Home / Romansa / Dosenku Calon Suamiku / Tanpa Hubungan Darah

Share

Tanpa Hubungan Darah

Author: Atma Anatya
last update Huling Na-update: 2023-11-21 16:55:50

Pagar besi semula menjulang tinggi dari kejauhan, bahkan menutupi megah dan indahnya rumah berhasil Arion lewati. Rumah dengan tipe model klasik bergaya Prancis, kembali berada di depan mata Arion. Tak ingat berapa lama waktu pastinya kaki Arion menapaki rumah masa kecil almarhumah istri. Masih sama tanpa perubahan spesial selain pergantian cat saja.

Arion menekan bel yang tak jauh keberadaan dari posisi tempat berpijak. Salah satu pekerja di rumah sang mertua membukakan pintu. Lama tak bertemu dengan pria di hadapannya, membuat netra sang pekerja hampir saja terlepas dari posisi. Mengamati dari atas hingga bawah penampilan Arion, karena merasa tak berubah walau berpuluh-puluh tahun tak berkunjung.

Sebuah karakter di film dan buku-buku mitologi kuno membuatnya seketika teringat. Vampir-- Karakter mitologi legenda yang tak asing di ingatan karena kebiasaan menghisap darah. Tampaknya mulai saat ini pekerja itu akan percaya, dengan film-film fantasi yang melibatkan karakter vampir. Dia akan genggam erat-erat pendapat apabila vampir itu benar ada, karena kembali bertemu dengan menantu keluarga ini. 

"Tu--Tuan Ari?" tuturnya merasa terkejut dan tak menyangka.

Reaksi yang diberikan wanita pekerja sepasang mertua membuat Arion tergelak. Dia mengerutkan kening, namun seketika berganti dengan mengangkat sebelah alias bak ulat bulu miliknya. Mengapa dia merasa bak buah apel tengah dikupas kulitnya? Mengapa dia merasa bak narapidana kabur dari sel secara diam-diam? Apakah ini hanya prasangka kosong, pengaruh berpuluh-puluh tahun tak menginjakkan kaki di rumah ini?

"Ya Bi, ini saya. Apakah Mami dan Papi di rumah?" Lidah Arion terasa kaku akibat sekian lama tak berkomunikasi dengan mertuanya. Rasanya sang indra perasa ini bak dicubit hingga terasa kebas.

"Ah--"

"Bi, siapa yang datang?!" Walau dengan teriakkan dari dalam rumah yang jauh jaraknya, tetapi suara tersebut layaknya bangunan masih terasa hangat walau dimakan waktu. Suara tersebut masih mengalun hangat merambat ke tiap sisi gendang telinga. Ntahlah akankah beda bela bertemu langsung?

Berbeda orang tetapi memberikan reaksi yang sama. Wanita berusia 80 tahun tersebut bergeming. Netranya menatap lekat pria pujaan salah satu buah hatinya mematung di depan pintu. Jarum jam tidak menetap layaknya peribahasa dimana waktu adalah fana, tetapi anehnya netra, hati, dan otak kompak mencetak argumen sama. Apabila salah satu menantunya tak dimakan waktu, karena tidak mengalami perubahan paras dan badan.

"Ka--Kau?" Mama mertua Arion terbata-bata walau hanya mengucapkan satu kata saja. Lidahnya kelu karena tak percaya bahwa orang yang dinanti berpuluh-puluh tahun, akhirnya kembali bertemu di depan mata.

Arion tersenyum canggung, membungkuk sopan, lalu mencium tangan sang mertua. "Mami apa kabar?"

"Ada tamu kok bicara di luar. Masuklah kalian!" perintah pria berusia 88 tahun yang sebenarnya menyimak sedari tadi. Lebih tepatnya sejak sang istri terkejut dengan sang tamu.

Tampaknya pertemuan tak pernah dilakukan selama puluhan tahun, membuahkan hasil hubungan canggung dan asing. Tak kesal apalagi kecewa, Arion telah dewasa dengan kesalahan yang fatal sehingga berakhir disebut tamu bukan menantu. Papa mertua Arion berjalan terlebih dahulu di depan, menuntun ke ruangan baginya cocok untuk berbincang. Melewati ruang tamu bertemakan etnik jawa dengan langit-langit yang berukiran batik.

Bibi asisten rumah tangga yang tadi menyambut Arion telah kembali bekerja. Sehingga tak mengikuti langkah kaki mertua dengan menantu laki-laki, yang lagi-lagi telah melewati satu ruangan. Ruangan bertemakan modern tropis, dengan kedua sisi memadukan keindahan taman dan ketenangan air kolam renang. Di belakang taman memiliki lorong bergaya klasik Italia, sebelum duduk di ruang makan dan dapur berkonsep skandinavia.

Lelah berputar-putar menentukan ruang yang nyaman. Akhirnya Papa mertua Arion menemukan ruang yang menurutnya cukup. Ruang bertemakan klasik kolonial dengan sisi kiri terdapat tangga penghubung lantai kedua menjadi pilihan. Arion tertegun dibuat salah paham. Ruangan ini adalah ruang keluarga. Dimana ruang ini pernah terasa mencekam pada awal pernikahan.

"Apakah kau hanya akan terus berdiri?"

Sebatas sebaris kalimat yang tak genap sepuluh kata. Kalimat tersebut bak mantra menghipnotis keberanian. Arion duduk langsung berhadapan dengan Papa mertua, sedangkan sang Mama mertua duduk di kursi tengah secara terpisah.

"Papi dan Mami apa kabar?" Arion bertanya guna berbasa-basi.

Papa dan Mama mertua Arion saling pandang melemparkan kode. Mama mertua Arion menepuk sisi sampingnya, mengode agar sang menantu berpindah ke sampingnya. "Kemarilah!"

"Mari kita langsung saja, Ari. Apa alasan kau kemari? Ada hal apa yang hendak kau katakan?"

Menggaruk tengkuk yang tak gatal sama sekali. Arion membasahi bibir tebalnya secara bergantian atas bawah. "Pa, apakah kalian memiliki anak bungsu? Kalian mengadopsi anak mirip dengan Azalea? Ada saudara yang sangat mirip dengan Azalea? Atau Mami mengandung setelah kematian Azalea?"

Bak potongan dialog dalam sinetron, dan mereka bertiga tengah dikelilingi kamera. Mama Papa mertua Arion kompak mengerutkan kening. Mama Azalea yang lebih dekat melampiaskan kegeramannya. Dia memukul kecil lengan berotot sang menantu.

"Kau ini... Tampaknya berita disebar orang-orang benar, Arion. Mami rasa kerja otakmu terganggu."

"Mam," tegur sang suami. 

Papa Azalea menegakkan posisi punggungnya, menekuk kaki, lalu menatap Arion lekat-lekat. "Ada pertanyaan maka ada faktor penyebab bukan, Nak?"

"Saya mendapatkan mahasiswi semester baru, yang paras dan postur tubuhnya sangat duplikat mendiang Azalea."

Memang ruangan ini aman dan sunyi berbaur abstrak, namun rasanya bak mendengar suara ledakan bom. Bagaimana juga pecahan kaca terbentur kerasnya ubin. Rahang sepasang manula (manusia lanjut usia) itu mengetat. Ntah mengapa otak ketiga penghuni ruang keluarga, secara kompak merasa ramai mengalahkan hiruk-pikuk ibu kota.

"Ka--Kau bercanda bukan?" Masih tak menyangka dan merasa konyol, Papa Azalea bertanya hingga terputus-putus.

"Maaf Pi, sayangnya saya bersungguh-sungguh."

Rahang mengetat itu berubah menjadi spontan meneguk ludah kasar. Kebetulan macam apa ini? Apakah Azalea berniat memberikan pengganti. Sehingga merengek pada Sang Pencipta, agar Sang Pencipta merakit Azalea dalam versi lebih muda dan tanpa terikat keluarga walau seujung pun.

"Kau punya foto orang yang kau maksud itu?" tanya Mama Azalea.

Arion bergeming, menatap kosong langit-langit rumah, mengingat-ingat apakah galeri handphone-nya tersisih foto sang mahasiswi. "Pi, Mi, saya izin mengecek boleh?" Pertanyaan tersebut dibalas anggukan kepala kompak.

Tak ada musik, pasangan, dan bukan pula tubuh yang menari-nari, melainkan jemari Arion menari di layar mencari potret Azelina. Di W******p kosong karena gadis itu tak menggunakan profil. Di galeri milik Arion pun hanya berisikan tumpukan foto pemandangan dan lukisan museum kala dirinya merasa pening. I*******m menjadi opsi terakhir, kala tiba-tiba teringat bahwa Azelina adalah mahasiswi baru.

"V-i-e-r-a A-z-e-l-i-n-a C-l-a-r-i-s-s-a." Papa Azalea mengeja nama mahasiswi baru sang menantu, secara perlahan bahkan hingga per-huruf. Memang hanya selisih satu kata dengan abjad berbeda, tetapi dari segi nama pun menyerupai.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dosenku Calon Suamiku    Menjauh Sementara Waktu

    Hubungannya tak lagi dalam sebutan hari atau minggu, namun belum menyentuh hitungan tahun. Bukan berarti membuat Arion tak hafal dengan hal-hal mengenai gadisnya , bahkan walaupun seujung kuku. Rasanya pria berusia menuju 44 tahun itu akan percaya diri memenangkan suatu perlombaan.Lomba cerdas cermat mengenai suara hati wanita. Oh... Atau ganti dengan tanya jawab pemahaman pada gadis muda. Uh, rasanya bibit kepercayaan diri luber mengalahkan topping roti gongso itu kembali. Dia menatap layar handphone yang sunyi tanpa cerewetnya sang gadis.Tak bermaksud jahat, kejam, egois atau buta dengan kesibukan sang gadis. Dia mendukung keinginan tersebut tanpa merubah pemikiran, tetapi janji sebatas janji. Janji itu sebatas diucapkan lidah tak bertulang, dengan bagai jarum jam berputar. Ntah lupa atau sok melupakan.Pintu unit apartemen memang telah dibuka, tetapi lisan masih saling mengunci rapat, dengan otak sibuk berkeli

  • Dosenku Calon Suamiku    Penyerahan Jadwal Magang

    Tak ada pemikiran menerbitkan kecurigaan, tak juga ada hal memancing kecurigaan. Semua masih berjalan sama dan seperti biasanya. Hanya saja... Gadis itupun bingung perasaan resah menggelitik hati serta dengan baik hati ditemani degup. Degup bak pemacu kuda yang berdetak kencang, bukan seperti genderang perang layaknya sebuah lirik lagu.Dua minggu lebih beberapa hari gadis itu mengikuti organisasi, dosen pembimbing menjanjikan untuk akan menyerahkan jadwal magangnya tak sampai sebulan. Dosen pembimbing tengah menuliskan daftar perusahaan untuk kemungkinan dipilih, serta perusahaan-perusahaan yang menerima Azelina untuk magang. Harap-harap cemas dibuat Azelina menanti kala hendak memasuki minggu ketiga. Walaupun kegiatan ekstrakurikuler mulai jarang, organisasi tetap sama, tetapi Azelina justru merasakan ada yang berbeda."Zel.""Azelin.""Zelin.""Azel.""Aze

  • Dosenku Calon Suamiku    Penambahan Pengalaman

    Gadis itu mulai menjelma bak panda dengan kantong mata, yang menemani sekaligus bukti kerja keras dilakukan sang gadis. Foundation untuk menutupi pun rasanya harus tebal-tebal dioleskan. Otak gadis itu tak lelah-lelah berteriak pada hati, menampar kuat-kuat mengingatkan tujuan mengikuti percepatan semester.Dia lelah karena harus ekstrakurikuler, tugas kuliah kian menumpuk dibanding Arci, lalu kini organisasi yang kian sibuk kian harinya. Gadis itu bersandar sejenak memejamkan mata, guna mencuri kesempatan terlelap walau hitungan detik. Terasa sedikit cukup dia mulai menekan kenop pintu ruangan khusus para mahasiswa-mahasiswi ikut organisasi kampus.Karpet merah terkesan berlebihan untuk orang biasa sepertinya, taburan bunga pun terkesan jenaka, senyum ramah atau sapaan hangat terkesan pasaran dan kurang unik. Azelina tak lagi terkejut di Minggu kedua bergabung dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Ya, demi mendukung penambahan poin-poin k

  • Dosenku Calon Suamiku    Susun Rencana Studi

    "Apakah kau lelah?"Hohoho pertanyaan dibalas jawaban rasanya telah terlalu biasa. Pertanyaan dibalas pertanyaan pun rasanya juga telah tak asing. Ya, tidak seperti perasaan antar lawan jenis sebelum hubungan resmi, tetapi asing terlebih dahulu menjabat status. Pertanyaan yang kompak justru menimbulkan bibit kebingungan itulah menjadi penengah Azelina dan Arion.Arion mengalihkan fokus sejenak dari menyetir, menatap gadisnya yang sepertinya tengah tidak fokus. Dia mengubah menyetir dengan satu tangan, sedang tangan satunya mengecek dahi Azelina. "Kau tidak sakit tapi kenapa kurasa tengah tidak fokus, ya? Ada masalah di kelas? Atau keraguan dengan program percepatan semestermu?""Aku takut salah menyusun rencana studi, Mas," tutur Azelina langsung menjelaskan pada intinya tanpa menutupi terlebih dahulu.Arion menepuk-nepuk kepala Azelina lalu mengusap lembut. "Kan Mas bantu, Sayang. Ya, walau kamu dos

  • Dosenku Calon Suamiku    Kedatangan Tiba-Tiba

    Tentu saja tentu saja berkunjung. Pemikiran buruk pun bahkan menetap menetap, meski berulang kali dienyahkan. Ntah apa alasannya Arion pun heran dengan gadisnya. Seingatnya dia tidak melakukan kesalahan secuil pun, tetapi mengapa Azelina diamkannya?Hal ini terjadi tepat setelah Arion menjelaskan perihal dosis membantu Azelina. Bukan baru sehari, dua hari, atau tiga hari, melainkan tujuh hari sudah mereka bak menjadi orang asing kembali. Penerkaan asal-asalan terbesit menimbulkan dua pilihan. Apakah gadisnya menyembunyikan suatu hal?Apakah memiliki masalah? Mengapa dirinya merasa bak bayangan? Sebatas menghabiska

  • Dosenku Calon Suamiku    Diskusi Atau Menguji Hati

    Azelina menatap muak lelaki di hadapannya. Apabila biasanya setiap lelaki itu mengajar di kelasnya, dia berusaha fokus maka untuk hari ini tidak sudi sama sekali. Bahkan rasanya Azelina ingin pindah kampus, tetapi sayangnya tidak ada Arion untuk mencuci mata sekilas. Selain itu fokusnya adalah demi mengikuti percepatan semester.Tak terhitung sudah berapa kali Azelina berpura-pura menguap, menopang kepala, menelungkupkan kepala, menatap jenuh jam dinding dan pintu. Berbeda wujud dan jenis sangat jelas memang, nama pun sudah sangat jelas apabila berbeda. Bagi Azelina hal itu tetaplah sama. Ntah mengapa Azelina jarum jam bagai terkena sihir.Oh? Atau lelaki ini selain pemaksa adalah juga penyihir. Sehingga juga bisa menyihir jarum jam menjadi sangat lambat bak siput. Senyum miring tersungging saat mencuri pandang ke sang gadis. Sudut hati sepertinya mulai mempersiapkan pesta kemenangan dan tak lupa kematangan rencana untuk memiliki Azelina.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status