Share

Bab 05

Penulis: Penadiary
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-27 15:17:06

Lyra menutup pintu rumahnya dengan sedikit terburu-buru. Ia berlari kecil menuju taksi yang sudah menunggunya di depan gerbang. Hatinya berdebar penuh semangat, masih terbawa oleh kabar bahagia yang disampaikan Wina beberapa menit lalu.

“Mr. Neil ... jadi dosen di kampus?” gumamnya, nyaris tak percaya. Senyum kecil merekah di wajah Lyra, matanya berbinar penuh antusiasme.

Desainer yang selama ini hanya bisa Lyra kagumi lewat karya-karyanya, kini akan menjadi dosen barunya dan berdiri di depan kelasnya.

Hari ini Neil, desainer favoritenya akan mengajar untuk pertama kalinya. Dan Lyra tak ingin melewatkan satu detik pun momen itu. Ia merapatkan tas di pangkuannya, pandangan matanya menatap keluar jendela taksi dengan penuh harap, seolah dunia tiba-tiba menghadiahkannya sebuah keberuntungan besar.

Meskipun pikirannya masih melayang pada pernikahan kontrak yang baru saja dijalaninya, kini semangatnya kembali membuncah. Kampusnya menanti, begitu juga sosok yang diam-diam selalu menjadi inspirasinya.

Lyra turun dari taksi dengan langkah cepat, hampir berlari menuju gerbang kampus. Begitu melihat sosok sahabatnya berdiri di dekat taman depan gedung, ia langsung berteriak dan melambai penuh semangat.

“Wina!” panggilnya.

Wina menoleh dan spontan berlari menghampiri. Mereka berdua saling berpelukan erat, bahkan sampai melompat-lompat kecil seperti anak-anak yang tak bisa menahan rasa gembira.

“Astaga, Lyra! Kamu harus lihat sendiri! Mr. Neil sudah datang sejak tadi pagi!” suara Wina meninggi, matanya berbinar penuh semangat. “Dia ... gila, Ly! Dia bener-bener ganteng. Berkharisma banget, semua orang di kampus langsung terpesona begitu dia muncul.”

Lyra membelalakkan mata, rasa penasarannya semakin membara. Jantungnya berdegup tak karuan. “Beneran? Aku gak percaya, Jadi akhirnya aku bisa bertemu dan melihat wajahnya?”

Lyra menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang sulit hilang. Sejak dulu, Neil hanya dikenal melalui karya-karyanya yang luar biasa, tanpa sekalipun memperlihatkan wajahnya ke hadapan publik. Seorang desainer misterius yang membuat banyak orang terpesona dengan karyanya.

Kini, hari itu tiba. Dan Lyra tak sabar lagi untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana penampilan dari desainer idamannya.

Lyra dan Wina bergegas menuju ruang kelas, langkah mereka berubah menjadi lari kecil karena takut ketinggalan. Begitu tiba di depan pintu, suara heboh sudah terdengar jelas. Kelas dipenuhi mahasiswa, terutama para mahasiswi yang sengaja datang hanya untuk melihat sosok Neil.

Barisan kursi sudah hampir penuh, bahkan beberapa orang rela berdiri di belakang hanya untuk bisa menyaksikan dari dekat. Bisik-bisik kekaguman memenuhi udara.

Pintu kelas tak bisa ditutup rapat karena kerumunan mahasiswi yang berdesakan di depannya. Suara tawa, bisikan kagum, dan teriakan kecil membuat suasana seperti konser, bukan ruang kuliah.

“Cepat, Ly! Kalau kita telat, pasti cuma dapat tempat berdiri,” seru Wina sambil menggenggam erat tangan Lyra.

Mereka berdua ikut mendorong tubuh di antara kerumunan, sesekali terdorong mundur lalu kembali maju. Lyra bahkan harus menahan napas ketika bahunya hampir terjepit pintu.

"Permisi! Permisi! Yang ngambil mata kuliah ini mau lewat! Yang gak ngambil mata kuliah ini minggir!" teriak Wina sambil menabrakkan diri untuk masuk.

“Astaga, ini kampus atau antrian tiket konser?” gumam Lyra setengah kesal namun juga tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.

Begitu berhasil melewati pintu, Wina langsung menarik Lyra berlari kecil menuruni tangga menuju barisan kursi. Beberapa mahasiswi yang lebih dulu masuk sudah memenuhi bagian depan, membuat Lyra dan Wina harus bergerak cepat.

“Di sana, Ly! Masih ada dua kursi kosong!” Wina menunjuk ke baris ketiga.

Tanpa pikir panjang, mereka segera berlari, hampir saja terjatuh karena saling dorong dengan mahasiswi lain yang juga mengincar kursi kosong itu. Dengan napas terengah, akhirnya mereka berhasil duduk berdampingan.

Wina terkekeh sambil menepuk dadanya. “Huft ... demi apa, rasanya lebih melelahkan dari olahraga.”

Lyra ikut tertawa kecil, meski matanya sudah menatap penuh semangat ke arah podium. Ia tidak sabar melihat dengan mata kepala sendiri penampilan dari desainer favoritenya.

“Dia benar-benar setampan itu, Ly. Kamu harus lihat sendiri,” ujar Wina sambil mengeluarkan buku-bukunya.

Lyra duduk dengan jantung yang berdegup kencang, matanya berkeliling mencari sosok yang selama ini hanya ada dalam imajinasi dan kekagumannya. Semua orang tampak menanti dengan penuh antusias, beberapa bahkan sibuk merapikan rambut atau memoles lipstik tipis agar terlihat lebih menarik.

Suara riuh kelas mendadak mereda, berganti dengan desahan kagum dan bisikan-bisikan kecil. Para mahasiswi yang tadi berdesakan di pintu perlahan membuka jalan, seolah memberi ruang bagi seseorang yang baru saja tiba.

Wina langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berbinar. “Ly, pasti itu Mr. Neil! Lihat, semua orang menepi untuk memberi jalan.”

Lyra ikut menoleh. Dadanya bergemuruh, jantungnya seakan ingin meloncat keluar dari tubuhnya. Selama ini ia hanya bisa mengagumi karya Neil dari layar kaca, artikel, dan majalah mode. Dan sekarang, ia akan melihat wajah dibalik karya-karya sempurna itu secara langsung.

Sosok lelaki itu akhirnya melangkah masuk. Posturnya tegap, langkahnya penuh wibawa, setiap gerakannya memancarkan kharisma yang membuat kelas hening seketika. Semua pasang mata terarah padanya.

Ketika ia tiba di tengah ruangan, lelaki itu mengangkat wajah, menatap sekeliling. Seketika pandangannya bertemu dengan sepasang mata Lyra.

Waktu seakan berhenti.

Lyra terbelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. Dunia di sekitarnya seakan mengabur. Lelaki yang berdiri gagah di hadapannya bukan sekadar desainer misterius, Neil yang ia kagumi, melainkan Neilson, pria yang menjadi suami rahasianya.

Tubuh Lyra membeku di kursi. Rasa terkejut, tak percaya, dan debaran yang bercampur aduk memenuhi dadanya. Ia masih tak menyangka dengan pemandangan yang ia lihat di hadapannya.

Bukan hanya Lyra, mata Neilson pun tak lepas dari gadis itu. Untuk sesaat, sorot matanya yang biasanya dingin ikut membeku, seakan keberadaan Lyra di sana juga mengejutkan baginya.

Wina yang duduk di sebelah Lyra sibuk berbisik heboh, tak sadar bahwa sahabatnya sudah kehilangan kata-kata. “Astaga, Ly! Dia tampan banget! Lebih dari bayanganku! Lihat bulu kudukku, aku bener-bener merinding, sumpah!”

Sementara Lyra hanya bisa menatap kaku, ia tak mendengarkan ocehan Wina yang duduk di sampingnya. Dirinya masih tenggelam dengan kenyataan bahwa Neilson yang hari ini menjadi suaminya adalah Neil, desainer idolanya sekaligus dosen barunya.

"Tidak mungkin ... jadi ... nama Neil itu ... Neilson?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 75

    "Soal itu ... hanya kebetulan." Neilson akhirnya angkat bicara dengan nada datar, seolah ingin memutus dugaan yang terlanjur tumbuh di benak Lyra. “Telur itu memiliki stok paling banyak di kulkas, jadi aku membuatnya.”"Oh ...." Jawaban itu membuat Lyra tersenyum tipis, senyum yang lebih condong pada rasa malu daripada lega. Ia menunduk sebentar, menyadari bahwa dirinya mungkin terlalu percaya diri hanya karena beberapa perhatian kecil dari Neilson. Ada rasa hangat yang pelan-pelan surut, digantikan perasaan kikuk yang tak ingin ia akui.Tanpa berkata apa-apa lagi, Lyra meraih sendok dan mengambil sepotong telur gulung dari piringnya. Ia memasukkannya ke mulut dan mengunyah perlahan, rasanya tetap enak, tetapi hatinya sedikit kecewa. Namun, ia memilih diam, menyembunyikan perasaan itu di balik ekspresinya yang tenang, seolah tak terganggu.Neilson melirik sekilas ke arah Lyra, memperhatikan perubahan halus di wajah gadis itu yang tak sepenuhnya mampu ia sembunyikan. Ada bayangan k

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 74

    "M–mahar?" Lyra tertegun saat kata mahar keluar begitu saja dari bibir Neilson. Ia tak pernah membayangkan pria itu akan menggunakan kata yang bermakna itu, apalagi dalam konteks pernikahan kontrak mereka.Kalimat sederhana itu memunculkan banyak pertanyaan di benaknya, membuatnya bertanya-tanya apakah Neilson mulai menganggap hubungan mereka lebih dari sekadar kesepakatan tertulis? Tanpa disadari, wajah Lyra memanas, dan rona merah perlahan menjalar di pipinya, menandai keguncangan perasaan yang berusaha ia sembunyikan.Lyra akhirnya angkat bicara dengan suara yang terdengar gugup. “Aku … aku akan mempertimbangkannya dulu.” Tanpa menunggu tanggapan, ia segera bangkit, gerakannya terburu-buru seolah takut perasaannya akan terbaca.Ia melangkah menuju kamar dan menutup pintu di belakangnya. Di balik daun pintu itu, Lyra menyandarkan punggungnya sambil menghela napas panjang. Kedua tangannya terangkat memegang pipinya yang terasa panas.“Ada apa denganku?” gumamnya lirih.Pandangan L

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 73

    Lyra terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Grey. Memang benar, secara teknis Grey adalah adik iparnya, tetapi pernikahannya dengan Neilson hanyalah kontrak, sesuatu yang seharusnya tidak dianggap sebagai ikatan keluarga sesungguhnya.Pikiran itu membuat hatinya kembali bimbang, seolah ia berdiri di antara peluang besar dan batasan yang tak berani ia lewati. Neilson yang sejak tadi hanya memilih diam mengamati Lyra dengan saksama. Ia bisa melihat jelas keraguan di wajah gadis itu, juga kegelisahan yang belum sepenuhnya terurai.Akhirnya, Neilson memutuskan untuk angkat bicara dengan nada datar. “Kamu tidak perlu menjawab sekarang,” katanya. “Pertimbangkan saja dulu.”Grey ikut menimpali ucapan Neilson dengan senyum santai. Ia tak ingin Lyra merasa tertekan oleh tawaran sebesar itu. Baginya, keputusan besar memang tak seharusnya diambil dalam keadaan terburu-buru.“Tenang saja,” ujar Grey. “Pikirkan baik-baik. Kakak ipar tidak perlu memutuskan langsung hari ini.”Mendengar itu

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 72

    Lyra terdiam, jelas terkejut oleh ucapan Neilson barusan. Seingatnya, ia tak pernah menandatangani kontrak apa pun dengan perusahaan mana pun, bahkan soal magang pun belum pernah ia pikirkan. Dadanya terasa sesak oleh kebingungan yang datang secara tiba-tiba.Theo tersenyum tipis melihat kemunculan Neilson. Ia menarik kembali tangannya yang sempat terulur, lalu memasukkannya ke saku celana dengan santai sambil menatap pria itu.“Lama tidak bertemu, Neil,” ujarnya ringan. “Kupikir kabar tentangmu mengajar di kampus hanya rumor belaka. Ternyata benar?”Neilson tidak menjawab. Tatapannya dingin dan datar, seolah Theo hanyalah orang asing yang kebetulan berdiri di hadapannya. Sikap itu justru membuat Theo tertawa kecil, suaranya rendah dan mengandung ejekan.“Jadi sekarang kamu sudah tidak bisa menciptakan desain baru lagi?” sindirnya. “Sampai harus menjadi dosen dan sibuk mencari penerus?”Tanpa menunggu respons Neilson, Theo mengalihkan pandangannya ke arah Lyra. Senyumnya melunak, berb

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 71

    Erina tetap mempertahankan senyuman di wajahnya, meski sorot matanya mulai terlihat gelisah. Ia berusaha terdengar tenang seolah tudingan itu sama sekali tak menggoyahkannya.“Kenapa kamu berkata begitu?” tanyanya lembut, seakan tersinggung. “Kenapa kamu menuduhku?”Tatapan Neilson mengeras. Ia menatap Erina tanpa sedikit pun keraguan, suaranya terdengar tajam dan dingin. “Karena kunci ruang busana ada padamu,” ucapnya singkat, tanpa basa-basi.Senyum Erina meredup, berganti raut wajah sendu yang dibuat-buat. Ia menggeleng pelan, matanya terlihat mulai berkaca-kaca, sedangkan suaranya dibuat serendah mungkin. “Aku tidak tahu apa-apa,” katanya. “Pagi tadi aku bahkan tidak masuk ke ruangan itu. Aku hanya menitipkan kuncinya pada seorang mahasiswa.”Neilson tertawa kecil, namun nadanya terdengar meremehkan. Ia mengeluarkan ponselnya lalu memutar layar ke arah Erina. “Kamu lupa satu hal,” ujarnya singkat.Di layar ponsel itu terpampang rekaman CCTV. Terlihat jelas Erina berdiri di depan

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 70

    MC ikut menoleh ke arah tirai dengan raut bingung. Ia kembali mengangkat mikrofon dan mengulang pengumuman."Mahasiswa terakhir, nomor urut lima puluh, Lyra Florency.”Deretan tamu mulai saling berpandangan, beberapa di antaranya berbisik pelan karena tak ada satu pun sosok yang muncul. Suasana yang semula penuh antisipasi perlahan berubah menjadi canggung dan tegang.Di depan panggung, Neilson melirik jam tangannya sekilas. “Sepertinya kamu gagal,” katanya singkat.Tak adanya kehadiran Lyra membuat Neilson menarik kesimpulan sementara. Dalam benaknya, gadis itu mungkin tak sempat bertindak atau tak berhasil menciptakan karya baru tepat waktu.Saat MC hendak membuka suara kembali, tirai panggung tiba-tiba tersibak. Sosok Lyra muncul dari baliknya, berdiri tegak dengan langkah mantap yang langsung menyedot perhatian seluruh ruangan.Lyra melangkah masuk dengan anggun. Gaun yang semula tampak polos kini berubah menjadi karya baru, garis-garis biru tua menjalar teratur, membentuk motif y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status