Share

Dibatalkan?

Author: PhiKey
last update publish date: 2026-08-22 22:55:05

"Apa?!"

Jeritan Raya memecah keheningan ruang istirahat di salon. Baru saja ia menjejakkan kaki di sana untuk mencari pelarian, namun beban masalah justru bertambah berat. Di hadapannya, Alya duduk dengan bahu merosot, baru saja menyelesaikan penuturan yang mengejutkan.

Alya telah menceritakan semuanya, perihal pertemuannya dengan Soraya, tanpa terlewat. Bagaimana wanita paruh baya itu dengan dingin menyodorkan kesepakatan kotor, siap memberikan sejumlah uang sebagai pelicin agar Alya segera an
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Dibatalkan?

    "Apa?!"Jeritan Raya memecah keheningan ruang istirahat di salon. Baru saja ia menjejakkan kaki di sana untuk mencari pelarian, namun beban masalah justru bertambah berat. Di hadapannya, Alya duduk dengan bahu merosot, baru saja menyelesaikan penuturan yang mengejutkan.Alya telah menceritakan semuanya, perihal pertemuannya dengan Soraya, tanpa terlewat. Bagaimana wanita paruh baya itu dengan dingin menyodorkan kesepakatan kotor, siap memberikan sejumlah uang sebagai pelicin agar Alya segera angkat kaki dan menghilang dari kehidupan Raka. Puncaknya adalah ucapan Soraya lewat sambungan telepon pagi tadi yang secara gamblang menolaknya sebagai pendamping hidup Raka.Raya bangkit dari duduknya, berjalan mendekat lalu menggenggam tangan Alya yang terasa dingin. Rasa bersalah menyeruak di dadanya, menumpuk di atas rasa sakit hatinya sendiri terhadap Kevin."Maafin aku, Al. Sungguh, maafin aku," ucap Raya lirih, suaranya bergetar menahan sesak. "Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, den

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Hidup tak selalu berjalan sesuai harapan

    "Aku jauh-jauh ke sini karena kangen kamu. Aku pengen makan bareng sama kamu, dan kamu mau pergi sekarang? Setelah aku sampai di sini?" tanya Raya dengan suara yang menyisakan getir.Pagi-pagi sekali, ia meninggalkan rumah untuk mendatangi tempat tinggal Kevin. Namun, baru beberapa menit ia menjejakkan kaki di sana, kenyataan justru menyambutnya dengan dingin. Pria itu sudah berdiri di dekat pintu dengan ransel tersampir di salah satu bahunya, bersiap untuk pergi.Kevin menghela napas berat, tampak lelah, bukan hanya karena jadwalnya yang padat, tapi juga karena dinamika hubungan mereka yang belakangan sering diwarnai gesekan. "Aku ada jadwal pemotretan pagi ini, Sayang. Tolong jangan buat keributan pagi-pagi," ucapnya datar.Raya menatap nanar manik mata pria di hadapannya. Ada rasa sakit yang mendadak mencubit dadanya. "Apa kamu pikir aku ke sini... sepagi ini... hanya untuk membuat keributan?" tanyanya tertahan.Bukan hanya Alya dan Raka yang pagi itu harus menelan rasa sakit, Raya

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Pagi yang getir

    Udara pagi di kediaman Sanjaya terasa begitu kontras dengan ketegangan yang diam-diam mengakar di dalam rumah. Soraya menyambut putra bungsu itu dengan senyuman dan kelembutan yang jarang ia tunjukkan belakangan ini."Selamat pagi, Raka," sapa Soraya hangat saat putranya melangkah menghampiri meja makan.Raka balas mengangguk, menarik kursi, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang lengang. "Selamat pagi, Ma. Papa mana?" tanyanya, mendapati meja makan masih bersih tanpa hidangan tersaji untuk banyak orang."Sebentar lagi turun," jawab Soraya tenang."Kak Raya?""Kakakmu sudah pergi duluan. Katanya mau sarapan di salon saja karena ada banyak pekerjaan," sahut Soraya sambil menuangkan air putih.Raka kembali mengangguk. Setelah meneguk kopinya, ia terdiam sejenak, meresapi keheningan yang tersisa sebelum memutuskan untuk menggunakan momen ini. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang sejak semalam mengusik pikirannya."Ma," panggil Raka pelan.Soraya langs

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Kenyataan pahit

    Suasana kamar Alya terasa begitu menyesakkan malam itu. Setelah kepulangan Raka ke kediaman Sanjaya, keheningan yang tersisa justru menjadi teman bicara yang menyiksa. Alya duduk di tepi ranjang, jemarinya bertaut erat, mencoba meredam gejolak di dadanya."Aku juga nggak mau kita pisah, Raka," bisiknya pelan, seolah sedang beradu argumen dengan bayang-bayang pria itu. "Tapi... kamu juga nggak bisa memaksaku untuk terus berada di posisi ini. Aku nggak mau orang tuamu makin membenciku. Aku nggak mau dicap sebagai wanita yang hanya memanfaatkanmu. Dan lebih dari itu, aku takut... aku takut akan menjadi ibu yang buruk untuk anak-anakku jika aku terus membiarkan diriku berada dalam ketidakpastian ini."Alya menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa berat dan menyakitkan. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, membiarkan punggungnya tenggelam di kelembutan seprai. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan nanar, menangkap bayang-bayang remang yang menari-nari di sa

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Ancaman baru

    "Dasar brengsek!" Maki Alya lirih, namun tatapannya tetap menghujam tepat ke manik mata Raka. Ada kilatan kesal dan bingung yang bercampur aduk di sana. "Kamu mau aku jadi wanita simpanan, tapi di sisi lain kamu ingin dunia tahu kalau aku wanitamu. Sebenarnya, kamu mau aku jadi yang mana, sih? Nggak jelas."Raka terdiam sejenak. Ia menyadari sepenuhnya bahwa tuntutannya barusan memang tidak adil bagi Alya. Pria itu mencebik, berusaha menetralisir suasana yang mendadak tegang di dalam mobil."Baiklah, aku mengerti," jawab Raka dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Kita butuh waktu yang cukup. Nanti malam, kita bahas semuanya. Kebetulan ada sesuatu yang juga ingin aku tanyain ke kamu."Kini, giliran Alya yang tertegun. Rasa kesal yang tadi memuncak seketika berganti menjadi rasa penasaran. "Kamu mau tanya apa?"Raka menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang sedikit misterius. Ia sengaja tidak memberikan jawaban langsung, justru membalas rasa ingin tahu Alya deng

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tiba-tiba penasaran

    "Kenapa Mama tiba-tiba minta maaf seperti itu?" tanya Raka lirih di kesendiriannya.Ia duduk di tepi ranjang dalam kamar yang temang. Raka bahkan belum berniat untuk mandi atau membersihkan diri karena pikirannya masih dipenuhi bayangan malam tadi. Ucapan permintaan maaf dari ibunya terdengar begitu tulus, sesuatu yang baru pertama kali ia dengar seumur hidupnya."Apa Mama benar-benar meminta maaf? Apa yang Alya katakan sampai Mama berubah seperti ini? Apa setelah ini Mama akan mengizinkan aku sama Alya untuk terus berhubungan?" tanya Raka beruntun, menyisakan tanya yang belum menemukan jawabannya.Sementara itu, Soraya di dalam kamarnya duduk termenung di depan meja rias. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan tatapan sendu."Maafin Mama, Raka," ucapnya lirih, menyadari betapa dalam beban emosional yang selama ini ia pikul dan ia timpakan pada sang putra.Keesokan harinya, suasana sarapan di rumah Sanjaya terasa berbeda. Raka duduk di meja makan dengan gaya tenang khas

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Seporsi kekalahan anak perempuan

    Raya tidak langsung pergi ke salon seperti rencananya semula. Setelah menemui Raka di kantor dengan perasaan kacau, ia justru memacu kendaraannya menuju rumah orang tuanya. Hari itu menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi Raya.Sesampainya di rumah, Raya langsung menuju ke kamar orang tuanya.

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tuntutan tak terelak

    Alya melempar tasnya serampangan. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur. Ia sudah pulang ke apartemen kecil yang ia sewa selama ini. Malam itu hujan deras, tapi rupanya bukan hanya hujan yang deras, air matanya pun jatuh amat deras. Ya, wanita itu menangis setelah hari panjang dan berat yang ia la

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tanggung jawab

    Jantung Alya seperti jatuh. "Apa?” tanyanya dengan suara gemetar.Kesunyian pekat menggantung di udara. Alya ingin marah dan menolak, namun ingatan bahwa tangannya sendiri yang membawanya pada situasinya membuat bibirnya kelu.“Keinginan itu pasti akan datang lagi, Alya,” ucap Raka santai, pupilnya

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Salah minum

    “Raka... kumohon, pelan sedikit....”Suara Alya terdengar putus asa, tertahan di antara deru napas yang memburu. Udara di dalam kamar itu terasa pekat oleh hawa panas dan aroma keringat yang bercampur.Raka duduk bersandar di kepala ranjang dengan napas sama kasarnya, sementara Alya berada di atas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status