Share

28. Sampai Tertidur

Author: Blue Ice
last update publish date: 2026-09-19 12:56:29

Pukul delapan lewat tiga puluh menit, energi Arkana akhirnya habis sepenuhnya. Saat Leo sedang membacakan buku cerita bergambar di atas karpet, mata kecil Arka makin lama makin berat.

"Om Leo ..." gumam Arka serak dengan mata terpejam. "Jangan pulang dulu ya..."

"Iya ... Om Leo di sini," bisik Leo lembut.

Kepala bocah itu akhirnya terkulai bersandar lelah di dada bidang Leo, jemari kecilnya mencengkeram erat kemeja hitam pemuda itu hingga kesadarannya perlahan hilang sepenuhnya ke dalam lel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    29. Terburu-buru

    Aroma kopi hitam yang menyeruak tipis di udara membentur indra penciuman Kinara, menyadarkannya dari lelap. Saat matanya perlahan terbuka, Kinara tersentak kaget. Ia tidak lagi berada di meja kerja dengan kepala menempel di atas berkas, melainkan sudah berbaring di atas kasur empuk kamar utamanya. Selimut tebal terpasang rapi menutupi tubuhnya hingga sebatas dada. Kinara segera duduk, memijat pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut. Ingatan terakhirnya hanyalah pengerjaan draf revisi yang selesai sekitar pukul dua dini hari. 'Siapa yang memindahkanku ke sini?' batinnya panik. Kinara bergegas menyibakkan selimut dan melangkah keluar kamar. Di ruang tengah, Leo sudah tampil sangat rapi dalam balutan kemeja putih yang disetrika licin dan celana kain hitam, sedang merapikan beberapa berkas kerja sama di meja. "Leo!" panggil Kinara seraya melangkah mendekat dengan raut wajah memerah panas. "Kamu ... kamu yang memindahkan saya ke kamar semalam?!" Leo mendongak, menyunggingkan senyum

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    28. Sampai Tertidur

    Pukul delapan lewat tiga puluh menit, energi Arkana akhirnya habis sepenuhnya. Saat Leo sedang membacakan buku cerita bergambar di atas karpet, mata kecil Arka makin lama makin berat. "Om Leo ..." gumam Arka serak dengan mata terpejam. "Jangan pulang dulu ya..." "Iya ... Om Leo di sini," bisik Leo lembut. Kepala bocah itu akhirnya terkulai bersandar lelah di dada bidang Leo, jemari kecilnya mencengkeram erat kemeja hitam pemuda itu hingga kesadarannya perlahan hilang sepenuhnya ke dalam lelap. Leo menghentikan bacaannya. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati agar tidak membangunkan bocah itu, Leo mengangkat tubuh mungil Arka ke dalam dekapannya. Leo melangkah mendekati meja kerja Kinara di sudut ruangan. "Bu Kinara," panggil Leo seraya berbisik pelan. "Arka sudah tertidur lelap. Di mana saya harus membaringkannya?" Kinara mendongak dari layar laptopnya, tersentak pelan melihat putranya sudah tertidur nyenyak di pelukan hangat Leo. Kinara segera bangkit berdiri. "Ikut say

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    27. Sosok Sempurna

    Sepeninggal Mbak Yuni, keheningan apartemen yang semula kaku mendadak mencair menjadi suasana yang begitu hangat. Di ruang tengah, Arkana yang sudah segar mengenakan piyama bergambar dinosaurus melompat-lompat kecil di atas karpet empuk. Tangannya menyeret kotak penyimpanan mainan seraya menatap Leo dengan mata bulatnya yang berbinar terang. "Om Leo! Lihat nih, Alka punya benteng kayu yang gede banget!" seru Arka riang. Leo yang sedang menyingsingkan lengan kemeja putihnya tersenyum renyah. Pemuda berusia dua puluh enam tahun itu mendudukkan diri secara santai di atas karpet, menyejaki posisi Arka. "Wah, tinggi sekali," puji Leo seraya mengambil beberapa balok kayu. "Tapi benteng ini belum ada penjaganya. Mau bikin sarang naga di puncaknya?" "Mau, mau!" Arka bertepuk tangan gembira. Tangannya yang mungil sibuk menyusun susunan kayu seraya sesekali menengadah menatap Leo. "Om Leo pintel banget bikin mainan. Papa Alka dulu nggak pelnah mau diajak bikin benteng kayak gini. Mau mai

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    26. Bisa Bantuin saya Mbak?

    Pintu apartemen berbunyi bip pelan saat Kinara menempelkan kartu aksesnya di panel pintu. Begitu pintu terbuka, Mbak Yuni—pengasuh Arkana yang mengenakan daster batik—langsung menyambut di lorong depan. Namun, langkah wanita paruh baya itu seketika terhenti. Matanya membelalak curiga saat melihat sosok pemuda berjas rapi yang berjalan masuk tepat di belakang Kinara seraya membawa tas dokumen tebal. "Selamat sore, Mbak Yuni," sapa Kinara dengan nada suara yang berusaha dibuat seprofesional mungkin. "Ini Leo, asisten pribadi saya yang baru dari kantor. Kami perlu merevisi proposal penting untuk besok pagi." Mbak Yuni hanya mengangguk kaku, matanya tak lepas menatap Leo dari atas ke bawah dengan raut wajah penuh selidik. Selama bekerja di sana, ia tahu betul bahwa Kinara tidak pernah membawa pria asing mana pun masuk ke dalam hunian pribadinya. "Mama!" Suara nyaring dari ruang tengah memecah kecanggungan itu. Arkana berlari keluar membawa mobil-mobilan plastiknya, lalu menghentika

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    25. Ikut Membantu Revisi

    Leo menarik napas berat yang terhembus halus dari hidungnya. 'Sudah kuduga Kakak akan memberikan kejutan tidak terduga seperti ini,' batin Leo gusar. Ia lalu menoleh ke arah Kinara yang duduk tertegun dengan raut wajah serba salah dan panik. Leo merasa tidak enak hati karena tuntutan revisi dari Sutedja Group itu mendadak membebani Kinara dengan beban kerja ekstra yang sangat berat dan melelahkan."Bu Kirana, mari kita keluar." Leo mengulurkan tangan untuk membantu Kinara berdiri. Namun wanita itu masih fokus membereskan barang bawaannya. "Biar saya saja, Bu," ujar Leo mengambil tas laptop serta berkas dari tangan Leo. Kinara hanya mengangguk singkat. Lalu segera beranjak dari sana tanpa banyak bicara. Pikiran Kirana masih fokus mengukur hal-hal yang harus ia kerjakan malam ini agar proposal itu bisa diserahkan besok pagi. Saat mereka melangkah keluar dari gedung Sutedja menuju pelataran parkir, udara sore yang

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    24. Tantangan di Gedung Sutedja

    Gedung perusahaan Sutedja berdiri megah menjulang menembus awan di pusat kawasan bisnis ibu kota. Dinding kaca keemasan dan pilar-pilar marmer raksasa di area lobi utama memancarkan aura kemewahan serta kekuasaan yang mengintimidasi siapa saja yang melangkah masuk. Kinara menghentikan langkahnya sejenak di depan meja resepsionis lantai dasar. Tangannya yang menggenggam tali tas kerja terasa sedikit dingin dan gemetaran. Kemegahan konglomerasi nomor satu di negeri ini benar-benar membuat nyalinya ciut. "Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?" sapa staf resepsionis dengan senyum sangat formal. "Selamat pagi. Saya Kinara Pramudita dari PT Danantara, sudah ada janji temu untuk mempresentasikan proposal investasi dengan Tim Eksekutif," ujar Kinara seraya menata nada suaranya agar terdengar seprofesional mungkin. Berbeda dengan Kinara yang dirayapi rasa gugup luar biasa, Leo yang berdiri tepat di sampingnya tampak amat tenang. Pemuda itu memasukkan sebelah tangannya ke saku celana kain,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status