로그인“Aku nggak telat, kan?” tanya Tiara sambil melihat jam tangannya.
Tiara segera masuk ke lift dan menekan tombol 4, jurusan Sastra Inggris berada. Gedung fakultas bahasa memiliki bentuk yang unik. Dari luar tampak seperti kubus-kubus bertumpuk tak beraturan dan berwarna-warni. Keluar dari lift, tampak sebuah lobby penuh dengan nuansa merah, biru, dan putih. Lengkap dengan ornamen bendera Inggris dan juga boneka singa sebagai hewan nasional Inggris. Di sebelah kiri lobby, terdapat kantor jurusan serta ruang Kepala Jurusan. Di sebelah kanan, terdapat ruang Ketua Program Studi dan juga Sekretaris Program Studi. “Tiara!” panggil Pak Fendy, Ketua Administrasi Jurusan. “Ini berkas laporan penelitian yang harus kamu isi, dan nanti harap dilampirkan di dalam skripsi kamu, ya!” “Oh, iya, Pak. Terima kasih,” ucap Tiara. “Bagaimana, skripsi kamu lancar?” tanya Pak Fendy. Tiara hanya bisa tersenyum getir. Skripsinya tidak lancar. Bahkan terancam mengulang lagi dari nol. Tapi, dia juga tidak akan menyerah sampai akhirnya Bima bisa menyetujui skripsinya. Tiara pamit dan segera menuju koridor di samping ruangan Sekretaris Program Studi yang menyambungkan ke ruangan Dosen. Ruangan itu dibagi ke dalam beberapa kubikel. Kubikel Bima ada di paling ujung bersama para dosen muda lainnya yang sering dijuluki oleh mahasiswa “Pandawa” Sasing. Mereka berempat adalah Bima, Arjuna, Yudi, dan Dewa. Nama mereka memang mirip sekali dengan tokoh wayang Pandawa Lima yang terkenal. Sebelum menuju kubikel Bima, Tiara belok dulu ke toilet. Perasaannya tentu saja tidak karuan mengingat apa yang sudah terjadi antara mereka semalam. ‘Kenapa pikiranku jadi nggak karuan begini ya?’ tanya Tiara dalam benaknya. Tiara mengunci pintu toilet dan menyalakan kran air. Padahal dia tidak melakukan apapun di dalam toilet. Hanya berusaha untuk menenangkan diri. Tiara mengatur napasnya. ‘Tarik napas … tahan … hembuskan …’ Setelah perasaannya cukup tenang, perlahan Tiara membuka pintu. Lalu, dia menuju wastafel dan mencuci muka. Tiara menatap wajahnya di cermin dan meyakinkan dirinya. ‘Tenang, Tiara. Kamu pasti bisa melalui semua ini,’ ucapnya dalam hati. Dia mengambil tisu yang menempel di dinding, mengelap wajahnya. Lalu dia melempar tisu itu ke tong sampah sambil melenggang pergi. Langkahnya begitu mantap menuju kubikel Bima. Tiara mengetuk pintu yang terbuka. “Selamat siang, Pak!” Tampak Bima sedang membaca berkas di tangannya. Dia begitu tampan saat sedang serius. Tanpa menoleh, Bima mempersilakan Tiara masuk. “Duduk dulu!” Tiara duduk di kursi di depan meja Bima. Cukup lama mereka berada di ruangan itu tanpa sepatah kata pun. Bima masih fokus pada kertas-kertas di mejanya. Setelah 30 menit berlalu, Tiara memberanikan diri untuk bertanya. “Pak, maaf, apakah saya bisa bimbingan hari ini juga? Saya lihat, Bapak masih memiliki banyak pekerjaan,” ucap Tiara dengan hati-hati. Bima melihat jam tangannya. “Masih ada waktu sejam lagi. Tunggu, ya!” Dengan terpaksa, Tiara kembali menunggu. Karena bosan, Tiara mengeluarkan laptopnya dan mencoba merevisi skripsinya. Tiara dan Bima kini sibuk dengan urusan masing-masing. Tepat pukul 12, Dewa datang dan mengetuk kubikel Bima. Bima dan Tiara tersentak kaget. “Ya, kenapa Pak Dewa?” tanya Bima. “Kalian sedang bimbingan? Kok nggak ada suara sama sekali?” tanya Dewa sambil terkekeh. Tiara hanya nyengir. Dia juga tidak mengerti kenapa dia harus berada di sana. “Kenapa? Mau makan?” tanya Bima kepada Dewa. “Duluan saja, nanti saya nyusul. Bentar lagi lah!” Dewa mengangguk. “Oke. Di tempat biasa ya!” Bima mengacungkan jempolnya, setuju. Setelah itu, dia mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya. “Ini,” ucap Bima sambil menyodorkan sebuah black card kepada Tiara. Tiara mengerutkan dahi. Bingung. “Ini apa, Pak?” “Black card,” jawab Bima. Lalu, dia menatap Tiara. “Kamu nggak tahu itu apa?” Tiara menatap Bima tak percaya. “Ya saya tahu kartu itu–” Bima langsung memotong perkataan Tiara begitu saja. “Lalu kenapa kamu nanya seperti itu?” “Maksud saya, kenapa Bapak kasih kartu itu ke saya?” tanya Tiara agak ketus. “Apa jangan-jangan …” Tiara menutup mulutnya dengan tangannya. Dia celingukan memastikan tidak ada siapapun di dekat mereka. “Bapak mau jadikan saya simpanan, Pak?” tanya Tiara dengan mata yang melotot hampir keluar dari kelopaknya. Bima menepuk dahi. Dia tidak percaya bahwa gadis di depannya memiliki tingkat percaya diri yang begitu tinggi. “Jangan geer, kamu! Saya kasih kartu itu karena mulai besok, eh tidak, besok saya tidak di sini. Mulai hari Rabu, kamu bertugas untuk membelikan saya makan siang,” kata Bima. Dahi Tiara berkerut. “Saya, Pak?” “Memangnya di sini ada orang selain kamu?” tanya Bima dingin. Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Jadi setiap hari, saya harus siapkan makan siang untuk Bapak?”“Maaf, Pak, saya terlambat,” ucap Tiara sambil ngos-ngosan. Jarak antara kantornya dengan café Secret Garden sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi kalau harus naik kendaraan, jalan yang diambil harus memutar karena jalan di sana merupakan jalan satu arah. Jadi, Tiara lebih memilih berlari agar cepat sampai. Bima sedang menikmati makan siangnya. “Duduklah!”Tiara menggeserkan kursi dan kemudian duduk. Bima melambaikan tangannya kepada pelayan. Dan pelayan pun segera datang menghampirinya. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya pelayan tersebut. Bima menyerahkan menu kepada Tiara. “Kamu pesan makanan dulu. Kita bisa bicara setelah ini.”Tiara menerima buku menu dengan bingung. Tapi, dia tetap memesan makanan sesuai perintah Bima. “Saya mau Pasta Vongole satu dan Butter Garlic Shrimp satu. Minumnya es kelapa satu. Terima kasih,” ucap Tiara. Pelayan mencatat dan membacakan pesanan lagi untuk memastikan pesanannya benar. Setelah itu, pelayan segera kembali ke dalam. “Jadi kamu bekerj
“Baik, Mbak. Selamat pagi, Pak Guntur dan Pak Bima. Perkenalkan, saya Tono Hartono, Kepala Perencanaan Tur,” ucap Tono membuka presentasi. Tono menjelaskan rencana kegiatan selama di Pulau Samara selama 3 hari 2 malam. Semua menyimak dengan baik, kecuali Bima dan Tiara. Mereka tampak tidak nyaman dan menyembunyikan perasaan masing-masing. Sesekali mereka saling lirik. Namun, seketika langsung membuang muka dan berpura-pura melakukan hal lain. ‘Kenapa harus ketemu Pak Bima di sini sih?’ tanya Tiara dalam hati. ‘Ternyata, dia kerja di sini,’ ucap Bima dalam hatinya. ‘Kenapa si Guntur bisa nyasar ke sini sih?’Rupanya Tono sudah selesai mempresentasikan rencana kegiatan. Lalu, dia mempersilakan Tiara untuk melanjutkan diskusi. Namun, Tiara masih tenggelam dalam lamunannya. “Mbak, Mbak Tiara!” panggil Tono membuyarkan lamunan Tiara. Tiara tersentak. “Eh, ya? Maaf, maaf, sampai mana tadi?”Tono memberi isyarat kepada Tiara untuk maju ke depan. Tiara segera beranjak dan merapikan pak
“Setidaknya aku lebih bisa berargumen dan menggunakan logika dalam setiap situasi,” sangga Septha. Tiara dan Septha memang selalu ribut setiap bertemu. Tetapi justru itulah cara mereka menunjukkan kasih sayang mereka. Karena kalau salah satu dari mereka marah, yang tersisa hanyalah keheningan yang cukup lama. Pernah mereka ribut karena masalah kamar mandi. Siapa yang lebih dulu harus mandi. Dan berakhir saling diam sampai satu bulan lamanya. “Silakan menikmati hidangannya, Nona-nona.” Seorang pramusaji datang membawa pesanan mereka.Wangi saus truffle yang begitu memikat, membuat perut Tiara semakin keroncongan. Seketika Tiara dan Septha menghentikan perdebatan mereka dan tenggelam dengan kenikmatan santapan malam. Lidah mereka termanjakan. Dan perut mereka puas kekenyangan. “Ayo, Kak, kita pulang!” ajak Septha begitu mereka selesai makan.Mereka pun bergegas pulang. Rumah orang tua Tiara berada di komplek perumahan yang letaknya sangat strategis. Pasar, pusat perbelanjaan, fas
“Iya, Bun, aku juga terus berusaha kok, agar skripsiku cepat selesai,” ucap Tiara lemas. Seorang pramusaji mengantarkan pesanan mereka. Tiara langsung menyedot minumannya. Mia memperhatikan anak sulungnya. Tidak seperti biasa, Tiara agak tertutup hari itu. “Ada apa, Nak?” tanya Bunda lembut. Tiara tersentak. “K-kenapa Bun?”Mia menggeleng pelan. Lalu menggenggam tangan Tiara. “Maafkan Bunda ya, Kak, sudah memberikan beban yang besar bagi Kakak.”Meskipun Mia terlihat kuat dari luar, tapi Tiara tahu betapa rapuhnya di dalam. Itulah yang membuat Tiara harus bisa menjadi pelindung bagi keluarganya. Tiara harus segera mengambil alih bisnis ayahnya. Meskipun Mia pernah memberikan pilihan untuk menyerahkan kepemimpinan kepada tenaga profesional. Tapi bisnis yang Jeremy bangun adalah mimpinya yang baru bisa terlaksana setelah Jeremy pensiun mengajar. Dan Tiara ingin menjaga dan melindungi mimpi ayahnya itu. “Bunda nggak usah khawatir. Ini juga mimpi Tiara kok, Bun,” kata Tiara. “Bund
“Diambil darahnya kan pas Ayah pingsan. Jelas nggak sakit,” celetuk Septha. Anak satu ini memang suka ceplas-ceplos. Gen Alpha memang beda. Semua orang jadi tertawa mendengarnya. Tidak lama kemudian, seorang dokter jaga bertubuh tinggi dengan kulit yang eksotis datang. Perawat cantik bertubuh mungil mengikutinya di belakang sambil membawa berkas medis. “Selamat siang Bapak dan Ibu, juga Kakak dan Adik. Hasil tes laboratorium sudah saya terima,” ucap dokter jaga sambil meminta berkas dari perawat. Dokter membaca kembali hasil tesnya. “Kadar hemoglobin Bapak cukup rendah di 8,5 g/dL, nilai normalnya untuk pria di angka 13 ke atas. Ada kemungkinan, Bapak mengalami anemia.”Tiara, Mia, dan juga Septha mendengarkan dokter dengan seksama. Mereka berpegangan tangan, berharap semuanya baik-baik saja. Dokter melanjutkan penjelasannya. “Dan juga kadar gula darah Bapak Jeremy juga cukup rendah, di angka 60 mg/dL. Kondisi ini bisa jadi membuat Bapak pusing, pandangan kabur, dan bahkan pingsa
Bima menggeleng. “Bukan menyiapkan, tapi membelikan dan mengantarkan ke sini.”“Yah, Pak, kalau saya tidak bisa bagaimana, Pak?” rengek Tiara. “Saya harus kerja soalnya, Pak.”Bima merapikan mejanya. “Saya tidak mau tahu. Bagaimanapun, sesibuk apapun, kamu harus menyempatkan diri untuk mengantar makanan saya ke sini.”Lalu, dia berdiri dan mencondongkan wajahnya ke arah Tiara. Tiara agak tersentak kaget. “Kamu harus ingat kesepakatan kita,” ucap Bima dengan tatapan yang tajam dan senyum sinisnya.Tiara tampak syok. “B-baik kalau begitu, Pak.”Bima melihat jam tangannya. “Ya sudah, kamu boleh keluar.”“Kita nggak bimbingan, Pak?” tanya Tiara tak percaya. “Sudah selesai,” ucap Bima. Tiara hanya mendengus kesal. Mau tidak mau dia hanya mengangguk dan bergegas membereskan laptopnya. Tidak lupa, dia masukkan black card milik Bima ke dalam dompetnya. Lalu, dia pamit. Belum juga Tiara melangkahkan kakinya keluar, Bima memanggilnya kembali. “Tiara,” ucap Bima.Tiara menoleh. “Ya, Pak?”“







