Share

Bab 16 Insecure

Author: Nisa Hikaru
last update publish date: 2026-06-13 17:39:18

Malam ini, Nabila menjumpai Fahmi dengan mode lain. Berbeda sekali dengan saat sedang bekerja.

Tampilannya sederhana, kasual, tapi semakin menguatkan auranya.

Nabila yakin sekali, jika rekan-rekannya melihat Fahmi dalam penampilan seperti malam ini, mereka akan terkagum-kagum. Dirinya sendiri pun tadi sempat terpana.

Wangi aroma parfum Fahmi tentu juga menambah skor penampilannya.

Nabila terus berjalan mengikuti Fahmi, hingga lel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 27 Siapa sih Dia?

    Mobil Fahmi sudah tiba di depan rumah Nabila. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam setelah Nabila menanyakan soal konsep akad dan resepsi. Mata Fahmi yang fokus ke jalan, membuat Nabila tak berani untuk bertanya hal lain. Padahal banyak pikirannya yang tidak paham akan pernikahannya sendiri. “Terima kasih, Mas,” ucap Nabila setelah melepas sabuk pengaman. Fahmi menoleh pada Nabila, ia tersenyum tulus dan mengangguk. “Salam buat Papa dan Mama, ya,” ucapnya halus. Nabila mengangguk. “Iya, Mas, nanti disampein salamnya.”Ia masih duduk di kursi sebelah kemudi, tampangnya seperti menunggu sesuatu. Dengan malu-malu, Nabila melirik Fahmi. “Oh,” Fahmi bangkit dari duduknya, keluar dari mobil. Dari wajahnya tersemat senyum jenaka. Ia berjalan menuju pintu samping kursi penumpang, lalu membukakannya untuk Nabila. Nabila tersenyum malu-malu melihat tindakan Fahmi. Kode-kodenya berhasil dilakukan, meskipun ia sendiri merasa malu, n

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 26 Masih Tentang Gaun

    Kebahagiaan saat mengenakan gaun pilihannya itu, seketika luntur. Ucapan yang keluar dari mulut Fatimah seperti membungkam hati Nabila yang tengah bersukacita. Kedua tangannya yang memegang bagian rok gaun itu, perlahan terlepas. Nabila menunduk, lalu menatap Fahmi. Lelaki di hadapannya itu memberi senyum tulus untuk menyemangati calon istrinya. “Tolong yang ini juga di-keep, ya, Tante,” ujar Fahmi. Ia tak mau berdebat atas pilihan siapa yang dipakai nanti. “Loh, kenapa begitu? Gaun yang ini,” Fatimah menunjuk gaun yang sedang dipakai Nabila. “Gaun yang sederhana banget, nggak cocok loh, imagenya sama keluarga kamu. Kalau pilihan Mamahmu itu baru pas banget, kelihatan mewahnya. Nggak malu apa nanti dilihat sama kolega-kolega orang tuamu?” cerocos Fatimah semakin membuat Nabila pening. Nabila baru mengerti. Memang gaun pilihan calon mertuanya itu terlihat mewah, dan mungkin juga tema pesta resepsinya tidak sederhana. Tapi, ia sendiri juga belum tahu bagaimana konsep resepsin

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 25 Gaun

    Sebuah gaun berwarna abu-abu dengan model empire. Detail tangannya model balon dengan bahan tile yang memberikan kesan mewah. Gaun yang cantik. Selera calon mertuanya bagus juga. Nabila akui itu. Namun, gaun itu tetap tak bisa mencuri hati gadis ini. “Cantik kan? Nggak main-main loh, selera mertua kamu,” ujar Fatimah sembari menyentuh detail lengan gaun itu. Nabila tersenyum nyaris kaku. Ia mengangguk, mau membantah, mengatakan bahwa ia tidak begitu suka dengan model gaun itu, namun tidak berani. Fahmi melirik Nabila, ia memperhatikan ekspresi wajah calon istrinya itu. “Tante, hanya itu gaun pilihan Mamah?” tanya Fahmi. Fatimah mengangguk mantap. “Ya, hanya ini. Sudah lama Mamah kamu tertarik dengan gaun ini. Dia pengen banget loh, menantu atau putrinya pakai gaun ini,” jawab Fatimah semakin membuat Nabila merasa tertekan. Pernikahan adalah salah satu rencana besar dalam h

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 24 Tak Sesuai Ekspektasi

    Nabila melambaikan tangannya pelan sejajar dengan dada, lalu memberi senyum kaku pada rekan-rekannya. Kehadiran mereka di sini malah membuat Nabila merasa terciduk. Dapat dipastikan, ia nanti akan dihujani banyak pertanyaan. Siap-siap saja. Fahmi kembali berjalan, Nabila pun menyusul. Ia tak mempedulikan rekan-rekannya memberi tatapan penuh tanya, heran, dan bingung. Keduanya kembali ke ruang poli. Setiba di ruangan itu, Nabila mengemasi barang-barangnya. Ia mau ke ruang jaga instalasi. Sembari berkemas, perasaannya bercampur cemas terhadap pertanyaan rekan-rekannya nanti. “Bila, motor kamu nanti biar diurus sekuriti,” ucap Fahmi. “Maksudnya, Mas?” Nabila menoleh menatap Fahmi, ia bingung dengan kalimat yang dilontarkan lelaki itu. “Kita kan mau fitting,” jawab Fahmi memperjelas secara singkat.“Oh iya…” Nabila tersenyum kikuk. Ia baru mengerti apa maksud dari perkataan Fahmi. Kemudian, matanya

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 23 Makan di Kantin

    Selama jam praktik poli berlangsung, selama itu pula Nabila dapat menahan rasa penasarannya untuk mendapatkan jawaban atas apa yang dikatakan Aldo pada Fahmi kemarin sore. Pasien terakhir sudah keluar dari ruangan. Jumlah pasien hari ini lebih banyak dari biasanya. Kabar baiknya, semua pasien kooperatif dan terbuka. Nabila melirik Fahmi yang tengah mencatat sesuatu di bukunya. Ia ingin bertanya lagi, tapi rasanya ini masih bukanlah waktu yang tepat. Akhirnya ia memilih untuk mengerjakan pekerjaannya bersama laptopnya itu. “Bila, sore nanti kita fitting, besok baru cek venue,” ucap Fahmi memecah keheningan bercampur kesibukan di antara keduanya. Nabila menoleh ke arah Fahmi, lalu mengangguk. “Oke, Mas,” balasnya halus. Ia pun kembali bekerja. “Kamu mau makan nggak? Kita makan di kantin aja, kalau mau.” Tawar Fahmi, ia nampak tenang sekali saat mengajak calon istrinya itu makan di tempat terbuka.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 22 Nekat

    Nabila terlonjak kaget. Ia berbalik badan, tangannya refleks menepis tangan orang yang menepuk pundaknya. Napasnya naik turun. Seketika rasa takut itu memuncak. “Wah, gerak refleks kamu keren juga.” Puji Aldo, tangannya mengibas-ibas. Lumayan nyeri terkena pukulan Nabila. “Oh, kamu, Do.” Nabila cukup kesal dengan kedatangan Aldo dengan cara seperti itu. Saat ini ia masih gampang terkejut. Apalagi sampai menyentuhnya seperti itu. Aldo berdiri tak jauh dari Nabila. Penampilannya biasa saja, tidak dengan seragamnya. Hari ini ia sedang libur bertugas. Kemunculan Aldo di sini ternyata tidak main-main. Saat siang tadi, laki-laki ini bertanya via pesan perihal apakah Nabila sudah memiliki pasangan. Dengan apa adanya Nabila menjawab, bahwa ia sebentar lagi akan menikah dengan seorang dokter di rumah sakit tempatnya bekerja. Pesan balasan dari Aldo sungguh di luar nalar. Jika statusnya masih calon, berarti ada kesempatan di dalam wa

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 17 Cincin

    Nabila menelan salivanya. Pertanyaan itu terlalu menohok. Ah, tapi kenapa dokter harus selalu menikah dengan sesama dokter? “Calon istri saya ini bidan, Dok,” jawab Fahmi sopan dan ramah. Mendengar jawaban Fahmi, dr. Aziz tersenyum yang terkesan seperti tak enak hati. Ia melih

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 15 Ngedate?!

    Lagi. Baru saja kemarin telinga Nabila mendengar kalimat demi kalimat yang membicarakan dirinya. Pagi ini, baru saja ia tiba, tangannya hendak mengisi daftar hadir di mesin pemindai, kata-kata tak mengenakkan itu hadir lagi. Bukan membahas soal insiden yang menimpanya kemarin,

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 14 Hujan

    Air hujan masih turun dengan santainya mengguyur pagi ini. Senyum kecil mengembang di wajah manisnya, tatkala membaca dan melihat pesan dari sang calon suami. Rasa hangat memenuhi relung dada Nabila. Ia belum mengetikkan pesan balasan. Ia tengah mematuti foto berbagai model cincin

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 13 Bagaimana Jadi Istri yang Baik?

    Hanya satu kata yang dikirim Fahmi sebagai balasan. Setelah menunggu lebih dari 10 menit, balasan itu datang, namun harapan Nabila menginginkan lebih. Layar ponselnya masih menampilkan balasan Fahmi yang super singkat itu. Tak ada pertanyaan lagi yang bisa Nabila jawab. Padahal bisa men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status