FAZER LOGINSuasana kamar Alya terasa begitu menyesakkan malam itu. Setelah kepulangan Raka ke kediaman Sanjaya, keheningan yang tersisa justru menjadi teman bicara yang menyiksa. Alya duduk di tepi ranjang, jemarinya bertaut erat, mencoba meredam gejolak di dadanya."Aku juga nggak mau kita pisah, Raka," bisiknya pelan, seolah sedang beradu argumen dengan bayang-bayang pria itu. "Tapi... kamu juga nggak bisa memaksaku untuk terus berada di posisi ini. Aku nggak mau orang tuamu makin membenciku. Aku nggak mau dicap sebagai wanita yang hanya memanfaatkanmu. Dan lebih dari itu, aku takut... aku takut akan menjadi ibu yang buruk untuk anak-anakku jika aku terus membiarkan diriku berada dalam ketidakpastian ini."Alya menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa berat dan menyakitkan. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, membiarkan punggungnya tenggelam di kelembutan seprai. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan nanar, menangkap bayang-bayang remang yang menari-nari di sa
"Dasar brengsek!" Maki Alya lirih, namun tatapannya tetap menghujam tepat ke manik mata Raka. Ada kilatan kesal dan bingung yang bercampur aduk di sana. "Kamu mau aku jadi wanita simpanan, tapi di sisi lain kamu ingin dunia tahu kalau aku wanitamu. Sebenarnya, kamu mau aku jadi yang mana, sih? Nggak jelas."Raka terdiam sejenak. Ia menyadari sepenuhnya bahwa tuntutannya barusan memang tidak adil bagi Alya. Pria itu mencebik, berusaha menetralisir suasana yang mendadak tegang di dalam mobil."Baiklah, aku mengerti," jawab Raka dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Kita butuh waktu yang cukup. Nanti malam, kita bahas semuanya. Kebetulan ada sesuatu yang juga ingin aku tanyain ke kamu."Kini, giliran Alya yang tertegun. Rasa kesal yang tadi memuncak seketika berganti menjadi rasa penasaran. "Kamu mau tanya apa?"Raka menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang sedikit misterius. Ia sengaja tidak memberikan jawaban langsung, justru membalas rasa ingin tahu Alya deng
"Kenapa Mama tiba-tiba minta maaf seperti itu?" tanya Raka lirih di kesendiriannya.Ia duduk di tepi ranjang dalam kamar yang temang. Raka bahkan belum berniat untuk mandi atau membersihkan diri karena pikirannya masih dipenuhi bayangan malam tadi. Ucapan permintaan maaf dari ibunya terdengar begitu tulus, sesuatu yang baru pertama kali ia dengar seumur hidupnya."Apa Mama benar-benar meminta maaf? Apa yang Alya katakan sampai Mama berubah seperti ini? Apa setelah ini Mama akan mengizinkan aku sama Alya untuk terus berhubungan?" tanya Raka beruntun, menyisakan tanya yang belum menemukan jawabannya.Sementara itu, Soraya di dalam kamarnya duduk termenung di depan meja rias. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan tatapan sendu."Maafin Mama, Raka," ucapnya lirih, menyadari betapa dalam beban emosional yang selama ini ia pikul dan ia timpakan pada sang putra.Keesokan harinya, suasana sarapan di rumah Sanjaya terasa berbeda. Raka duduk di meja makan dengan gaya tenang khas
Malam itu, suasana ruang makan terasa begitu kontras dengan isi kepala Alya. Nana dan Rio makan dengan lahap, sesekali tertawa kecil menanggapi celoteh pengasuh mereka. Sementara itu, Alya hanya duduk diam, membiarkan teh panas di cangkirnya perlahan kehilangan uap hangatnya. Ia hanya menatap tanpa benar-benar melihat, pikirannya melayang jauh."Ibu," panggil Nana memecah lamunan Alya.Alya tersentak pelan, lalu menoleh dan memberikan senyuman terbaik yang bisa ia simpulkan. "Iya, Nana sayang. Ada apa?""Besok kan libur sekolah, boleh tidak aku pergi ke kolam renang? Aku sudah lama sekali tidak berenang," ucap Nana dengan tatapan penuh harap.Alya mengangguk pelan. "Tentu saja boleh. Nanti malam Ibu carikan kolam renang yang dekat dari sini. Tapi maaf ya, Ibu nggak bisa menemani kalian. Ibu harus bekerja, salon sedang ramai karena Tante Raya sedang ke luar kota.""Baik, Ibu. Terima kasih!" Nana berseru senang, lalu berbisik dengan antusias kepada adiknya, "Rio, besok kita berenang! Ho
"Alya, maafin aku," ucap Raka pelan.Alya memalingkan wajahnya, hatinya hancur sehancurnya. Terlepas dari bagaimana sikap Soraya tadi, hal yang paling membuatnya hancur sekarang adalah kenyataan kalau ia dan Raka tak akan pernah menikah. Hubungannya dengan Raka mungkin akan menjadi aib seumur hidupnya."Kamu meminta maaf untuk apa, Raka? Meminta maaf karena memaksaku untuk menerima semua kesakitan ini?" tanya Alya tanpa menatap Raka. "Raka... pergilah. Aku sedang marah, aku sedang kalut. Pikiranku kacau, pergilah. Setiap kata yang akan aku ucapin mungkin hanya akan membuat kita sama-sama sakit hati," ucap Alya kemudian.Raka menatap nanar pada Alya yang masih tak mau menatapnya. "Baiklah, aku akan pergi untuk sekarang, aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Tapi, Alya, kamu harus ingat, aku akan selalu ada di sampingmu. Walau aku nggak bisa memberimu status pernikahan, di hatiku cuma ada kamu."Raka lalu pergi. Sebelum keluar dari ruang istirahat itu, ia sempat menatap Alya sesaat k
"Kamu mau kehilangan pekerjaanmu?!" sahut Zahira dengan nada melengking, emosinya seketika meledak.Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Hendri bagai remasan kasar yang makin menginjak-injak harga dirinya. Pertanyaan itu seolah menegaskan bahwa di mata Hendri pun, ia hanyalah wanita yang bergantung pada hubungan terlarang ini."Kamu berpikir aku cuma bisa melakukan hal itu sama kamu?!" teriak Zahira lagi, napasnya naik-turun menahan amarah yang membakar dada.Hendri langsung mundur setengah langkah, matanya membelalak panik melihat ledakan emosi atasannya."M-maaf, Bu... Saya tidak bermaksud apa-apa," ucap Hendri gagap, suaranya bergetar hebat. "Saya... saya cuma takut dengan apa yang bakal Pak Raka lakukan ke depannya. Tolong maafkan saya, Bu."Zahira terkekeh sinis, menatap Hendri dengan pandangan penuh kekecewaan sekaligus keheranan. "Jadi kamu lebih takut sama Raka dibanding sama aku?""Bukan begitu, Bu... Maafkan saya..." Hendri menggeleng cepat.Tanpa berpikir panjang lagi,
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Keheningan itu terasa menyesakkan hingga rasanya oksigen pun enggan masuk ke paru-paru. Kontras dengan keributan tadi, tapi setidaknya Alya sudah meninggalkan mantan suaminya.Alya duduk meringkuk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengu
Detak jam dinding di apartemen kecil itu terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Alya. Sudah pukul tujuh malam, kurang satu jam lagi sebelum Raka datang untuk menagih "tanggung jawab" yang ia tuntut. Pikiran Alya kalut. Bayangan ia harus menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar kepada pria yang
Alya melempar tasnya serampangan. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur. Ia sudah pulang ke apartemen kecil yang ia sewa selama ini. Malam itu hujan deras, tapi rupanya bukan hanya hujan yang deras, air matanya pun jatuh amat deras. Ya, wanita itu menangis setelah hari panjang dan berat yang ia la
Hening menyelimuti area parkir apartemen yang dingin. Raka masih bersandar di kap mobilnya, napasnya perlahan teratur meski tatapannya tak pernah lepas dari Alya. Setelah cukup lama menatap wanita itu dengan sorot mata yang penuh kepemilikan dan sisa amarah, Raka akhirnya menghela napas panjang."M







