Saat masih lajang, ia cukup sering mendapati perlakuan serupa. “Terima kasih, tapi, maaf, saya mau makan sama istri saya,” tolak Fahmi dengan sopan, namun tajam. Gladys melongo mendengar jawaban Fahmi. Ia mengira dokter obgyn ini masih lajang, atau jikalau sudah menikah, tetap akan menerima tawarannya. Ternyata tak semudah itu, walaupun dari segi penampilan, Gladys cukup menarik. “Dokter sudah menikah, ya?” tanya Gladys tak percaya, berharap Fahmi bercanda. “Sudah,” jawab Fahmi singkat. “Yang bantuin kamu asistensi di sini itu istri saya,” lanjut Fahmi menerangkan. Gladys makin melongo tak percaya. “Bidan Nabila?” ia membeo. “Iya, betul. Satu rumah sakit ini, dia perempuan yang

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 163 Ajakan

    Kemarin sudah berganti hari ini. Beberapa hal terjadi yang membuat kaget, sampai ketakutan. Sampai detik ini, di kepala Nabila masih terbayang, bagaimana benda itu bisa masuk ke dalam tasnya. Memikirkannya tentu saja membuat merinding. Fahmi dan Nabila sudah berangkat bekerja, mereka berangkat lebih pagi dari biasanya. Pagi ini, isi kepala Nabila sudah dipenuhi oleh bayang-bayang bagaimana nanti Gladys—mahasiswa PKL—yang akan bekerja dengannya dan Fahmi di poli. Nabila menghela napasnya, mencoba untuk berpikir positif. Ia khawatir sekali dengan janinnya yang akan ikut berpikir keras, karena selama hamil ini menjadi lebih sensitif. Mobil yang dikendarai oleh Fahmi, kini sudah tiba di area parkir rumah sakit. Sebelum turun, Nabila sempat memperhatikan pohon nangka yang tumbuh di dekat parkiran khusus mobil. Tak ada keanehan pada pohon tersebut, buahnya yang lebat justru memberikan kesan yang subur pada tumbuhan itu. “Nangkanya udah ada yang mata

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 162 Musnah

    “Aaarrrghhh…” Teriakan dari dalam kamar langsung membuat Fahmi spontan menaruh gelas yang sedang dipakainya minum air es. Ia berlari menuju kamar, teriakan sang istri begitu mengagetkannnya dan khawatir sesuatu yang membahayakan terjadi. Fahmi menemukan Nabila yang masih berbalut handuk sehabis mandi. Wajah cantiknya ketakutan, tubuhnya bergetar. Saat masuk ke kamar, ia memang tak menemukan kejanggalan, namun sang istri mengatakan ada suatu benda di dalam tasnya. Benda itu sudah berada di tangan Fahmi, dengan runut walaupun agak tersengal, Nabila menceritakan kejadian yang menimpa dirinya saat siang tadi. Entah apapun namanya, jimat atau mungkin media untuk mencelakai, benda ini harus dimusnahkan segera. Fahmi menghela napasnya dengan berat dan gusar. Ia geram sekali saat mendapati benda itu tiba-tiba di dalam tas istrinya. “Aku kaget banget, pas mau ambil HP, tahu-tahu udah ada aja barang itu,

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 161 Teriakan

    Seperti biasanya, Fahmi menjemput Nabila setelah selesai bertugas di rumah sakit lain. Pria 35 tahun itu menggandeng tangan sang istri sembari berjalan menuju mobil terparkir. Angin sore itu berembus cukup kencang, langit nampak agak gelap berselimut awan mendung. “Kayaknya mau hujan,” ujar Fahmi sambil menengok ke arah langit. Nabila agak terkesiap saat mendengar ujaran sang suami, ia sedang kurang fokus gara-gara dua hal yang menimpanya tadi. Pertama, soal mahluk halus dan benda pelindung alias jimat dari Murni tadi. Kedua, Gladys, mahasiswa PKL dengan penampilan agak mencolok yang akan membantunya asistensi di poli mulai besok. “Kenapa, Mas?” tanya Nabila bingung. “Mau hujan,” jawab Fahmi, lalu ia menoleh pada Nabila. “Kenapa, Sayang? Seperti ada sesuatu yang mengganjal,” selidiknya. Nabila tersenyum kecil. “Nggak kok, Mas,” jawabnya berusaha menutupi apa yang sedang berkeliling di dalam kepalanya. “Beneran?” Fahmi menco

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 8 Bukan Hari yang Tenang

    Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 7 Melawan Takut

    Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 6 Tolong

    Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 5 Insiden

    Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status