LOGINDi pagi berikutnya, weekend telah tiba. Leo membawa Kinara dan anaknya ke sebuah restoran. Alunan musik piano klasik mengalun lembut, menyelimuti meja makan di dekat jendela utama yang menampilkan pemandangan lanskap kota dari ketinggian. Arkana duduk dengan gembira di samping Leo, sibuk melahap es krim vanila berhias buah beri. Sementara itu, di hadapan Kinara, terhampar tiga buku katalog tebal berhias kertas emas dari perancang pernikahan internasional ternama. "Leo ... ini berlebihan sekali," gumam Kinara seraya membalik halaman katalog yang menampilkan desain gaun pengantin bertabur kristal dan gaun perhiasan mewah. "Kita tidak perlu menyewa gedung sebesar ini atau mengundang ribuan tamu." Leo meminum air mineralnya santai, lalu menyunggingkan senyum tipis seraya menopang dagu dengan satu tangannya, menatap wanitanya penuh kehangatan. "Kenapa tidak?" sahut Leo rendah, binar matanya memancarkan nada protektif yang tegas. "Aku mau seluruh kota tahu bahwa kamu adalah istri sah
Berita tentang pernikahan keluarga Sutedja menjadi berita utama di beberapa portal berita. Gambar perkawinan antara 'Putra' dari Sutedja Group dan Putri dari pemilik Chen Enterprise terpampang jelas, namun narasi di media sosial justru bergulir liar. Rumor mengenai pengantin pria yang mendadak diganti di depan altar memicu spekulasi panas. Nama Kinara ikut terseret ke permukaan sebagai sosok wanita ketiga yang dituduh merusak aliansi dua keluarga konglomerat tersebut. Sarah menatap layar kaca itu dengan jemari yang meremas cangkir kopinya kencang. Wajahnya dipenuhi kejengkelan yang amat pekat. "Lihat ini, Yah!" cetus Sarah sinis seraya meletakkan cangkirnya kasar. "Seluruh media menuding Kinara sebagai penyebab kekacauan semalam! Seorang janda anak satu berani merusak pernikahan Sutedja demi menggaet Putra Bungsu Sutedja Group yang jauh lebih muda darinya!" Hendra yang duduk di ujung meja makan membalik lembaran korannya dengan raut wajah serba salah. Emosi berat berkecamuk di dad
Aroma gurih mentega yang meleleh di atas wajan membangkitkan Kinara dari tidurnya. Gorden apartemen pribadi Leo tersingkap tipis, membiarkan sinar matahari pagi menelusuri lantai kayu yang hangat. Kinara merapikan rambutnya yang agak acak-acakan, melangkah pelan keluar dari kamar menuju area dapur bersih. Langkahnya mendadak terhenti di ambang pintu. Pemandangan di hadapannya seketika meremas dadanya dengan rasa hangat yang tak terlukiskan. Di depan kompor, Leo sedang sibuk membalik pancake. Di sebelahnya, bertengger di atas kursi tinggi, Arkana sedang mengocok adonan telur dalam mangkuk plastik dengan wajah berantakan terkena tepung. "Pa, ini telurnya sudah kocok sampai busa!" seru Arkana semangat dengan suara renyahnya. Leo terkekeh renyah, mengusap pipi Arkana yang bernoda tepung dengan ibu jarinya. "Pintar anak Papa. Sekarang tinggal kita tuang ke adonan pancake ya, Arka." Kinara membelalak kaku. Binar matanya bergetar hebat mendengar panggilan itu meluncur begitu luwes dari
Genggaman tangan Leo di jemari Kinara makin mengencang. Pria muda itu memiringkan tubuhnya, menatap lurus manik mata Kinara dengan pendar kelembutan yang amat kontras dibanding atmosfer dingin di dalam ruang itu. "Kinara, bawa Arka keluar dulu," bisik Leo halus namun penuh penekanan. "Tunggu aku di mobil. Ada hal yang harus kuselesaikan secara pribadi dengan mereka." Kinara menatap Leo sejenak dengan raut khawatir. Namun, melihat sorot mata pria itu yang begitu tenang dan yakin, Kinara mengangguk pelan. Ia merengkuh Arkana di dadanya, membalikkan badan, lalu melangkah keluar dari ruangan berinterior emas itu tanpa mengubris pandangan tajam para tetua. Pintu ganda berukiran emas terkatup rapat. Kini, hanya tersisa Leo yang berdiri tegap sendirian di tengah ruangan, berhadapan langsung dengan majelis Keluarga Sutedja. Arthur Sutedja menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Baguslah kalau wanita itu sadar diri untuk angkat kaki. Sekarang, Valentino, selesaikan urusan hak asuh ini s
Angin malam dari luar bertiup kian kencang, membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Namun, hawa dingin itu kalah membekukan dibanding tatapan menuntut yang terpancar dari mata Kinara. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya merefleksikan rasa sakit yang dipendam selama lima tahun. Leo menghela napas panjang. Wajah tampannya terukir kaku, sarat akan penyesalan yang amat pekat. Pria muda itu perlahan menurunkan Arkana dari gendongannya, membiarkan bocah kecil itu berdiri mengamati mereka dengan raut bingung. "Malam itu ... aku tidak pergi atas keinginanku sendiri, Kinara," ujar Leo dengan intonasi bariton yang bergetar serak. "Pagi harinya, musuh bisnis Sutedja yang menjebakku membawa foto-foto kejadian di kamar itu langsung ke hadapan Ayahku." Kinara membelalak kaku. Dada wanitanya serasa dihantam gelombang kejutan baru. "Foto?" "Ayah murka luar biasa," pangkas Leo cepat, matanya menatap Kinara penuh kejujuran tanpa cela. "Beliau memberiku ultimatum mutlak. Jika aku mencari k
Di saat janji suci di atas altar mulai diucapkan oleh pendeta di hadapan Giselle dan Gabriel—sepupu Leo dari keluarga cabang klan Sutedja—Leo tidak tinggal diam di sana. Pria itu berbalik tegap, menyerahkan seluruh pengawasan acara kepada Devan dan Valerie yang tersenyum puas di kursi depan. Dengan langkah mantap, Leo berjalan menyusuri lorong karpet merah. Kehadirannya menarik perhatian dari para tamu undangan karena harusnya dialah pengantin pria. Namun Leo sama sekali tidak peduli. Langkah tegapnya berhenti tepat di barisan paling belakang—di hadapan Kinara, Arkana, dan Radit. Radit menarik napas panjang. Pria itu berdiri dari kursinya, menepuk pelan bahu Leo seolah memberikan serah terima perlindungan secara terhormat, lalu melangkah mundur memberikan ruang penuh. Leo melangkah mendekat, menggenggam jemari dingin Kinara seraya mengambil alih Arkana ke dalam dekapannya. "Ikut aku," bisik Leo lembut. Tanpa menunggu persetujuan dari keluarga Pramudita yang terpaku kaget di bari







