LOGINSebuah gaun berwarna abu-abu dengan model empire. Detail tangannya model balon dengan bahan tile yang memberikan kesan mewah.
Gaun yang cantik. Selera calon mertuanya bagus juga. Nabila akui itu. Namun, gaun itu tetap tak bisa mencuri hati gadis ini. “Cantik kan? Nggak main-main loh, selera mertua kamu,” ujar Fatimah sembari menyentuh detail lengan gaun itu. Nabila tersenyum nyaris kaku. Ia mengangguk, mau membantah, mengatakan bahwa ia tidak beMarsha menaruh kembali sendok dan garpunya di pinggir piring, selera makannya sudah benar-benar hilang. Semestinya, pembicaraan ini dilakulan di cafe atau coffee shop saja, seporsi mie tektek yang cukup banyak itu jadi tak termakan. Sedangkan, di coffee shop, Marsha bisa memesan segelas americano hangat dengan sepotong brownies atau cream puff. Perempuan dengan tinggi badan 170 cm itu, menghela napasnya. Hanya itulah yang dapat ia lakukan, mau marah bagaimana, cuma buang-buang energi saja. Dengan helaan napas itulah, Marsha mengikhlaskan hal itu terjadi padanya. Miris memang. Padahal ia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih dari Rafli, namun rasa cintanya yang begitu dalam, membuat logikanya sedikit buntu. “Makasih sudah menjelaskan semuanya, aku mau pulang…” Marsha mengatakan kalimat itu dengan lirih dan pelan. Ia beranjak dari duduknya, matanya tak lagi menoleh ke arah Rafli, ia berjalan melewati Fahmi dan Nabila. “Fahmi, makasih sudah mengawasi kami, tenang aj
Dengan perlahan, Nabila menikmati mie tektek miliknya, sang suami pun begitu. Fahmi berusaha menelan makanannya, meskipun di depannya ada dua orang yang sudah membuatnya sebal. Pegawai warung tenda itu berjalan membawa pesanan Marsha, lalu menaruhnya di atas meja. Dengan senyum ramah, ia mempersilakan pembelinya untuk makan. “Makasih, ya, Mas…” ucap Marsha ramah. Si pegawai mengangguk, lalu berjalan kembali ke arah gerobak. Marsha memandangi mie tektek yang tersaji di hadapannya. Semangkuk mie dengan topping sayur sawi dan sebutir telur yang diorak-arik, aromanya memang sedap, uap-uap panas mengepul di atasnya. “Kenapa dilihatin aja? Kamu masih nggak suka makanan kaki lima kayak gini?” tanya Rafli. Nada pertanyaannya terdengar serius, ia masih ingat bahwa mantan kekasihnya ini tak begitu suka makan di tempat makan seperti ini. Marsha diam, ia tak menjawab pertanyaan Rafli. Untuk beberapa saat Marsha masih dalam diamnya ters
Rafli menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Perutnya yang masih terasa belum kenyang, dan berencana untuk menambah satu porsi mie tektek lagi, tiba-tiba mendadak kenyang saat bertemu dengan Fahmi. Suami dari ners Kania itu tersenyum kikuk memandang teman satu lingkarannya. Bagai dijebak perangkap, bersua dengan Fahmi secara tak sengaja ini benar-benar membuatnya cukup malu. “Kalian nggak bulan madu?” tanya Rafli langsung. Takut Fahmi yang malah menanyainya lebih dulu. “Nanti bulan depan,” jawab Fahmi lugas tanpa ragu. Bahkan, jawabannya itu spontan membuat sang istri menoleh menatapnya kaget. Nabila terkejut dengan jawaban Fahmi, namun ia langsung berpikir, sepertinya sang suami hanya menjawab secara spontan saja agar Rafli tak banyak bertanya. “Oh…” Rafli mengangguk-angguk. Ia pun duduk kembali, tangannya meraih botol air mineral dan meneguk isinya yang tinggal seperempat itu. “Kamu sendiri ngapain di sini sendir
Air wudhu sudah terbasuh pada bagian-bagian tubuh, hal wajib membersihkan diri sebelum menghadap yang Maha Segalanya. Fahmi merapikan celananya yang tergulung saat mengambil wudhu tadi, lalu berjalan menuju shaf yang sudah terisi, tersisa beberapa yang kosong. Cukup banyak jamaah salat maghrib yang didominasi oleh pengunjung, karyawan, tenaga kesehatan, dan tenaga medis. Sebagian dari jamaah yang sadar akan kehadiran Fahmi langsung menyapa dengan ramah dan sopan. Kehadirannya pun tak luput dari pandangan ketua masjid yang hendak melangkah menuju posisi imam, namun segera berbalik. “Masya Allah, ada pengantin baru…” ucap ketua masjid ramah. Ia lalu menyalami Fahmi. Fahmi membalas dengan senyum ramah dan menyambut jabatan tangan tersebut. “Silakan, Dok…” ketua masjid mempersilakan Fahmi untuk memimpin ibadah salat maghrib. “Bapak saja,” tolak Fahmi halus. Ketua masjid tersenyum. “Mari, Dok, sudah lama nggak diimamin sama Dokt
Lega. Itulah perasaan yang tergambar dari raut wajah Kania. Prasangka buruk yang sempat ia tujukan pada Fahmi, kini sudah terbuang. Saat mengetahui fakta soal percintaan masa lalu sang suami, kaget bercampur sakit hati menjadi satu. Kania lebih memilih diam, ia masih bersikap seperti biasa terhadap Rafli, namu diam-diam ia mencari tahu hingga bisa menginjakkan kaki di rumah sakit ini. Dalam rencananya, ia belum akan menemui Fahmi, karena berdasarkan info yang ia tahu, teman suaminya itu sedang berbulan madu. Akan tetapi, rencana Tuhan menjadikan teka-teki itu terjawab di hari ini. Pertemuannya dengan Marsha tadi berlangsung baik-baik saja. Ia berbicara dan berusaha untuk mengontrol emosi dengan baik. Begitu pula dengan Marsha yang menyambut baik ajakan Kania. Di usia yang sudah kepala tiga lebih ini, mereka lebih memilih untuk berbicara dengan kepala dingin. Marsha sendiri ingin semuanya jelas dari sudut pandang masing-masing. Argumen demi arg
“Dokter Fahmi…” Suara yang terasa tidak asing, namun sudah cukup lama tidak terdengar. Fahmi menghentikan pandangannya, ia menoleh ke arah sumber suara tersebut. Seorang perempuan berhijab yang sudah Fahmi kenali saat masih menjadi dokter umum, berdiri tak jauh di belakangnya. Perempuan itu tersenyum ramah dan sopan padanya. Perempuan itu adalah Kania, istrinya Rafli. Saat di kantin tadi siang, Fahmi sempat bertemu dan Kania juga menyapanya. Terakhir pertemuan antara keduanya saat resepsi pernikahan Fahmi, namun sebelum itu cukup lama tidak bersua. Apalagi Rafli sudah bertugas di rumah sakit di kota yang lain. Fahmi tersenyum tipis yang ramah membalas Kania. “Oh, Ners Kania,” ucapnya. “Maaf Dok, apa Dokter sedang sibuk?” tanya Kania sopan. Ia masih berdiri di tempatnya. “Nggak, saya sama istri lagi nunggu taksi datang,” jawab Fahmi. Kania melirik ke sekitar Fahmi yang kosong, hanya ada dokter obgyn itu sendirian s
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b







