Home / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 48 — Perhatian Dominic

Share

Bab 48 — Perhatian Dominic

Author: Za_dibah
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-26 13:21:11

Kegelapan malam telah menyelimuti mansion Saint-Noire sepenuhnya.

Di luar jendela tinggi berbingkai besi tempa, hujan yang tadi mengguyur halaman kini telah reda, meninggalkan udara dingin yang menusuk tulang. Tetesan air jatuh perlahan dari ujung atap marmer, menciptakan irama ritmis yang terdengar seperti jam kematian yang berdetak pelan di tengah sunyi. Taman yang biasanya tampak anggun kini terlihat seperti lukisan kelam, basah, berkilau, dan menyimpan terlalu banyak rahasia.

Di dalam k
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 319 — Tiga hari lagi

    ​Dominic berdiri membeku di depan layar monitor. Pandangannya masih terkunci penuh pada sosok gadis berpakaian koyak yang berjalan tertatih dalam rekaman video itu.​ Di sampingnya, Victor berdiri tegang dengan wajah cemas. Sebagai orang yang menemukan rekaman itu lebih dulu, Victor sudah tahu betul siapa sosok di dalam video tersebut. Ia hanya bisa menahan napas, khawatir melihat emosi mendalam yang mulai membakar tuannya.​ "Tuan Muda..." bisik Victor pelan, suaranya sarat akan kekhawatiran.​ Badai emosi bergejolak hebat di dalam dada Dominic. Rasa bersalah yang meremukkan, penyesalan mendalam, sekaligus rasa lega yang gila bertabrakan tanpa ampun. Gadis yang disentuhnya malam itu... gadis yang kesuciannya ia renggut hingga menanggung trauma berat... bukan orang asing. Janin yang ada di dalam rahim Nadine saat ini adalah darah dagingnya sendiri.​ Namun di saat yang sama, kenyataan itu menghantam kesadarannya bagai cambukan keras: dialah monster yang telah menghancurkan hidup wanit

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 318 — Dia adalah Nadine

    Victor menelan ludah dengan susah payah. Ia mengabaikan teguran itu, melangkah cepat mendekati meja kerja Dominic dan meletakkan flashdisk tersebut. ​"Maaf, Tuan Muda..." suara Victor terdengar serak dan panik. "Penyelidikan soal pelayan klub malam Le Noir dan saksi kunci malam di Hotel Saint Aurora dua setengah bulan lalu... sudah terdeteksi." ​Gerakan Dominic membeku seketika. Sorot mata abu-abunya mendadak tajam. ​Ingatan Dominic langsung melayang pada Martha Rosa, saksi kunci yang tewas diracun sebelum sempat menyebutkan nama gadis pelayan Le Noir di kamar 404. Selama ini, Dominic mengira pencarian itu akan terhenti total. ​"Kau sudah menemukan bukti siapa gadis itu?" tanya Dominic, suaranya mendadak berat dan menuntut. ​"Bukan sekadar data cetak, Tuan Muda. Tapi rekaman video," ujar Victor cepat. Ia segera menyambungkan flashdisk itu ke komputer di meja kerja Dominic. ​"Salah satu kolega VIP keluarga Moretti dari Prancis sedang menginap di hotel tepat di seberang lorong kam

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 317 — Mengubur rahasia kelam

    ​Dua minggu berlalu sejak malam yang mencekam itu. ​Kondisi fisik Nadine berangsur-angsur membaik. Ketakutan akan keguguran perlahan surut seiring berjalannya waktu dan perawatan medis yang dijalaninya secara intensif. Nadine memilih tidak lagi meratapi nasibnya secara berlebihan. Demi kesehatan janin di rahimnya, dan demi rasa hormatnya pada Sebastian, pria yang sudah menganggapnya seperti putri sendiri, Nadine memutuskan untuk melapangkan dada. Ia mengubur dalam-dalam rahasia kelam tentang siapa ayah kandung dari anak ini. Biarlah kebenaran itu membeku selamanya. Ia tak sanggup membayangkan jika Sebastian tahu dan membenci janin yang tak berdosa ini. Baginya, menyetujui pertunangannya dengan Lukas Vance, yang kini sengaja ditunda oleh Sebastian hingga fisiknya pulih total adalah keputusan paling tepat dan masuk akal. ​Dengan menikah dengan Lukas, rahasia ini akan terkubur selamanya. Sebastian tak akan pernah tahu dan tak perlu membenci anak ini. Selain itu, statusnya sebagai

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 316 — Rasa ini seharusnya tak pernah ada

    Dominic mengamati interaksi itu dari sudut ruangan dalam diam. Ada sedikit kepuasan liar yang sempat mencuat di dadanya saat melihat reaksi Nadine pada Lukas, namun ia dengan cepat menekannya. Melihat Nadine seperti ini, bukan bentuk kemenangan yang ia inginkan. ​Begitu Lukas melangkah keluar kamar, Sebastian menoleh ke arah Dominic. Tatapan pria tua itu mengeras. ​"Kau juga harus tahu diri, Dominic," tegur Sebastian dengan nada penuh penekanan. ​Dominic mengangkat alisnya dingin. "Maksud Ayah?" ​"Nadine sedang sangat rapuh," balas Sebastian pelan namun menekan. "Jangan makin memperkeruh keadaannya dengan obsesimu." ​Mata abu-abu Dominic berkilat tajam. "Aku tahu batasanku." ​"Tahu?" Sebastian terkekeh sinis. "Cara yang kau sebut 'melindungi' itu... bagi Nadine tak ubahnya seperti cara mengurungnya di dalam sangkar." ​Kalimat itu menghantam dada Dominic dengan keras. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, namun ta

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 315 — Nadine sadar

    ​Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa.​Kelopak mata Nadine bergerak perlahan. Sayup-sayup, suara gemericik hujan di luar jendela menjadi hal pertama yang menyapa inderanya.​Lalu, sebuah suara berat terdengar dari dekatnya.​"Nadine."​Suara itu membuat napas Nadine tertahan seketika. Ia membuka mata perlahan, menyesuaikan dengan pencahayaan kamar yang remang.​Pandangan pertamanya langsung bertumpu pada Dominic.​Pria itu berdiri di samping ranjang dengan raut wajah yang tak pernah Nadine lihat sebelumnya. Tidak ada aura dingin yang mencekam. Tidak ada tatapan tajam mengintimidasi. Hanya ada guratan cemas yang gagal dipendam.​"Nadine, kau dengar aku?" tanya Dominic, suaranya terdengar agak serak.​Nadine tak langsung menjawab. Tatapannya perlahan turun, dan jemarinya yang gemetar refleks bergerak menutupi perutnya sendiri.​Gerakan kecil itu tak luput dari perhatian Dominic. Alis pria itu bertaut tegang.​"Ada yang sakit? Bay

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 314 – Hampir kehilangan

    Bentakan Dominic mengguncang seluruh Mansion Saint Noire. Langkahnya berlari tanpa pernah melambat. Lorong panjang yang biasanya ditempuh dengan tenang kini terasa terlalu sempit baginya. Dadanya naik turun, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus menghantam tanpa ampun. Darah... Kenapa ada darah...? Jangan sampai... jangan sampai bayinya...Pria yang biasanya tak pernah gentar oleh apa pun itu kini benar-benar panik. Logikanya mati total. BRAK! Pintu kamar Nadine terbuka lebar. Tatapannya langsung jatuh pada sosok Nadine yang terbaring pucat di atas tempat tidur besar. Rambut hitamnya masih sedikit basah, sementara wajah cantiknya kehilangan seluruh warna. Selimut tebal sudah menutupi tubuhnya.Dominic mendekat pelan. Tangannya yang biasanya stabil saat memegang senjata kini bergetar hebat saat menyentuh pipi Nadine​Dingin. Sangat dingin.​Rahang Dominic mengeras. "Nadine..." panggilnya lirih, matanya m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status