LOGINLyra menutup pintu rumah barunya dengan terburu-buru, berlari kecil menuju taksi yang sudah menunggu. Hatinya berdebar penuh semangat, masih terngiang kabar dari Wina beberapa menit lalu.
“Mr. Neil... jadi dosen di kampusku?” gumamnya nyaris tak percaya.
Neil adalah desainer legendaris yang selama ini hanya bisa ia kagumi lewat majalah. Kini, sang idola akan berdiri di depan kelasnya untuk mengajar. Antusiasme itu membuat Lyra sejenak melupakan beban pernikahan kontrak yang baru saja ia tanda tangani. Baginya, ini adalah hadiah keberuntungan besar di tengah hidupnya yang kacau.
Begitu turun dari taksi, Lyra langsung berlari menuju gerbang. Ia melihat Wina berdiri di dekat taman dan langsung melambai.
“Wina!”
Mereka berpelukan erat dan melompat-lompat kegirangan. “Astaga, Ly! Kamu harus lihat sendiri. Mr. Neil sudah datang! Dia... gila, Ly! Ganteng banget, berkharisma, seisi kampus langsung gempar!” seru Wina dengan mata berbinar.
Jantung Lyra berdegup kencang. “Sungguh? Akhirnya aku bisa lihat wajahnya langsung?” Selama ini Neil dikenal sebagai sosok misterius yang tak pernah tampil di publik. Sekarang, wajah di balik karya-karya jenius itu akan terungkap.
Keduanya bergegas menuju ruang kelas. Langkah mereka berubah menjadi lari kecil saat mendengar riuh dari kejauhan. Kelas sudah penuh sesak, bahkan pintu pun tak bisa ditutup karena kerumunan mahasiswi yang berdesakan ingin mengintip. Suasananya lebih mirip konser daripada ruang kuliah.
“Cepat, Ly! Kalau telat, kita cuma dapat tempat berdiri!” Wina menarik tangan Lyra, menerobos kerumunan.
“Permisi! Yang ambil mata kuliah ini mau lewat! Yang lain minggir!” teriak Wina sambil menyikut jalan masuk.
Setelah perjuangan panjang, mereka berhasil mendapatkan dua kursi kosong di baris ketiga. Wina menyeka keringat sambil terkekeh. “Demi apa pun, ini lebih melelahkan daripada olahraga.”
Lyra tertawa kecil, meski matanya terus terpaku ke arah podium. Tak lama, suasana riuh mendadak sunyi. Bisik-bisik kekaguman menyebar saat kerumunan di depan pintu membuka jalan secara teratur.
“Ly, itu dia! Mr. Neil datang!” bisik Wina heboh.
Lyra menahan napas. Dadanya bergemuruh hebat. Sosok pria melangkah masuk dengan postur tegap dan wibawa yang luar biasa. Setiap gerakannya memancarkan karisma yang membungkam seisi ruangan.
Ketika tiba di tengah podium, pria itu mengangkat wajah dan menyapu pandangan ke seluruh kelas. Detik itu juga, matanya bertemu dengan mata Lyra.
Waktu seolah berhenti.
Lyra terbelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. Dunia di sekitarnya mengabur. Pria yang berdiri gagah di hadapannya bukan sekadar desainer misterius atau idola yang ia puja.
Pria itu adalah Neilson Alexander, pria yang baru saja resmi menjadi suami rahasianya.
Tubuh Lyra membeku. Rasa terkejut dan bingung campur aduk menjadi satu.
Neilson pun tampak terdiam sesaat, sorot matanya yang dingin sempat membeku melihat keberadaan Lyra di kursi mahasiswa.
“Astaga, Ly! Dia tampan banget! Aku merinding, sumpah!” bisik Wina tanpa sadar bahwa sahabatnya sudah kehilangan kemampuan untuk bicara.
Lyra tak mendengar ocehan Wina. Pikirannya hanya berputar pada satu kenyataan yang gila.
Tidak mungkin... jadi Neil adalah Neilson? Suami Lyra sendiri?!
Lyra tersenyum lembut, seolah tidak terjadi apa-apa. “Tidak apa-apa,” katanya tenang. “Mungkin kamu memang tidak sengaja.”Ia lalu menoleh pada Wina dan memberi isyarat halus agar sahabatnya menahan diri. “Sudahlah. Kita tidak perlu memperpanjang masalah ini.”Tatapannya sekilas menyapu sekeliling. Beberapa peserta berhenti berbicara. Bahkan beberapa juri terlihat memperhatikan ke arah mereka.Lyra menganggap, dalam kompetisi sebesar ini, tidak mungkin hanya desain yang dinilai. Sikap, etika, dan profesionalisme bisa saja menjadi pertimbangan tambahan.Ia tidak ingin Wina ikut terseret dalam konflik yang bisa merugikan mereka berdua, apalagi itu adalah konflik keluarganya. Ia menarik napas pelan, menenangkan diri.Salsa tersenyum semakin lebar. “Dengar, kan?” ucapnya ringan, menoleh pada Wina dengan nada penuh kemenangan. “Bahkan dia sendiri bilang aku tidak sengaja.”Senyum Salsa bukan seperti permintaan maaf, itu terlihat seperti ejekan.Di sisi lain aula, Grey dan Neilson berdiri
Lyra terkejut ketika tirai benar-benar terbuka dan sosok yang muncul adalah Dave Alexander. Namun, keterkejutan itu segera berubah menjadi kelegaan.Ternyata yang menjadi sponsor utama adalah ayah mertuanya, bukan Neilson. Artinya, pikiran buruk yang sempat menghantuinya bahwa Neilson mungkin ikut campur agar ia lolos seleksi tidaklah benar. Neilson bukan juri, ia tidak duduk di meja penilaian.Lyra perlahan mengangkat wajahnya, lalu tanpa sadar mencari-cari sosok yang ingin ia pastikan. Ia menoleh ke arah kursi tamu undangan. Matanya bergerak menyapu barisan satu per satu hingga akhirnya berhenti di barisan ketiga.Di sana, Neilson duduk dengan tenang di samping Grey. Posturnya tegak, wajahnya datar seperti biasa, namun tatapannya lurus ke arah panggung.Lyra menghela napas panjang. Beban di dadanya terasa sedikit terangkat. Tidak ada campur tangan apa pun dari pria itu. Salsa hanya ingin memprovokasinya.Ia menunduk sejenak, merapikan pikirannya sendiri. Sekarang bukan waktunya memi
"Lyra!" Tiba-tiba, suara seseorang memanggil namanya dari belakang membuat Lyra spontan menoleh. Wina berlari cepat ke arahnya, wajahnya terlihat penuh kegembiraan.Tanpa menunggu, Wina langsung memeluk Lyra. Lyra membalas pelukan itu dengan hangat, merasa lega bisa bertemu sahabatnya di acara lomba sesuai janji mereka.“Aku sudah yakin kamu pasti akan lolos seleksi, Ly,” kata Wina sambil tersenyum lebar, matanya bersinar penuh semangat.Lyra hanya membalasnya dengan tersenyum tipis, namun pikirannya masih terganggu oleh ucapan Salsa. Keraguan tiba-tiba muncul, membuatnya menunduk sejenak.Wina melepas pelukannya perlahan dan menatap gaun Lyra dari atas ke bawah. Lyra menahan napas, takut sahabatnya juga akan menganggap desainnya terlalu sederhana.Namun pandangan Wina berubah. Ia menatap Lyra dengan tatapan penuh arti, penuh semangat.“Desain unik seperti apa lagi yang kamu buat, Ly?” tanya Wina dengan nada antusias.Lyra terkejut. Desainnya unik? Wina benar-benar bisa melihat sesua
Salsa mengepalkan tangannya kuat-kuat, urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam menatap Lyra. Ia benar-benar tidak menyangka perubahan Lyra sebesar ini.Ia sempat mengira keberanian Lyra kemarin hanyalah kebetulan, sekadar emosi sesaat. Namun kini jelas, gadis di hadapannya benar-benar berubah. Lyra tak lagi menunduk, tak lagi membiarkan dirinya diinjak.“Kapan aku bilang gaunku sampah?” Suara Salsa meninggi, tajam dan penuh sindiran. “Yang sampah itu gaunmu! Apa kamu benar-benar pikir desain sesederhana itu bisa menarik perhatian juri?”Ucapannya sengaja dibuat cukup keras hingga beberapa peserta yang berdiri tak jauh dari sana ikut menoleh. Satu per satu tatapan beralih ke arah Lyra, lebih tepatnya ke arah gaun yang ia kenakan.Memang benar, gaun Lyra tampak jauh lebih sederhana dibandingkan yang lain. Tidak ada detail yang rumit, kain berlapis, atau hiasan yang mencolok. Potongan gaunnya bersih, tanpa ornamen berlebihan.Bisik-bisik mulai
Aldi tampak benar-benar terkejut ketika mendengar jawaban Lyra. Alisnya terangkat, dan senyum kecil yang tadi sempat menghiasi wajahnya perlahan memudar.“Kamu ... belum melihatnya?” tanyanya pelan, memastikan.Lyra menggeleng. “Belum. Flashdisk apa memangnya? Aku tidak ingat melihat apa pun di dalam kotak foto itu.” Ia berpikir sejenak, lalu menambahkan. “Mungkin aku kurang teliti. Nanti setelah lomba selesai, aku akan memeriksanya lagi.”Aldi terdiam. Sorot matanya berubah, ada sesuatu yang tampak ragu sekaligus gugup. Jika Lyra sudah membuka kotak itu dengan saksama, seharusnya ia menemukan flashdisk yang sengaja ia selipkan di sana.“Kalau begitu ....” Aldi menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. “Sebenarnya kamu tidak perlu mencarinya lagi.”Lyra mengernyit bingung. “Tidak perlu? Kenapa?”Aldi mengusap tengkuknya canggung. Jemarinya bergerak gelisah di sisi tubuhnya sebelum akhirnya ia menatap Lyra dengan lebih serius. “Sebenarnya aku ingin mengatakannya se
Perjalanan menuju lokasi lomba memakan waktu hampir dua jam.Sepanjang jalan, Lyra lebih banyak diam. Tangannya sesekali meremas ujung tas di pangkuannya, lalu melepasnya lagi. Ia berusaha mengatur napas, menenangkan pikirannya yang terus membayangkan bagaimana cara dirinya bersikap ketika ia sudah sampai di tempat lomba.Ketika mobil akhirnya berhenti di depan gedung acara, Lyra terdiam beberapa detik dan menarik napas panjang sebelum membuka pintu. Kakinya menapaki aspal dengan sedikit kaku, kemudian ia mendongak menatap bangunan tinggi di hadapannya.Spanduk besar terpampang di depan pintu masuk. Para peserta berjalan masuk dengan busana terbaik mereka, beberapa kru sibuk membawa perlengkapan, tamu undangan mulai berdatangan, juga ada beberapa wartawan yang masih berlalu-lalang.Suasana itu tiba-tiba membuat dadanya kembali terasa sesak.Lyra menarik napas panjang, mencoba menegakkan bahunya. Ia baru hendak melangkah ketika mendengar pintu mobil di sisi lain ikut terbuka. Ia menole







