Mag-log inNabila terlonjak kaget. Ia berbalik badan, tangannya refleks menepis tangan orang yang menepuk pundaknya.
Napasnya naik turun. Seketika rasa takut itu memuncak.“Wah, gerak refleks kamu keren juga.” Puji Aldo, tangannya mengibas-ibas. Lumayan nyeri terkena pukulan Nabila.“Oh, kamu, Do.” Nabila cukup kesal dengan kedatangan Aldo dengan cara seperti itu. Saat ini ia masih gampang terkejut. Apalagi sampai menyentuhnya seperti itu.Aldo berdiri tak jauh daAntara rumah sakit dan diri sendiri seperti sudah memiliki ikatan. Kehidupan Fahmi sedari kecil sudah terbiasa dengan gedung tersebut beserta aktivitas di dalamnya. Memiliki orang tua dengan latar belakang seorang tenaga medis tentu saja membuatnya turut menyelam dalam dunia tersebut. Begitu juga dengan Nabila, meskipun berbeda latar belakang dengan keluarga sang suami, ia sendiri juga sudah memiliki ikatan batin pada dunia kesehatan. Meski kedalaman jarak yang ia selami di dunia ini, tak sedalam Fahmi, di dalam hatinya pekerjaan sebagai tenaga kesehatan sudah menyatu dengan jiwa. Saat pertanyaan perawat senior tersebut terdengar oleh telinga mereka, tentu mengundang rasa geli. Tapi, memang diakui, ada rasa rindu pada dunia tersebut. “Ya, dibilang nggak rindu, gimana ya Pak. Antara saya sama rumah sakit itu sudah mendarah daging,” jawab Fahmi dengan tenang. Perawat tersebut tersenyum. Ia sendiri tahu bagaimana anak dari pemilik rumah sakit ini
Marsha telah berlalu, ia berjalan tanpa menoleh ke kiri dan kanan. Pandangannya lurus ke depan. Langkahnya pun terkesan buru-buru, seperti ada yang sedang ditunggunya. Pandangan Fahmi tertuju pada temannya itu, dilihat dari belakang pun ia mengenali sosok tersebut. Matanya kini beralih pandang pada dr. Reza yang berada di hadapannya. Dokter anestesi itu nampak agak bingung dengan tatapan Fahmi. “Jangan sama beliau, Dok.” Ternyata dr. Reza mengerti maksud pandangan Fahmi. Tangannya pun bergerak melambai pertanda ia menolak untuk dijodohkan dengan Marsha. Fahmi tersenyum pada dr. Reza. “Nggak kok, mungkin bisa tanya sama istri saya.” Ia menoleh pada Nabila. “Sayang, kayaknya temen-temen kamu di instalasi banyak yang belum menikah,” ucap Fahmi. Nabila tak begitu mempedulikan ucapan sang suami, ia justru terpaku pada panggilan ‘sayang’ tersebut. Sebetulnya ia sudah cukup terbiasa dengan panggilan itu, namun karena diucapkan di depan orang lain ia
Lift mulai bergerak, tangan Nabila bergelayut pada lengan Fahmi. Lelaki yang lebih tua 10 tahun darinya itu merasa sangat bahagia. Pada lengannya itu, dapat memberikan kenyamanan pada sang istri. Kemudian, beriringan dengan lift yang terus bergerak turun, terdengar ada suara yang mendayu di telinga. Suara yang syahdu menyentuh relung hati. Suara itu mengalun pelan, namun masih dapat ia dengar. “Mas Fahmi, ana uhibbuka fillah…” begitulah kalimat yang terucap. Kalimat yang terdengar mengalun menyentuh jiwa. Kalimat yang ditunggu-tunggunya. Fahmi menoleh pada sang istri. Mata mereka bertemu saling beradu pandang. Sebuah senyum hangat terbit di wajahnya. “Boleh dengar lagi?” tanyanya dengan nada yang sangat lembut, namun tersisip permohonan. Nabila merasa tersipu. Ia sebetulnya ingin berkata diam-diam saja, namun ternyata suaranya justru terdengar oleh telinga sang suami. Seharusnya, ia tadi mengatakannya dalam hati saja. Bibir Nabila be
Rumah baru. Dua kata itu terus terngiang di telinga Nabila. Sebelumnya ia tak pernah membayangkan akan secepat itu pindah rumah. Ia hanya mengira, dirinya dan suami akan terus tinggal sementara di rumah sang mertua. Suaminya pun belum pernah membahas soal rumah baru tersebut. Jujur saja, Nabila kaget, sekaligus senang mendengar dua kata tersebut. Namun, seperti terlalu tiba-tiba. Apakah ini memang direncanakan menjadi sebuah kejutan? Ah, entahlah. Di kepala Nabila sekarang tengah membayangkan bagaimana rupa bangunan tersebut. Nabila penasaran sekali, seperti apa rumah baru tersebut. Apakah di dalam komplek perumahan cluster seperti rumah mertuanya atau di perkampungan biasa. Yang jelas, pasti keluarga suaminya memilihkan tempat yang terbaik versi mereka. Hari sudah beranjak siang, Farida—mama Nabila—sudah sadarkan diri. Wanita paruh baya itu nampak masih belum stabil. Matanya yang sayu melihat ke sekeliling ruang rawat inap, dan juga ia menemukan tiga s
Setelah izin dengan sang istri, Fahmi lanjut melangkah menuju tempat di mana dokter IGD sedang berjaga. Di balik meja yang cukup tinggi itu, dokter jaga yang masih muda usianya kurang lebih tak jauh beda dengan Nabila, sedang duduk mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Kehadiran Fahmi yang berjalan hampir mendekati meja tersebut, langsung menyadarkan dokter tersebut. Ia langsung berdiri saat Fahmi sudah di depan meja. Fahmi tersenyum sopan pada dokter jaga tersebut. Ia teringat dengan dirinya dulu yang juga pernah bertugas di IGD bersama Rafli. Usianya juga tak jauh beda. Bekerja di IGD memberinya banyak pengalaman yang beragam dan berkesan. “Dokter Fahmi,” sapa dokter jaga itu dengan ramah dan sopan. Fahmi tersenyum ramah dan sopan juga. “Bagaimana keadaan Ibu Mertua saya, Dok?” “Pasien mengalami pingsan, karena tekanan darah yang rendah, Dok. Tekanan darahnya di bawah 90/60. Sudah kami tangani dengan memberi infus dan oksigen. Berd
"Sayang, sabar ya, insya Allah nanti akan ada hal yang lebih baik buat kita…” kalimat yang tak panjang, namun juga tak pendek. Kata-kata di dalamnya terasa begitu menenangkan terdengar di telinga. Begitu juga dengan suara Fahmi yang mengalun indah di indra pendengaran Nabila. Segenap rasa lega menyeruak dadanya, Nabila ingin menangis. Perempuan itu bersedih, takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada wanita yang telah melahirkannya itu. Namun, di sisi lain ia harus banyak bersyukur, kehadiran Fahmi di hidupnya memberikan dukungan dan semangat. Kabar soal sang ibunda yang tiba-tiba tak sadarkan diri, karena tekanan darah yang rendah, di saat ia dan suami akan berangkat bulan madu. Sedikit lagi langkah kaki Nabila dan Fahmi akan memasuki kabin pesawat, lalu mereka akan duduk manis menunggu burung besi itu lepas landas meninggalkan bandara terbang menuju tujuan semua penumpang, yaitu Lombok. Fahmi tersenyum hangat, ia memang merasa ada sedikit kekecewa
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i
Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.
"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter







