LOGINEllan mengangguk. “Iya. Udah cukup.” Mereka berdua tak langsung melanjutkan percakapan. Alvino menyetir pelan, membiarkan pagi berbicara sendiri lewat kaca jendela mobil yang belum sepenuhnya terbuka pada cahaya. Setelah beberapa menit, suara Alvino kembali terdengar. “Kamu yakin masih mau ke London?” Ellan mengangguk pelan. “Iya. Aku butuh waktu buat... nggak mikirin semua ini.” “London bukan tempat buat kabur, Ell,” ucap Alvino, masih menatap jalan. “Kalau kamu ke sana cuma buat lupa, kamu akan tambah hancur.” “Aku ke sana... buat mulai lagi,” kata Ellan, nadanya tenang. “Bukan karena aku kuat. Tapi karena kalau aku diam di sini, aku nggak akan pernah bisa berhenti ngeliat ke belakang.” Alvino menoleh sekilas. Ada sesuatu dalam mata pria itu yang tak terucap—kekecewaan, mungkin. Atau rasa bersalah. Tapi tak ada lagi bentakan. Hanya... beban. “Kamu pernah mikir... buat nyari dia
Sheana berhenti, menoleh. Ia melihat gurat lelah di wajah Dirga, juga kesedihan yang nyata. Ia tahu, perpisahan ini juga berat bagi Dirga, meskipun Dirga yang menginisiasinya."Aku... berusaha," jawab Sheana jujur. "Kamu?"Dirga tersenyum tipis, tawa tanpa suara. "Aku juga. Kita sama-sama belajar melepaskan, kan?"Sheana mengangguk. Ia berjalan mendekat ke arah Dirga. Kini mereka berdiri berhadapan, di tengah kamar yang dulu menjadi saksi bisu pernikahan mereka."Aku... aku minta maaf, Ga," bisik Sheana, menatap mata Dirga. "Maaf karena nggak bisa mencintaimu seperti yang kamu inginkan. Maaf karena aku bukan istri yang sempurna."Dirga menggeleng. "Nggak ada yang perlu dimaafkan, Na. Kita udah melakukan yang terbaik. Aku juga minta maaf. Untuk semua caraku yang mungkin menyakitimu.""Aku tahu kamu hanya ingin aku bebas," kata Sheana, ada pengertian di matanya. "Dan sekarang aku mengerti. Thank you, Ga. For everything."D
Ellan menghela napas. “Nggak... aku nggak akan ngejar Sheana lagi, Dad.”Alvino mengangkat alis, terkejut dengan pengakuan itu. “Kenapa?”“Aku... tahu kapan harus berhenti,” jawab Ellan. “Mungkin Sheana memang cintaku. Tapi itu bukan berarti aku harus terus lari ke arahnya. She’s not mine. Dan dia nggak akan pernah jadi milikku.”Alvino terduduk kembali. Bahunya jatuh. Sorot matanya tak lagi marah. Tapi kosong. “Lalu... kamu mau apa, Ell?”“Memperbaiki diriku sendiri,” jawabnya pelan. “Nggak ada lagi yang perlu dipertahankan. Nggak ada yang bisa dikejar. Aku cuma... mau berhenti. Dan melanjutkan hidup.”Sunyi sejenak.“Aku udah menghancurkan cukup banyak hal,” lanjut Ellan, suaranya lelah. “Aku udah melukai Mahi. Udah bikin Daddy malu. Dan Sheana... dia udah memilih jalannya sendiri.”Alvino hanya mengangguk, mencoba mencerna perubahan sikap Ellan. Anaknya yang keras kepala, kini tampak begitu pasrah.“Aku akan
Ellan menggeleng. “Nggak tahu. Aku bahkan nggak tahu siapa diriku sekarang. Tapi yang pasti... aku nggak bisa lanjut kayak gini.”“Kamu mau kita cerai?” Mahi menatapnya lurus. Suaranya stabil. Luka yang terlalu dalam sudah tak bisa lagi didramatisasi.Ellan menatapnya. “Kalau kamu siap... aku akan bicara dengan Daddy. Dan... aku akan bertanggung jawab sepenuhnya.”Mahi mengambil napas panjang. “Besok. Kita urus besok. Malam ini... aku mau pulang ke rumah orang tuaku.”Ia mengambil tas kecilnya. Mengenakan jubah.“Terima kasih sudah jujur,” ucapnya. “Aku nggak ingin bertahan di tempat di mana aku selalu dibandingkan dengan perempuan yang nggak pernah bisa aku gantikan.”Mahi melangkah keluar. Tak ada kata pamit. Hanya pintu yang tertutup... dan keheningan yang kembali datang.Ellan berjalan ke meja. Melepas cincin pernikahan, meletakkannya pelan. Cincin itu bergulir, lalu berhenti. Seperti hatinya.***M
Sheana mengangguk. “Aku harus. You too, Ga. Kamu juga harus baik-baik aja.”Mereka menghabiskan sore itu dengan berkendara keliling kota tanpa tujuan, mengenang masa lalu dengan senyum tipis dan sesekali tawa renyah. Tidak ada lagi ketegangan. Hanya dua orang dewasa yang berbagi babak terakhir dari sebuah cerita.Malam harinya, Dirga mengantar Sheana pulang. Bukan ke rumah mereka berdua, melainkan ke sebuah gedung apartemen. Dirga tahu, Grace, sahabat Sheana, sudah menyiapkan segalanya.“Aku turun di sini aja,” ucap Sheana.Dirga menghentikan mobil. Sheana menoleh padanya.“Terima kasih untuk hari ini, Ga,” bisik Sheana. “Aku... aku sangat menghargainya. Thank you for everything.”Dirga mengangguk. “Sama-sama, Na. Jaga dirimu baik-baik.”Sheana membuka pintu mobil. Melangkah keluar. Ia tidak menoleh lagi.Dirga hanya menatap punggungnya yang menghilang masuk ke lobi apartemen. Lalu ia menghela napas panjang.
“Selamat ya, Ellan,” ucap seorang relasi bisnis Alvino.“Terima kasih, Om,” jawab Ellan, suaranya datar. Sebuah kebohongan yang nyaris sempurna.Mahi menautkan lengannya erat di lengan Ellan, seolah ingin menyalurkan kebahagiaannya pada pria itu. “Ellan memang sedikit gugup hari ini,” bisiknya pada para tamu, mencoba menutupi ekspresi kaku suaminya.Dirga meneguk jus jeruknya. Ia tahu rasa gugup itu. Bukan gugup pernikahan. Tapi gugup karena jiwanya memberontak.“Pak Dirga?” Sebuah suara bariton menyapa. Alvino, ayah Ellan, berdiri di sampingnya. “Terima kasih sudah datang. Sheana tidak bisa ikut?”Dirga tersenyum tipis. “Selamat untuk putramu, Pak Alvino. Dia tampak gagah.” Dia tidak menjawab pertanyaan tentang Sheana. Tidak perlu.Pak Alvino mengangguk, bangga. “Ya, Ellan sudah banyak berubah. Aku harap pernikahannya bisa membuatnya semakin dewasa dan... settle down.”Dirga hanya tersenyum samar. Settle down? Bahkan ib
Ellan menuruni tangga bersama Sheana dan mengantar wanita itu pulang. Langit malam masih berpendar lampu-lampu kota, tapi di antara mereka berdua, hanya ada keheningan yang bicara paling keras. Mobil berhenti agak jauh dari rumah, tepat di bawah bayang pohon. Jalanan sepi, udara malam sedikit lem
"Keluar rumah malam-malam. Duduk di mobil orang asing. Chat cowok yang kamu temui di diskotik.""Kamu bukan orang asing. Kamu cowok bayaran."Ellan tertawa. "Ouch. Tapi fair enough."Sheana menggigit bibir, tak berkata-kata."Aku bisa tahu kamu lagi hancur, tapi kamu jago banget nutupinnya," lanjut
Sheana hendak protes, tapi Ellan sudah duduk di seberangnya. Menyilangkan kaki dan menyender santai, seperti ini bukan pertama kalinya ia duduk di hadapan wanita yang jauh lebih dewasa darinya.“First time?” suaranya dalam, serak, dan... terlalu intim untuk orang yang baru dikenal.Sheana mengangka
“Kalau seperti ini... apa aku masih sama? Masih Sheana yang kamu kenal dulu?”Sheana menatap dalam, hanya beberapa inci dari wajah Ellan—baru saja bibirnya lepas dari pemuda yang terpaut belasan tahun darinya itu.Ellan tak menjawab. Tapi ia bertindak. Tangannya menangkap lengan Sheana, menariknya







