Share

Bab 04

Author: Penadiary
last update Last Updated: 2025-09-27 15:09:36

Di dalam tas itu, selain gaun, terdapat sebuah kotak P3K. Tangan Lyra terhenti, ia menatap benda itu dengan tatapan kosong.

Perlahan, ia melepaskan sepatunya dan baru menyadari betapa parah lecet di pergelangan kakinya. Lututnya pun memerah dengan bekas darah kering akibat dorongan kasar ayahnya tadi. 

Ada rasa hangat yang menjalar di dada Lyra. Kotak P3K ini bukan kebetulan. Neilson, pria yang baru ia temui, ternyata lebih jeli memperhatikan lukanya daripada keluarga kandungnya sendiri.

“Dia memperhatikanku?” bisiknya lirih. Matanya terasa panas, namun ia buru-buru menyeka air matanya dan mulai membersihkan luka itu dengan hati-hati.

Usai berganti pakaian, Lyra melangkah keluar dengan gaun biru pastel yang membuatnya tampak anggun. Namun, jantungnya mencelos saat melihat kursi di depannya sudah kosong. Neilson sudah tidak ada.

“Dia pergi... begitu saja?”

Ada rasa sesak yang aneh. Bukan karena ditinggalkan, tapi karena ia belum sempat mengucap terima kasih. Lyra berlari keluar restoran, berharap bisa mengejarnya. Ia melihat punggung tegap itu masuk ke dalam mobil.

“Neilson!” panggil Lyra spontan, namun suaranya tenggelam oleh bising jalanan. Mobil mewah itu melaju pergi, meninggalkan Lyra yang terpaku di tepi jalan.

Keesokan harinya, suasana di kediaman Fernando terasa berbeda. 

Johan tersenyum puas setelah mendapat kabar dari pihak Alexander. Sementara itu, Lyra sibuk mengemas barang-barangnya. Ia tidak membawa banyak, hanya pakaian, buku pelajaran, dan barang-barang yang ia beli dari hasil kerja paruh waktunya.

Tak ada satu pun pemberian ayahnya yang ia bawa. Ia siap meninggalkan "penjara" ini selamanya.

Di halaman, sebuah mobil mewah sudah menunggu. 

Mark, asisten Neilson, menyambutnya dengan sopan. “Selamat pagi, Nona Lyra. Saya akan mengantar Anda ke kantor catatan sipil. Tuan Neilson sudah menunggu.”

Proses administrasi berjalan cepat dan dingin. Setelah resmi menjadi istri di atas kertas, Neilson membawa Lyra menuju kediaman pribadi mereka. 

Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan. Lyra mencuri pandang ke arah Neilson yang fokus menyetir. Sulit dipercayai, pria setampan dan semuda ini adalah suaminya sekarang.

Begitu mobil berhenti, Lyra terkesiap. Rumah itu sangat megah dengan arsitektur modern yang elegan. Lantai marmernya berkilau, jauh lebih mewah dari rumah ayahnya.

“Rumah ini akan menjadi tempat tinggal bersama,” ucap Neilson datar. “Asisten rumah tangga hanya datang pagi dan pulang sore hari. Jadi, di rumah ini hanya ada kita berdua.”

Lyra menelan ludah. Hanya mereka berdua? Jantungnya berdebar tak karuan, menyadari betapa rahasianya pernikahan mereka yang harus dijaga.

Setelah menaruh barang di kamarnya, Lyra mendapati rumah sudah sunyi. Neilson sudah berangkat kerja. 

Kesunyian itu membuat Lyra menghela napas sejenak, lantas ia melangkah ke dapur dan tertegun mendapati kulkas yang penuh dengan bahan makanan premium.

Lyra memutuskan untuk menyiapkan bekal untuk dibawa ke kampus hari ini. Meski statusnya berubah drastis dalam semalam, dari seorang mahasiswa lajang menjadi seorang istri, Lyra bertekad tidak akan membolos. Ia harus mempertahankan beasiswanya. Sambil mengiris sayuran untuk bekal ke kampus, ponselnya berdering. Nama sahabatnya, Wina, terpampang di layar.

“Lyra! Aku punya kabar bahagia!” seru Wina heboh dari seberang telepon.

Lyra mengernyit, menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya sambil terus memotong sayuran. “Kabar bahagia apa sampai teriak-teriak begitu?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 157

    Lyra tersenyum lembut, seolah tidak terjadi apa-apa. “Tidak apa-apa,” katanya tenang. “Mungkin kamu memang tidak sengaja.”Ia lalu menoleh pada Wina dan memberi isyarat halus agar sahabatnya menahan diri. “Sudahlah. Kita tidak perlu memperpanjang masalah ini.”Tatapannya sekilas menyapu sekeliling. Beberapa peserta berhenti berbicara. Bahkan beberapa juri terlihat memperhatikan ke arah mereka.Lyra menganggap, dalam kompetisi sebesar ini, tidak mungkin hanya desain yang dinilai. Sikap, etika, dan profesionalisme bisa saja menjadi pertimbangan tambahan.Ia tidak ingin Wina ikut terseret dalam konflik yang bisa merugikan mereka berdua, apalagi itu adalah konflik keluarganya. Ia menarik napas pelan, menenangkan diri.Salsa tersenyum semakin lebar. “Dengar, kan?” ucapnya ringan, menoleh pada Wina dengan nada penuh kemenangan. “Bahkan dia sendiri bilang aku tidak sengaja.”Senyum Salsa bukan seperti permintaan maaf, itu terlihat seperti ejekan.Di sisi lain aula, Grey dan Neilson berdiri

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 156

    Lyra terkejut ketika tirai benar-benar terbuka dan sosok yang muncul adalah Dave Alexander. Namun, keterkejutan itu segera berubah menjadi kelegaan.Ternyata yang menjadi sponsor utama adalah ayah mertuanya, bukan Neilson. Artinya, pikiran buruk yang sempat menghantuinya bahwa Neilson mungkin ikut campur agar ia lolos seleksi tidaklah benar. Neilson bukan juri, ia tidak duduk di meja penilaian.Lyra perlahan mengangkat wajahnya, lalu tanpa sadar mencari-cari sosok yang ingin ia pastikan. Ia menoleh ke arah kursi tamu undangan. Matanya bergerak menyapu barisan satu per satu hingga akhirnya berhenti di barisan ketiga.Di sana, Neilson duduk dengan tenang di samping Grey. Posturnya tegak, wajahnya datar seperti biasa, namun tatapannya lurus ke arah panggung.Lyra menghela napas panjang. Beban di dadanya terasa sedikit terangkat. Tidak ada campur tangan apa pun dari pria itu. Salsa hanya ingin memprovokasinya.Ia menunduk sejenak, merapikan pikirannya sendiri. Sekarang bukan waktunya memi

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 155

    "Lyra!" Tiba-tiba, suara seseorang memanggil namanya dari belakang membuat Lyra spontan menoleh. Wina berlari cepat ke arahnya, wajahnya terlihat penuh kegembiraan.Tanpa menunggu, Wina langsung memeluk Lyra. Lyra membalas pelukan itu dengan hangat, merasa lega bisa bertemu sahabatnya di acara lomba sesuai janji mereka.“Aku sudah yakin kamu pasti akan lolos seleksi, Ly,” kata Wina sambil tersenyum lebar, matanya bersinar penuh semangat.Lyra hanya membalasnya dengan tersenyum tipis, namun pikirannya masih terganggu oleh ucapan Salsa. Keraguan tiba-tiba muncul, membuatnya menunduk sejenak.Wina melepas pelukannya perlahan dan menatap gaun Lyra dari atas ke bawah. Lyra menahan napas, takut sahabatnya juga akan menganggap desainnya terlalu sederhana.Namun pandangan Wina berubah. Ia menatap Lyra dengan tatapan penuh arti, penuh semangat.“Desain unik seperti apa lagi yang kamu buat, Ly?” tanya Wina dengan nada antusias.Lyra terkejut. Desainnya unik? Wina benar-benar bisa melihat sesua

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 154

    Salsa mengepalkan tangannya kuat-kuat, urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam menatap Lyra. Ia benar-benar tidak menyangka perubahan Lyra sebesar ini.Ia sempat mengira keberanian Lyra kemarin hanyalah kebetulan, sekadar emosi sesaat. Namun kini jelas, gadis di hadapannya benar-benar berubah. Lyra tak lagi menunduk, tak lagi membiarkan dirinya diinjak.“Kapan aku bilang gaunku sampah?” Suara Salsa meninggi, tajam dan penuh sindiran. “Yang sampah itu gaunmu! Apa kamu benar-benar pikir desain sesederhana itu bisa menarik perhatian juri?”Ucapannya sengaja dibuat cukup keras hingga beberapa peserta yang berdiri tak jauh dari sana ikut menoleh. Satu per satu tatapan beralih ke arah Lyra, lebih tepatnya ke arah gaun yang ia kenakan.Memang benar, gaun Lyra tampak jauh lebih sederhana dibandingkan yang lain. Tidak ada detail yang rumit, kain berlapis, atau hiasan yang mencolok. Potongan gaunnya bersih, tanpa ornamen berlebihan.Bisik-bisik mulai

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 153

    Aldi tampak benar-benar terkejut ketika mendengar jawaban Lyra. Alisnya terangkat, dan senyum kecil yang tadi sempat menghiasi wajahnya perlahan memudar.“Kamu ... belum melihatnya?” tanyanya pelan, memastikan.Lyra menggeleng. “Belum. Flashdisk apa memangnya? Aku tidak ingat melihat apa pun di dalam kotak foto itu.” Ia berpikir sejenak, lalu menambahkan. “Mungkin aku kurang teliti. Nanti setelah lomba selesai, aku akan memeriksanya lagi.”Aldi terdiam. Sorot matanya berubah, ada sesuatu yang tampak ragu sekaligus gugup. Jika Lyra sudah membuka kotak itu dengan saksama, seharusnya ia menemukan flashdisk yang sengaja ia selipkan di sana.“Kalau begitu ....” Aldi menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. “Sebenarnya kamu tidak perlu mencarinya lagi.”Lyra mengernyit bingung. “Tidak perlu? Kenapa?”Aldi mengusap tengkuknya canggung. Jemarinya bergerak gelisah di sisi tubuhnya sebelum akhirnya ia menatap Lyra dengan lebih serius. “Sebenarnya aku ingin mengatakannya se

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 152

    Perjalanan menuju lokasi lomba memakan waktu hampir dua jam.Sepanjang jalan, Lyra lebih banyak diam. Tangannya sesekali meremas ujung tas di pangkuannya, lalu melepasnya lagi. Ia berusaha mengatur napas, menenangkan pikirannya yang terus membayangkan bagaimana cara dirinya bersikap ketika ia sudah sampai di tempat lomba.Ketika mobil akhirnya berhenti di depan gedung acara, Lyra terdiam beberapa detik dan menarik napas panjang sebelum membuka pintu. Kakinya menapaki aspal dengan sedikit kaku, kemudian ia mendongak menatap bangunan tinggi di hadapannya.Spanduk besar terpampang di depan pintu masuk. Para peserta berjalan masuk dengan busana terbaik mereka, beberapa kru sibuk membawa perlengkapan, tamu undangan mulai berdatangan, juga ada beberapa wartawan yang masih berlalu-lalang.Suasana itu tiba-tiba membuat dadanya kembali terasa sesak.Lyra menarik napas panjang, mencoba menegakkan bahunya. Ia baru hendak melangkah ketika mendengar pintu mobil di sisi lain ikut terbuka. Ia menole

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status