Share

Kehidupan Baru

Penulis: NisfiDA
last update Tanggal publikasi: 2026-04-27 18:37:54

“Eh? Sarapan jam segini sudah siap?” tanya Naresa heran saat memasuki dapur.

Pagi itu, ia sengaja bangun lebih awal karena ingin membuat sarapan sendiri.

Namun begitu tiba di dapur, seluruh makanan sudah tersaji rapi di atas meja makan.

Aroma makanan hangat memenuhi ruangan besar itu.

Naresa langsung terlihat bingung.

“Selamat pagi, Non,” sapa salah satu bibi dapur ramah.

“Pagi juga, Bi,” jawab Naresa sambil tersenyum kecil.

Namun wajah bingungnya masih terlihat jelas.

“Bi, ini baru pukul enam pagi, loh,” lanjutnya heran. “Sarapan memang sudah siap semua begini?”

Bibi itu tersenyum kecil sebelum menjawab,

“Tuan Besar dan Tuan Muda tidak suka sarapan terlambat, Non.”

Naresa berkedip pelan.

“Tuan Besar?”

“Itu panggilan untuk Tuan Rendra,” jelas sang bibi ramah. “Kalau Tuan Muda itu Tuan Zavian dan Tuan Reyhan.”

“Oh…” gumam Naresa pelan.

Ia masih mencoba membiasakan diri dengan suasana rumah besar ini.

“Sebentar lagi juga Tuan Besar dan para Tuan Muda akan turun untuk sarapan,” lanjut bibi itu.

Naresa mengangguk kecil.

Namun entah kenapa, mendengar bahwa Zavian dan Reyhan akan segera datang membuatnya tiba-tiba merasa gugup lagi.

Tanpa disadari Naresa—

Cup!

Sebuah kecupan tiba-tiba mendarat di pipinya.

Seketika tubuh Naresa menegang.

Matanya langsung membelalak kaget.

Ia buru-buru membalikkan badannya.

Dan di sana, Reyhan berdiri sambil tersenyum jahil.

“Selamat pagi, adik imut,” ucapnya santai.

Naresa masih memegangi pipinya yang tadi dicium.

Wajahnya langsung memerah karena terkejut.

“K-kak Rayhan!” serunya panik.

Sementara Reyhan malah terlihat puas melihat reaksinya.

“Apa?” tanyanya santai. “Itu cuma ucapan selamat pagi.”

Naresa langsung menatapnya tidak percaya.

“Mana ada ucapan selamat pagi begitu!” protesnya malu.

Reyhan terkekeh geli.

Sedangkan para bibi dapur yang melihat kejadian itu langsung saling berpandangan canggung.

Mereka jelas terkejut melihat kelakuan Reyhan pada adik tirinya sendiri.

Namun belum sempat Naresa kembali memprotes—

suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Dan beberapa detik kemudian, Zavian muncul di sana.

Tatapan pria itu langsung tertuju pada Naresa yang masih memegangi pipinya… lalu beralih pada Reyhan yang tersenyum santai di dekatnya.

Seketika suasana terasa berubah dingin.

“Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ribut?”

Suara dingin Zavian langsung membuat suasana dapur menjadi hening.

Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang, masih mengenakan pakaian rapi yang membuat auranya terlihat semakin dingin dan berwibawa.

Tatapannya bergantian mengarah pada Naresa dan Reyhan.

Naresa masih memegangi pipinya dengan wajah merah karena malu dan terkejut.

Sedangkan Reyhan terlihat santai seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kakakmu ini gila,” adu Naresa spontan sambil menunjuk Reyhan.

Mata Zavian sedikit menyipit.

“Apa yang kau lakukan lagi?” tanyanya dingin kepada Reyhan.

Reyhan hanya mengangkat bahu santai.

“Aku cuma memberi ucapan selamat pagi.”

“Dengan mencium pipinya?” balas Zavian datar.

Seketika Naresa langsung menoleh cepat ke arah Zavian dengan wajah makin merah.

Sedangkan Reyhan malah tersenyum santai tanpa rasa bersalah.

“Itu refleks,” jawabnya ringan.

Zavian menatapnya beberapa detik dengan ekspresi dingin.

Lalu tanpa diduga, pria itu berjalan mendekat ke arah Naresa.

Naresa langsung menegang.

Dan sebelum gadis itu sempat bertanya—

Zavian mengusap pelan pipi Naresa yang tadi dicium Reyhan.

“Menyebalkan,” gumamnya dingin sambil menatap Reyhan tajam.

Naresa langsung membeku di tempat.

Namun setelah mengusap pelan pipi Naresa—

Zavian tiba-tiba menundukkan wajahnya sedikit.

Cup!

Sebuah kecupan singkat mendarat tepat di pipi Naresa.

Tepat di tempat yang sebelumnya dicium Reyhan.

Seketika waktu seolah berhenti.

Mata Naresa membelalak lebar.

Tubuhnya langsung membeku karena terlalu terkejut.

Bahkan para bibi dapur ikut menahan napas melihat kejadian itu.

Sedangkan Zavian tetap terlihat tenang setelah melakukannya.

Ia menatap Reyhan datar seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.

Namun Reyhan langsung melotot kesal.

“Apa-apaan itu, hah?!” protesnya tidak terima. “Kau juga menciumnya!”

Zavian menatap adiknya dingin.

“Aku hanya menghapus jejakmu.”

Ucapan itu langsung membuat Reyhan semakin kesal.

“Alasan macam apa itu?!”

Sementara itu, Naresa masih berdiri mematung dengan wajah merah padam.

Tangannya perlahan menyentuh kedua pipinya.

Jantungnya berdetak kacau.

Ia benar-benar tidak mengerti dengan dua kakak tirinya ini.

“K-kalian ini sebenarnya kenapa sih?!” serunya panik dan malu sekaligus.

“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut pagi-pagi?”

Suara Liana membuat suasana yang tadinya menegang langsung berubah hening.

Wanita itu baru saja memasuki ruang makan bersama Rendra.

Begitu melihat mereka, Naresa langsung panik.

Wajahnya masih merah padam, sementara Reyhan dan Zavian saling menatap tajam satu sama lain.

Liana mengernyit bingung.

“Ada apa?” tanyanya lagi.

Sebelum Naresa sempat menjawab, Reyhan langsung menunjuk Zavian dengan kesal.

“Kak Zavian mencium Naresa!”

Seketika Naresa langsung membelalak panik.

“Kak!” serunya malu.

Sedangkan Zavian tetap terlihat tenang sambil menarik kursi duduknya.

Liana tampak terkejut mendengar itu.

“Apa?” ucapnya bingung.

Namun sebelum suasana semakin kacau, Zavian menjawab datar,

“Dia duluan yang melakukannya.”

Kini tatapan Liana langsung beralih ke Reyhan.

Dan pria itu malah tersenyum santai tanpa rasa bersalah.

“Itu cuma ucapan selamat pagi.”

Rendra yang sejak tadi diam akhirnya menghela napas panjang.

“Kalian ini…” gumamnya sambil memijat pelipis.

Sedangkan Naresa merasa wajahnya ingin meledak karena malu.

Ia benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana menghadapi dua kakak tirinya yang semakin aneh setiap harinya.

“Sudah, sudah. Sekarang waktunya sarapan,” ucap Rendra tegas kepada mereka.

Suasana yang tadi penuh keributan akhirnya sedikit mereda.

Mereka pun berjalan menuju meja makan besar yang sudah dipenuhi berbagai hidangan.

Namun ternyata—

ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Saat Naresa baru saja ingin duduk, tiba-tiba Reyhan langsung menarik tangannya.

“Duduk di sini,” ujarnya santai sambil menarik kursi di sampingnya.

Naresa langsung terkejut.

Namun di detik berikutnya, tangan satunya lagi tiba-tiba ditarik oleh Zavian.

“Bukan di sana,” ucap pria itu dingin. “Duduk di sampingku.”

Seketika Naresa membeku di tengah-tengah mereka.

“Kakak!” serunya panik.

Reyhan langsung menatap Zavian kesal.

“Naresa duduk di sampingku. Jadi lepaskan dia.”

Zavian balas menatap tajam.

“Tidak. Dia akan duduk di sampingku.”

“Kau cari masalah, ya?”

“Aku hanya tidak ingin dia duduk di dekatmu.”

“Kau pikir aku akan memakannya?”

“Siapa tahu.”

Percakapan mereka langsung membuat suasana meja makan kembali ricuh.

Sementara Naresa benar-benar hampir pusing.

Tangannya masih ditarik oleh kedua pria itu dari arah berlawanan.

“Sa-sakit…” lirihnya pelan.

Mendengar suara kecil itu, Rendra langsung mengetuk meja cukup keras.

Buk!

“Kalian berdua, cukup!”

Seketika Reyhan dan Zavian terdiam.

Tatapan Rendra terlihat serius.

“Kalian membuat Naresa tidak nyaman.”

Ucapan itu langsung membuat keduanya perlahan melepaskan tangan Naresa.

Naresa langsung menarik tangannya kembali lalu mengusap pergelangan tangannya pelan.

Dan tanpa berkata apa-apa lagi, ia buru-buru memilih duduk di kursi yang paling jauh dari Zavian dan Reyhan.

“Naresa, kemarilah,” panggil Rendra dengan suara lembut. “Biar Ayah lihat tanganmu.”

Mendengar panggilan itu, Naresa sedikit terdiam.

Ia masih belum terbiasa mendengar kata Ayah ditujukan pada Rendra.

Namun perlahan ia tetap menurut dan berjalan mendekat.

Rendra dengan hati-hati mengambil pergelangan tangan Naresa.

Begitu melihat kulit putih gadis itu sedikit memerah akibat tarikan tadi, ekspresi wajahnya langsung berubah serius.

Tatapannya segera beralih kepada kedua putranya.

“Kalian lihat ini?” ucapnya tegas.

Zavian dan Reyhan sama-sama menatap tangan Naresa.

“Kalian membuat pergelangan tangannya memerah seperti ini.”

Suasana meja makan langsung menjadi hening.

Untuk pertama kalinya, Reyhan terlihat sedikit merasa bersalah.

Sedangkan Zavian menatap bekas merah di tangan Naresa beberapa detik lebih lama.

Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman melihat bekas itu muncul karena dirinya.

Sementara itu, Liana hanya bisa menggeleng pelan melihat keributan yang terjadi di kehidupan baru mereka.

Baru sehari menjadi keluarga, rumah itu sudah terasa sangat ramai karena tingkah dua kakak tiri Naresa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Tamu

    “Kenapa aku harus ikut juga?” Tanya Naresa sambil berjalan berdampingan dengan Rayhan menuju ruang tamu. “Bukannya itu urusan Ayah dan Zavian?” Rayhan menoleh sekilas. “Memang urusan Ayah dan Kak Zavian.” “Nah kan.” “Namun.” Rayhan menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya beralih kepada Naresa. “Kamu juga bagian dari masalah ini.” “Hah?” “Mereka datang membawa lamaran untuk Kak Zavian.” “...” “Sedangkan kamu adalah kekasihnya.” Naresa langsung terdiam. “Jadi menurutku.” Lanjut Rayhan. “Lebih baik kamu mendengarnya langsung.” “Daripada nanti salah paham lagi.” Deg. Kalimat itu membuat Naresa langsung mengingat kejadian sore tadi. Tanpa sadar. Tangannya menggenggam ujung bajunya. “Aku takut.” Ucapnya pelan. Rayhan tersenyum tipis. “Takut kenapa?” “Takut mereka kecewa.” “Hm.” “Dan takut kalau nanti suasananya tidak enak.” Rayhan menghela napas kecil. “Itu memang tidak bisa dihindari.” “...” “Namun lebih baik semuanya jelas sejak awal.” Naresa mengangg

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Rasa Takut

    “Jadi...” Zavian menarik napas pelan. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Naresa. “...apa kamu memaafkanku, Naresa?” Pertanyaan itu terdengar begitu hati-hati. Berbeda dengan biasanya. Pria yang selalu tegas itu kini justru menunggu jawaban dengan perasaan cemas. Naresa terdiam. Tatapannya kembali mengarah ke permukaan danau. Bukan karena tidak ingin menjawab. Melainkan karena sedang menenangkan hatinya sendiri. “Aku...” Suaranya terdengar lirih. “Aku tidak tahu.” Deg. Jawaban itu membuat dada Zavian terasa sesak. “Aku ingin memaafkanmu.” “...” “Namun rasa kecewa itu masih ada.” Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Naresa. “Setiap kali mengingat kalau aku mengetahui semuanya dari Bi Ina.” “...” “Dadaku masih terasa sakit.” Zavian menundukkan kepalanya. Dia menerima semua perkataan itu. Karena memang dirinya yang membuat Naresa merasakan hal tersebut. “Aku tidak akan memaksamu.” Ucap Zavian pelan. “Aku akan menunggu.” “Hm?” “Sampai kamu benar-benar

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Takut Kehilangan

    “Tolong angkat, Naresa...” gumam Zavian pelan. Untuk kesekian kalinya. Pria itu kembali menghubungi nomor Naresa. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. Deg. Rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar. Saat ini Zavian sedang berlari di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Pandangannya menyapu ke segala arah. Mencari sosok gadis yang sejak satu jam lalu menghilang. “Naresa...” panggilnya pelan. Namun yang terdengar hanya suara angin sore. Zavian kembali mencoba menelepon. Panggilan tersambung. Namun tetap tidak diangkat. Membuat rahangnya mengeras. Karena selama ini. Seberapa pun marahnya Naresa. Gadis itu hampir selalu mengangkat teleponnya. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda. "Angkatlah..." gumamnya frustrasi. Langkahnya semakin cepat. Matanya terus mencari ke setiap sudut taman. Bangku-bangku taman. Area bermain. Jalur jogging. Tidak ada. Tidak ada Naresa di mana pun. Deg. Untuk pertama kalinya. Zavian benar-benar mulai panik. Ka

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Kecewa

    “Sudahlah.” Suara Naresa terdengar pelan. Namun justru membuat suasana menjadi semakin menyesakkan. Tatapannya tidak lagi marah. Tidak lagi dipenuhi amarah seperti beberapa menit yang lalu. Yang tersisa sekarang hanya rasa kecewa. “Urus saja semuanya.” “Naresa...” panggil Zavian. Namun gadis itu menggeleng. Air matanya terus mengalir. “Kalau memang mau menerima perjodohan atau lamaran itu.” Deg. Jantung Zavian langsung terasa tidak nyaman. “Aku mundur.” Seketika semua orang membeku. “Naresa!” bentak Zavian untuk pertama kalinya. Namun gadis itu hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu menyakitkan. “Bukankah itu lebih mudah?” “Jangan bicara sembarangan.” “Kenapa?” Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Zavian. “Karena aku sudah capek.” Deg. Kalimat itu membuat Zavian langsung terdiam. “Aku capek menjadi orang terakhir yang tahu.” “...” “Aku capek harus mendengar semuanya dari orang lain.” “...” “Dan aku capek merasa tidak dianggap penting.” “Nar

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Bertengkar Hebat

    “Lhoo, Bi. Kok banyak masaknya? Memang ada acara apa?” tanya Naresa yang baru saja kembali dari magangnya. Setelah dua minggu berlalu sejak mereka pergi bersama. Kini semuanya kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dan tanpa terasa. Tinggal satu minggu lagi masa magang Naresa akan berakhir. “Itu, Non,” jawab Bi Ina sambil sibuk menata hidangan di meja makan. “Tuan Besar dan Tuan Muda kedatangan tamu nanti sore.” “Kedatangan tamu?” “Iya.” “Tamu siapa?” “Kurang tahu juga.” Bi Ina menoleh sebentar. “Katanya mau membahas masalah perjodohan atau lamaran gitu.” Deg. Langkah Naresa langsung terhenti. “Hah?” “Perjodohan atau lamaran.” “Perjodohan atau lamaran siapa?” Bi Ina menjawab tanpa curiga. “Tuan Zavian.” Bruk! Tas yang berada di tangan Naresa langsung jatuh ke lantai. Membuat Bi Ina terkejut. “Non?” Namun Naresa tidak menjawab. Pikirannya langsung kosong. Jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan telinganya seperti berdenging. “Tuan... Zavian?” ulangn

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Waktu Bersama

    “Jadi, Kakak tidak mau juga memberiku cincin seperti itu?” tanya Sonia sambil menatap Rayhan penuh harap. Rayhan yang sedang berjalan di depan langsung menoleh. “Jangan terlalu iri.” “Hah?” “Kau selalu mendapatkan hal romantis setiap harinya.” Seketika Sonia langsung tertawa canggung. “Hehe.” “Uang jajan.” “Hehe.” “Makanan.” “Hehe.” “Kurir yang hampir setiap minggu datang ke rumahmu.” “Hehe.” Membuat Rayhan menggeleng kecil. Sedangkan Naresa yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Dasar kalian.” Tak lama kemudian. Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran. Karena sudah lewat jam makan siang. Perut mereka mulai protes. Setelah duduk di meja yang sudah dipesan. Pelayan langsung datang membawa buku menu. “Mau makan apa, Sayang?” tanya Zavian sambil menyerahkan menu kepada Naresa. Naresa langsung melihat-lihat isinya. Lalu matanya berbinar. “Itu.” “Hm?” “Steak barbeque ya, Zavian.” “Baik.” “Sama minumnya jeruk saja, hehe.” “Iya sudah.” Zavian m

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Suasana Baru

    “Ini kamarmu.” Zavian berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading lalu menatap Naresa singkat. Malam ini, semuanya benar-benar telah berubah. Setelah acara pernikahan selesai, Liana resmi menjadi bagian dari keluarga Pratama. Dan itu berarti— Naresa juga kini menjadi anggota kel

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Hari H

    “Apa-apaan kamu, hah? Kenapa malah benar-benar memilih warna yang sama persis dengan gaun Naresa?” protes Reyhan kesal. Zavian menatap adiknya datar tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sementara itu, Naresa hanya bisa menghela napas pelan. Saat ini ia sedang berdiri di antara kedua kakak tirinya

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Fitting Baju

    “Turunlah.” Suara dingin Zavian terdengar begitu mobil berhenti di depan sebuah butik mewah. Naresa yang sejak tadi hanya diam selama perjalanan langsung tersadar dari lamunannya. Sepanjang perjalanan, ia sama sekali tidak berani bertanya apa pun. Aura dingin Zavian membuat suasana di dalam mobi

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Shock

    “Naresa.” Suara itu membuat Naresa langsung menoleh. Dan seketika matanya membelalak terkejut. Rayhan berdiri di depan gerbang sekolahnya sambil menatapnya santai. Sementara itu, Naresa baru saja pulang sekolah bersama sahabatnya, Sonia. Mereka sudah berteman sejak kecil dan hingga sekarang ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status