Masuk"Duduk kamu," perintah Papanya dingin, bahkan tanpa memandang wajah Liora yang pucat. Di atas meja kaca, sebuah tablet menyala menampilkan video Liora dan Pak Mahen tentang skandal yang sempat viral beberapa waktu lalu. "Mama tidak mau tahu ya, Liora. Hapus video itu sekarang juga atau suruh kampusmu bungkam!" cerocos Mamanya tanpa menanyakan kabar Liora sedikit pun. "Kamu tahu kan Papa baru saja dicalonkan jadi Direktur? Kalau nama baik keluarga kita hancur karena skandal murahan ini, karier Papa bisa habis!" Liora mengepalkan tangan kuat-kuat di sisi badannya. Rasa lelah setelah seharian menghadapi gunjingan di kampus langsung menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dadanya. Tidak ada pertanyaan "Kamu tidak apa-apa?" atau "Apakah berita itu benar?". Bagi kedua orang tuanya, Liora hanyalah sebuah aset yang tidak boleh mencoreng nama baik mereka. "Berita itu fitnah, Pa, Ma" suara Liora bergetar, menahan tangis yang mendesak keluar. "Papa tidak peduli itu fi
Liora mendongak, menatap Mahen dengan binar mata berkaca-kaca yang sudah ia latih di depan cermin kosannya selama berhari-hari. "Tapi saya takut, Pak... Bagaimana kalau Clarissa nekat ngelakuin hal lain ke Bapak?" Liora memberanikan diri mengulurkan tangannya, meremas pelan lengan jas Mahen. "Saya... saya gak bisa lihat Bapak kenapa-napa karena belain saya." Mahen menatap tangan Liora di lengannya. Alih-alih menghindar, Mahen justru membalikkan telapak tangan besarnya, menggenggam jemari Liora dengan hangat untuk menenangkannya. Tindakan spontan Mahen itu membuat Liora harus sekuat tenaga menahan diri agar tidak berteriak histeris karena kesenangan. "Dia genggam tangan gue! Lu denger gak Clarissa? Cowok yang lu kejar-kejar sekarang lagi genggam tangan gue!" teriak Liora dalam hatinya yang dipenuhi obsesi. Mahen menghela napas panjang, menatap Liora dengan tatapan yang begitu dalam dan intens. Kehangatan dari genggaman tangannya perlahan menjalar, membuat detak jantung
Pintu ruang Dekan digedor keras dua kali sebelum akhirnya terbuka lebar. Tiga pria berpakaian batik dengan tanda pengenal KPK di leher mereka masuk, didampingi oleh dua personel kepolisian. "Selamat siang. Ibu Saraswati? Kami dari Komisi Pemberantasan Korupsi membawa surat perintah penggeledahan dan penahanan terkait dugaan tindak pidana pencucian uang dana hibah riset kementerian," ujar petugas di depan dengan tegas. Bu Saraswati ambruk di kursinya. Surat investasi yang sedari tadi dipegangnya terlepas, meluncur jatuh ke lantai. Di sudut ruangan, Clarissa menjerit histeris, mencoba menghalangi petugas yang mulai memasang borgol di pergelangan tangan ibunya. "Ini salah paham! Pak Mahen yang menjebak ibu saya! Tangkap dia juga! Dia ada skandal dengan salah satu mahasiswi!" teriak Clarissa frustrasi, menunjuk-nunjuk Mahen dengan telunjuk yang gemetar. Salah satu petugas menatap Clarissa dingin. "Urusan kode etik kampus bukan wewenang kami, Saudari. Tetapi dokumen aliran da
Dua hari setelah insiden laboratorium, Liora terpaksa mengambil izin sakit. Mahen memanfaatkan waktu tersebut untuk bergerak cepat di balik layar. Di dalam ruang kerjanya yang terkunci, ia menatap surat rekomendasi pembatalan beasiswa Liora yang kini sudah diremasnya hingga lecek. Mahen tahu, Bu Saraswati tidak akan tinggal diam. Namun, Mahen tidak menyadari bahwa ancaman terbesar justru datang dari arah yang tidak terduga. Senin pagi yang cerah berubah menjadi neraka bagi Liora saat ia baru saja menginjakkan kaki di koridor fakultas. Bisik-bisik miring dan tatapan sinis menyambutnya dari setiap sudut. Nadia dan Naufal tiba-tiba berlari menghampirinya dengan wajah panik. Nadia langsung menyodorkan ponselnya. "Liora, gawat! Lihat ini! ada fotomu lagi yang sudah menyebar di grup angkatan" bisik Nadia dengan suara bergetar. Di layar ponsel, terpampang unggahan anonim di forum gosip utama kampus yang telah disukai ribuan mahasiswa. Foto itu sangat jernih: Mahen yang sedang m
Aroma cairan antiseptik menyerbuki ruang medis yang sunyi. Setelah dokter kampus selesai menjahit luka robek di lengan kanan Liora dan memberikannya obat penenang, gadis itu akhirnya tertidur pulas dengan wajah yang masih pucat. Mahen duduk di kursi kayu sebelah ranjang, matanya tidak lepas dari balutan perban putih di lengan Liora. Di dalam saku mantel dosennya, terselip selembar surat rekomendasi pembatalan beasiswa yang terpaksa ia cetak semalam demi meredam ancaman Bu Saraswati. Pikirannya carut-marut, didera rasa bersalah yang teramat dalam karena gadis di depannya ini baru saja mempertaruhkan nyawa demi melindunginya. BRAKK!!! Pintu ruang medis mendadak didorong terbuka dengan kasar. Nadia berlari masuk dengan wajah sembab penuh air mata, disusul oleh Naufal yang napasnya memburu lantaran mereka habis berlari sekencang mungkin dari gedung seberang begitu mendengar kabar ledakan di laboratorium kimia. "Liora!" tangis Nadia pecah saat melihat sahabatnya terbaring lemah.
Mahen menatap nanar layar ponselnya. Angka 19.31 berkedip kaku, seolah sedang menghitung mundur sisa-sisa napas dari perusahaan manufaktur yang telah dibangun ayahnya dengan darah dan keringat selama puluhan tahun. Bramantyo yang melihat putranya hanya diam membeku, kembali membentak dengan suaranya yang serak. "Tunggu apa lagi, Mahen?! Pergi sekarang atau kamu akan melihat Ayah mati serangan jantung malam ini juga karena ulahmu!"Mahen memejamkan mata sesaat. "Saya pergi, Yah," ucap Mahen rendah. Tanpa menunggu balasan dari ayahnya, Mahen langsung berbalik dan melangkah lebar keluar rumah. Tepat pukul 19.55, mobil Mahen berhenti di depan gerbang megah kediaman keluarga Bu Saraswati. Begitu pintu depan dibuka oleh pelayan, Mahen langsung diarahkan menuju ruang tamu utama. Di sana, Bu Saraswati sudah duduk dengan anggun di kursi sofa tunggal, sebuah pena mahal bermata emas sudah siap di jemarinya, tepat di atas tumpukan dokumen bermeterai yang bisa menghancurkan keluarga Adijaya







