FAZER LOGIN“Sudah bangun?” tanya Zavian pelan saat melihat Naresa mulai membuka matanya perlahan. “Hm…” Suara gadis itu masih terdengar serak karena baru bangun tidur. Setelah kakinya diobati tadi, Naresa memang sempat membersihkan tubuhnya terlebih dahulu karena penuh pasir pantai. Dan setelah itu— dia langsung tertidur tanpa sadar. Hingga kini hari sudah berganti malam. Lampu kamar penginapan menyala redup. Sedangkan Zavian duduk di sampingnya tepat di atas tempat tidur sambil sesekali memeriksa keadaan kaki Naresa. Naresa mengedip pelan mencoba menyesuaikan pandangannya. “Jam berapa sekarang?” tanyanya lirih. “Hampir jam delapan malam.” Seketika mata Naresa langsung sedikit membulat. “Hah? Lama banget aku tidur?” “Kamu memang kecapekan.” Naresa perlahan bangun sambil mengusap matanya. Namun baru sedikit bergerak— wajahnya langsung meringis. “Kakiku masih sakit…” Zavian langsung menahan pundaknya pelan. “Jangan banyak gerak dulu.” Naresa langsung kembali diam. Beberapa d
“Kak jangan ke tengah-tengah! Aku takut!” teriak Sonia panik saat Rayhan mulai jahil menyeretnya sedikit menjauh dari bibir pantai. Rayhan malah tertawa puas. “Haha, aku pegangin ini.” “Kak Rayhan, balik cepat! Balik!” Namun pria itu masih saja menggoda Sonia yang mulai panik setengah mati. Sedangkan di sisi lain— Naresa masih berdiri tidak jauh dari tepian sambil memegangi lengan Zavian erat. “Kamu tidak mau ke tengah?” tanya Zavian pelan. Naresa langsung menggeleng cepat. “Tidak mau.” “Takut?” “Iya.” “Kan ada aku yang pegangin.” Namun Naresa tetap keras kepala. “Pokoknya takut ke tengah.” Zavian baru saja ingin menjawab lagi— tiba-tiba. “AHH SAKIT!” Teriakan histeris Naresa langsung membuat semuanya terkejut. Tubuh gadis itu bahkan langsung jatuh terduduk ke air pantai. “Naresa!” seru Zavian panik. Air mata langsung mengalir di wajah gadis itu. “S-Sakit…” “Apa yang sakit?” tanya Zavian cepat sambil berjongkok di depannya. “K-Kakinya…” jawab Naresa terbata sam
“Wah, indah banget pemandangannya!” seru Sonia penuh semangat saat mobil mereka akhirnya tiba di pantai. Hamparan laut biru langsung terlihat jelas di depan mata. Angin pantai mulai terasa menyapu lembut. Namun walaupun waktu sudah menunjukkan pukul empat sore— cuacanya masih terasa cukup panas. Rayhan dan Sonia sudah lebih dulu turun dari mobil. Sedangkan— Naresa masih nyaman duduk di dalam mobil sambil memandangi pantai dari balik jendela. “Naresa ayo turun!” teriak Sonia dari luar mobil sambil melambaikan tangan. Namun gadis itu langsung menggeleng cepat. “Panas banget…” keluhnya dramatis. “Tidak kuat aku ke sana.” Rayhan langsung tertawa tidak percaya. “Katanya tadi paling semangat mau ke pantai.” “Iya, tapi kenapa panasnya begini sih?” protes Naresa sambil menyender malas di kursi. “Padahal sudah jam empat sore.” Sonia langsung menggeleng geli. “Tadi di kebun binatang semangat lihat capybara.” “Itu beda tempat.” Sedangkan Rayhan mulai menyandarkan tangannya di pi
“Kamu mau pesan makanan apa?” tanya Zavian kepada Naresa saat mereka sudah duduk di dalam restoran. Naresa yang masih setengah sadar hanya menyandarkan dagunya di meja. “Terserah saja…” Zavian langsung mengangkat alis tipis. “Tidak ada makanan terserah di sini, Naresa.” Rayhan langsung terkekeh kecil mendengar jawaban datar itu. Sedangkan Sonia sibuk melihat menu sambil sesekali melirik Naresa yang terlihat masih mengantuk. “Iya pokoknya terserah Kakak,” lanjut Naresa pelan. “Emangnya Naresa boleh makan yang tanpa nasi?” Seketika Zavian langsung menatapnya. “Memangnya kenapa?” “Aku malas makan nasi.” “Kamu belum makan dari pagi.” “Tapi ngantuk…” Rayhan langsung menggeleng geli. “Ini orang kalau habis tidur jadi makin manja.” “Aku memang manja,” jawab Naresa santai tanpa merasa bersalah. Sonia langsung tertawa kecil. “Tuh kan, ngaku sendiri.” Namun perhatian Zavian tetap fokus pada Naresa. “Kamu mau mi?” Naresa langsung menggeleng kecil. “Pedas?” “Tidak boleh.” “
“Kalau memang mau berangkat sekarang, kita bisa kembali dulu,” ucap Zavian tenang. “Lalu minta izin ke Ibu sama Ayah.” Naresa langsung mengangguk cepat penuh semangat. “Tapi bagaimana dengan sahabatmu itu?” lanjut Zavian sambil melirik Sonia. “Bukannya ayahnya cukup posesif?” Sonia langsung nyengir kecil. “Tidak masalah kalau Tante Liana yang meminta izin sama Papa.” Sonia mengangkat bahu santai. “Pasti diizinkan kok.” Rayhan langsung tertawa kecil. “Wah, ternyata sudah tahu jalur amannya.” “Heh…” Sedangkan Naresa mulai terlihat bingung. “Lalu pakaianmu bagaimana?” tanyanya kepada Sonia. “Kita kan tidak bawa apa-apa.” “Ya tinggal beli,” jawab Rayhan santai. “Apa susahnya?” Sonia langsung menoleh cepat. “Hah?” “Nanti aku yang belikan pakaian Sonia.” Seketika wajah Sonia langsung merah. “K-Kak Rayhan!” Sedangkan Naresa langsung menatap Rayhan penuh arti. “Wihhh…” “Apanya?” tanya Rayhan santai tanpa rasa bersalah. “Kakak mulai berani banget sekarang.” Rayhan malah ter
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Zavian sambil menoleh khawatir ke arah Naresa. “Tidak apa-apa, Kak…” Namun suara gadis itu terdengar sedikit lemas. Panas matahari yang begitu terik membuat Naresa mulai merasa tidak enak badan. Kepalanya terasa pusing. Wajahnya pun tampak memerah karena terlalu lama terkena panas. Padahal saat itu waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Namun cuacanya benar-benar menyengat. Sedari tadi mereka terus berjalan mengelilingi kebun binatang sambil melihat berbagai hewan dan mencoba beberapa wahana ringan. Kini Naresa memilih duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon rindang. Dan tanpa sadar, dia membenamkan wajahnya ke lengan Zavian sambil memejamkan mata sebentar. “Hey, jangan bilang kamu mau pingsan,” tegur Sonia panik saat melihat wajah Naresa mulai pucat kemerahan. “Tidak…” gumam Naresa pelan. “Aku cuma berteduh dan mau istirahat sebentar.” Dia menghela napas kecil. “Cuacanya benar-benar panas.” Rayhan langsung membuka botol air miner







