Share

Bab 4

Bab 4

"Saya bilang nggak ada acara bulan madu, Arumi!" setelah beberapa saat terkejut, dosen muda itu kembali menguasai dirinya. Pembawaannya yang datar dan dingin mempermudah ia melakukan hal itu, berpura-pura terlihat biasa saja walau sebenarnya tidak biasa.

"Ya sudah, kalau Mas nggak mau, siap-siap saja ribut sama Abah dan Ummi." Arumi tetap pada pendiriannya.

Ibrahim menghela nafasnya panjang, sembari memandang Arumi kesal, "Dasar bocah labil, sukanya ngaduan," gerutunya, tentu saja hal itu hanya ia sampaikan dari hati ke hati.

"Kenapa kamu maksa sekali untuk bulan madu? Bukannya percuma bulan madu tanpa saling menyentuh? Mau ngapain kita?" sahut Ibrahim mencoba mengalihkan keinginan Arumi.

"Kita bisa kok saling menyentuh, jadi nggak akan percuma, Mas. Itu pun kalau Mas mau." Arumi menimpali.

"Sayangnya itu tak kan terjadi." Ibrahim dengan cepat menyahuti

"Huh, kita lihat aja nanti," gumam Arumi, tentu saja hal itu hanya ia sampaikan dalam hati.

"Ya itu sih berarti yang bermasalah Mas Ibranya. Setidaknya menurut Arumi ambil cuti untuk bulan madu nggak akan percuma lah, Mas ... Mumpung ada kesempatan, minimal kita bisa sekedar liburan dari rutinitas yang melelahkan, bukan?

Pura-pura untuk terlihat baik-baik saja di hadapan keluarga kita itu lelah loh, Mas ... sama aja kita akting seharian, artis aja akting dibayar mahal, masa Arumi harus akting tapi nggak dapat apa-apa? Minimal ada kompensasi liburan lah," sahut Arumi semakin melancarkan rencananya.

Dosen muda bernama Ibrahim itu terlihat menimbang.

"Benar juga apa kata Arumi, minimal kita bisa rehat sejenak dari aktivitas pura-pura yang melelahkan ini. Setidaknya dia mulai bisa menerima keputusanku dengan tidak memaksaku untuk menunaikan tugasku sebagai suaminya. Mengajaknya berlibur barang beberapa hari sepertinya tidak ada salahnya, daripada aku harus ribet dengan urusan keluarga." Ibrahim menimbang dalam hati.

"Jadi bagaimana, Mas?" tanya Arumi menuntut jawaban dari suaminya.

"Nanti akan saya pertimbangkan lagi," sahut Ibrahim tak ingin membuat Arumi besar kepala jika ia mengabulkan permintaannya begitu saja.

"Arumi butuh jawabannya sekarang, Mas ... kalau nggak—." Arumi berniat mengancam.

"Oke ... oke ... kita ambil cuti minggu depan, tapi ingat, maksimal 3 hari, saya nggak mau kerjaan saya jadi numpuk gara-gara kamu!" sahut Ibrahim cepat.

Seketika senyum Arumi mengembang. "Makasih, Mas ...," ucap Arumi sembari bergelayut manja di lengan Ibrahim, membuat lelaki tembok itu merasa risih.

"Arumi ... maaf, jangan seperti ini," ucapnya berusaha melepas lengannya dari dekapan Arumi. Namun gadis itu sengaja menahan posisinya.

"Kenapa sih, Mas? Halal, kan? Jangan takut gitu lah ... gini doang nggak akan bikin Arumi jadi hamil kok," sahut Arumi cukup frontal.

"Tapi saya nggak nyaman, tolong lepaskan!" Ibrahim terus berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Arumi.

Arumi mulai menjauhkan tubuhnya dari lengan Ibrahim, namun masih enggan melepas genggamannya. Setidaknya Ibrahim terlihat lebih tenang karena tidak lagi bersentuhan dengan lekuk tubuh Arumi yang dapat memicu hasrat kelelakiannya.

"Mas Ibra harus membiasakan hal-hal seperti ini, supaya lebih mendukung akting kita, Mas ... kalau Mas Ibra terlihat kaku dan berjarak dengan Arumi di depan keluarga kita, kira-kira apa yang akan mereka pikirkan? Bisa-bisa mereka akan curiga, Mas," ucap Arumi mulai mempengaruhi suaminya.

"Nggak seribet itu juga, nanti saya akan ajak kamu tinggal di rumah pribadi saya, dengan begitu kita tidak perlu banyak bersandiwara." Ibrahim menyampaikan rencananya.

Arumi mencebikkan bibir, "kita lihat aja nanti, Mas," gumamnya dalam hati.

"Jadi kita mau bulan madu ke mana, Mas?" tanya Arumi kembali ke pembahasan awal.

"Terserah kamu aja." Ibrahim menyahut sembari kembali mengenakan kacamata dan lanjut memeriksa data skripsi mahasiswanya. Sementara Arumi sibuk mencari destinasi bulan madu yang ingin ka kunjungi.

"Mas ... gimana kalau Raja Ampat?" tanya Arumi setelah beberapa saat berpkir.

"Hanya tiga hari, jangan lupakan itu!" sahut Ibrahim tanpa menoleh.

"Kejaugan ya, Mas?"

"Hem." lelaki kulkas itu hanya berdehem sebagai jawaban.

"Kalau Bali?" tanya Arumi lagi.

"Saya nggak suka suasana Bali, terlalu ramai." Ibrahim kembali menolak.

"Lombok gimana?"

"Jangan lombok, di sana saya banyak kenalan, ribet kalau sampai mereka tahu saya ke Lombok." Ibrahim kembali menolak usulan Arumi.

"Kalau gitu terserah Mas aja lah, kayaknya dari tadi saran Arumi nggak ada yang pas deh," gerutu Arumi kesal.

"Kamu cari seputar area Jatim saja, jangan jauh-jauh!"

"Ya ampun, Mas ... ini kan bulan madu, acara kampus aja pilih destinasi di luar jatim loh, masa kita mau bulan madu malah di sini sini aja?" protes Arumi.

"Terserah kamu, mau pilih di Jatim, atau nggak sama sekali." Ibrahim menyahut datar, membuat Arumi semakin merasa geregetan.

Ia menyedekapkan kedua tangannya sembari memandang kesal ke arah suaminya, "aneh, ya? Cowok senyebelin ini bisa famous dan digilai mahasiswi bahkan dosen-dosen muda di kampus? Manis sih ... tapi ... sikapnya nggak ada manis-manisnya," komentarnya dalam hati.

"Nggak usah ngelihatin saya kayak gitu, nanti kamu naksir!" masih dengan mata yang fokus pada ponselnya, Ibrahrim menyindir istrinya.

"Bukannya memang seharusnya gitu ya, Mas? Kan kita suami istri, harus saling mencintai dong, minimal pertama naksir dulu?" sahut Arumi berargumentasi.

"Hanya sementara, kalau kamu naksir saya beneran, nanti kamu sendiri yang repot." Ibrahim berucap sembari beranjak dari tempatnya.

Arumi berdecak kesal. "Mas Ibra mau ke mana?" tanya Arumi saat melihat suaminya beranjak meninggalkannya.

"Kamar mandi, kenapa, mau ikut juga?" sindir Ibrahim kesal, sebab sejak tadi Arumi seperti tak memberi ia ruang untuk sendiri.

"Wah, boleh, Mas?" di luar dugaan, bukannya mundur, Arumi justru menyambut ajakannya dengan antusias. Gadis itu justru terkesan menantangnya.

Ibrahim menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah Arumi. "Nggak usah mimpi!" serunya kemudian berlalu.

"Yeeee ... nawar-nawarin sendiri malah takut-takut sendiri, aneh!" gumam Arumi pelan.

Sementara Ibrahim yang samar-samar masih mendengar suara Arumi tersenyim tipis, "Dasar bocah labil!" batinnya sembari menggeleng kepala.

Merasa gabut berada di kamar berdua dengan suami temboknya, Arumi pun memutuskan untuk keluar, membuat kopi susu sembari nyemil mungkin akan sedikit menghilangkan rasa gabutnya.

Arumi berkutat di dapur, menyeduh secangkir kopi susu instan yang selalu ia sediakan, sembari menghangatkan donat frozen sebagai cemilan

"Kok manten baru malam-malam begini malah sibuk di dapur?" tiba-tiba suara Aminah–Ummi Arumi terdengar. Tanpa ia sadari, umminya sudah berada di belakangnya.

"Eh, Ummi ...," Arumi cukup terkeju. Bertemu dengan ummi dan Abahnya adalah hal yang ia hindari saat ini, sebab ia belum menyiapkan jawaban jika orang tuanya bertanya tentang sejauh mana hubungannya dengan Ibrahim.

"Kamu ngapain, Nduk? Bukannya nemenin suami di kamar, malah sibuk sendiri." Aminah bertanya pada putri semata wayangnya.

"Arumi lagi pengen ngopi, Ummi ...," sahut Arumi apa adanya.

"Pengantin baru jangan banyak-banyak konsumsi kopi. Kopi itu bikin anumu baunya jadi kurang sedep, Nduk!

Sekarang ini masa-masa penentuan, lho, Nduk, jadi kamu harus hati-hati, jangan sampai buat suamimu kecewa." Ummi Arumi menasihati.

"Bentar deh, Ummi ... Rum nggak paham, kenapa urusan ngopi bisa sampai ngecewain suami?" tanya Arumi dengan polosnya.

Aminah tersenyum, ia merangkul putrinya sembari memberi penjelasan.

"Jadi begini, Nduk ... hari-hari pertama pernikahan itu sebenarnya secara nggak langsung akan menjadi gambaran untuk masa depanmu, khususnya dalam hal urusan ranjang.

Kalau pas malam pertama kamu berhasil bikin suamimu puas, InsyaAllah di malam-malam selanjutnya akan lebih berhasil dari malam pertamanya, sebab memory pertama yang terekam di benak suamimu adalah memory indah. Begitu juga sebaliknya.

Jadi kamu harus bener-bener memperhatikan servicemu di malam pertama, persembahkan yang terbaik, jangan sampai buat suamimu kecewa. Karena ini malam penentuanmu.

Salah satunya ya dengan menghindari konsumsi kopi dalam beberapa waktu ke depan, soalnya kopi bisa bikin area itumu bau kurang sedap, khawatir suamimu jadi nggak nyaman dan nggak terpuaskan." Aminah menjelaskan panjang lebar, sementara Arumi hanya ber-oh ria.

"Ya Allah, Ummi ... boro-boro bicara soal kepuasan, dia disentuh aja ogah!" gumamya dalam hati.

"Ya wis, gek ndang balik ke kamar, kasih aja kopinya buat suamimu, orang laki itu mudah luluh kalau diperhatikan terus, Nduk ... walaupun itu berupa perhatian-perhatian kecil seperti ini," titah Ummi Aminah.

"Gitu ya, Mi?" sahut Arumi.

"Iya, Nduk ... tapi ngomong-ngomong gimana kamu sama Nak Ibra? Kalian baik-baik saja, kan? Ummi jadi kepikiran, soalnya nak Ibra kan nikahin kamu dadakan," tanya Aminah seketika membuat tenggorokan Arumi tercekat, bingung harus menjawab apa?

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status