Share

Bab 11

Author: Zhar
last update Last Updated: 2026-01-10 08:25:23

"Tolong tunjukkan padaku," kata Dimas sambil menunjukkan ketertarikannya pada mobil itu.

"Baiklah kalau begitu,Mas, ikuti saya." Pak Budi tersenyum membawa Dimas dan pelatihnya ke dalam dealer.

"Mobil-mobil ini umumnya sedikit mahal ketika Anda membelinya baru, tapi saya punya mobil yang hampir baru dan setengah harganya," kata Pak Budi dengan gembira, lalu membawa Dimas dan Pelatih ke sisi dealer tempat setiap mobil tertutup.

Yang ini di sini adalah BMW E46 M3. Ini memiliki trim kayu penuh dan memiliki sistem suara kualitas tertinggi. Biasanya dengan kondisi seperti itu, saya akan menjualnya seharga 360-370 juta, tetapi untuk Pelatih Henry, saya hanya akan memberikannya kepada Anda seharga 310 juta." Pak Budi mengatakan ini sambil membuka penutup mobil berwarna abu-abu.

Dimas langsung terpesona dengan mobilnya, tampak baru dan fantastis. Dia yakin jika dia mendapatkannya pada tiga ratus sepuluh juta sekarang, dia bisa menj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 12

    Dimas menyantap makanannya sambil menonton pertandingan di televisi. Meski dalam hatinya ada keinginan untuk membalas dendam, pandangannya sempat teralihkan ke kaca bening di sampingnya yang memantulkan bayangan dirinya. Lihat aku ini… masih saja berpikir soal balas dendam, padahal keadaanku begini. Konyol sekali, pikirnya dalam hati. Meski matanya tertuju ke layar TV, pikirannya justru sibuk memperhatikan seorang gadis yang duduk di beberapa meja di depannya. Gadis itu tampak berusia sekitar dua puluh tahun, mengenakan pakaian kasual longgar yang sedikit terbuka di bagian dada, menggoda beberapa pemuda berpenampilan urakan di sekitar situ. Kalau aku nekat menggoda dia sekarang, bisa-bisa harus berhadapan dengan lima atau enam preman di parkiran nanti. Mobil baruku bisa jadi korban, belum lagi kesehatanku sendiri. Bukan pilihan cerdas, batinnya menimbang. Dimas sudah cukup banyak belajar dari kegagalannya. Ia

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 11

    "Tolong tunjukkan padaku," kata Dimas sambil menunjukkan ketertarikannya pada mobil itu. "Baiklah kalau begitu,Mas, ikuti saya." Pak Budi tersenyum membawa Dimas dan pelatihnya ke dalam dealer. "Mobil-mobil ini umumnya sedikit mahal ketika Anda membelinya baru, tapi saya punya mobil yang hampir baru dan setengah harganya," kata Pak Budi dengan gembira, lalu membawa Dimas dan Pelatih ke sisi dealer tempat setiap mobil tertutup. Yang ini di sini adalah BMW E46 M3. Ini memiliki trim kayu penuh dan memiliki sistem suara kualitas tertinggi. Biasanya dengan kondisi seperti itu, saya akan menjualnya seharga 360-370 juta, tetapi untuk Pelatih Henry, saya hanya akan memberikannya kepada Anda seharga 310 juta." Pak Budi mengatakan ini sambil membuka penutup mobil berwarna abu-abu. Dimas langsung terpesona dengan mobilnya, tampak baru dan fantastis. Dia yakin jika dia mendapatkannya pada tiga ratus sepuluh juta sekarang, dia bisa menj

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 10

    Dimas berjalan santai menuju ruang kuliah. Begitu ia duduk di bangkunya, tiba-tiba sebuah pop-up transparan berwarna biru muda muncul di depan matanya. [Ding!! Misi: Ajukan satu pertanyaan kepada dosen. Hadiah minimum: Rp10.000.000] Dimas tersenyum kecil melihat tampilan sistem itu dan mulai menantikan perkuliahan hari ini. Beberapa jam kemudian, setelah kelas berakhir dan ia melangkah keluar dari gedung kampus, dua pop-up baru muncul di depannya. Yang pertama membuatnya tersenyum lebar, tapi yang kedua hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. [Misi Selesai. Peringkat: SS. Total pertanyaan diajukan: 31. Hadiah: Rp120.000.000] [Ding!! Misi baru: Hadiri pertandingan Tinju. Hadiah minimum: Rp500.000] “Pertandingan tinju?” gumamnya. Ia tertawa kecil. “Nggak mungkin aku datang ke tempat itu. Tapi dengan Rp120 juta ini, total uangku sekarang sekitar Rp336 juta… Lumayan buat beli mobil baru sama ganti ponsel.” Sambil berjalan menuju asrama mahasiswa, Dimas masih memikirkan uangny

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 9

    “Pak, perusahaan yang Anda coba investasikan ini masih tergolong baru. Pagi ini saja, harga saham mereka turun sekitar Rp160.000 per lot. Sebagai analis senior, saya sarankan Anda jangan dulu menaruh uang di perusahaan e-commerce seperti ini,” ucap wanita muda di balik meja pelayanan sekuritas itu dengan nada ramah namun hati-hati. Ia benar-benar tidak ingin pemuda di depannya kehilangan uang dalam jumlah besar karena keputusan terburu-buru. Dimas hanya tersenyum tenang. “Tidak apa-apa, Bu. Tolong tetap proses saja investasinya. Saya yakin perusahaan ini punya masa depan.” Perusahaan yang dimaksud adalah Tokopedia, salah satu raksasa teknologi dalam negeri yang tengah berkembang pesat di pasar digital. Dimas yakin, dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan ini akan jadi tulang punggung perdagangan daring di Indonesia. Setelah urusan selesai, petugas itu menyerahkan salinan cetak transaksinya. Dimas menerimanya dengan sopan, mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan kantor sekurit

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 8

    Sebagai pengelola akun, Dimas tahu sedikit banyak cara kerja dunia periklanan. Mungkin pengetahuannya belum seberapa, tapi setidaknya ia paham dasar-dasarnya dan tidak akan berinvestasi buta.Tiba-tiba, suara notifikasi berbunyi.[Ding!! Misi: Belajar selama satu jam. Hadiah minimum: Rp10.000.000.]Dimas menatap layar itu, lalu tertawa kecil.“Belajar aja dikasih duit. Mantap banget sistem ini,” ujarnya. Ia melempar handuknya ke kursi dan langsung membuka buku kuliahnya.Hari itu ia memang banyak belajar di kelas komunikasi visual, jadi semangatnya sedang tinggi.[Misi Selesai. Grade: A. Durasi belajar: 3 jam 35 menit. Hadiah: Rp30.000.000.]“Gila! Kalau tahu gini, tadi aku belajar empat jam sekalian,” seru Dimas sambil tertawa puas.Setelah beberapa kali menjalankan misi dari sistem itu, Dimas mulai memahami polanya semakin besar usaha dan waktu yang ia keluarkan, semakin besar pula hadiah yang ia terima.Ia menatap pergelangan tangannya yang kosong.“Kayaknya aku harus beli jam tang

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 7

    Pelatih mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang pemuda seperti Dimas. Ia sempat terkejut, lalu tertawa keras sambil melanjutkan makannya. Setelah beberapa detik, ia tenang kembali dan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum hangat.“Baiklah, seperti yang saya katakan tadi, adik ipar saya itu manajer tim voli profesional, tim Depok Thunder,” kata pelatih dengan semangat, matanya berbinar sambil menepuk meja kayu. Aroma daging sate maranggi yang baru dibakar memenuhi udara.Dimas hanya mengangguk pelan, meskipun sebenarnya ia tidak terlalu paham apa maksud pelatihnya.“Gini deh, biar gampang,” lanjut sang pelatih, “kalau kamu mau ikut seleksi tim itu, dan kamu lolos, kamu bisa dapat kontrak awal sekitar lima ratus juta rupiah. Itu baru tanda tangan, belum gaji per musimnya, bisa tujuh puluh sampai delapan puluh juta.”Dimas terdiam, matanya melebar. Lima ratus juta? Ia bahkan belum pernah ikut turnamen besar, apalagi main di liga profesional. Tapi jumlah uang itu… cuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status