Masuk“Dih, belum bangun juga ini anak!”
Tiara mengambil toner spray-nya dan segera menyemprotkan ke wajah Naira. Naira terkejut dan gelagapan. Seperti yang tenggelam di kolam renang. “Woy, bangun!” Tiara menepuk-nepuk pipi Naira pelan. “Kamu di kasur, kagak tenggelam, Ira!” Naira tiba-tiba membuka matanya. Tangannya mengusap wajahnya yang basah. “Aku masih hidup ya?” Tiara menyodorkan segelas air madu untuknya. “Nih, minum dulu. Dari Tante.” Naira mengambil gelas itu dan meminumnya. Rasa pusingnya mulai memudar. “Ini jam berapa sih?” tanya Naira. Matanya menyipit melihat jam. “Jam 9. Sana mandi, abis itu makan. Tuh udah aku bawain dari Tante,” jawab Tiara. Naira mengucek-ngucek matanya. Lalu dia tersentak kaget. “Hah?! Jam 9? Sialan! Kenapa kamu nggak bangunin aku dari tadi sih?” Naira bergegas bangun dan ke kamar mandi. Secepat kilat, Naira sudah keluar lagi dan berganti pakaian. “Heh, kamu nggak mandi?” tanya Tiara kaget. “Mandi, gigi doang,” jawab Naira cuek. “Nanti ajalah pulang bimbingan mandinya. Gila, bisa-bisa gagal lulus tahun ini kalau telat.” Lalu Naira segera ganti baju sambil sesekali melahap makanan yang disiapkan Ines tadi. “Terima kasih, Tuhan, aku diberi teman sebaik dan sekaya Tiara. Sarapan nggak usah beli dan selalu dibuatkan Bu Kos. Lumayan, bisa ngirit banyak,” ucap Naira sambil tersenyum senang. Tiara mendelik. “Makanya bersyukur tuh yang bener. Uangnya jangan dipake mabok-mabokan coba!” “Sesekali doang kok, itung-itung self reward.” Naira memakai krim tabir surya dan juga liptint berwarna merah marun. “Dah ya, aku pergi dulu,” kata Naira sambil menggantungkan tas di bahunya. “Eh, hari ini kamu nggak ngampus?” Wajah Tiara berubah merah. “Ng-nggak kayaknya. Nggak tau tapi, tergantung nanti bimbingan atau nggak.” Naira meringis. “Semangat ya! Semoga tiba-tiba semalam dosen killer itu tobat dan nggak ngamuk-ngamuk lagi ke kamu! Dah!” Tiara nyengir. “Dah!” Tiara kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menatap langit-langit dengan pandangan kosong. “Ya Tuhan! Bagaimana ini? Aku semalam tidur dengan suami orang!” Tiara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Apa statusku sekarang jadi pelakor?” Tiara memiringkan tubuhnya ke kanan. Dia menggigit kukunya. Cemas. “Kalau tiba-tiba viral bagaimana? Mau ditaruh di mana mukaku? Bagaimana menjelaskan semua ini sama Ayah dan Bunda?” Terlalu banyak hal yang dicemaskan Tiara saat ini. Dia benar-benar tidak menyangka kejadian semalam benar-benar menimpanya. Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Tiara terkejut melihat nama Pak Bima pada layar ponselnya. Jantungnya berdebar kencang. Tiara langsung terduduk sambil gemetar memegang ponselnya. “Angkat sekarang, nggak ya?” Tiara masih terpaku menatap ponselnya. “Apa … pura-pura ketiduran aja?” Tiara tampak gelisah. Dia belum berani menunjukkan batang hidungnya di hadapan Bima. Ponselnya berhenti berdering. Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Untungnya pesannya bisa terbaca pada notifikasi pop-up. Bima: Saya kosong jam 11:00-12:30. Kamu bisa bimbingan pada jam-jam tersebut. Dahi Tiara berkerut. “Dih, siapa yang mau bimbingan hari ini?” Tiara melemparkan ponselnya pelan. Dia kembali tiduran. Tapi tiba-tiba, suara Bima terngiang di telinganya. “Kamu harus terus mengikuti permainan saya,” ucap Bima pagi tadi. “Besok temui saya di kubikel jam 8 pagi.” Tiara kembali menggigit kukunya. “Eh, bukannya tadi dia bilang besok ketemunya. Kok sekarang malah nyuruh nanti sih?” Tiara mengambil lagi ponsel dan menatapnya. “Baca sekarang nggak ya? Atau … pura-pura masih di kamar mandi?” Tiara benar-benar bingung. Di satu sisi, dia malas untuk bertemu Bima secepat itu. Tapi di sisi lain, dia takut ancaman Bima benar-benar terjadi. Tiara menghela napas panjang. Lalu, dia memberanikan diri untuk membuka pesan dari Bima. Tiara kemudian mulai membalas pesan. Tiara: Mohon maaf, Pak. Tadi saya sedang di kamar mandi. Bukankah bimbingannya besok pagi jam 8 ya, Pak? Tidak lama kemudian, Bima membalas pesannya. Bima: Hari ini saja. Besok, saya ada keperluan lain. Tiara: Baik, Pak. Kalau begitu, nanti jam 11:00 saya ke kampus. Terima kasih. Tiara menyimpan ponselnya dan segera membuka lemari. Dia mengeluarkan beberapa pakaiannya dan dicoba sambil bercermin. Tiara mencoba memasangkan kaos pink dan rok putih payung selutut. Lalu, dia mencoba kemeja biru dengan celana jeans cutbray. Dia juga mengambil tanktop hitam, blazer coklat, dan celana kain hitam. Kemudian, dia mencoba memasangkan midi dress floral dengan cardigan crop top. Tiba-tiba, Tiara tersadar. “Aku ngapain sih? Aku kan cuman mau bimbingan. Ngapain nyari-nyari outfit?” Tiara melemparkan pakaiannya ke atas kasur sambil bergidik. Lalu, dia mengambil pakaian sembarang. Hari itu, dia merasa tidak mau berpenampilan cantik seperti biasanya. “Tolong sadar Tiara! Kamu hanya ingin skripsi kamu cepat selesai,” ucap Tiara sambil mengenakan tabir surya dan juga lipstick berwarna merah muda. Rambutnya yang panjang, ia cepol dengan asal. Tak lupa, ia membawa laptop dan juga print-an skripsinya yang belum sempat ia revisi ulang. “Semoga hari ini dia nggak akan marah-marah lagi!”“Maaf, Pak, saya terlambat,” ucap Tiara sambil ngos-ngosan. Jarak antara kantornya dengan café Secret Garden sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi kalau harus naik kendaraan, jalan yang diambil harus memutar karena jalan di sana merupakan jalan satu arah. Jadi, Tiara lebih memilih berlari agar cepat sampai. Bima sedang menikmati makan siangnya. “Duduklah!”Tiara menggeserkan kursi dan kemudian duduk. Bima melambaikan tangannya kepada pelayan. Dan pelayan pun segera datang menghampirinya. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya pelayan tersebut. Bima menyerahkan menu kepada Tiara. “Kamu pesan makanan dulu. Kita bisa bicara setelah ini.”Tiara menerima buku menu dengan bingung. Tapi, dia tetap memesan makanan sesuai perintah Bima. “Saya mau Pasta Vongole satu dan Butter Garlic Shrimp satu. Minumnya es kelapa satu. Terima kasih,” ucap Tiara. Pelayan mencatat dan membacakan pesanan lagi untuk memastikan pesanannya benar. Setelah itu, pelayan segera kembali ke dalam. “Jadi kamu bekerj
“Baik, Mbak. Selamat pagi, Pak Guntur dan Pak Bima. Perkenalkan, saya Tono Hartono, Kepala Perencanaan Tur,” ucap Tono membuka presentasi. Tono menjelaskan rencana kegiatan selama di Pulau Samara selama 3 hari 2 malam. Semua menyimak dengan baik, kecuali Bima dan Tiara. Mereka tampak tidak nyaman dan menyembunyikan perasaan masing-masing. Sesekali mereka saling lirik. Namun, seketika langsung membuang muka dan berpura-pura melakukan hal lain. ‘Kenapa harus ketemu Pak Bima di sini sih?’ tanya Tiara dalam hati. ‘Ternyata, dia kerja di sini,’ ucap Bima dalam hatinya. ‘Kenapa si Guntur bisa nyasar ke sini sih?’Rupanya Tono sudah selesai mempresentasikan rencana kegiatan. Lalu, dia mempersilakan Tiara untuk melanjutkan diskusi. Namun, Tiara masih tenggelam dalam lamunannya. “Mbak, Mbak Tiara!” panggil Tono membuyarkan lamunan Tiara. Tiara tersentak. “Eh, ya? Maaf, maaf, sampai mana tadi?”Tono memberi isyarat kepada Tiara untuk maju ke depan. Tiara segera beranjak dan merapikan pak
“Setidaknya aku lebih bisa berargumen dan menggunakan logika dalam setiap situasi,” sangga Septha. Tiara dan Septha memang selalu ribut setiap bertemu. Tetapi justru itulah cara mereka menunjukkan kasih sayang mereka. Karena kalau salah satu dari mereka marah, yang tersisa hanyalah keheningan yang cukup lama. Pernah mereka ribut karena masalah kamar mandi. Siapa yang lebih dulu harus mandi. Dan berakhir saling diam sampai satu bulan lamanya. “Silakan menikmati hidangannya, Nona-nona.” Seorang pramusaji datang membawa pesanan mereka.Wangi saus truffle yang begitu memikat, membuat perut Tiara semakin keroncongan. Seketika Tiara dan Septha menghentikan perdebatan mereka dan tenggelam dengan kenikmatan santapan malam. Lidah mereka termanjakan. Dan perut mereka puas kekenyangan. “Ayo, Kak, kita pulang!” ajak Septha begitu mereka selesai makan.Mereka pun bergegas pulang. Rumah orang tua Tiara berada di komplek perumahan yang letaknya sangat strategis. Pasar, pusat perbelanjaan, fas
“Iya, Bun, aku juga terus berusaha kok, agar skripsiku cepat selesai,” ucap Tiara lemas. Seorang pramusaji mengantarkan pesanan mereka. Tiara langsung menyedot minumannya. Mia memperhatikan anak sulungnya. Tidak seperti biasa, Tiara agak tertutup hari itu. “Ada apa, Nak?” tanya Bunda lembut. Tiara tersentak. “K-kenapa Bun?”Mia menggeleng pelan. Lalu menggenggam tangan Tiara. “Maafkan Bunda ya, Kak, sudah memberikan beban yang besar bagi Kakak.”Meskipun Mia terlihat kuat dari luar, tapi Tiara tahu betapa rapuhnya di dalam. Itulah yang membuat Tiara harus bisa menjadi pelindung bagi keluarganya. Tiara harus segera mengambil alih bisnis ayahnya. Meskipun Mia pernah memberikan pilihan untuk menyerahkan kepemimpinan kepada tenaga profesional. Tapi bisnis yang Jeremy bangun adalah mimpinya yang baru bisa terlaksana setelah Jeremy pensiun mengajar. Dan Tiara ingin menjaga dan melindungi mimpi ayahnya itu. “Bunda nggak usah khawatir. Ini juga mimpi Tiara kok, Bun,” kata Tiara. “Bund
“Diambil darahnya kan pas Ayah pingsan. Jelas nggak sakit,” celetuk Septha. Anak satu ini memang suka ceplas-ceplos. Gen Alpha memang beda. Semua orang jadi tertawa mendengarnya. Tidak lama kemudian, seorang dokter jaga bertubuh tinggi dengan kulit yang eksotis datang. Perawat cantik bertubuh mungil mengikutinya di belakang sambil membawa berkas medis. “Selamat siang Bapak dan Ibu, juga Kakak dan Adik. Hasil tes laboratorium sudah saya terima,” ucap dokter jaga sambil meminta berkas dari perawat. Dokter membaca kembali hasil tesnya. “Kadar hemoglobin Bapak cukup rendah di 8,5 g/dL, nilai normalnya untuk pria di angka 13 ke atas. Ada kemungkinan, Bapak mengalami anemia.”Tiara, Mia, dan juga Septha mendengarkan dokter dengan seksama. Mereka berpegangan tangan, berharap semuanya baik-baik saja. Dokter melanjutkan penjelasannya. “Dan juga kadar gula darah Bapak Jeremy juga cukup rendah, di angka 60 mg/dL. Kondisi ini bisa jadi membuat Bapak pusing, pandangan kabur, dan bahkan pingsa
Bima menggeleng. “Bukan menyiapkan, tapi membelikan dan mengantarkan ke sini.”“Yah, Pak, kalau saya tidak bisa bagaimana, Pak?” rengek Tiara. “Saya harus kerja soalnya, Pak.”Bima merapikan mejanya. “Saya tidak mau tahu. Bagaimanapun, sesibuk apapun, kamu harus menyempatkan diri untuk mengantar makanan saya ke sini.”Lalu, dia berdiri dan mencondongkan wajahnya ke arah Tiara. Tiara agak tersentak kaget. “Kamu harus ingat kesepakatan kita,” ucap Bima dengan tatapan yang tajam dan senyum sinisnya.Tiara tampak syok. “B-baik kalau begitu, Pak.”Bima melihat jam tangannya. “Ya sudah, kamu boleh keluar.”“Kita nggak bimbingan, Pak?” tanya Tiara tak percaya. “Sudah selesai,” ucap Bima. Tiara hanya mendengus kesal. Mau tidak mau dia hanya mengangguk dan bergegas membereskan laptopnya. Tidak lupa, dia masukkan black card milik Bima ke dalam dompetnya. Lalu, dia pamit. Belum juga Tiara melangkahkan kakinya keluar, Bima memanggilnya kembali. “Tiara,” ucap Bima.Tiara menoleh. “Ya, Pak?”“







