LOGINMalam ini, Nabila menjumpai Fahmi dengan mode lain. Berbeda sekali dengan saat sedang bekerja.
Tampilannya sederhana, kasual, tapi semakin menguatkan auranya. Nabila yakin sekali, jika rekan-rekannya melihat Fahmi dalam penampilan seperti malam ini, mereka akan terkagum-kagum. Dirinya sendiri pun tadi sempat terpana. Wangi aroma parfum Fahmi tentu juga menambah skor penampilannya. Nabila terus berjalan mengikuti Fahmi, hingga lelLega. Itulah perasaan yang tergambar dari raut wajah Kania. Prasangka buruk yang sempat ia tujukan pada Fahmi, kini sudah terbuang. Saat mengetahui fakta soal percintaan masa lalu sang suami, kaget bercampur sakit hati menjadi satu. Kania lebih memilih diam, ia masih bersikap seperti biasa terhadap Rafli, namu diam-diam ia mencari tahu hingga bisa menginjakkan kaki di rumah sakit ini. Dalam rencananya, ia belum akan menemui Fahmi, karena berdasarkan info yang ia tahu, teman suaminya itu sedang berbulan madu. Akan tetapi, rencana Tuhan menjadikan teka-teki itu terjawab di hari ini. Pertemuannya dengan Marsha tadi berlangsung baik-baik saja. Ia berbicara dan berusaha untuk mengontrol emosi dengan baik. Begitu pula dengan Marsha yang menyambut baik ajakan Kania. Di usia yang sudah kepala tiga lebih ini, mereka lebih memilih untuk berbicara dengan kepala dingin. Marsha sendiri ingin semuanya jelas dari sudut pandang masing-masing. Argumen demi arg
“Dokter Fahmi…” Suara yang terasa tidak asing, namun sudah cukup lama tidak terdengar. Fahmi menghentikan pandangannya, ia menoleh ke arah sumber suara tersebut. Seorang perempuan berhijab yang sudah Fahmi kenali saat masih menjadi dokter umum, berdiri tak jauh di belakangnya. Perempuan itu tersenyum ramah dan sopan padanya. Perempuan itu adalah Kania, istrinya Rafli. Saat di kantin tadi siang, Fahmi sempat bertemu dan Kania juga menyapanya. Terakhir pertemuan antara keduanya saat resepsi pernikahan Fahmi, namun sebelum itu cukup lama tidak bersua. Apalagi Rafli sudah bertugas di rumah sakit di kota yang lain. Fahmi tersenyum tipis yang ramah membalas Kania. “Oh, Ners Kania,” ucapnya. “Maaf Dok, apa Dokter sedang sibuk?” tanya Kania sopan. Ia masih berdiri di tempatnya. “Nggak, saya sama istri lagi nunggu taksi datang,” jawab Fahmi. Kania melirik ke sekitar Fahmi yang kosong, hanya ada dokter obgyn itu sendirian s
“Aamiin…” Nabila mengaminkan ucapan yang berisi harapan tersebut. Ia tak menyanggah dengan pertanyaan, kenapa tidak melakukan ANC sendiri saja, toh bisa menghemat biaya, tidak perlu ke dokter obgyn lain. Namun, ia mengerti maksud sang suami. Fahmi mengubah sudut pandangnya sebagai pasien. Ia ingin merasakan hal itu bersama sang istri. Bagaimana rasanya melakukan pemeriksaan kehamilan, mendengar penjelasan dokter tentang kesehatan ibu dan janin. Meskipun, nanti ia juga tahu penjelasan tersebut. Sebuah pemikiran pun terlintas di benak Nabila. “Mas, apa nggak bakalan grogi, dokter obgyn periksa kehamilan istrinya ke obgyn lain?” Fahmi tersenyum tipis. Ada benarnya pertanyaan sang istri. Juga terkesan seperti mengetes kemampuan sesama sejawat. “Betul juga pertanyaan kamu, nanti Mas pertimbangkan lagi, mau ANC sendiri atau ke dokter lain,” jawabnya dengan tenang. Nabila mengangguk. Ia mengikuti saja apa yang dikatakan sang suami. “Mas mau
Nabila menyadari gerak-gerik sang suami yang terlihat tidak seperti biasa. Tiba-tiba sekali, padahal baru saja mereka berlaku seperti biasanya, bercanda, mengobrol, dan saling menggoda. Dokter obgyn tampan itu nampak berhenti sejenak, matanya tertuju pada sebuah meja yang ditempati oleh dua orang perempuan. Letak meja itu tak jauh dari tempat yang dipilih Nabila. Satu perempuan tersebut Nabila kenali, namun satunya lagi terasa familiar. Kania duduk berhadapan dengan Marsha, posisinya pas sekali untuk dapat bertemu pandang dengan Fahmi yang tengah berdiri tak jauh darinya. Matanya pun langsung tertuju pada teman suaminya itu, sama-sama saling berpandangan. Fahmi tak dapat menghindar dari pandangan Kania, namun ia bisa bersikap seolah tak peduli dengan kehadiran dua perempuan yang sama-sama mencintai Rafli. Setelah antara mata Fahmi dan Kania saling bertemu, Fahmi langsung bergerak lagi seolah tak terjadi apa-apa. Ia langsung meletakkan piringnya di atas
Antara rumah sakit dan diri sendiri seperti sudah memiliki ikatan. Kehidupan Fahmi sedari kecil sudah terbiasa dengan gedung tersebut beserta aktivitas di dalamnya. Memiliki orang tua dengan latar belakang seorang tenaga medis tentu saja membuatnya turut menyelam dalam dunia tersebut. Begitu juga dengan Nabila, meskipun berbeda latar belakang dengan keluarga sang suami, ia sendiri juga sudah memiliki ikatan batin pada dunia kesehatan. Meski kedalaman jarak yang ia selami di dunia ini, tak sedalam Fahmi, di dalam hatinya pekerjaan sebagai tenaga kesehatan sudah menyatu dengan jiwa. Saat pertanyaan perawat senior tersebut terdengar oleh telinga mereka, tentu mengundang rasa geli. Tapi, memang diakui, ada rasa rindu pada dunia tersebut. “Ya, dibilang nggak rindu, gimana ya Pak. Antara saya sama rumah sakit itu sudah mendarah daging,” jawab Fahmi dengan tenang. Perawat tersebut tersenyum. Ia sendiri tahu bagaimana anak dari pemilik rumah sakit ini
Marsha telah berlalu, ia berjalan tanpa menoleh ke kiri dan kanan. Pandangannya lurus ke depan. Langkahnya pun terkesan buru-buru, seperti ada yang sedang ditunggunya. Pandangan Fahmi tertuju pada temannya itu, dilihat dari belakang pun ia mengenali sosok tersebut. Matanya kini beralih pandang pada dr. Reza yang berada di hadapannya. Dokter anestesi itu nampak agak bingung dengan tatapan Fahmi. “Jangan sama beliau, Dok.” Ternyata dr. Reza mengerti maksud pandangan Fahmi. Tangannya pun bergerak melambai pertanda ia menolak untuk dijodohkan dengan Marsha. Fahmi tersenyum pada dr. Reza. “Nggak kok, mungkin bisa tanya sama istri saya.” Ia menoleh pada Nabila. “Sayang, kayaknya temen-temen kamu di instalasi banyak yang belum menikah,” ucap Fahmi. Nabila tak begitu mempedulikan ucapan sang suami, ia justru terpaku pada panggilan ‘sayang’ tersebut. Sebetulnya ia sudah cukup terbiasa dengan panggilan itu, namun karena diucapkan di depan orang lain ia
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b







